
Seperti biasa mereka bekerja setiap pagi hingga sore hari semua berjalan lancar hingga satu minggu, Dian lebih banyak mencuri waktu untuk berbicara berdua dengan Zia, meski itu hanya berbicara seputar pekerjaan tapi semua itu membuat hati Dian berbunga-bunga.
"Nona Zia tunggu.... " teriak Dian memanggil Zia yang baru saja selesai dari pekerjaannya. Zia menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Ada apa?." tanya Zia seperti biasa dengan mode datarnya.
"Anu.... bisakah malam nanti kita makan bersama di luar?. " tanya Dia dengan sedikit ragu. Zia berfikir dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Dian.
"Boleh...kita akan pergi nanti malam." jawab Zia membuat Dian bahagia, dia tak menyangka jika Zia akan menyetujuinya.
"Baiklah nanti malam akan saya jemput." ucap Dian bersemangat. Zia hanya mengangguk dan pergi berlalu tanpa berbicara lagi.
"Akhirnya kita bisa dinner malam ini, semoga sedikit demi sedikit aku bisa mengisi ruang hatimu yang kosong itu." Dian juga pergi untuk bersiap.
Malam harinya benar saja Zia bersiap dan sudah menggunakan dress dan sedikit memoles wajahnya dengan make up tipis, karena dia sudah cantik meski tak menggunakan make up. Zia menunggu jemputan Dian, dan sepuluh menit kemudian mobil Dian sudah datang, dan keluarlah Dian dengan setelah kemeja dan rompinya, membuat dia terkesan gagah.
"Maaf membuatmu lama menunggu." ucap Dian, matanya terpesona akan kecantikan wajah Zia, di tambah dress yang sangat cocok di tubuhnya.
"Tidak aku baru saja menunggu." ucap Zia singkat.
"Ya sudah ayo kita berangkat. " Dian membukakan pintu mobilnya untuk Zia, dan bersikap sebaik mungkin.
Zia merasa ada yang aneh dengan perlakukan Dian padanya, namun dia berfikir positif karena dia tahu jika Dian adalah lelaki baik. Bahkan selamat seminggu ini Zia merasakan jika Dian sering mengajaknya berbicara meski itu hanya sekitar pekerjaan.
Jalanan ramai dengan para pengendara, karena malam minggu banyak yang berkencan bersama para kekasih nya. Sampailah mereka di restoran yang yerkelan di negara itu, tanpa di ketahui Zia ternyata Dian sudah menyiapkan semuanya, dan dia juga sudah memesan meja khusus untuk mereka berdua.
"Silahkan nona." Dian menarik kursi yang akan Zia duduki, entah kenapa Zia selalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Dian. Zia hanya mengangguk dan mendudukan dirinya di kursi tersebut.
Restoran tersebut cukup ramai sehingga Dian memesan kursi VVIP untuk mereka berdua, sehingga ruangan mereka tertutup. Zia menatap keindahan dan nuansa restoran tersebut.
"Maaf jika restoran nya tidak sesuai dengan seleramu." ucap Dian merasa bersalah karena restoran nya tidak sesuai dengan selera Zia. Padahal ini adalah malam penting baginya.
"Tidak buruk aku juga menyukai restoran ini, jadi tak usah merasa bersalah." Zia juga tak mempermasalahkan hal tersebut baginya mau bagus atau tidak, tapi jika hidangan yang di sediakan sesuai dengan lidahnya maka dia akan menyukainya.
"Benarkah? baiklah jika anda menyukainya." Dian bernafas lega, karena Zia juga menyukainya.
Hidangan pun sudah tersaji di meja makan mereka, Zia hanya memesan spageti dan juga lemon tea minuman kesukaannya, Zia juga tak terlalu memesan banyak makanan, karena semua itu sudah cukup. Sedangkan Dian memesan steak dengan kentang goreng dan juga jus alpukat minuman kesukaannya.
Mereka pun makan tanpa berbicara, namun sesekali Dian mengajak Zia berbicara agar suasana tidak terlalu hening, Dian menjadi lelaki yang banyak bicara jika bersama dengan Zia. Rasanya jika berada di dekat Zia dia merasa nyaman dan juga merasa sangat bahagia hatinya, walaupun Zia terkadang menanggapinya dengan dingin dan datar.
"Bagaimana makanan di restoran ini? apa kamu menyukainya?." tanya Dian setelah mereka selesai makan, mereka mengobrol sebentar.
"Begitu.... bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?." Dian sudah ingin menanyakan hal tersebut.
