
Mentari sudah menampakan sinarnya, yang menandakan jika kegelapan sudah sirna. Terlihatlah gadis cantik yang masih tak ingin membuka matanya,tiba-tiba saja sinar matahari menelusup masuk ke celah gorden dan membuat Zia mengerjapkan matanya. Dia pun terduduk mengumpulkan kesadarannya.Namun ingatannya kembali memutar kejadian tadi malam, sungguh Zia tak ingin bertemu dengan Rayyan karena dia masih kecewa meski dia tahu jika Rayyan pasti punya alasan.
"Huh pergi kau tak usah kembali, aku muak...... dasar tak tahu malu kenapa kau datang di saat hati ini mulai menghilangkan perasaan kepadamu Rayyan? kenapa?.... kini hati ku sudah hampa, semu..... dan hambar.... entah nantinya aku bisa membukanya lagi untukmu atau tidak." Zia menggerutu tak jelas, dia masih kecewa kepada Rayyan sehingga dia sengaja mengubur perasaannya dalam-dalam, namun di saat dia sudah hampir melupakan Rayyan tiba-tiba saja datang.
Zia bangkit dari duduknya dan langsung beranjak ke kamar mandi, hari ini Zia akan ke markasnya karena hal penting sedang menunggunya, ya Zia sudah menyuruh Arham menyelidiki tentang kasus kakek dan neneknya beberapa hari lalu, dan tadi malam Arham memberitahu jika informasi nya sudah ditemukan.Selesai membersihkan diri dan berpakaian Zia keluar dari kamar dan turun untuk sarapan.
Di lihatnya Zayn sudah menunggunya di meja makan, Zia hanya memandang datar Zayn, karena dia masih kecewa pada kakaknya yang tak memberitahukan bahwa Varo adalah pendonor nya. Zayn melihat Zia memakai pakaian serba hitam,dia mengetahui jika markas pasti dalam masalah.
"Zi.... lo mau ke markas?." tanya Zayn memastikan.
"hmmm."jawabnya, dan mendudukan dirinya di kursi.
"Ada masalah apa di markas? bukanya semua masalah sudah terselesaikan?." tanya Zayn lagi, karena empat tahun terakhir ini markas aman-aman saja.
"Udah sarapan aja, nanti ngomonginnya." ucap Zia dingin sambil memasukan makan ke mulutnya.
Tanpa bertanya lagi, Zayn pun meneruskan sarapannya, hanya ada keheningan di ruang makan, hingga mereka selesai dengan kegiatan pagi mereka, Zia beranjak dari tempat duduknya.
"Kak ikut gue ke markas, ada yang mau gue omongin. Penting..... " tegas Zia dan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban Zayn. Zayn hanya bernafas berat, baginya sekarang Zia sangatlah asing.
Zayn pun segera mengganti pakaian menjadi pakain serba hitamnya dan tak lupa membawa topengnya, dia juga menghubungi asistennya untuk menggantikan semua pekerjaannya. Zayn meluncur menggunakan mobilnya yang biasa dia gunakan untuk misinya di mafia. Beberapa menit kemudian Zayn sudah sampai di markasnya, yang beberapa minggu ini belum dia kunjungi, Zayn juga tahu jika Zia sering sekali datang ke markas.
"Selamat datang King..... sudah lama kau tak datang." sapa Riska, yang melihat Zayn akan memasuki markasnya.
"Eh Riska.... bagaimana kabarmu?." tanya Zayn.
"Saya baik, bagaimana dengan anda King?." tanya Riska dan mendekat pada Zayn.
"Oh saya baik-baik saja, kalau begitu saya masuk dulu."ucapnya.
"Iya King silahkan."Zayn pun masuk meninggalkan Riska. Sesampainya di dalam Zayn melihat Zia yang sedang berbicara serius dengan Arham, dia pun mendekat agar mengetahui masalah yang terjadi di markas yang belum dia ketahui.Arham yang melihat Zayn datang pun langsung mendekat pdanya.
"King kau datang... aku sangat merindukanmu." ucapnya Arham dengan manja membuat Zayn begidik.
"Cihh..... kau menjijikan sekali." Zayn memandang jijik Arham yang menurutnya sangat lebay.
"Ya elah King kan gue udah lama gak ketemu lo, kemana sih lo? sibuk amat." tanya Arham.
"Ada pekerjaan menumpuk di kantor jadi belum sempet dateng, udah kalian lagi ngomongin hal penting apaan sih?." tanya Zayn yang masih penasaran dengan yang dibicarakan oleh Arham dan Zia.
"Ohh ada masalah di markas king, kita bicarain sambil duduk aja." Arham dan Zayn beranjak dan duduk, begitu juga Zia dan tak lupa dengan wajah datarnya. Zia hanya diam mendengarkan Arham dan Zayn berbincang.
"Kak gue mau ngomong sama lo." potong Zia di kala Zayn akan berbicara lebih panjang mengenai masalah markas.
"Jelasin sama gue maksud dari dokumen ini."ucapnya dan memberikan map berwarna cokelat yang berisi dokumen.
Zayn menerima map itu dan membukanya, ada perasaan tak enak di hatinya di kala map itu sudah terlihat jelas isinya. Zayn menarik isi mapnya hingga sekarang dokumen itu sudah ada di tangannya, dia mulai membacanya dengan seksama. Zayn sangat terkejut karena dokumen itu adalah tentang pendonoran jantung Zia yang tak lain adalah Alvaro.
