
Dua minggu kemudian....
Sudah dua hari setelah pernikahan, dan kesibukan mereka telah selesai. Zia dan Dian sedang menghabiskan waktu bersama, jauh dari rumah mereka dan sementara waktu perusahaan di pegang oleh Zayn. Bisa dikatakan mereka sedang berbulan madu, dan berangkat setelah dua hari dari hari pernikahan mereka.
"Aku lelah sekali sayang, bisakan kita pulang hari ini?." keluh Zia yang sudah lelah, karena mereka sudah berangkat minggu lalu, dan sekarang minggu kedua, jadi Zia ingin segera pulang. Karena mereka sudah menghabiskan hari-hari mereka berduaan.
"Baiklah jika kamu ingin pulang, aku tidak mau istri tercinta ku kelelahan." Dian tidak mau membuat Zia kelelahan, karena baginya sekarang Zia adalah hal yang terpenting dalam hidupnya.
"Makasih sayang... " ucapnya tersenyum manis, dan memeluk Dian, Dian bahagia bersama Zia, bahkan lukanya seakan terobati.
"Ada banyak hal yang ingin aku lewati bersamamu sayang, kita akan membangun keluarga kecil yang membahagiakan dan harmonis, semoga cepat hadir." Ungkapnya, sambil mengusap pelan perut bagian bawah Zia, berharap buah cinta mereka segera hadir.
"Iya sayang.... semoga kebahagiaan ini selalu ada pada kita." Zia tersenyum indah, dia juga berharap hal yang sama seperti Dian.
"Ya sudah kita akan bersiap kembali, semua pasti menunggu kepulangan kita." Mereka pun bersiap untuk pulang, mungkin sudahi saja bukan madu ini, karena Dian juga masih harus mengururs perusahaan, begitu juga keinginan Zia yang ingin segera pulang. Tak lupa satu hari sebelum pulang, Zia dan Dian sudah membelikan oleh-oleh dari sana.
Dian juga sudah memberi kabar pada Brian asisten Zia untuk menunggu mereka di bandara, sementara yang ikut dengan mereka adalah asisten Dian yang baru bernama Setya Abhimanyu, dia menggantikan asisten lamanya, karena sudah pensiun.
"Setya siapkan penerbangan hari ini." titah nya, dia langsung menjalankan tugasnya, Setya adalah lelaki yang tidak banyak bicara, dan sangat pendiam, tapi dia bekerja dengan baik, dan disiplin.
Dalam waktu beberapa menit Setya sudah menyelesaikannya, dia pun segera menyiapkan mobil untuk berangkat ke bandara, karena waktu penerbangan tinggal lima belas menit lagi.
Kini Zia dan Dian sudah berada di pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas, Zia duduk bersebelahan dengan Dian, Dian selalu menggenggam tangan Zia dengan erat, Zia begitu senang melihat perlakuan Dian yang selalu membuatnya tenang.
Namun sedari tadi Dian melihat wajah pucat Zia, dia terlihat sedang tidak fit.
"Sayang kamu sakit hmm?." tanya Dian sambil menatap serius Zia.
"Em.. sedikit sayang sudah dua hari aku merasakan nya." jelas Zia, yang ternyata sudah dua hari ini dia memang sedang tidak fit.
"Mengapa kamu tidak bilang sayang? ya sudah pulang dari sini aku akan langsung memanggil Angga untuk datang ke rumah."Dian tidak mau hal buruk terjadi pada Zia, dia khawatir akan kesehatan sang istri.
"Tidak apa sayang, aku baik-baik saja." ucapnya, sekarang suaminya semakin protektif terhadapnya, tapi Zia sangatlah senang, masa kecilnya yang selalu bersedih karena cinta pertamanya telah melukai hatinya, hingga dia ingin sekali merasakan perhatian, dari orang yang dia sayangi.
"Sudahlah sayang, tidak ada bantahan biarkan nanti Angga memeriksa keadaan mu." Zia akhirnya menyetujuinya, entah kenapa semenjak dengan Dian, kini dia lebih menurut.
