Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-131



Sesampainya di sana Zia melihat dokter sudah keluar dari ruangan, dan sedang berbincang dengan Arif. Zia pun menunggu sampai dokter tersebut selesai menjelaskan pada Arif tentang keadaan Dian. Setelah kepergian dokter, Zia mendekat membuat Arif sedikit terkejut, karena dirinya tiba-tiba muncul mengagetkan nya.


"Nona....anda masih disini? Kukira anda sudah pulang." ucap Arif dengan masih mengatur keterkejutan nya.


Bukannya menjawab Zia malah balik bertanya dengan wajah datarnya, membuat Arif merinding.


"Bagaimana keadaannya?." tanyanya langsung dengan wajah dingin.


"Anu... Dokter menjelaskan, jika tuan tidak apa-apa, hanya luka bentur yang tidak serius, jika masalah pingsan itu karena tuan memiliki riwayat anemia. Tapi tidak perlu khawatir nona, sekarang keadaannya sudah membaik, dan akan segera di pindahkan ke ruang rawat." jelas Arif panjang lebar, tanpa terlewat.


Zia hanya mengangguk, tatapan tajamnya membuat Arif takut, jadi mau tidak mau dia menjelaskan semuanya dengan sedetail mungkin. Selang setengah jam kemudian, Dian sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP. Zia duduk di samping brankar milik Dian, di lihatnya wajah Dian yang tetap tampan meski pucat.


Ada rasa bersalah dalam hatinya karena mengabaikan perjuangan Dian yang ingin berusaha mengambil hatinya yang sudah di selimuti es, akibat masa lalu nya bersama Rayyan membuat Zia takut untuk membuka hati pada lelaki yang mendekatinya.


"Aku tidak tahu ini perasaan apa... yang semakin hari semakin besar menjalar dalam lubuk hatiku. " ucapnya sambil menatap Dian.


"Dan sekarang sepertinya aku menyadari bahwa aku juga mulai menyukaimu.... jadi aku mohon padamu jangan tinggalkan aku, jangan seperti Alvaro yang pergi membawa cintanya sampai mati... aku tidak mau itu terulang kembali."Setelah sekian lama hari ini Zia menumpahkan air matanya.


Pipinya seketika basah oleh air mata yang terus mengalir, seketika itu juga dia mengingat surat yang Alvaro tulis untuknya, kenangan indah yang Alvaro berikan padanya masih sangat membekas, dan semua itu kini terlihat dalam diri Dian. Zia menunduk merasa sangat bersalah, hingga air matanya menetes di tangan Dian.


Dian mengukir senyum tipis, ternyata perjuangannya tidaklah sia-sia. Sebenarnya Dian sudah sadar hanya saja dia berpura-pura, karena dia ingin tahu apakah pujaan hatinya mengkhawatirkan nya atau tidak. Dan ternyata Zia sangat mengkhawatirkan dirinya sampai dia menangis, Zia masih saja menangis tanpa suara.


"Aku tidak akan meninggalkanmu Zi... karena sekarang kaulah tujuan hidupku dan aku yang akan membuatmu terus tersenyum." ucap Dian sambil mengusap kepala Zia lembut, Zia menghentikan tangisnya.


Deg.....


Pipinya memerah mendengar hal tersebut, Zia tidak tahu jika sebenarnya Dian sudah sadar. Zia menjadi malu dia tidak berani menegakan kepalanya.


"Kenapa tidak menegakan kepalamu nona manis?." goda Dian, membuat Zia semakin malu.


"Aku baru melihat sangat queen mafia menangis dan dia sekarang....... " belum Dian selesai berbicara, Zia sudah menegakan kepalanya dengan wajah merahnya.


"B-berhenti bicara..... atau aku akan buat kamu tidak bisa berjalan." sentak Zia dengan gugup, tapi matanya memandang arah lain, seketika itu juga wajah datarnya menghilang. Dian tertawa lepas melihat kelakuan Zia.


Hahahaha........


"Kamu sangat manis......aku semakin jatuh cinta padamu." Dian terus menggoda Zia, membuat jantung Zia bergejolak. Karena sudah malu akibat dari godaan Dian, Zia pun keluar dari ruang rawat Dian.


Zia mendengus kesal setelah keluar dari ruang rawat Dian. Niat ingin mengatakan perasaannya pada Dian, karena Dian sedang tidak sadarkan diri tapi malah tercyduk oleh orangnya. Namun semuanya sudah terucap dari mulutnya, bahkan Dian mendengarnya dengan jelas.


"Dia sudah mendengar apa yang ku katakan, dan aku juga sudah mulai menyukainya, dasar kenapa aku bisa terpikat olehnya." kesal Zia, dia pun memutuskan pulang dari rumah sakit.


Sementara Dian sangat bahagia, karena hari ini dia mendengar sendiri jika Zia mulai menyukainya, ternyata perjuangannya terbalaskan. Dan mulai saat ini Dian akan berjuang lebih kuat untuk bisa mendaptakan seluruh hati Zia.


"Akhirnya dia mulai menyadari perasaannya terhadapku.... dan sekarang aku akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa menjadikan dia pendampingku dan aku berharap hal itu akan benar-benar terjadi." harap Dian, karena dia sudah yakin bahwa Zia lah wanita pilihannya.


Sementara hari ini adalah hari penerbangan Rayyan. Ya setelah bermaafan dengan Zia kini dia memilih menyibukan diri dengan perusahaan yang di tinggalkan ayahnya. Namun setelah berfikir kembali akhirnya Rayyan memutuskan berpindah negara dan meninggalkan semua kenangan bersama orang yang dia sayang.


