
Keesokan harinya....
Dian dengan setelan tampannya, seperti yang di katakan dia kemarin kepada Zayn, dia akan menemui keluarga Zia, untuk membicarakan perihal hubungan seriusnya. Dia berangkat dengan Angga sebagai wakil dari keluarga nya, karena Dian sudah tidak memiliki keluarga, dan hanya Angga lah satu-satunya yang dia punya.
Namun dia tidak boleh bersedih di hari bahagia nya, dimana seharusnya ada kedua orang tuanya untuk menghadiri acara temu ini, namun semua hanya sebuah harap yang tidak bisa menjadi pasti, bagaimana pun juga sesuatu yang telah tiada tidak akan pernah kembali. Hanya Angga tahu alur kehidupan Dian, dimana dia harus merelakan kedua orangtua nya pergi disaat dia sangat membutuhkannya.
Tanpa sadar air matanya sudah membasahi pipi, setiap kali mengingat kejadian itu dia akan berderai air mata, Dian segera mengusapnya, karena dia tidak mau terlihat sedih di hari dimana dia akan pergi menemui keluarga calon istrinya. Angga memasuki kamar Dian, karena waktunya untuk berangkat.
"Bagaimana? kamu sudah siap?.... " tanya Angga , dia tahu apa yang sedang dirasakan Dian. Dia hanya mengangguk, mereka pun beranjak keluar dan berangkat menuju kediaman keluarga Alfian.
...----------------...
Karena acara akan di laksanakan di mansion Zia, mereka juga sudah stay di sana, bersama dengan keluarga Zia yang lainnya. Raina sudah merias Zia dengan secantik mungkin, karena mereka akan kedatangan tamu spesial.
"Sudahlah Rain..... aku tidak mau pakai setelan ini..... aku lebih suka menggunakan baju berwarna gelap." keluh Zia, dia memang tidak terbiasa memakai pakaian yang berwarna yang di sukai perempuan pada umumnya.
"Sttt..... diam Zi.... kamu terlihat sangat cantik, mulai sekarang kamu harus bisa menjaga penampilan mu, karena kamu akan menjadi seorang istri." jelas Rain, dia ingin membuat Dian lebih terpesona kepada Zia.
Zia hanya berdecih kesal, pasalnya dia harus menggunakan pakaian yang Raina usulkan, Zia memang tidak terlalu menyukai pakaian yang berwarna cerah dia lebih suka warna yang gelap dan simple. Dan hari ini Raina mengusulkan agar Zia memakai baju berwarna ungu dan memadukan dengan sepatu dan aksesoris lainnya, seperti anting dan kalungnya agar warnanya sedana dengan pakaian Zia.
Raina memoles wajah Zia dengan sempurna, dengan make up natural, karena tanpa di make up pun wajah Zia sudah cantik bahkan bisa dikatakan sangat cantik, begitu juga dengan rambutnya, Raina hanya merapihkan rambut Zia, dia merumbai rambut Zia karena gaya rambut ini sangat cocok dengan Zia.
Setelah selesai merias Zia, Raina menyuruh Zia bercermin, apakah Zia menyukai hasil riasan nya, atau tidak. Zia bercermin dan melihat penampilan nya.
"Bagaiamana Zi....? bagus tidak riasan nya? apakah kamu menyukainya?. " tanya Raina karena kepuasan adalah prioritas utama.
Zia bercermin dan melihat hasil riasana Raina yang sangat menakjubkan, ternyata seorang desaianer juga bisa merias wajah seindah ini meski dengan make up natural.
"Hmm..... aku suka dengan riasan nya, bahkan semuanya serasi dan warnanya juga tidak terlalu mencolok, jadi aku menyukainya..... kamu hebat Rain baru saja beberapa bulan tidak bertemu tapi lihatlah pelajaran di sekolah desainer tidak sia-sia." Zia senang ternyata bakat Raina bisa berkembang dengan sangat cepat, bahkan mendapatkan hasil yang bagus.
"Kamu terlalu memuji Zi.... ini aku baru saja mengembangkan riasan nya, sebelumnya aku belum bisa memadukan warna, tapi sekarang berhasil dengan sempurna, dan semuanya juga cocok dengan mu." Raina baru saja mengembangkan potensi nya sebagai desainer, dia masih harus belajar banyak dari para senior-seniornya dan juga masih banyak lagi yang harus dia pelajari.
