
Seminggu berlalu Nancy masih berada di paviliun Zia, mereka sering menghabiskan waktu bersama dia juga fokus bekerja karena dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang.
Dian juga sering datang ke paviliun Zia, membuat Nancy greget dengan keduanya, apalagi Dian terlihat sering memperhatikan Zia diam-diam, namun yang di perhatikan terkadang biasa saja mungkin Zia masih sulit untuk membuka hatinya untuk orang baru. Ucapan Zayn selalu terpikirkan oleh Zia, dia juga ingin sekali bisa membuka hati dan dia sedang berusaha mencobanya perlahan.
Ting nong....... ting nong......ting nong......
Suara bel membuyarkan keseruan Zia dan kakak iparnya, Zia menyuruh pelayannya membukakan pintu. Ternyata Dian berkunjung lagi ke paviliun Zia dengan membawa beberapa makanan.
"Non.... itu tuan Dian datang, dan ini dari tuan Dian." ucap pelayan itu sembari memberikan paperbag pemberian Dian.
"Iya bi." Zia menerima nya dan menaruh di atas meja makan.
"Widih udah ada yang bertamu, tampan lagi tamunya." goda Nancy pada Zia, membuat Zia memutar bola matanya malas. Semanajk disini Nancy sering sekali menggoda Zia.
"Udah temuin dulu, kakak selesain buat jus nya dulu." Nancy kembali membuat jus yang belum di selesaikannya.
Zia berjalan menuju ruang tamu, tiba-tiba saja jantungnya berdetak dua kali lebih keras dari sebelumnya, membuat Zia tersadar jika dia sedikit gugup untuk bertemu Dian. Namun dia berusaha menetralkan dan bersikap seperti biasa. Memang setelah dekat dengan Dian, sering kali dia merasakan getaran yang sama saat dulu bersama Rayyan.
Ya getaran rasa cinta yang sedikit demi sedikit tumbuh dengan sendirinya tanpa Zia ingin. Zia juga menyadari perasaan Dian padanya, namun dia memilih diam dan ingin lihat seberapa tulusnya Dian padanya, meski kadang Zia bersikap dingin seakan masih biasa saja pada Dian, tapi kenyataan nya Zia sekarang sering gugup.
"Datang lagi rupanya." ucap Zia yang kini sudah berada di ruang tamu, Dian menoleh dan menatap Zia.
"Iya karena sedang waktu luang, jadi lebih baik berkunjung sambil membicarakan proyek agar cepat terselesaikan." jelas Dian yang membawa nama proyek agar bisa berlama-lama di paviliun Zia, meski bahasannya hanya seputar pekerjaan.
"Makasih makanannya."
"Iya sama-sama, oh ya dimana kak Nancy?." tanya Dian berbasa-basi agar bisa membuka pembicaraan.
"Oh kakak lagi buat jus, sebentar aku buatkan minuman dulu. " Zia lupa menyuruh pelayan membuatkan jamuan untuk Dian.
"Ok baiklah."
Zia pergi ke dapur untuk membuatkan minum, Nancy juga sudah menyelesaikan jusnya. Nancy senang melihat Dian mau berusaha untuk mengambil hati Zia dengan perlahan, meski Nancy tahu jika itu pasti sulit di lakukan oleh Dian mengingat bahwa sekarang sifat Zia semakin dingin apalagi pada pria yang mendekatinya.
Setelah selesai menghabiskan jusnya, Nancy melihat Zia membuat minuman untuk Dian, Nancy ikut membantu menyiapkan cemilan untuk jamuan tamu mereka.
"Makasih kak udah bantu.... " ucap Zia sambil menaruh minuman di nampan.
"Iya... sudah cepat." Nancy pun menaruh cemilan itu di nampan yang sama.
Nancy dan Zia menuju ruang tamu, Zia menaruh jamuan tadi di atas meja dan menatanya. Mereka duduk bersebrangan dengan Dian hingga posisi Zia dan Dian berhadapan.
"Apa kabar kak Nancy...? tanya Dian berbasa-basi. Nancy tersenyum kecil, dia tahu jika Dian sedang di landa asmara dengan Zia, haya saja Zia masih menganggap biasa pada Dian, atau bisa di sebut hanya sebatas rekan kerja tidak lebih.
"Baik... bagaimana kabarmu? sepertinya sekarang kamu lebih sering mengunjungi Zia."
"Kakak tidak usah membuat dia terpojok." Zia tahu jika Nancy sedang membuat Dian terpojok, dan setelah itu pasti akan memulai ledekan nya seperti pada saat itu.
"Aku tidak bertanya padamu adik, aku hanya ingin tahu saja apa alasan dia mengunjungi mu terus." sungut Nancy, membuat Zia menggeleng kan kepalanya, hormon kehamilannya membuat Zia sakit kepala. Dian juga memaklumi hal tersebut dan tidak keberatan akan hal itu.
