Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-108



Sesampainya di IGD di mana Zia di rawat terlihat tempat itu sudah berantakan akibat dari Zia yang mengamuk, Zia meminta pulang namun oleh para perawat tak di izinkan alhasil Zia membuat keributan. Dian sangat khawatir melihat keadaan Zia dia pun reflek memeluk Zia erat, Zia meronta meminta di lepaskan, namun Dian semakin erat seakan enggan melepaskan.


Zia semakin meronta hingga Dian hampir terhempas oleh dorongan keras Zia, namun dengan cepat Dian menangkap tubuh Zia lagi. Angga yang melihat Zia semakin menjadi menyuruh perawat mengambilkan obat penenang.


Angga mendekat dan menyuntikkan obat penenang dan akhirnya Zia pun tak sadarkan diri di pelukan Dian, dengan sigap dia menopang tubuh Zia, Dian pun menggendong Zia dan membaringkan nya di brankar.


"Apa dia akan baik-baik saja?." tanya Dian sambil menatap wajah pucat Zia.


"Sepertinya dia harus di rawat secara intensif, karena keadaannya memburuk akibat tekanan batin." jelasnya menatap sendu Zia.


"Baiklah lakukan yang terbaik untuknya, aku tak bisa melihatnya seperti ini, aku mohon padamu sembuhkanlah Zia." mohon Dian, Angga termangu melihat Dian memohon, Dian biasanya tak akan mau memohon pada siapapun, tapi ini adalah pertama kalinya dia memohon dengan sangat.


"Aku akan berusaha yang terbaik, tapi jika di sini sulit maka dia harus berobat di luar negeri, yang terpenting sekarang kita berdoa saja, semoga dia baik-baik saja." Angga mengusap pundak Dian, ini pertama kalinya Dian sangat rapuh hanya karena wanita.


"Lebih baik kau pulang ini udah malem, besok kau sudah bisa menjenguknya, untuk sekarang biarkan dia beristirahat." bujuknya karena sudah malam dan wajah Dian terlihat letih, dia tak mau melihat Dian sakit, akhirnya menyuruhnya pulang dan beristirahat.


"Iya aku akan pulang, tapi jaga dia baik-baik, aku mengandalkanmu."


"Kau tenang saja kawan, aku pasti bakan merawatnya dengan baik, ya sudah pulang dan beristirahat lah." surutnya lagi, Dian pun pasrah.


"Ya sudah aku pulang, terima kasih atas bantuanmu." Angga tak menyangka Zia bisa merubah Antartika menajdi musim semi, kini Dian sedikit lebih hangat.


"Berhati-hatilah ingat jangan sampai kau sakit, jika kau ingin merawat Zia."


"Kau bawel sekali." desisnya dan berlalu pergi, Angga hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Semoga kau cepat sembuh, karena aku ingin kau menjadi pendamping sahabatku Zia... aku akan berusaha menyembuhkanmu, dan kau juga harus kuat, kau tahu berkat dirimu Dian berubah drastis terima kasih." gumamnya dan menatap penuh terima kasih pada Zia karena telah merubah Dian dalam waktu yang tak lama, dan berharap agar Zia bisa sembuh.


...----------------...


Sedangkan Rayyan dan Zayn mereka baru saja selesai mencari keberadaan pelaku sebenarnya, tadinya merek akan langsung melancarkan aksinya, namun Zayn teringat Nancy yang tak bisa di tinggal lama olehnya mengingat dia sedang mengandung. Akhirnya mereka memutuskan pulang dan melanjutkannya besok, yang terpenting mereka sudah menemukan keberadaannya.


"Ok gue balik dulu, inget besok jangan lupa kita akan menangkapnya." pamit Zayn sambil mengingat kan Rayyan.


"Beres gue gak akan lupa, ya udah sono balik kasian bini lo." Zayn pun pergi meninggalkan pekarangan rumah Rayyan.


Dia memasuki rumah dengan wajah lelahnya, namun di pikirannya memikirkan Zia, dia sudah sangat bersalah pada Zia telah melontarkan kata-kata yang sangat menyayat hatinya, sedaritadi pikirannya tak pernah lepas dari Zia, hingga membuatnya tak fokus saat bersama Zayn.