Di perjalanan Zia tertidur dengan pulasnya, Dian gemas melihat wajah Zia yang sedang terlelap, wajah yang teduh dan tenang, seakan beban hidupnya baru saja terangkat. Sesekali dia mengusap kepala Zia lembut, dia ingin bisa memberikan kasih sayangnya kepada istrinya, karena Dian sudah tahu semua masa lalu Zia, hingga Zia dan Zayn mengambil jalan bawah yaitu menjadi mafia.
Dian ingin selalu membahagiakan Zia, dimana kebahagiaan Zia telah di renggut. Dian tidak akan membuat Zia bersedih, banyak yang ingin Dian lakukan bersama dengan Zia.
"Aku akan selalu membahagiakan mu, tetaplah tersenyum cantikku.... aku tidak akan biarkan senyum mu itu terbenam kembali seperti dulu, tapi akan selalu bersinar di wajahmu indahmu." batin Dian, apapun yang terjadi Dian tidak akan membiarkan Zia bersedih.
Beberapa jam kemudian....
Sampailah mereka di bandara, dan Brian segara menghampiri Zia dan Dian, dia segera memasukkan barang bawaan mereka ke mobil, dan mempersilahkan Dian dan Zia memasuki mobil.
Dian segera menghubungi Angga untuk datang ke mansion utamanya, untuk memeriksakan keadaan Zia. Semua barang milik Zia sudah di pindahkan ke mansion utama milik Dian, sementara villa Zia sudah menyuruh kepada beberapa pelayanan untuk tetap membersihkan nya seminggu sekali, karena jika Zia bosan dia pasti akan pergi kesana. Apalagi beberapa waktu lalu sebelum pernikahan Ilham telah membangun sebuah taman baru dan perpustakaan sebagai hadiah untuk Zia dan Dian, jadi sesekali mereka akan menginap disana.
"Ok gue kesana..... " ucap Angga dari balik telpon.
Lagi-lagi Zia tertidur pulas, padahal baru beberapa meter dari bandara, dia sudah terlelap, Dian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah imut Zia, namun seperti ada yang aneh, tidak biasanya Zia seperti ini, biasanya Zia akan sibuk bertanya pada Brian tentang perusahaan, tapi justru dia terlelap.
"Ohh manis sekali...... " gumam Dian gemas.
Sampialah mereka di pelataran mansion besar milik Dian, para pelayan membantu membawa barang mereka. Dian tidak tega membangunkan istrinya sehingga dia menggendong tubuh sintal Zia dan membawanya langsung ke kamar. Selang beberapa menit datanglah Angga kesana.
"Maaf tuan.... dokter Angga sudah sampai." salah satu pelayan memberitahukan kedatangan Angga.
Datanglah Angga dengan mbawa peralatan dokternya, dan memasuki kamar pengantin baru tersebut.
"Ada apa sampai-sampai memanggil ku kemari? bukankah kalian baru saja selesai berbulan madu?." pertanyaan keluar dari mulut Angga.
"Aku hanya ingin memastikan keadaan Zia, karena terlihat sekali wajahnya pucat, apakah dia akan baik-baik saja?." Dian terlihat khawatir, dan sontak membuat Angga tertawa kecil, seorang Dian yang dingin dan cuek kini berubah menjadi cerewet dan perhatian kepada wanita.
"Apa yang kau tertawakan?." kesal Dian karena di tertawakan oleh Angga.
"Tak apa tak apa..... aku hanya merasakan bahwa kau kini berubah.... tunggu apa kamu berlian kasar kepadanya? sampai-sampai dia sakit?." Angga hanya beranggapan bahwa Dian bermain sedikit kasar, karena mereka sama-sama baru pertama kali melakukannya.
"Aku tidak kasar Ngga... kenapa jadi membahas hal itu, sudah cepat periksa keadaan istriku.... " Dian menjadi gugup karena pertanyaan Angga, menurutnya itu adalah privasi.