"Syukurlah kalau begitu, lalu kenapa akhir-akhir ini kamu sering berkunjung ke paviliun?." tanya Nancy dengan menatap Dian.
"Oh kalau masalah itu kakak pasti paham kan, aku kesini karena urusan pekerjaan." jelasnya dengan gugup, Zia hanya mengehela nafas.
"Apakah hanya itu...?." tanya nya lagi dengan penuh selidik.
Dian menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia bingung untuk menjawabnya karena pertanyaan itu sangat sulit untuk di jawabnya, apalagi ada maksud lain selain masalah pekerjaan yaitu untuk masalah pendekatan dengan Zia.
"Hanya itu saja kak tidak ada maksud lain. " ucapnya sambil tersenyum kikuk. Dian tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, apalagi ada Zia di hadapannya.
"Sudahlah kak kita bicarakan yang lain saja, kasihan Dian." Zia juga ingin menyudahi Nancy terus saja menggoda Dian jika sedang berada di paviliun.
"Iyaa dehh.... soalnya gemes lihat Dian malu-malu terus." Nancy menatap Dian sambil tersenyum, membuat Dian gelagapan.
"Sudah kakak.... lebih baik kakak istirahat, atau mau aku adukan pada kak Zayn? aku akan bilang kalau kakak terus menganggu..... " belum selesai Zia berkata, Nancy langsung menyelanya.
"Iya.... iya kakak akan pergi istirahat, sudah tidak usah kamu katakan apapun pada kakakmu." Nancy mencebikkan bibirnya, itu adalah ancaman andalan Zia jika kakak iparnya bayak berulah. Zia menahan tawa melihat kekesalan wajah Nancy, bahkan Dian juga sama. Nancy beranjak dengan wajah cemberut dan berjalan menuju kamarnya.
Setelah kepergian Nancy, Zia dan Dian melepas tawa secara bersamaan, karena mereka berhasil mengerjai bumil. Dian senang melihat Zia tertawa lepas dan itu adalah kali pertama Dian melihatnya, Dian semakin terpesona oleh kecantikan Zia yang sangat alami tanpa polesan make up apalagi dengan senyum indah di bibirnya. Dian memang pernah melihat Zia tersenyum tapi tidak sampai tertawa dan kini dia melihatnya.
Karena merasa di perhatikan, Zia akhirnya tersadar jika dia sekarang sedang berduaan dengan Dian. Zia berhenti tertawa dan mulai mengontrol dirinya agar tidak kelepasan lagi.
"Maaf aku jadi kelepasan." Zia sedikit gugup karena Dian melihatnya tanpa berkedip.
"Cantik.... " spontan tanpa sadar Dian mengatakan itu, namun sesaat kemudian dia tersadar.
"Ah... maaf maksudku kamu sangat cantik ketika tertawa, itu seperti melihat sisi yang baru darimu." mendengar ucapan Dian membuat pipi Zia bersemu dengan tiba-tiba.
"Oh bukan begitu.... maksudku ini pertama kali melihat mu tertawa lepas." Dian tahu jika dia malah membuat situasi bertambah canggung.
"Aduhh.... bodoh... kenapa membuat situasi semakin canggung saja... dasar mulut gak bisa ikut kerja sama." rutuknya dalam hati, Dian terlalu banyak berbicara.
"Kenapa aku tersipu mendengar ucapannya, apa aku mulai menyukainya? ahhh tidak... tidak... " ucapnya dalam hati, Zia merasakan hal berbeda ketika bersama Dian, dan kali ini dia merasa tersipu dengan pujian Dian, namun lagi-lagi dia mengelaknya.
Namun bagaiamana pun juga Zia juga harus bisa membuka hati untuk orang baru, karena menutup nya dengan rapat tidak akan ada gunanya.
"Kamu ini bisa saja.... aku memang suka tertawa lepas kamu saja yang tidak tahu." Zia berusaha menutupi kegugupan nya.
"Iya sihh juga, tapi aku senang ternyata ratu dingin sudah mulai mencairkan esnya."
"Sudah tak usah menggodaku." ucapnya datar membuat Dian langsung diam.
"Oh ya ampun ratu dingin ini.... seram sekali jika sedang bermode datar." gumamnya dalam hati, Dian masih belum sepenuhnya mencairkan hati Zia yang masih beku.
Pada akhirnya Dian dan Zia hanya membicarakan masalah proyek dan kendala yang ada dalam pekerjaan, dan besok mereka akan memeriksa keadaan bangunan dan juga standar dari bangunan apakah sudah layak atau belum, begitu juga dengan keamanan nya.