"Sial...!!.. aku sudah sangat bersalah pada nya, baru saja aku memperbaiki hubungan bersama dia, tapi dengan bodohnya aku merusak semuanya." rutuknya Rayyan menyadari jika dia telah merusak hubungannya lagi, mungkin akan sulit untuk Zia memaafkannya kembali, karena Zia sudah memberikan kesempatan padanya, tapi dengan mudahnya Rayyan merusaknya.


Semantara Zayn baru sampai di rumahnya, dia sudah sangat merindukan istrinya, Zayn memasuki rumahnya yang masih bersinar karena masih pukul delapan malam. Dia melirik kilas meka makan yang masih utuh, Zayn berjalan ke kamarnya mencari istrinya.


"Sayang.... " panggil Zayn yang sudah memasuki kamarnya sambil mengendurkan dasinya membuatnya semakin tampan.


"Kau sudah pulang, kanapa lama sekali? aku menunggumu sedari tadi." ucapnya dengan nada sedih, semenjak hamil Nancy menjadi melow dan manja mungkin karena bawaan bayinya.


"Maafkan aku sayang.... pekerjaanku kini bertambah, tapi aku janji setelah menyelesaikannya aku akan selalu menemanimu." jelasnya sambil duduk di samping Nancy dan mencium pipi nya untuk meredakan rajukan istrinya.


"Kau berjanji kan?." tanya untuk memastikan.


"Iya sayang aku janji." yakin Zayn dan kembali mengecup pipi dan juga keningnya.


"Ya sudah kau mandilah sayang..... aku akan menunggumu di meja makan." Titahnya dan berlalu pergi meninggalkan Zayn.


"Oh ya ampunnn..... kau semakin cantik sayang, ingin rasanya aku menerkam mu sekarang." gemas Zayn melihat tingkah manja Nancy. Zayn pun langsung menuju kamar mandi karena tak ingin istrinya menunggu lama.


Mereka pun makan bersama hanya suara dentingan sendok yang mengisi keheningan meja makan, selesai makan malam mereka pun menonton acara televisi bersantai sejenak.


"Sayang bagaimana kabar Zia? aku mengkhawatirkan dia, karena pada saat kemarin kita ke villa Zia nampak murung." Nancy kepikiran Zia.


"Besok kita kesana untuk memastikan keadaan Zia." jawabnya, Zayn menidurkan dirinya dan kepalanya berada di paha Nancy, Nancy mengelus rambut Zayn lembut.


"Aku ngidamnya pengin terus di dekat Zia, baru aja beberapa hari kita kesana, tapi dia minta pingin deket sama aunty nya. " tutur Nancy entah kenapa di selalu ingin dekat dengan Zia.


"Benarkah? wah anak daddy pengin deket sama aunty ya. " ucapnya Zayn pun duduk sambil mengelus perut Nancy yang masih rata.


"Tak apa itu lebih baik.. daripada kamu ngidamnya minta yang aneh." cicitnya dia bersyukur jika istri nya tak mengidam hal aneh, karena dia mendengar para sahabatnya yang kesulitan akibat dari permintaan istri mereka saat ngidam.


"Kau tahu tidak sayang Mila dan Siti mengidam sangat aneh, membuat Dika dan Yumna kewalahan untuk menuruti kemauan istri mereka." Zayn terkekeh saat kembali mengingat curhatan kedua sahabatnya karena ngidam dari istri mereka sangatlah aneh.


"Benarkah? kita bersyukur karena permintaan dia hanya ingin di dekat aunty nya."Nancy dan Zayn bersyukur karena calon bayi mereka tak meminta hal aneh.


"Aku juga rindu mereka semua, kapan kita bisa bertemu dengan mereka sayang?." tanya Nancy, mereka sudah lama tak bertemu dan berkumpul bersama.


"Entahlah, tapi Dika dan Yumna mengatakan jika sebentar lagi istri mereka akan melahirkan." jelas Zayn.


"Memangnya berapa umur kandungan Siti dan Mila?."


"Siti sudah delapan bulan sedangkan Mila hanya berbeda Dua bulan, karena khawatir Dika dan Yumna tak memperbolehkan mereka pergi jauh, jadi mereka akan datang setelah beberapa bulan setelah melahirkan."


"Oh baiklah." Nancy pun mengerti, karena sekarang jarak rumah mereka lumayan jauh dan sudah berbeda kota, karena Dika dan Yumna telah membuat rumah yang sedikit jauh dari rumah orang tua mereka.