
Sesuai janji Zayn mengantar Nancy ke villa Zia, tak lupa Nancy membawa makanan kesukaan Zia yaitu makaroni pedas. Nancy sengaja membuatnya karena dia yakin Zia sudah lama tak memakan makanan tersebut.
Zayn dan Nancy sudah sampai di villa, Nancy sangat senang akan bertemu dengan Zia. Villa terlihat sepi tidak seperti biasanya, Zayn dan Nancy pun memasuki villa dan di sambut oleh pelayan.
"Tuan dan nona selamat pagi." sapa sang pelayanan di saat kedua majikannya datang.
"Bi dimana Zia? apa dia masih sakit?." tanya Zayn karena tak melihat adiknya. Pelayan tersebut terlihat takut menjawab pertanyaan Zayn.
"Maaf tuan, nona Zia sejak kemarin tak pulang ke villa, saya sudah menghubungi nya tapi nomor ponselnya tidak aktif." jelasnya dengan menunduk.
"Apa...?! Zia belum kembali? kemana dia bi?." tanya Zayn dengan nada yang sedikit di tinggikan, melihat hal itu Nancy pun mencoba menenangkan suaminya.
"Sayang.... tenanglah kita pasti bisa menemukan Zia." Zayn pun tersadar karena terbawa emosi, bisa-bisanya para pelayan tak tahu di mana nona mudanya.
Zayn pun mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Zia, berkali-kali nomornya tak bisa di hubungi. Namun tiba-tiba saja ada panggilan masuk nomor tak di kenal, Zayn pun mengangkat panggilan nya.
"Halo... maaf dengan siapa?."
"Bisa berbicara dengan tuan Zayn."
"Iya saya sendiri, ada apa?."
"Tuan....datanglah ke rumah sakit ada hal penting yang harus anda lakukan."
"Rumah sakit? memangnya ada apa tuan?." Zayn pun heran untuk apa orang tersebut menyuruhnya ke rumah sakit.
"Iya saya tunggu." ucapnya dan mematikan ponsel sepihak, mambuat Zayn bersedih kesal.
"Apa-apaan dia... seenaknya sekali." umpat nya kesal.
"Ada apa sayang?." tanya Nancy penasaran.
"Kita kerumah sakit sekarang. " ucapnya langsung membuat Nancy bingung.
"Untuk apa kita ke rumah sakit? apa kau sakit sayang?."wajahnya berubah khawatir.
"Tidak... ayo ada hal penting yang harus aku lakukan di sana." Zayn dan Nancy pun pergi meninggalkan villa dan meluncur menuju rumah sakit.
Di rumah sakit Zayn dan Nancy mencari seseorang yang tadi menelpon, di tengah perjalanan Zayn berpapasan dengan Angga.
"Tuan Zayn... " panggilnya, Zayn pun menoleh ke sumber suara.
"Oh dokter Angga." Zayn pun bersalaman dengan Angga begitu juga dengan Nancy.
"Istri anda sungguh cantik.... tuan Zayn." puji nya saat melihat kecantikan Nancy.
"Tentu saja dia adalah bidadari ku." senyumnya dan menggenggam erat tangan Nancy, membuat Nancy malu.
"Ada perlu apa tuan datang kemari? apa ada yang sakit?." tanya Angga penasaran.
"Oh tadi ada pihak rumah sakit menghubungi saya katanya ada hal penting yang ingin di bicarakan denganku." jelasnya, Angga belum mengetahui jika Zayn adalah kakak dari Zia.
"Jadi begitu, silahkan kalau begitu saya permisi." Angga pun pamit karena masih ada hal yang harus di urusnya.
Zayn dan Nancy pun mencari yang menelpon mereka, dan Zayn ingat nama Dian adalah rekan bisnisnya, tapi kenapa memanggilnya ke rumah sakit, pikir Zayn.
"Tuan Dian.... " panggil Zayn saat melihat yang menelponnya tadi, yang mengatakan jika dia adalah Dian.
Dian menoleh dan menghampiri Zayn dan Nancy, Dian menjabat tangan Zayn dan juga Nancy.
"Ada apa anda memanggil saya kemari?." tanyanya langsung.
"Maaf mengganggu waktu anda, saya hanya ingin memberitahu jika nona Zia berada di sini."Zayn dan Nancy terkejut tak menyangka Zia masuk rumah sakit.
"Tuan tidak bercanda kan?." Zayn memastikan.
"Terima kasih anda telah menyelamatkan adik saya, lalu bagaimana keadaannya sekarang?."Zayn khawatir akan keadaan Zia.
"Anu.... dia masih di rawat kakinya sudah di obati akibat terkena goresa, dan dia sedang beristirahat." Dian tak bisa mengatakan keadaan Zia yang sebenarnya.
"Boleh kah kami melihat nya? kami sangat mengkhawatirkan nya karena semalam dia tidak pulang."
"Baiklah saya antar kesana." Mereka pun pergi ke ruangan Zia yang sudah di tempatkan di ruangan VVIP.