"Gue butuh penjelasan.... "tegas Zia dingin, dia sungguh tak mau ada kebohongan lagi di antara mereka.
Tiba-tiba saja susana menjadi dingin dan mencekam, Zayn bingung mau mengatakan apa pada Zia, lidahnya seketika kelu, dia yakin pasti semua kebohongan ini akan terbongkar, karena dia tahu jika Zia pasti akan mencaritahu kebenarannya.
"Aduhhh hawa dingin mulai menusuk.... "batin Arham yang melihat situasi yang semakin mencekam.
Zayn masih belum bicara,membuat Zia sedikit kesal dan menatap tajam Zayn. Zayn yang di tatap tajam hanya bisa menelan ludahnya dengan sangat sulit. Arham juga tak bisa membantu Zayn yang sedang di interogasi oleh adiknya sendiri.
"Huh king.... sekarang kau sudah tak bisa mengelak lagi, queen sudah tahu semua kebohonganmu. Maaf saya tak bisa membantu mu king. " batin Arham yang melihat jika Zayn masih bingung mau menjelaskan apa.
"Kenapa diam? cepat katakan.... " ucap Zia karena Zayn masih diam.
"A.... anu.. itu.... " Zayn hanya tergagap, dalam situasi ini Zayn ingin sekali terjun dari ketinggian.
"Cepat katakan...?!. " Zia sedikit membentak, karena Zayn belum mau menjelaskan.Melihat Zia yang sudah tak bisa bersabar, akhirnya Zayn pun pasrah dan mengatakan segalanya.
"Baik.... lo tenang, gue bakal jelasin semuanya." ucap Zayn menenangkan adiknya.
Zayn pun mulai menceritakan semuanya dari mulai Varo yang drop pada saat promnight dan di rawat di rumah sakit, hingga kejadian penyerangan mendadak di sekolah, hingga Varo yang bersedia menjadi pendonor karena hidupnya yang sudah tak lama lagi. Zia mendengar semua cerita Zayn tanpa menyela nya, ada rasa sakit di dadanya di kala mendengar jika Varo mencintainya hingga cinta itu terkubur bersama jasadnya, sungguh Zia sangat menyesal tak memberikan kesempatan pada Varo untuk bisa mencintainya, dia malah mengatakan jika cintanya hanya untuk Rayyan pada waktu itu.
"Dan kami tak bisa menolak permintaan terakhir Varo, hingga dia mendonorkan jantungnya buat lo." jelas Zayn mengakhiri ceritanya. Zia menitikan air matanya, dia menagis namun tak mengeluarkan suara, ada kepiluan dalam tangisnya, membuat Zayn tak tega melihatnya, dia pun membawa Zia dalam pelukannya.
"Menagis lah Zi.... kakak tahu lo tersiksa dengan hal itu, tapi lo harus ikhlas karena apapun itu Varo lah yang menginginkannya, jadi lo gak usah merasa bersalah." jelas Zayn, dia mengelus punggung Zia, sudah lama Zayn merindukan Zia yang sudah lama tidak di peluknya.
Zia hanya menangis sesegukan di pelukan Zayn, hingga dia merasa puas Zia melepas pelukan kakaknya yang juga dia rindukan. Sungguh selama ini Zia sangat jauh dan asing dengan Zayn, bahkan di rumah pun Zia jarang bicara pada Zayn. Zayn mengusap air mata Zia dengan tangannya dan tersenyum lembut padanya.
"Gue udah ikhlas dengan semuanya kak semoga Varo selalu bahagia di sana, dan gue minta maaf sama lo selama ini gue bersikap dingin dan bahkan gue gak ngomong sama lo kak. Maaf kak.... gue selalu bersikap seakan lo orang asing, maaf.... " ucapnya dengan menundukkan kepalanya dia tak berani menatap Zayn, karena selama ini Zia bersikap seperti Zayn orang asing baginya.
"Gue udah maafin lo Zi.... lo gak salah, mungkin karena keadaan yang membuat lo berubah." jelas Zayn, dia tak mempermasalahkan tentang perubahan Zia, karena keadaan lah yang merubahnya.Arham menatap bahagia pada Zia dan Zayn, akhirnya Zia kembali seperti dulu lagi.
"Tataplah menjadi Zia yang seperti ini, yang selalu tersenyum, kau tahu semua orang merindukanmu yang hangat dan suka bercanda." ucap Zayn, semua orang memang merindukan Zia yang dulu, dia mengacak pucuk rambut Zia.
"Iya queen.... gue juga rindu sama lo yang dulu.... jangan berubah lagi.... " timpal Arham yang juga merindukan Zia.
Zia hanya tersenyum simpul melihat betapa dia membuat semua orang merindukan sifatnya yang dulu, Zia juga sadar jika dia seperti menjauh dari semua orang yang menyayangi nya. Zia sangat bersyukur pada saat dirinya menjauh justru semua orang selalu setia menunggunya.
"Iya gue janji gak akan berubah jadi dingin lagi, maafin gue ya... " Zia pun akan berusaha kembali seperti dirinya yang dulu, sudah cukup dia bersikap dingin yang nantinya malah akan membuat semua orang membencinya. Mereka pun melanjutkan pembicaraan tentang masalah di markasnya, namun karena ada meeting penting di perusahaan Zia dan Zayn,yang tak bisa di wakilkan mereka pun menyudahi pertemuan nya dan akan di lanjutkan besok, karena masih banyak masalah yang harus di pecahkan.