
Zia sudah berada di cafe salsabila, dia juga sudah memesan ruangan untuk pribadi, Zia akan bicara dan memaafkan segalanya. Zia memasuki ruangan VIP yang dia pesan. Terlihatlah seorang lelaki tampan yang sudah menunggu disana.
Rayyan tersenyum kikuk melihat Zia sudah datang, namun seperti biasa dia bermuka datar, dan Rayyan sudah mulai biasa dengan sifat Zia itu. Zia mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Rayyan. Rayyan baru memesankan minuman untuknya dan juga untuk dirinya.
"Aku akan langsung saja." ucap Zia tanpa basa-basi. Rayyan yang sebenarnya ingin berlama-lama dengan Zia semuanya gagal, di lihat Zia hanya ingin berbicara saja.
"Em... baiklah .... " Rayyan hanya menghela nafas panjang.
"Aku sudah mempertimbangkan semuanya, untuk melupakan kejadian yang lalu dan memperbaiki semuanya." ucap Zia dengan wajah yang berubah serius.
"Maksudmu sekarang sudah memaafkan semuanya?." tanya Rayyan untuk memastikan.
"Iya kita lupakan saja yang sudah lalu, kau tahu hidup dalam belenggu itu sangat menyakitkan seperti ada yang mengganjal dalam hati." tambahnya lagi dan kini suaranya sudah lebih hagat dan tak terkesan dingin ataupun datar.
"Iya benar aku pun merasakan hal itu, oleh karenanya aku ingin mendapatkan maaf darimu, dan sekarang aku merasa lega akhirnya kamu memaafkan aku." ucapnya dengan bahagia dan terlihat kelegaan di wajahnya.
"Iya aku memaafkanmu, dan aku juga minta maaf karena bersikap egois." kini Zia juga meminta maaf karena bersikap egois pada Rayyan.
"Iya aku maafin kok."
"Tapi maaf aku sudah tak bisa bersamamu lagi, sekarang kita bersahabat saja, sepertinya kita tidak bisa bersatu, maafkan aku Rayyan..... tapi percayalah suatu saat akan ada wanita yang baik yang bisa mendampingi dan mengerti kamu." jelasnya Zia dan Rayyan tak tercipta untuk bersama.
Jantung Rayyan berdetak hebat, inilah ucapan Zia yang tak mau dia dengar, seakan tak ada pasokan oksigen ruangan itu seketika dadanya sesak. Namun semuanya memang sudah tak bisa di perbaiki, kesalahan Rayyan adalah mengulangi kesalahan yang sama, dan Rayyan yakin Zia pasti akan mengatakan hal itu.
Rayyan mencoba menahan dan bersikap biasa saja, agar tak terlihat oleh Zia jika sebenarnya dia masih ingin bersama Zia.
"Oh baiklah jika kamu mengatakan hal itu, aku akan mencoba untuk bisa merelakanmu, maafkan aku yang telah menyakiti perasaan mu." ucapnya dengan tersenyum untuk menutupi kesaktiannya.
"Aku juga minta maaf karena tak bisa kembali padamu. "ucap Zia sambil menundukkan kepala, membuat Rayyan tak enak hati.
"Iya Zi..... angkatlah kepalamu jangan menunduk seperti itu ya...sekarang kita bersahabat saja, jika memang Tuhan hanya mengizinkan kita untuk menjamin ikatan dengan persahabatan, ya sudah aku juga bahagia... " ucapnya dengan tersenyum tulus. Zia mengangkat kepalanya dan menatap sendu Rayyan.
Mereka pun mengobrol untuk membiasakan diri, bahwa mereka mulai sekarang hanya akan menjalin persahabatan dan itu akan lebih baik daripada bermusuhan.
"Kalau begitu aku pulang, karena masih banyak yang harus aku kerjakan." pamit Zia, karena beberapa hari lagi dia akan fokus pada pembangunan mall.
"Ya ampun sebentar amat, kita baru aja bertemu masa kamu udah pergi gitu aja." rajuk Rayyan, kini Zia sudah bersikap lebih hangat kepadanya.
"Gue sibuk.... udah gue pamit bye." ucapnya dan beranjak pergi tanpa mendengar jawaban Rayyan, membuat Rayyan mendengus kesal.
"Huh kebiasaan.... sono pergi... " gerutunya. Kini hatinya sudah merasa lebih lega dan mungkin inilah yang terbaik, Rayyan mencoba mengikhlaskan semuanya.
