Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-118



Hari ini Zia akan melakukan meeting penting dengan klien di luar perusahaan. Bersama dengan Brian dia pergi ke sebuah restoran ternama. Sesampainya disana ternyata kliennya adalah Dian, Zia hanya bersikap biasa saja dan jangn lupa dengan wajah datarnya.


"Selamat siang tuan Dian.... maaf kami sedikit terlambat." sapa Brian dan meminta maaf karena sedikit telat.


"Oh tidak tuan Brian, kami juga baru sampai." jawab Arif. Zia dan Brian pun duduk di kursi yang sudah di sediakan. Mereka melakukan meeting dengan lancar hanya saja Zia dan Dian hanya diam tanpa menanyakan satu sama lain, dan hanya mengikuti jalannya meeting. Bahkan Zia tak mengingat lelaki yang pernah di tolong nya dan juga rekan yang Zayn pernah kenalkan padanya.


"Huh... kok malah jadi seperti ini, inilah jika kedua orang datar di jadikan satu paket." batin Brian kesal, namun dia bersyukur meeting nya berjalan lancar.


"Aku tahu tuan canggung.... tapi lihatlah nona Zia bahkan tak berekspresi sekalipun, dia bahkan tak menyadari jika tuan canggung berhadapan dengannya." mereka berdua malah berkomentar di dalam hati, apalagi Arif dengan jelas jika Dian sangatlah canggung, apalagi Zia duduk di tepat di hadapannya.


Meeting pun berakhir, mereka melakukan meeting karena akan ada kerjasama proyek pembangunan mall di luar kota, jadi untuk kedepannya Zia dan Dian akan berkerjasama dalam pembangunan, dan akan bersama untuk waktu cukup lama.


Setelah kepergian Zia dan Brian, Dian bersorak gembira di hadapan Arif membuat dia merinding seketika, Dian yang terkenal dengan datar kini berubah menjadi lelaki yang aneh menurut pandangan Arif.


"Akhirnya yang kutunggu datang juga, kita akan melakukan kerjasama proyek besar di luar kota, dan aku yakin tidak bisa di wakilkan.... "


"Aku akan bersama dia dalam waktu lama." girangnya berucap pada Arif, seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan yang di inginkannya.


"Tuan ayo kita kembali, masih banyak yang harus di urus sebelum persiapan kerjasama proyek." ujar Arif, dia sungguh kehilangan akalnya berdekatan dengan bosnya yang sudah agak miring otaknya.


"Dasar bucin.... jika menyangkut nona Zia kau tampak bersemangat tuan.... " gumamnya dengan menatap aneh pada Dian.


"Tak usah menatapku seperti itu, atau mau aku potong gajimu?." ancam Dian, yang tak suka jika Arif memandangnya aneh, dia juga tak tahu kalau dia akan sesenang ini, hanya karena akan bersama Zia dalam waktu lama.


Dian kembali memasang wajah datarnya membuat Arif sulit meneguk salivanya. Arif segera menundukkan kepalanya dia tak mau jika gajinya di potong.


"Maaf tuan.... saya tak akan lakukan hal itu lagi." ucapnya dengan menunduk. Dian beranjak dari duduknya dan meninggalkan Arif sendiri, tanpa menjawab ucapkan Arif.


"Huft..... untung sabar ngadepin bos aneh kaya dia.... " lirih nya agar Dian tak mendengar ocehan nya. Mereka pun kembali ke perusahaan, wajah Dian masih sedikit meninggalkan jejak senyuman yang tak sembarang orang bisa melihat senyuman indah di wajah tampannya.


...----------------...


Zia dan Brian telah sampai di perusahaan, sekarang mereka sedang membicarakan tentang proyek, Zia menajdi pribadi yang lebih serius jika sedang di kantor, dia akan fokus pada perusahaan nya, masalah mafia, Zia menyerahkan semetara waktu pada Riska dan Arham.


"Berapa lama pembangunan mall akan berlangsung?." tanya Zia dengan masih fokus pada layar laptopnya.


"Sekitar lima sampai enam bulan..... dan itu adalah prediksi tepatnya, namun jika di percepat pun bisa nona." jelas Brian yang sudah memprediksi seberapa lama pembanguan mall tersebut.


"Tak usah di percepat, lakukan saja dengan baik, agar mall bisa berdiri dengan kokoh dan sesuai dengan harapan." ucap Zia, karena dia tak mau tergesa-gesa dalam membangun sebuah proyek, agar nantinya proyek tersebut bisa berjalan dengan baik.


"Baik nona, kalau begitu saya permisi, masih ada yang harus di persiapkan." pamit Brian karena besok proyek akan segera di mulai.


"Hemmm.... " hanya deheman yang keluar dari bibirnya, Brian pun pergi kini dia mulai terbiasa dengan sikap dingin dan datar atasannya.


