Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-135



Zia masih mengikuti langkah Dian yang ternyata memasuki kamarnya, Dian masih memegangnya dengan erat tanpa mau melepasnya. Setelah memasuki kamar besar milik Zia, Dian baru melepaskan tangannya dan memegang bahu Zia sambil menatapnya serius.


"Gantilah pakaian mu.....aku mau mengajakmu pergi." ucapnya singkat dan langsung pergi keluar kamar, membuat Zia bertanya-tanya.


Zia masih melongo dengan yang baru saja di ucapkan Dian, dia sudah berfikir hal yang buruk tapi ternyata hanya masalah mengganti pakaian.


"Dasar muka datar......hanya masalah kecil, dia membuatku sampai berfikir hal yang jorok...awas saja kau Dian." Umpat Zia dengan kesal.


Meski kesal Zia tetap mengganti pakaian dan bersiap, mengikuti apa yang di minta Dian. Dengan make up natural andalannya, tidak lupa mengenakan pakaian kasual yang sederhana namun terlihat sangat manis jika dia kenakan. Zia bercermin memperhatikan penampilannya sekarang, ini pertama kalinya Zia mengenakan pakaian seperti ini, karena sejak dulu dia tidak terlalu menyukai style yang terlalu mendominasi perempuan.


"Beginikah aku jika mengenakan style ini? oh ya ampun aku terlihat sedikit berbeda dari biasanya." gumam Zia melihat penampilannya yang sedikit berbeda. Zia memang sudah sedikit merubah penampilannya semenjak Dian menyatakan perasaan terhadapnya.



Zia sengaja memakai pakaian itu karena warnanya setara dengan apa yang saat ini Dian kenakan, ini adalah hal kecil yang sering Zia perhatikan, meski Zia terlihat cuek bahkan dingin, tapi jika itu mengenai orang yang dia suka maka hal sekecil apapun akan dia perhatikan dengan teliti. Dian mengenakan setelan kemeja dan rompi yang membuatnya semakin tampan.



Setelah selesai Zia keluar dari kamarnya, dan menemui Dian yang menunggunya di ruang tamu. Zia menururuni anak tangga dan berjalan anggun bak seorang putri. Dian yang mendengar suara derap kaki langsung menoleh ke sumber suara.


Matanya langsung menangkap sosok Zia yang mengenakan pakaian kasual imut dan sangat terlihat manis, karena biasanya Dian hanya melihat Zia mengenakan pakaian formal dan jarang sekali melihat Zia mengenakan pakaian yang mendominasi wanita. Dian terpukau dengan penampilan Zia yang saat ini begitu menawan di tambah baju kasual yang saat ini dia kenakan yang menambah kesan manis, apalagi dengan makeup naturalnya.


"Bidadari ku...... kenapa dia semakin membuat ku gila, parasnya tidak pernah membuatku bosan untuk selalu menatapnya." batinnya dengan tidak mengalihkan pandangannya, membuat Zia gugup setengah mati.


"Ekhemm....." dehemnya, untuk menghilangkan kegugupannya. Dian tersadar dan langsung bersikap biasa, Dian tidak percaya jika Zia akan berpenampilan seperti yang dia harapakan. Apalagi pakaian nya couple dengan yang dia kenakan.


Dian beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Zia, Dian mengulurkan tangannya untuk menuntun Zia turun dari tangga. Zia di buat salah tingkah dengan perlakuan Dian, dia tidak biasa di perlakukan romantis oleh lawan jenis, karena banyak yang menyukai Zia tapi mereka tidak berani mendekatinya, hanya dulu Varo dan Rayyan yang pernah mendekati Zia.


Dengan detak jantung yang berdetak hebat di tambah tangannya yang sudah berkeringat dingin, dengan sedikit gemetar Zia menerima uluran tangan Dian, sungguh ini adalah hal terindah yang Zia idamkan, mendapat laki-laki yang mencintainya dengan tulus, dan yang mampu mengobati lukanya serta membawanya menuju kebahagiaan. Tidak ada kebohongan, tidak ada hilang tanpa kabar, semua itu membuat Zia menjadi tenang.


"Kamu sangat cantik hari ini Zi....aku semakin mencintaimu." puji Dian tanpa mengalihkan pandangannya, pesona Zia selalu membiat dia ingin segera menikahinya.


"Tidak usah berlebihan, sudah ayo cepat berangkat." ucapan Zia, pipinya sudah memerah. Zia juga mengalihkan pembicaraan nya, agar Dian tidak terlalu banyak menggodanya.


"Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat sekarang." ucap Dian dengan bersemangat, dia menggenggam erat tangan Zia dan berjalan beriringan. Zia menatap punggung Dian dengan senyuman, dia tidak menyangka akan merasakannya saat ini. Meski dulu dia pernah merasakan dengan orang lain, tapi saat ini sungguh berbeda.


Dian membukakan pintu mobil untuk Zia, Dian sengaja membawa mobil yang mewah dari biasanya, demi Zia apapun akan di lakukan asalkan bisa membuat Zia terus bahagia. dengan perasaan yang tidak menentu Ziarah terus mengikuti apa yang Dian lakukan untuknya.


"Terima kasih D-dian. "ucapnya dengan tergagap, Zia tidak menyangka dengan perlakuan Dian, dengan sifatnya yang dingin dia bisa bersikap hangat kepada orang yang di cintainya.


"Tidak usah sungkan, ingat sebentar lagi kamu akan terus berada di sisiku sebagai pendampingku. " perkataannya sekali lagi membuat Zia berbunga-bunga. Zia juga ingin menetap dengan Dian, dia akan benar-benar menjadikan Dian sebagai belahan jiwanya, dan akan terus bersamanya sampai waktu kematian yang mengakhirinya.


"Sudahlah Dian......jangan buat aku salah tingkah." Ungkapnya, karena setiap kali Dian menggodanya entah kenapa Zia selalu salah tingkah.


"Tidak apa salah tingkah, aku menyukai sifatmu yang ini, kamu tahu itu membuatku semakin mencintaimu. "jawabnya, dia lebih menyukai sisi wanita Zia, daripada sifat tomboynya.


Zia semakin salah tingkah, pipinya sudah memarah menahan malu. Dian tersenyum bahagia melihat Zia yang sudah bisa sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya, dia berjanji tidak akan menggoreskan luka baru, sudah banyak kesakitan yang Zia rasakan, dan itu membuat Dian ingin semakin terus berada di sampingnya.


"Tetaplah seperti ini Zi..... aku akan tetap berada di sampingmu, akan aku obati semua lukamu, dan kita akan bahagia bersama selamanya. " ucap Dian dengan serius sambil menatap Zia, perkataannya membuat Zia tidak bisa berkata lagi.


"D-dian apa kamu serius dengan ucapanmu?. " tanya Zia sekali lagi untuk lebih meyakinkan hatinya. Keheningan seketika tercipta di dalam mobil tersebut, Dian menggenggam erat tangan Zia dan menghadap langsung Zia, hingga mereka kini saling berhadapan.


Mata mereka saling mengunci, Zia tidak bisa mengalihkan pandangannya begitu juga dengan Dian. Detak jantung mereka saling bergema hebat menjawab setiap pertanyaan bagaikan memberi isyarat bahwa perasaan keduanya memang saling terikat.


"Tataplah mataku Zi.... carilah kebenaran yang ada di dalam mataku, aku serius mengatakan hal itu, aku benar-benar sudah menetapkan hatiku pada satu nama yaitu kamu Nida Ziana Alfian. " kesungguhan di setiap ucapannya, dan tidak ada satu pun kebohongan ataupun keraguan yang Zia temukan di matanya.


"Dian.... terima kasih atas semua yang kamu lakukan untuk diriku, maaf jika aku terlambat untuk menyadarinya, akan kupastikan bahwa aku benar-benar membuka hatiku untukmu, agar hanya kamu yang mengisi kekosongan ruang di hatiku. " ucap Zia sambil mengeratkan genggamannya, dia sudah mulai bisa menerima Dian dengan sepenuh hatinya.


Dian berbinar mendengar apa yang baru saja Zia katakan, sungguh itu membuat Dian terharu, setelah sekian lama akhirnya Zia bisa percaya padanya dan menantikan hidup bersama. Reflek Dian memeluk Zia karena saking bahagianya, Zia ikut membalas pelukan Dian, tanpa disangka orang yang tadinya dia tidak kenal, akhirnya bisa menjadi bagian dari takdirnya, dan harapan Zia semoga Dian benar takdirnya.


Setelah selesai Zia melepas pelukan Dian, dan menatapnya dengan penuh cinta.


"Kita akan berangkat..... kita akan menghabiskan waktu bersama sekarang, dan menikmati kencan kita hari ini." Dian melajukan mobilnya, di hari ini adalah saksi bahwa jalan kebersamaan mereka baru saja di mulai, dan akan diisi di setiap waktunya untuk tetap bersama selamanya.