Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-80



Suasana menjadi canggung, karena Raina tak merasa enak hati ingin berbicara tentang Varo dan segala rencana konyolnya.


"Lo ingin berbicara apa Rain?." tanya Zia karena sedari tadi Raina hanya diam.


"Jangan sungkan kalau lo mau ngomong gue bakal dengerin penjelasan lo sama kakak." Zia tahu maksud dari diamnya Raina, Zayn mengernyitkan dahinya apa maksud dari ucapan Zia tadi pikirannya bertanya-tanya.


Raina masih saja diam, lidahnya terasa kelu, Zayn pun masih mencerna ucapan Zia, dia masih belum paham maksud dari ucapan adiknya. Zia mendesah berat rasanya ingin sekali memukul dua orang di di sampingnya ini, kenapa meraka tak mengerti, pikir Zia.


"Apa kalian bisu? aku sudah tahu jika kalian pasti ingin menjelaskan semuanya kan? sekarang jelaskan semuanya, kalian semua sudah berhutang penjelasan denganku." jelas Zia karena Raina dan Zayn hanya diam dan sibuk dalam pikiran mereka masing-masing.


Zayn dan Raina sangat terkejut dengan ucapan Zia, mereka saling pandang seakan memberi isyarat,bahwa mereka harus menjelaskan apa Zia,Zayn menghela nafas berat sepertinya Zia sudah mengetahui segalanya.


"Baiklah adik.... ini memang sebuah rencana kami semua merahasiakan ini semua darimu, tapi kumohon Zia kau pasti mengertikan ini adalah permintaan Varo. " jelas Zayn, dia sudah tak tahu lagi harus memberi alasan apa kepada Zia.


"Iya Zia.... ini semua adalah rencananya jadi kumohon mengertilah." tambah Raina.


Zia hanya mengehembuskan nafasnya kasar, kenapa mereka merencanakan hal yang konyol dan tak masuk akal, sungguh sekarang Zia ingin sekali mencabik semua temannya.


"Maafkan aku Zia..... aku tak bermaksud membohongimu, tapi Varo memaksaku untuk membantunya, aku sudah berusaha menolak, tapi Varo terus saja memaksa." Sesal Raina, dia tak bermaksud ingin membohongi Zia.


"Iya Zi... kakak dan juga teman yang lain minta maaf kalau kami menyembunyikannya darimu." Mereka pun meminta maaf agar nantinya masalahnya tak semakin rumit.


"Baiklah gue udah maafin lo semua, tapi gue minta kalian gak usah lakuin itu lagi, sekarang mana Alvaro? gue mau ngomong." jelas Zia, memaklumi semua kelakuan temannya.


Zayn dan Raina saling pandang, entah bagaimana mereka akan memberitahukan kebenaran jika Varo sudah tak ada lagi di dunia, sungguh kenyataan memang terkadang menyakitkan. Mereka hanya diam bum menjawab pertanyaan Zia.


"Heh kenapa lo pada malahan diem? jawab gue." ucap Zia penuh penekanan dalam setiap ucapannya.


Zayn meneguk salivanya kasar, sulit rasanya ingin mengatakan kebenaran, apalagi pertanyaan yang Zia lontarkan sangat sulit untuk mereka ungkapkan. Raina pun sama halnya dengan Zayn, pertanyaan Zia seakan membuat mereka skakmat.


"Kak katakan dimana dia? kalau tidak gue yang akan cari tahu sekarang." ancam Zia, melihat Zayn dan Raina hanya diam membuatnya muak. Zia berpura-pura akan mencabut infusan dari tangannya, Zayn yang melihat Zia nekat akhirnya mengalah.


"Ok.... ok gue bakal ngomong, tapi lo gak usah nekat begitu, lo masih belum sembuh. " pasrah Zayn yang tak mau jika Zia nanti akan sakit lagi. Zia hanya tersenyum smirk, karena rencananya berhasil. Dia pun kembali duduk di brankar dan tak jadi mencabut selang infus di tangannya.


"Ya udah kasih tahu sekarang." singkat Zia, dia sangat tak menyukai basa-basi.


Sebelum menceritakan tentang Varo, Zayn memberi Zia sebuah amplop berwarna biru,dimana sebelum operasi jantung Varo menitipkannya pada Zayn untuk Zia. Zia mengeryitkan dahinya dan menatap heran Zayn.


"Ini apa?." tanya Zia penasaran karena tiba-tiba saja Zayn memberi amplop itu pada Zia.


