
Zayn dan Rayyan pergi ke markas untuk menghukum berandal yang telah membunuh Raka, Rayyan sudah tak sabar ingin menghukum dia degan tangannya karena telah berani membunuh ayah dan juga membuat hubungannya dengan Zia hancur. Rayyan dan Zayn ingin tahu apa motif dia melakukan hal kotor kapada sahabat nya sendiri.
Malamnya Zia dan Ilham kemabli ke villa, mereka sudah menghabiskan waktu bersama di paviliun, dan memutuskan pulang karena sudah petang. Zia sangat bahagia seakan masalah hilang dan kondisi Zia juga sudah semakin membaik dan berangsur pulih.
Tring.... tring.... tring....
Dering ponsel Zia berbunyi dan terpampang jelas nama Arham menelpon, Zia mengabaikan panggilan nya, dan membiarkan ponselnya terus berdering.
"Kenapa tidak di angkat?." tanya Ilham yang melihat Zia hanya mengabaikan pangilan masuk.
"Bukan apa-apa kok kek, biasa nomor tak di kenal." bohongnya, Zia memang sedang tak mau berbicara pada orang markas, Zia sedang berusaha untuk menghindar dari mafia, karena dia ingin bisa hidup normal seperti wanita pada umumnya.
"Angakatlah dulu siapa tahu penting."Ponsel Zia tak berhenti berdering bahkan Arham memanggilnya berulang kali, membuat Zia berdecih.
"Brengsek kau Arham, mau apa lagi dia terus menghubungiku?... tak bisakah dia diam sejenak untuk tak menghubungi ku." Gumamnya menggerutu kesal, dia ingat tenang untuk sementara waktu.
Dengan pasrah akhirnya Zia mengangkat panggilan teleponnya. Arham menceloteh tidak jelas di saat panggilan tersambung, Arham kesal karena Zia baru mengangkatnya dari sekian banyaknya panggilan masuk darinya
"Sudah tak udah basa-basi.... " Zia sudah muak mendengar celotehan Arham.
Arham menjelaskan situasinya, Zia terkejut dengan penjelasan Arham karena waktunya sudah tak banyak, Zia pun memutuskan sambungan telepon sepihak.
"Kek Zia berhenti di sini saja, kakek pulanglah duluan, ada hal penting yang harus Zia urus." Zia pun meminta pada Ilham untuk menurunkan dirinya di sini, ini urusan mendadak yang tak bisa Zia tunda.
"Ada apa nak?." tanya Ilham yang masih tak mengerti.
"Sudah lah kek nanti Zia akan menjelaskan setelah semuanya selesai, ini keadaan darurat." tanpa menunggu jawaban Ilham, Zia pun keluar dari mobil, Ilahn sudah tak bisa mencegahnya.
Zia segera mencari taksi untuk mengantarkannya ke markas, Zia sudah mendapatkan taksi, karena sedang terburu-buru akhirnya Zia yang mengambil alih kemudi, sang supir pun hanya bisa mengikuti kemauan Zia.
Dia mengendarai taksi nya dengan kebut, membuat supir taksi jengkel dengan kelakukan Zia yang tiba-tiba. Zia yak menghiraukan teriakan supir taksi, yang dia pikirkan adalah dia harus tepat waktu sampai ke markas.
Hingga dalam waktu sebentar Zia sampai dimarkasnya dan dia juga melihat mobil Rayyan sudah terparkir di depan halaman markas. Zia memberikan uang lebih untuk membayar taksi, supir taksi pergi dari sana. Zia segera memasuki markas dengan tergesa-gesa, dia langsung memasuki ruang penyekapan.
Zia berjalan setengah berlari, dia takut kakaknya atapun Rayyan sudah menyakitinya. Sedangkan Rayyan dan Zayn kini sudah berada di dalam ruang penyekapan, pelaku sudah di ikat di kursi dengan mata yang tertutup kain.
Rayyan sudah tak sabar ingin menghukum dia, karena telah melenyapkan ayahnya. Zayn mencoba agar Rayyan tak gegabah dan tak terbawa emosi. Zayn melepaskan penutup matanya hingga dia bisa melihat dengan jelas siapa yang menculiknya. Matanya menbola ketika yang di lihatnya adalah kedua sahabat lamanya.
"Kau akan di adili, kau tega melakukan itu pada Zia sahabat yang sangat baik padamu, tapi kau malah menusuknya dari belakang, seharusnya kau berterima kasih padanya." ucap Rayyan mengeluarkan uneg-unegnya.
"Apa motifmu melakukan hal itu? apa Zia melakukan hal fatal padamu sehingga kau membalasnya dengan cara kotor?." tanya Zayn yang tak habis pikir dengan apa yang di lakukan sahabat lamanya.
Dia hanya menyeringai iblis memandang benci keduanya secara bergantian, seakan tak takut jika nyawanya sedang terancam.
"Apa kalian ingin tahu kenapa aku melakukan hal itu?." tanyanya sambil tersenyum.