"Tapi ini sudah hampir sempurna dan aku sangat menyukainya, bersemangat lah Rain, raihlah mimpimu aku akan selalu ada jika kamu membutuhkan aku." Zia selalu memberi dukungan dan semangat, karena Raina sangat membutuhkan itu, masa lalunya mungkin masih sering kali menghantuinya.
"Huft..... beres akhirnya selesai juga, ayo kita turun semua keluarga sudah datang, mungkin hanya kak Nancy yang tidak bisa datang, dia juga masih di rumah sakit, mungkin besok baru di perbolehkan pulang." Raina mengajak Zia ke bawah karena keluarga sudah menunggu.
"Oh jadi kak Zayn tidak bisa datang?." tanya Zia, dia ingin sekali kakaknya datang, karena bagaimanapun juga Zayn adalah kesayangan Zia.
"Dia datang hanya sebentar, nanti setelah selesai Zayn akan kembali ke rumah sakit." jelas Raina, dia betul Zia ingin sekali Zayn hadir.
"Ya sudah jangan pasang muka cemberut, ayo kita ke bawah calonmu akan datang meminta izin untuk melamarmu..... " Raina segera menarik lengan Zia, dan mereka menuju ruang pertemuan keluarga.
Karena sesuai yang di katakan Dian kemarin pada Zayn, bahwa dia akan datang meminta izin melamar Zia, nanti jika sudah mendapatkan restu dari keluarga wanitanya, dua minggu ke depan dia akan langsung melaksanakan lamaran dan membicarakan tanggal pernikahan yang cocok dan tepat. Sekarang sangat banyak persiapan yang Dian harus lakukan, agar acaranya tidak ada hambatan.
Zia menuruni akan tangga bersamaan dengan Rekan yang berada di sampingnya. semua mata tertuju pada Zia, karena ini pertama kalinya mereka melihat Zia menggunakan pakaian yang warnanya mendominasi perempuan. Apalagi Dian, dia langsung terpaku melihat menampilan Zia yang sungguh menawan, membuat dia tidak ingin mengedipkan matanya dari Zia.
Raina senyum-senyum sendiri melihat Dian yang tidak berkedip, hingga matanya terhenti tepat di tempat samping Dian duduk, dia melihat seorang lelaki yang tidak asing baginya, Raina berusaha mengingat siapa lelaki itu, dan ingatannya tertuju pada lelaki yang pernah dia tabrak tanpa di sengaja di sekolah desainer beberapa bulan lalu.
Namun secepat mungkin Raina mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena yang di tatap nya ikut memperhatikan dirinya. Zia melihat tingkah aneh sahabatnya, dia merasa jika Raina sedang gugup, namun Zia tidak akan menanyakan sekarang.
Zia dan Raina telah sampai di ruang pertemuan keluarga, disana sudah lengkap semua hanya Nancy yang tidak hadir. Zia duduk di samping Zayn yang posisinya berhadapan langsung dengan Dian dan juga Angga.
"Sial aku belum menyelidiki gadis ini, aku terlalu sibuk di rumah sakit, tapi kali ini akan aku lanjutkan untuk mencari tahu siapa dirimu sebenarnya." Tambahnya lagi, karena terlalu sibuk di rumah sakit dia sampai lupa dengan Raina, padahal pada saat perta kali bertemu dia ingin tahu lebih banyak tentang Raina.
"Ngga..... acara udah mau mulai jangan ngelamun." ucap Dian karena melihat Angga yang malah melamun.
"Eh.... sorry Di.... iya tahu kok, ini cuma keinget sesuatu aja." bohong Angga, padahal dia sedang mengingat kejadian itu bersama Raina.
Acara di mulai, Angga membicarakan kedatangan mereka dan maksud mereka kedepannya. Karena Angga adalah wali Dian, dan dia yang akan mewakili semuanya dari mulai lamaran sampai pernikahan nanti.
"Saya menggantikan kedua orang tua Dian, dan juga yang akan menjadi wakil di acara lamaran dan juga pernikahan Dian." Jelas Angga. Semua orang bisa mengerti karena Dian yang sudah yatim piatu, dan hanya Angga lah satu-satunya yang menemani kehidupannya.
"Baiklah itu tidak masalah nak Angga, yang terpenting ada yang menggantikan dengan ikhlas, agar acara ini berjalan dengan baik." jelas Ilham mereka memaklumi atas ketidakhadiran orang tua dari Dian, karena mereka tahu jika Dian adalah anak yatim-piatu.