"Lo buka amplop itu setelah lo tau semuanya, dan lo harus baca di rumah." ucap Zayn yang tahu jika Zia masih belum mengerti maksud Zayn memberinya amplop.


"Baik tapi lo janji jangan marah."


"Iya bawel.... cepet napa... " kesal Zia karena Zayn terlalu bertele-tele. Raina hanya menjadi pendengar dan tak mau ikut menjelaskan, biarlah Zayn yang memberitahukan semuanya pada Zia.


"Varo udah gak ada di sini, dia sudah pergi Zia... " ucap Zayn menggantung. Zia masih belum paham dengan apa yang di ucapkan Zayn.


"Apa maksud lo kak? jelasin aja langsung." Zia yang sudah mulai tak enak dengan perasaannya.


"Zi..... Varo udah meninggal, penyakitnya sudah tak bisa di sembuhkan,lo harus bisa nerima ini semua dan ikhlaskan dia pergi."jelas Zayn air matanya sudah tak terbendung begitu juga dengan Raina dia ikut menangis. Zia yang mendengar penuturan Zayn langsung terdiam seribu bahasa, bagai mendapat sambaran chidori Sasuke, begitu menusuk dan sangatlah dalam.


" A... aapa yang lo bilang kak? lo gak becanda kan?."Air matanya kini sudah turun membasahi pipi mulusnya.Zia menutup mulutnya tak percaya dengan ucapan Zayn.


"Kak..... jujurlah ke gue, semua itu bohong kan?." Zia masih saja menyangkal ucapan Zayn, Raina yang melihat itu menjadi tak tega. Raina pun mendekatkan dirinya hingga tepat di samping kanan Zia, dia langsung memeluk Zia erat.


"Zi lo harus kuat..... Zayn nggak bohong... yang dia katakan itu benar." Ucap Raina yang memeluk tubuh Zia.Zia pun membalas pelukan Raina, sekarang Zia sangat membutuhkan pelukan.


"Ro.... kenapa lo pergi.... gue gak bisa kehilangan lo, gue mohon kembalilah..... " batin Zia tangisnya pecah di pelukan Raina.


Raina melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Zia dengan tangannya dan mengusap air mata Zia.


"Zi aku tahu lo kuat.... lo gak boleh nyerah, Varo pasti sedih liat lo kaya gini... ikhlasin dia agar Varo bisa tenang disana." jelas Raina memberi semangat agar Zia bisa mengikhlaskan dan melepaskan Varo. Karena jika kesabaran tak bisa membawanya kembali biarlah keikhlasan yang membawanya pergi, karena dengan mengikhlaskan semuanya akan baik-baik saja.


Zayn pun tak kuasa melihat Zia sangatlah rapuh kehilangan Varo, Zia hanya terdiam dan tak berbicara setelah mendengar kebenaran itu, yang sekarang dia inginkan hanyalah melihat Varo, namun semuanya sudah tak bisa. Pandangannya menjadi kosong.Raina dan Zayn yang melihat Zia berubah mereka tak bisa melakukan apapun.


Setelah puas dengan pikirannya sendiri, Zia menoleh kearah Zayn dan Raina, ya mereka masih setia menunggu Zia di ruangan rawatnya. Mereka yang di tatap Zia segera mendekat, karena takut Zia membutuhkan sesuatu.


"Zi...." panggil Zayn.


"Anterin gue ke makam Varo, sekarang....!!." pinta Zia tegas.


"Lo masih belum pulih Zi.... " cegah Zayn karena tak mau jika Zia kenapa-kenapa.


"Ya udah kalau lo gak bisa gue yang akan kesana sendiri." Zia pun mencabut selang infus di tangannya dan membuat tangan Zia mengeluarkan darah. Zayn yang melihat itu menjadi panik, begitu juga Raina.


"Baik gue anter.... " Akhirnya Zayn pun mengikuti kemauan Zia, mereka memasuki mobil Zayn untuk ke pemakaman Varo. Sebelum ke pemakaman Zayn membelikan sebuket bunga.


Di mobil hanya ada keheningan, Zia hanya melamun dan terus memperhatikan ke luar jendela. Beberapa saat akhirnya mereka sampai di pemakaman dimana Varo di kebumikan beberapa hari lalu. Zia langsung berlari ke pemakaman yang masih segar dengan bunga yang belum mengering sepenuhnya,dan bertuliskan nama Alvaro di batu nisan yang menancap di gundukan tanah itu.