Zayn dan Nancy sudah berada di ruangan Zia, dia nampak lemah infusan di tangannya dan wajah pucat nya membuat Zayn sedih melihat keadaan Zia, ini adalah titik terlemah Zia dimana selama ini dia tak pernah sampai seburuk ini hanya karena tertekan batinnya.
Nancy mengusap punggung Zayn untuk menguatkannya, Dian hanya diam tak berbicara dia juga tersiksa melihat keadaan Zia.
"Kapan dia bisa pulang?."
"Saya tak tahu pasti, karena semua itu kehendak dari dokter, tapi lebih baik dia di rawat di sini sampai pulih. "Dian tak akan membiarkan Zia di bawa pulang sebelum kesehatannya benar-benar membaik.
"Oh begitu, ya sudah lebih baik Zia di sini saja sampai sembuh total." Zayn pun setuju dengan Dian.
"Bisakah kita bicara berdua? ada hal penting yang ingin aku katakan." Dian pun ingin berbicara berdua dengan Zayn. Zayn menoleh pada Nancy, dan dia hanya mengangguk lalu duduk di samping brankar.
"Pergilah.... biar aku yang menjaganya." ucap Nancy. Zayn dan Dian pun keluar ruangan Zia dan mencari tempat enak untuk berbicara.
Setelah mencari tempat enak untuk berbicara mereka duduk di kursi, ya kini mereka berada di taman belakang rumah sakit.
"Anda ingin bicara soal apa tuan?." tanya Zayn dengan bahasa formal.
"Bisakah kita tidak bersikap formal Zayn, labih baik kita berteman agar lebih akrab."Dian sudah muak dengan sikap formal.
"Baiklah sekarang kita berteman, ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan?." Zayn pun sebenarnya tak suka bersikap formal.
"Sebenarnya Zia sakit mental, dia tertekan dan dia harus di rawat secara intensif dan aku ingin tahu sebenarnya siapa yang telah berbuat itu padanya?." tanya Dian pura-pura tidak tahu.
"Jadi itu sebabnya dia harus di rawat, hah... pantas saja. Ada skandal kecil dan itu hanyalah kesalahpahaman." Zayn pun menceritakan semua kejadiannya pada Dian. Dian hanya manggut-manggut tanpa berniat memotong pembicaraan Zayn.
"Lalu apa kau sudah menemukan siapa dalangnya?." tanyanya penasaran.
"Sudah aku sudah menemukannya, mungkin malam ini aku akan membuat dia mempertanggung jawabkan semuanya."Zayn sudah menyuruh Arham dan Riska untuk menangkapnya semalam, pada saat Rayyan dan Zayn sudah kembali ke rumah.
"Bagus jika begitu, karena jika tidak mungkin saja dia bisa mengganggu Zia lagi, karena aku yakin bahwa dia punya rencana lain pada Zia." Dian sudah menduganya. Zayn mengeryitkan dahinya heran dengan Dian.
"Apa dia menyukai adikku... hah tapi tak apalah jika benar dia menyukainya aku tenang, Dian lelaki yang baik aku bisa mempercayakan semuanya padanya daripada dia yang selalu menyakiti adikku." batin Zayn yang melihat bahwa Dian menyukai adiknya.
"Zayn.... " panggil Dian melihat Zayn yang melamun.
"Ehh... iya.... maaf saya kurang fokus."Zayn tersadar dari lamunannya.
"Kau ini bagaiamana, baiklah semoga berhasil menginterogasi nya aku pamit, banyak pekerjaan. " Pamit Dian karena satu hari dia tak bekerja karena harus merawat Zia, apalagi sekarang sudah ada keluarga nya membuatnya tak enak.
"Kenapa buru-buru sekali, memangnya sudah membicarakan hal penting nya?." tanya Zayn disaat Dian berpamitan. Karena Zayn yakin masih ada hak lain yang ingin di bicarakan.
"Hal penting nya tadi aku memberitahukan keadaan Zia." Dian memperjelas.
"Tapi aku yakin.... ada hal lain yang ingin kau bicarakan." elak Zayn yang tak yakin dengan raut wajah Dian.
"Anu.... itu bukan apa-apa, tidak penting juga untuk di bicarakan." ucapnya tak mungkin dia mengatakan jika dia menyukai adiknya.
"Jika kau menyukainya, maka jagalah dia dan jangan sakiti dia, karena dia sudah terlalu banyak menderita. " ucap Zayn seperti bisa membaca pikiran Dian, dia penepuk pundak tema barunya dan pergi meninggalkan nya.
Dian terpaku dan mencerna setiap perkataan Zayn, karena secara tidak langsung memberinya lampu hijau yang berarti dia mendapat restu dari sang kakak wanita pujaan hatinya.
"Apa yang dikatakan.... apa dia memberiku kesempatan untuk bisa bersama dengan adiknya?. " Dian untuk hanya mengulas senyum di bibirnya, dan beranjak pergi untuk mengurus pekerjaannya.