"Terima kasih paman..... semoga dengan bersatunya keluarga besar ini bisa membawa kebahagiaan dan keberuntungan." Angga sangat bersyukur, karena sahabatnya akan mendapatkan calon dan keluarga yang mau menerimanya.
"Iya kami berharap begitu." Zayn juga mengharapkan hal yang sama, dia senang karena Zia masih di beri kesempatan untuk menikah dengan lelaki yang baik.
Zia dan Dian hanya tersenyum malu-malu, mereka saling tatap dalam diam membuat yang berada di sana gemas dengan kelakuan dua insan yang akan di persatukan. Apalagi keduanya adalah Raja dan Ratu dingin di dalam keluarga mereka.
"Kedatangan kami kesini adalah untuk membicarakan perihal lamaran dan juga pernikahan, dan izin persetujuan pihak keluarga perempuan tentang hubungan ini." jelas Angga dengan maksud kedatangan mereka.
"Kami akan setuju, dan itu juga tergantung dari keinginan Zia apakah setuju dengan hubungan ini, apalagi akan berlanjut sampai ke jenjang pernikahan." Hiashi setuju saja dengan hubungan ini, tapi dia juga harus tahu apakah Zia menerima atau tidak.
"Bagaiamana nak.... apa kamu mau melanjutkan hubungan ini dengan nak Dian?." tanya Ilham kepada Zia, karena keputusan ada di tangan Zia.
"Aku menerimanya kek." ucap Zia gugup. Dian senang mendengar Zia setuju dengan hubungan ini. Bahkan hatinya sangat bahagia.
"Alhamdulillah Zia menyetujuinya, tinggal menentukan tanggal lamarannya." Hiashi senang karena Zia menyetujuinya.
"Akhirnya adikku akan menikah... aku senang sekali." Zayn senang sekali akhirnya bisa melihat Zia menikah dan membangun keluarga yang bahagia. Semua tersenyum mendengar keputusan Zia.
"Bagaiamana nak Dian, apa nak Dian ada rencana untuk waktu lamaran nya?." tanya Ilham.
"Begini kek.... aku sudah berencana melamar Zia dan akan di adakan dua minggu lagi, karena banyak yang harus aku siapkan, jika masalah pernikahan itu bisa di atur setelah lamaran nya selesai." jelas Dian, dia memang berencana akan melamar Zia dua minggu lagi, dan dia akan mempersiapkan segalanya.
Semua tidak percaya jika akan secepat ini, dua minggu bukanlah waktu yang lama, berarti memang Dian berniat serius dengan Zia. Zia juga tidak percaya akan secepat ini, tapi tak apa lebih cepat lebih baik.
"Baiklah apa Zia tidak keberatan?." tanya Ilham untuk memastikan apakah Zia keberatan atau tidak.
Zia hanya mengangguk malu, tapi dia menyetujuinya, dan semuanya bernafas lega akhirnya pertemuan ini berakhir baik, dan semoga ke depannya menjadi baik juga.
"Terima kasih atas persetujuan hubungan ini dari pihak keluarga perempuan, dan dengan ini berarti dua minggu adalah acara lamaran Dian dan Zia, kami akan persiapkan semuanya." Angga berterima kasih karena semuanya berjalan baik tanpa ada halangan, karena pihak perempuan langsung menyetujuinya.
Sedari tadi Raina terus memperhatikan Angga, sampai dia tersenyum melihat berapa tampannya Angga. Apalagi dia sebagai wakil dari keluarga pria.
"Kenapa dia tampan sekali..... Ohh Tuhan aku di mabuk asmara sekarang, jantungku juga berdetak hebat dari biasanya." batin Raina seakan menyadari perasaannya yang sedang jatuh cinta.
Zia menyenggol lengan Raina, karena sedari tadi Raina melamun sambil tersenyum sendiri.
"Rain.... " panggil Zia pelan, sambil terus menyenggol lengan Raina. Seketika dia tersadar.
"Eh...maaf Zi.... iya aku udah denger kok... selamat Zia ku kamu akan segera menikah, semoga selalu bahagia." ucap Raina dengan tersenyum tulus.
Setelah berbincang banyak mengenai lamaran dan pernikahan, mereka menyudahi pertemuan penting ini, dan tinggal menyiapkan segalanya.