"Baik akan aku beritahu, semua itu sudah kulakukan dan ku rencanakan sedari awal." Perkataannya membuat Rayyan kehabisan kesabaran, namun Zayn mencegahnya agar Rayyan tetap tenang.
Zia yang sudah sampai di depan pintu ruang penyekapan mendadak terhenti, tadinya dia ingin langsung mendobrak pintu, namun setelah mendengar perkataannya Zia mengurungkan niatnya, dan memilih mendengarkan apa sebab dia melakukan hal itu padanya.
Arham sudah memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Zia, dia juga memberitahu siapa si balik pembunuhan Raka. Zia juga terkejut dengan apa yang di katakan Arham padanya, karena sahabatnya sendirilah yang melakukan semuanya.
"Sebenarnya apa alasan kamu melakukan itu Rain?Dulu kamu sangat menyayangi Varo, dan kamu juga menyayangi ku sampai-sampai kalian berdua merahasiakan penyakit Varo dariku, hanya untuk menjaga perasaanku." batinnya otaknya memutar kembali di saat Zia tak tahu apapun tentang sakit yang di derita Varo.
Ya pelaku sebenarnya adalah Raina teman sekolah Zia dan Zayn dan yang lainnya. Rain yang sudah menghilang beberapa tahun lalu dan pernah menemui Zia beberapa waktu lalu, dan dia kembali dengan membuat masalah baru yang dengan seenak jidatnya membunuh orang yang tak bersalah demi menuntaskan kebencian di dalam hatinya.
Raina mengatur nafas, dan menghembuskannya dengan kasar. Hari ini dia akan mengakui segalanya dan memberikan penjelasan pada keduanya. Menjelaskan kenapa dia berubah menjadi sosok yang haus akan dendam.
"Ini adalah kisahku yang dulu menjadi siswa pindahan, dan di sana aku bertemu dengan kalian semua. Kesan pertama ku adalah aku sangat senang karena teman sekelasku menerimaku dengan baik, tanpa ada yang mengejek, membully, ataupun memusuhiku."
"Aku bahagia bisa menjadi teman kalian, karena aku tak pernah mendapatkan semua itu, sejak kecil aku hidup sendiri, meski bergelimpang harta tetap saja tak membuatku bahagia, karena aku adalah seorang putri yang kurang akan kasih sayang orang tuaku." Raina menjedanya, dadanya sesak mengingat masa lalu kelam yang sangat membekas di hatinya.
"Hingga suatu hari aku kehilangan orang yang menyayangi ku, ya orang tuaku meninggal dalam kecelakaan tragis dan membuatku hidup dalam kesepian dan kesendirian." Air mata Raina menetes tanpa pamit, membasahi pipi mulusnya.
Rayyan ataupun Zayn tak berani untuk menyelanya, mungkin ini adalah saat yang tepat, dimana Raina membutuhkan tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya, ini adalah titik terendah dalam hidupnya, karena selama dia menjalani kesendirian Raina tak pernah bercerita pada siapapun tentang kisah hidupnya. Zia pun merasa tersentuh hatinya dengan apa yang di alami Raina, dia juga mengalami hal serupa, namun Alvaro selalu ada di sampingnya dan selalu membuat hidupnya tak kesepian.
"Aku berusaha tegar dan kuat untuk menerima takdir yang Tuhan berikan padaku. Dan saat itu datang lah Alvaro meminta bantuan ku, dia memberitahukan kalau dia sakit dan ingin aku merahasiakan semuanya dari Zia, aku pun menuruti apa yang dia inginkan. Dan ternyata kedekatan ku dengan Varo telah menumbuhkan benih-benih cinta, aku mencintaimu Varo dengan secara tidak sadar." Raina masih meneteskan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
"Tapi di hati Varo tak pernah terukir namaku, karena nama Zia lebih bertahta dan sangat luas kekuasaannya di hati Varo, sehingga aku sangat sulit untuk menembus pertahanan hatinya yang sudah condong untuk Zia." Zia ikut teriris perih batinnya mendengar apa yang terucap dari mulut Raina.
"Aku tetap ingin berusaha mendapatkan hati Varo, namun takdir berkata lain Alvaro meninggal dengan membawa cintanya pada Zia sampai menutup mata, aku juga sangat terpukul atas meninggalnya Varo, namun yang lebih menyakitkan hatiku adalah ketika Varo dengan rela memberikan donor jantung kepada Zia, dan saat itulah aku benar-benar sakit hati kepada Zia. " Raina bernafas berat karena hatinya kembali sakit karena telah membuka luka yang tak kunjung mengering.
Zia memegangi dada kirinya yang dimana jantung Varo tertanam di sana, dia sungguh tak tahu jika Raina menyimpan luka yang begitu menyakitinya. Namun Raina bisa menyimpannya dengan sangat apik, hingga tak ada seorang pun yang tahu betapa menderitanya dia, apalagi Raina lah yang menjelaskan segalanya pada Zia di saat setelah jatung Varo sudah ada pada dirinya. Zia membekap mulutnya agar tak menimbulkan suara, dia sudah tak bisa menahan air matanya.