"Silahkan tanyakan saja. " singkat Zia. Dian berusaha merangkai kata yang bagus, agar Zia tak kesal ataupun marah.
"Anu bolehkan kita berteman, tapi bukan hanya rekan kerja.... aku ingin bisa berteman dekat denganmu." ungkap Dian membuat wajahnya bersemu merah. Sudah sejak lama Dian ingin berteman dekat dengan Zia, agar dia tahu seperti apa Zia dan juga kepribadiannya, karena dia sudah yakin Zia adalah wanita pilihannya.
Zia diam dan mencerna apa yang baru saja di ungkapkan ole Dian, Zia tak keberatan jika Dian ingin berteman dekat dengannya, tapi Zia yakin ada tujuan tertentu namun Zia tak boleh berprasangka buruk terhadapnya.
"Baiklah aku mau berteman denganmu, tapi ingat satu hal bahwa kita hanyalah sekedar berteman." ucap Zia dia tak mau jika kejadian itu terulang lagi.
"B-baiklah...." Dian tak bisa menyetujui hal itu, karena yang dia ingin adalah menjadi teman hidup Zia bukan hanya sekedar berteman, tapi Dian akan melakukan apapun agar Zia mau membuka hatinya lagi.
Tak apa Zia mengatakan hal itu, Dian tahu jika Zia masih terluka jadi Zia mengatakan hal tersebut agar dia tak terluka untuk yang ke sekian kalinya. Mereka menyudahi obrolan dan pulang karena sudah malam, Dian mengantarkan Zia pulang ke paviliun nya.
"Terima kasih telah menerima ajakan ku." ucap Dian sebelum Zia turun.
"Tak usah sungkan... jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja." Zia juga tak keberatan jika harus pergi bersama Dian.
"Kalau begitu aku permisi." Zia pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam paviliun tanpa berkata. Dian menatap punggung Zia yang sudah menghilang di balik pintu. Setelah Zia ta terlihat Dian pun baru pergi.
Hatinya bahagia namun dia juga masih memikirkan perkataan Zia, ucapan Zia terngiang jelas di kepalanya, namun tak ada kata menyerah dalam kamusnya bagaiamanapin cara nya Dian pasti akan bisa mendapatkan Zia.
"Tak apa sekedar berteman, tapi ku yakin suatu saat nanti aku akan mendapatkan mu dan juga hatimu.... kamu hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka di hatimu." gumamnya bermonolog sendiri dia masih belum menyerah.
Sesampainya di rumah Dian masih saja memikirkan hal itu, dia pun mengambil satu botol wine untuk menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Hanya dengan perkataan Zia membuatnya kalang kabut.
Sudah beberapa botol dia menghabiskan nya bahkan tanpa sisa, kesadarannya mulai memudar Dian mabuk, dia berceloteh tidak jelas. Arif memasuki rumah atasannya karena ada hal penting yang harus dia katakan.
Bau alkohol menyeruak di ruang tengah, Arif pun segera mencari keberadaan atasannya, dan benar saja Dian sedang terduduk sambil bicara tidak jelas.
"Tuan apa yang Anda lakukan? anda mabuk tuan?." Arif pun membantu Dian berdiri dan memapahnya ke kamar.
"Dia tak mau menjadi pendamping ku Arif..... dia hanya mengatakan bahwa hubungannya hanya sekedar teman..... aku... aku.... " keluh Dian mengeluarkan isi hatinya.
"Aku tak mau kehilangan dia..... bagaimanapun caranya dia harus menjadi pendamping hidupku." tambahnya lagi, dengan nada sedihnya. Sampai tengah malam Dian masih di ruang tengah, dia sudah terbaring di sofa.
Arif tahu perasaan Dian dia bahkan sedih melihat keadaan bosnya yang sudah mabuk, dan ini bukan seperti Dian yang biasanya. Bahkan Arif belum pernah melihat Dian seperti sekarang ini. Sesampainya di kamar, Arif membaringkan tubuh Dian, dia sudah berhenti bicara karena tertidur.
"Istirahatlah tuan kamu sudah terlalu lelah... kita pasrahkan saja aku yakin suatu saat anda akan bisa mengambil hati nona Zia.... dia hanya perlu waktu karena hatinya masih terluka." Arif menatap sendu, Dian sudah berusaha dan baru saja mengatakan pertemanan Zia sudah memperingati nya untuk tidak memiliki perasaan padanya. Dan itu bagaikan tamparan keras untuk Dian membuatnya benar-benar harus mundur untuk mendapatkan Zia.