Setelah kepergain Brian tanpa di sadari Zia ternyata Zayn datang, dia tersenyum melihat perubahan Zia dalam memimpin sebuah perusahaan, meski sikapnya dingin tapi dia bisa memajukan perusahaan tanpa bantuannya, Zayn sadar jika Zia sudah dewasa, di tambah dengan kejeniusan otaknya, dia yakin Zia akan mampu membawa perusahaannya lebih maju.


"Ekhem... " deheman Zayn karena Zia terlalu fokus pada laptopnya sehingga tak sadar jika Zayn sudah duduk di hadapan nya. Zia melihat siapa yang datang, dan langsung menghentikan pekerjaannya.


"Ada apa datang kemari kak?." tanya Zia langsung.


"Kakak hanya ingin melihatmu saja.... " jawabnya enteng, hari ini Zayn rindu pada adiknya.


Zia hanya mendengus dan kembali fokus pada laptopnya, Zayn hanya terkekeh melihat wajah Zia.


"Apa kau akan mengadakan kerjasama proyek dengan Dian?. " tanya Zayn penasaran, karena dia yakin jika Dian pasti akan memanfaatkan situasi ini.


"Hemm." Zia hanya berdehem.


"Berapa lama kalian akan melakukannya?."


"Enam bulan, dan sepertinya aku akan menetap di sana sampai proyek selesai." jelasnya, benar dugaan Zayn pasti Dian akan sangat senang bisa bersama adiknya, tapi tak apa Zayn bahagia jika Dian ada bersama Zia, yang pasti Zia akan aman di sana.


"Wah lama juga.... pasti nanti akan tumbuh benih-benih cinta jika kalian bersama terlalu lama." goda Zayn karena dalam waktu lama antara perempuan dan laki-laki jika terus bersama maka bisa jadi cinta akan tumbuh di antara salah satunya, atau bisa keduanya.


"Ck.... berisik jika kau masih mengatakan hal itu lebih baik keluar saja." usir Zia telinganya terasa panas jika mendengar nama cinta, dia sudah muak dengan hal tersebut.


"Ok baiklah maafkan kakakmu ini, aku tak akan mengatakan hal itu lagi." Zayn tak mau membuat Zia marah.


Suasana ruangan mendadak hening, tak ada obrolan lagi hanya ada suara keyboard laptop Zia. Zayn pun ikut tak bersuara dia tahu jika Zia tak ingin mendengar nama cinta, hatinya sudah sakit kala dia harus di sakiti oleh nama itu.


"Zi.... " panggil Zayn untuk menghilangkan keheningan ruangan tersebut.


"Hmmmm." hanya deheman yang Zia jawab.


"Apa kau sudah memaafkan Rayyan?." tanya Zayn, sebenarnya dia ingin hubungan Rayyan dan Zia membaik meski nantinya Zia dan Rayyan hanya menjalin hubungan sebatas teman.


Zia menghentikan jarinya yang sedang mengetik, dia memang belum sepenuhnya memaafkan Rayyan, itu di lakukan karena Zia masih sedikit sulit untuk memaafkannya.


"Lebih baik kau memaafkannya, kakak tahu semuanya tak akan kembali seperti semula, tapi setidaknya hubunganmu dan dia membaik meski hanya sekedar teman. " Zayn mencoba membujuk Zia agar dia mau memaafkan Rayyan, dia kasihan melihat satu bulan ini Rayyan berusaha untuk bisa mendapat maaf dari Zia.


Nancy dan Raina juga sudah membujuk Zia, namun Zia tetap pada pendiriannya hingga akhirnya Rayyan hanya bisa pasrah, entah keputusan apa yang akan Zia katakan pada Rayyan dia akan menerimanya, meski nantinya Zia tak kembali padanya dia akan mengikhlaskannya.


"Itu saja yang ingin kakak katakan, jadi pikirkanlah dengan baik, jika kau tak ingin kembali padanya tak apa, tapi setidaknya maafkanlah dia." setelah mengatakan hal tersebut Zayn tanpa menunggu jawaban dari Zia, dia pun beranjak dari duduknya dan pergi keluar ruangan.


Zia masih diam dan mencerna perkataan kakaknya, padahal dalam hatinya Zia ingin sekali memaafkan Rayyan, tapi entah kenapa sulit untuk dia katakan. Zia akan memikirkan hal itu dan Zia akan memutuskannya.


**Jangan lupa tinggalkan jejak untuk mendukung karyaku dengan memberi like, vote dan comment πŸ˜Šβ˜ΊπŸ™πŸ™


Don't forget guys 😊😊😊


Karya ini akan berlanjut sampai Zia menikah dan juga punya anak, dan semua sahabatnya juga akan memiliki anak , jadi ikuti kisahnya terus semoga tak bosan membaca karyaku πŸ˜Šβ˜ΊπŸ˜‰**