"Huft..... baiklah tak apa jika hal itu bisa membuat kita tak berpisah aku rela Zi.... dan semoga akan ada lelaki baik yang akan menjadi pendampingmu dan membawamu pada kebahagiaan." gumamnya namun masih terdengar samar olehnya.
"Dan aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri, karena ku tahu bahwa dirimu tak akan bahagia bersamaku.... ku ikhlaskan dirimu pergi Zi... tapi tetaplah menjadi sahabatku... " tambahnya lagi dan beranjak pergi dari sana.
Tanpa di sadari mereka, ada yang mendengar semuanya, dan melihat keduanya dia juga ikut pergi untuk melapor pada atasannya.
...----------------...
Ternyata lelaki itu adalah bawahan Dian, karena tak mau jika terjadi sesuatu pada Zia, akhirnya dia menyuruh seseorang untuk mengawasi mereka berdua.
"Rayyan dan nona Zia sudah berbaikan dan kembali menjadi sahabat." ucap Arif.
Dian tersenyum bahagia kini kesempatan Dia untuk mendekati Zia dan akan mengobati luka di hati Zia, tak apa jika Rayyan da Zia bersahabat asalkan Zia tak terluka lagi.
"Syukurlah jika mereka sudah saling memaafkan, ya sudah kau boleh pergi." ucapnya Arif pun keluar dari ruang kerja Dian.
Hatinya bahagia dan dia juga tak ingin membalas perbuatan Rayyan pada Zia, karena Dian tahu Zia pasti akan marah, yang terpenting sekarang Zia sudah memaafkan semuanya. Dan dia berharap tak akan ada luka lagi dihati Zia.
"Tunggulah aku Zi....akan aku pastikan bahwa hanya aku yang menjadi milikku seutuhnya." ucapnya dan tersenyum bahagia. Kini dia akan berusaha menjadi lelaki yang baik yang bisa membahagiakan Zia dan selalu menjaganya.
...----------------...
Sementara Zia sudah merasa lebih baik dan hatinya sudah lebih lega, seakan bebannya telah hilang tak akan ada lagi kesesakkan yang dia rasakan.
"Maafkan aku Rayyan mungkin dengan begini kita bisa tetap bersama meski hanya sekedar persahabatan, terima kasih pernah mengisi ruang hatiku meski pada akhirnya kita tak bersatu..... semoga kamu bisa mendapat yang lebih baik dari pada aku." batinnya dengan tersenyum penuh arti.
Sebelum pulang Zia mampir ke toko parfait untuk membelikan Raina, dia tahu jika Raina menyukainya maka dari itu dia mampir. Setelah membeli parfait Zia melakukan mobilnya dan pulang ke villa.
Sesampainya di villa Zia langsung menuju kamar Raina kebetulan masih belum larut malam, dan akan di manfaatkan untuk mengobrol karena beberapa bukan ke depan Zia akan pergi.
"Ekhemm.... " dehem Zia yang masih berdiri di ambang pintu, dia melihat Raina yang hanya melamun dikamarnya.
"Eh Zi.... udah pulang." ucap Raina yang masih sedikit terkejut karena Zia tiba-tiba datang.
"Ini gue beliin spesial buat kamu." ucap Zia dan memberikan parfait pada Raina.
"Wah.... kumat apa kamu beliin ginian?." tanya Raina, jika tidak di suruh untuk membelikan makanya kesukaannya pasti Zia tak akan belikan.
"Oh gak mau nih... ya udah sini gue buang." ucap Zia dengan datar. Mata Tauan mebola dia tak akan membiarkan Zia membuang makanan favorit nya.
"Eh... eh.... jangan kan mubazir.... gitu aja baper." goda Raina melihat jika Zia yang baper hanya karena pertanyaannya.
Zia pun tak jadi membuang nya, mereka pun mengobrol bersama di kamar Raina.
"Gimana udah baikan?." tanya Raina.
"Udah beres.... aku merasa lega." ucapnya dan tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, jadi kalian hanya bersahabat?."
"Ya kurang lebih seperti itu.... huft... tapi lebih baik seperti itu."
"Ya sudah aku mau istirahat, lo juga jangan begadang mulu.... " pamit Zia karena tubuhnya sudah lelah.
"Ya udah sono istirahat.... aku juga akan pergi tidur... makasih makanannya."
"Hemmm." Zia pun berlalu pergi dari kamar Raina dan menuju kamarnya, badannya sudah lelah meminta istirahat.