
Mata Rayyan membulat sempurna melihat ayah dan juga orang kepercayaannya memiliki masalah dengan Zia dan Zayn, tapi Rayyan tak tahu apa masalah yang sebenarnya terjadi, karena jika sampai Zia dan Zayn yang turun tangan maka kesalahannya sangatlah fatal.
"Apa yang ayah lakukan pada Zia dan Zayn, sampai mereka yang turun tangan? apa ayah membuat kesalahan besar pada mereka?." batinnya bertanya-tanya.
"Apa ini juga alasan Zia sedikit menjauh dariku? tapi apa alasannya?." lirihnya kini akhirnya Rayyan mengetahui jika Zia menjauh karena ayahnya memiliki masalah dengannya.
"Tak usah basa-basi, cepat mengaku bahwa kau adalah pembunuh Dimas dan Fitri.... benarkan?."Ucap Zia dengan nada tegas, dan menuntut. Rayyan yang akan menerobos masuk,akhirnya dia urungkan karena mendengar Zia mengatakan nama Dimas dan Fitri, Rayyan mengenal Dimas dan Fitri karena dia pernah bertemu satu kali.
"Bukankah Dimas dan Fitri adalah kakek dan nenek mereka?apa benar yang di ucapkan Zia, bahwa ayahku membunuh mereka?." Rayyan di buat bingung, dia pun menahan sampai kebenaran benar-benar terungkap karena dia tak mau salah paham.
Raka terbelalak mendengar penuturan Zia, sekarang dia paham kenapa dia di sekap di sini, karena pihak keluarga Dimas dan Fitri sudah mengetahui semuanya. Dia menelan ludahnya kasar.Zia dan Zayn pun membuka topengnya bersamaan.
"Kau pasti mengenal kita kan, tuan Raka yang terhormat." Zia dan Zayn menyeringai di sela terbukanya topeng mereka.
"Mereka keluarga Dimas dan Fitri, ternyata mereka mafia, aku pasti tak akan selamat, begitu juga dengan Putra, kukira mereka hanya Ceo muda, ternyata dugaan ku salah, ini bukan hanya perusahaan ku yang hancur tapi nyawaku pun bisa melayang." batinnya dia tak menyangka jika keluarga Dimas dan Fitri adalah mafia, yang Raka tahu mereka berdua hanyalah Ceo muda terkaya.
"S... saya tidak membunuh siapapun." elaknya, membuat Putra kesal.
"Oh ayolah tuan, aku yakin jika kau jujur pasti semuanya akan aman, dan mereka pasti akan memberi keringanan pada kita, apa kau tak kasihan melihat aku sudah babak belur?." kesal Putra melihat tuannya yang tak mau mengakui kejahatannya.
"Heh....penipu ulung....jika kau tak mau jujur maka aku akan memaksa mu untuk bicara" sentak Zayn yang muak wajah penipu Raka.
"Ya meski kau tak bicara itu akan sia-sia, karena kami sudah mempunyai bukti yang kuat, dan kau tak bisa mengelaknya, tapi aku tak puas jika belum mendengar langsung dari mulutmu itu." seringai Zayn, dia meletakan pisaunya di leher Raka, membuat nya begidik ngeri.
Raka pun hanya diam kini dia sudah terpojok, mengelak pun percuma karena mereka sudah mengetahui semuanya, Putra pun hanya diam, dia sudah terlalu lelah meski hanya sekedar berbicara, jika tahu tuannya akan tertangkap mungkin Putra akan mengatakannya lebih dulu, tapi keadaan berbeda karena Putra kira tuannya tak akan tertangkap.
"Kenapa diam tuan Alexandra? apa kau sudah skak mat? sampai bicara pun kau tak bisa."
"Cepat katakan?!. " desak Zayn dengan suara yang sedikit di naikan, pisaunya semakin mengerat lehernya dan sedikit mengeluarkan darah.
Zia menatap malas kepada Raka yang tak mau menjawab, dia sudah tak bisa menahannya, hingga akhirnya Zia mengeluarkan pistolnya dan menodongkan pistolnya tepat kearah Putra.
"Oh jadi dengan cara lembut kau masih tak mau bicara, maka aku akan menggunakan sedikit paksakaan."
"Baik.... kita akan bermain sebentar, lihatlah orang kepercayaan kebanggaanmu dia akan segera menjemput ajalnya." Zia menarik pelatuk dan siap meluncurkan pelurunya, membuat detak jantung Putra berdetak tak karuan.
"Apakah ini akhir hidupku?.... ya tuhan lindungilah aku, aku belum siap menghadapmu masih banyak tanggung jawab yang harus aku pikul." keluh kesahnya mengharap keajaiban datang, karena dia belum siap untuk menghadap sang pencipta.
Rayyan ikut panik dia menjadi gelisah perasaannya campur aduk, suasana menjadi tegang. Zia adalah tipe orang yang tak akan berhenti bertindak sebelum mendapatkan kepuasan dari apa yang dia inginkan. Rayyan belum siap kehilangan Putra, walau bagaimana pun Putra sudah sangat berjasa bagi keluarganya.