"Jujur saja, jika masalah ini bisa menganggu kesehatan Zia maka kamu harus lebih lembut lagi, karena ada wanita yang mudah sakit karena melakukan hal itu dengan tidak berhati-hati." jelas Angga, banyak keluhannya mengenai hal tersebut dari pasutri yang baru mengalaminya.
"Aku tidak berbohong... dia baru dua hari terlihat pucat, bukan dari awal aku dan dia berhubungan." Dian tahu sejak awal Zia memang tidak apa-apa, dia juga sering memperhatikan kalau dua hari sebelum mereka pulang Zia terlihat sedang tidak enak badan.
"Baiklah aku akan periksa keadaannya." Angga segera memeriksakan keadaan Zia yang sedang berbaring terlelap. Namun belum sempat Angga memeriksa keadaan Zia, dia terbangun.
"Hah sudah sampai...?." tanya nya bingung, membuat Angga terkekeh.
"Sudah sampai Zi.... " ucapnya, Zia langsung menoleh ke sumber suara.
"Eh Angga.... kamu di sini?." tanya Zia yang masih dalam mode bingung nya.
"Iya nihh, di suruh suamimu buat periksa kesehatan lo... " jelas Angga dengan di beri lirikan tajam oleh Dian.
"Kamu yang panggil dia sayang? Aku baik-baik saja kok, tidak apa." Zia memang sedang tidak sakit.
"Sudah sekarang biarkan Angga memeriksa keadaan kami sayang." Dian tidak mau ada penolakan, dia ingin memastikan jika Zia memang baik-baik saja.
"Baiklah... baiklahh." pasrah Zia, dia pasti tidak akan bisa menang jika melawan kemauan suaminya.
Angga memeriksa keadaan Zia, ya memang wajah Zia pucat tapi tidak demam. Setelah selesai Angga duduk di sofa kamar mereka, di ikuti oleh Zia, dia juga ikut duduk disana.
"Bagaimana? apa ada hal serius?." tanya Dian penasaran.
"Sabar dulu kau ini.... begini aku tidak bisa memastikan secara benar, karena aku hanya dokter umum, tapi keadaannya memang baik-baik saja, hanya saja sepertinya istrimu sedang mengandung... jadi aku sarankan segera bawa dia ke dokter kandungan." Dian dan Zia melongo mendengar menuturkan Angga.
"Apa aku tidak salah dengar?." tanya Dian yang masih belum percaya.
"Bisa kamu katakan sekali lagi?." Zia juga masih bertanya-tanya.
"Aduh kalian ini malah banyak tanya.... aku sudah memeriksanya jika kalian belum yakin lebih baik segera ke dokter kandungan." Angga terheran dengan pasangan tersebut, mereka sama sekali tidak percaya.
Zia dan Dian tidak bisa mengatakan apapun, akhirnya mereka akan segera menjadi seorang ayah dan ibu.
"Kandungan nya masih berumur satu minggu, jadi harus di perhatikan dengan baik." jelasnya lagi. Dian memeluk erat Zia mencurahkan rasa bahagianya, begitu juga dengan Zia yang begitu bahagia.
"Selamat untuk kalian berdua, semoga memang benar Zia hamil, jadi segera pergi ke dokter kandungan... ya sudah kalau begitu aku permisi dulu masih banyak perkerjaan." Angga pun pamit, karena tidak mau menganggu kemesraan mereka.
"Terima kasih sayang..... terima kasih aku akan segera membawa ke dokter kandungan, semoga benar apa yang di katakan Angga." Dian berharap Zia benar-benar hamil.
"Iya sayang...." Zia tidak bisa mengatakan apapun lagi, karena saking bahagia nya.
"Ya sudah kita bersiap ke dokter kandungan, tapi sebelum itu kita membersihkan diri duluu." Zia dan Dian bersiap sebelum pergi.