Rayyan menatap sekeliling mansionnya kenangan bersama ayah nya harus dia tinggalkan. Tapi ini demi kebaikan semuanya, Rayyan juga akan kemari untuk berkunjung. Perusahaan pusat miliknya juga sudah di pindahkan, semantara perusahaan yang di sini di jadikan perusahaan cabang.


"Ayah aku harus meninggalkan rumah serta negara ini, aku akan mencari kebahagiaan baru, tapi ayah tenang saja aku akan sering berkunjung kemari, karena semua sahabat terbaik ku ada di negara ini. "salam perpisahan yang bisa Rayyan katakan saat ini. Tidak mungkin untuk mengundang semua sahabatnya untuk datang, untuk mengucapkan salam perpisahan.


"Semoga setelah aku berpindah negara, ada perubahan dalam diriku, dan semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi." tambahnya lagi, dia berharap tidak akan ada lagi salah paham dan juga bisa menjadi lelaki yang lebih baik kedepannya. Karena dia sudah tidak mau kejadian masa lalu terulang.


"Dan untuk Zia.... aku harap kamu segera menemukan seseorang yang bisa memahamimu dan juga lebih baik dariku...dan aku juga sudah mengikhlaskan mu, semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti meski hanya sebagai sahabat." Rayyan sudah mengikhlaskan kepergiaan Zia, walau dia tahu bahwa hatinya sepenuhnya masih tertulis nama Zia.


"Huft.... baiklah sekarang saatnya berangkat menuju negara baru dan juga kehidupan baru serta kebahagiaan baru. Ini adalah awal dimana semuanya akan aku ubah." Ucapnya dengan semangat.


Dia pun berangkat menuju bandara, Rayyan menggunakan penerbangan umum, karena ingin menikmati keramaian pesawat, padahal dia bisa saja melakukan penerbangan pribadi menggunakan jet pribadinya. Rayyan berangkat dengan Satya Yanuar tangan kanan yang baru, karena Putra belum di bebaskan dari penjara.


Satya sudah menyiapkan semua, seperti semua yang tuannya butuhkan, masalah mansion Satya tidak tahu dengan jelas seperti apa, karena Rayyan sendiri yang menata gaya mansion yang dia inginkan,sedangkan Satya hanya mengurus semua kebutuhannya. Satya sudah menjabat beberapa tahun di perusahaan Rayyan, dan kinerjanya sangat bagus, sehingga Rayyan mengangkatnya menjadi orang kepercayaannya.


Beberapa jam perjalanan Rayyan telah sampai pada tujuan, negara baru yang akan dia singgahi. Sopir sudah menjemput dan menunggu disana, mereka pun pergi ke mansion baru milik Rayyan.


"Bagaimana? apa semua sudah beres?." tanya Rayyan.


"Sudah tuan.... semua sudah beres, dengan fasilitas yang lengkap." jelas Satya.


"Kerja bagus." Rayyan sangat puas dengan kinerja cepat dan detail Satya.


Satya adalah orang yang pendiam dan tidak terlalu banyak gaya, dia adalah lelaki yang rajin juga telaten, semua dia lakukan tanpa banyak bertanya dan bicara. Dia juga memiliki paras tampan tidak berbeda jauh dengan Rayyan dengan tubuh tingginya dan juga penampilan yang selalu cool.


Mereka telah sampai di mansion besar milik Rayyan, dengan nuansa alam yang masih melekat. Rayyan membangun mansion dekat dengan perbukitan dan sedikit jauh dari pedesaan. Di sana hanya ada beberapa rumah warga yang jaraknya lumayan jauh, yang pasti mansion Rayyan sangat tenang dan damai yang jauh dari keramaian.


Semua barang milik Rayyan dibawa masuk dan di rapih kan oleh pelayan, disana juga Satya sudah memilih pelayan yang terbaik, agar bisa mengurus tuannya dan juga mansion dengan baik.


"Kamu akan tinggal di panthouse yang ada di samping mansion ku, itu adalah hadiah dariku karena kamu bekerja dengan baik." Rayyan sengaja menghadiahkan panthouse untuk Satya karena dia pantas untuk mendapatkan imbalan yang besar.


"Tapi tuan itu terlalu berlebihan, saya akan mencari apartemen saja." tolak nya dengan halus, Satya merasa itu pemberian yang terlalu mewah untuknya.


"Itu tidak seberapa.... panthouse itu aku buat khusus untukmu, terimalah aku tidak keberatan, ini adalah hadiah yang pantas untukmu." Rayyan sangat tidak keberatan.


Rayyan terus memaksa agar Satya mau menerima pemberiannya, jika dia di sana juga akan lebih mudah dan tidak perlu untuk mencari apartemen yang mungkin nantinya jaraknya sangat jauh dari mansion nya. Karena terus mendesak mau tidak mau Satya menerimanya.


"Baiklah tuan..... saya akan menerima pemberian anda, terima kasih atas kebaikan anda." ucapnya berterima kasih.


"Sekarang kamu boleh pergi, dan mulai hari ini kamu tinggal di sana bawa barangmu juga, aku akan beristirahat dahulu." Rayyan pergi meninggalkan Satya, dia pun hanya menunduk memberi hormat.


Sesuai dengan yang di perintahkan, Satya pun bergegas mengemasi barang dan juga mulai membereskan semuanya, meski dia tahu jika panthouse pemberian Rayyan sudah sangat rapih dan juga lengkap. Dia bersyukur memiliki atasan yang sangat baik dan juga sudah banyak membantu dirinya.