"Cepat katakan sebelum peluru ku menembus jantung dan otaknya... " ancam Zia sebelum benar-benar melepaskan pelurunya. Raka tak bisa berkutik dia sudah tak ada cara lain selain mengatakan kebenarannya, dia juga belum bisa kehilangan Putra.
"Kau masih diam.... baik ku hitung sampai tiga jika kau masih diam maka nyawa nyalah yang akan melayang."
"Satu...... dua..... "
"Tapi saya mohon jangan kau bunuh dia... aku yang bersalah." pintanya agar Zia tak jadi membunuh Putra.
"Saya akan memenuhinya." Zia pun menurunkan pistolnya dan menatap tajam Raka dan Putra, tatapannya sangat menusuk hingga hawanya sangat mencengkam. Namun Rayyan tak melihat jika Zia menurunkan pistolnya, karena Riska berpindah sehingga Rayyan tak bisa melihat Zia.
"S..... saya..... memang melakukan.... itu... tapi..... "Raka belum menyelesaikan ucapannya namun...
Dor........
Dor........
Dor........
Tiga peluru seseorang telah lepas kendali, sehingga terlepas dari sarangnya tanpa mereka sadari. Rayyan yang mendengar suara pistol pun ikut terkejut, pikirannya sudah tertuju pada Putra yang berhasil terkena pistol Zia. Mata mereka membulat, di kala darah segar keluar dari dada sebelah kiri Raka yang membuatnya langsung tak sadarkan diri, akibat dari tiga peluru yang meluncur cepat.
"Putra..... "gumamnya dia pun segera menerobos masuk ke ruangan sandra.
Zayn yang sedang di sampingnya pun terkejut begitu juga dengan Putra yang ada di sebelah nya yang ikut membelalakkan matanya, dia melihat Raka yang sudah berlumur darah.
"Tuan.....bagaimana bisa? bukan nona Zia aku yakin, tapi ada pistol lain yang mengenainya." batinnya melihat tuannya sudah tak sadarkan diri. Putra telah menjadi saksi bahwa bukan Zia pelakunya.
Zia dan yang lainnya pun memandang dengan tatapan yang sulit di artikan, pistol yang di tangan Zia tiba-tiba saja terjatuh, tepat dengan itu Rayyan sudah berada di ambang pintu, bagai terkena ribuan panah yang menancap tepat di jantungnya, Rayyan melihat ayahnya sudah tak berdaya dalam keadaan mengenaskan.
"Ayah.....!!!." teriaknya membuat semua orang yang ada di sana langsung berbalik menatap Rayyan. Zia dan Zayn tak percaya jika Rayyan berada di situ. Rayyan berlari ke arah jasad ayahnya yang sudah banyak mengeluarkan darah akibat tembakkan. Putra pun tak percaya jika tuan mudanya sudah berada di sana dan menyaksikan apa yang telah terjadi.
"Rayyan." lirih Zia dan Zayn hampir bersamaan.
"Kenapa dia ada di sini? apa dia mengikuti Zia?... Sial semuanya jadi berantakan." batin Zayn dalam hati, mereka tak ada yang menyadari jika Rayyan sudah berada di markas sejak tadi.
"Gawat... pasti akan ada kesalahfahaman." batin Putra melihat sirat kebencian serta kemarahan bercampur menjadi satu dari mata Rayyan. Putra memang sudah tahu kedekatan Zia dan Rayyan karena pada saat mengawasi, mereka selalu bersama.
"Ayah.... ayah.... bangun jawab aku.... " guncang Rayyan, kini dia berdiri di hadapan jasad ayahnya, dan sedang menggerakkan tubuh Raka agar terbangun.
Zayn mundur dan kini dia sudah berada di dekat Zia, Zayn pun tahu jika bukan Zia lah pelakunya bahkan Riska dan Arham juga melihat itu, ada orang lain yang ingin membuat ikatan Zia dan Rayyan putus, dan mereka akan saling membenci satu sama lain. Zia masih terpaku dengan kejadian itu dia tak bisa berkata apapun.
Rayyan terus mengguncang namun hasilnya nihil, Rayyan pun melepas ikatan tali yang mengikat ayahnya, dan membaringkan nya di lantai.
"Ayah bangun.... " Rayyan kembali mengguncang tubuh lemah ayahnya. Namun tak ada respon hingga tangan Raka terjatuh ke lantai yang menandakan jika Raka sudah tak bernyawa.
Zayn pun mendekat untuk ikut membantu Rayyan menenangkannya karena Zayn tahu jika Raka sudah tiada, namun dengan cepat Rayyan menepis nya dan suasana berubah menjadi dingin.
"Jangan lo sentuh gue....gue gak sudi tangan kotor lo menyentuh gue." tegas Rayyan dengan sangat dingin tanpa melihat Zayn. Zayn termangu mendengar penuturan Rayyan. Dia berdiri dan menatap Zia tajam dan penuh dengan kekecewaan di matanya, tatapan Rayyan sangat menusuk hati Zia.
dan....