
Flashback On
Setelah beberapa saat dokter yang memeriksa keadaan Varo keluar dari ruanagn Varo. Dita dan Haidar mendekati dokter itu untuk menanyakan keadaan putra mereka.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?." tanya Dita langsung.Lisa hanya mendesah berat mendengar pertanyaan ibu dari pasiennya.
"Kalian semua di tunggu Alvaro di ruangannya, dia ingin bertemu dan berbicara pada kalian semua.Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan dokter, terima kasih untuk semuanya." ucap Dita dia sangat berterima kasih karena Lisa lah selama ini yang menjadi dokter bagi Alvaro.
"Iya bu sama-sama." Lisa pun berlalu dan pergi meninggalkan mereka.
Mereka pun memasuki ruangan Varo, terlihatlah jika Varo sedang terbaring lemah di atas brankar. Mereka semua mendekat ke brankar di mana Varo terbaring, mereka memutari brankar Varo, karena dirinya ingin berbicara pada orang tua dan juga teman-temannya.
"Mom.... dad.... maafin Varo kalau Varo banyak salah sama kalian, Varo belum bisa jadi anak baik tapi Varo selalu repotin mommy dan daddy." lirihnya dengan suara lemahnya.
Air mata Dita luruh seketika ketika mendengar penuturan putra satu-satunya, sungguh dia tak akan sanggup kehilangan Varo, Dita memegang tangan Varo lalu mengecupnya lembut.
"Kau tak meminta maaf sayang, mommy adalah mommy mu jika kau bersalah mommy akan selalu memaafkanmu."jelas Dita, dia tak pernah tak akan memaafkan anaknya, itulah seorang ibu, sejahat apapun anak ibu akan selalu memberi maaf.
"Iya Varo.... kau adalah putra Kami, jadi jangan kira kita tak akan memaafkanmu dan juga kau tak pernah merepotkan kami, kau selalu menjadi kebanggaan kami nak." tambah Haidar, dia juga sangat menyayangi Varo, dia dalah anak yang kuat.
"Makasih mom... dad... Varo seneng dengernya, semoga kalian selalu bahagia...Nancy jaga mommy dan daddy ku, ku titipkan mereka padamu." ucapnya lagi.
Nancy mendekat pada Varo dan tersenyum tulus, dia tahu jika ini adalah permintaan terakhir sepupunya, Nancy akan melepas ikhlas jika Tuhan lebih menyayangi nya.
"Varo, lo gak boleh bilang gitu, mereka itu sayang sama lo, masa lo gak mau berjuang." Nancy mencoba untuk tak bersedih.
"Iya Varo lo harus kuat, banyak orang yang sayang sama lo, apalagi Zia." tambah Mila yang juga berada di situ.
"Lo pasti kuat kawan." Dika dan Yumna juga ikut memberi semangat.
"Ayo Varo kamu bisa." Siti juga memberi support agar Varo bisa bertahan.
Varo hanya menatap sendu mereka, dia juga tak tega jika harus meninggalkan mereka tapi apalah daya dia hanya manusia yang tak bisa berbuat apapun jika bukan Tuhan yang berkehendak.
"Tapi gue gak bisa, teman-teman gue minta maaf sama kalian jika gue banyak salah, sama lo semua." Varo sudah berusaha namun tubuhnya berkata lain.
"Iya Varo kita semua udah maafin lo kok...." ucap mereka serempak.
"Tapi Ro emang lo gak mau ketemu sama Zia? dia pasti akan senang kalau lo ada ketika dia sembuh. " ucap Mila Zia pasti akan bahagia jika Varo ada di sampingnya.
"Apa maksud kamu nak?." tanya Dita, dia heran dengan ucapan Varo.
"Mom... dad... kalian tahu bukan jika Zia adalah penyemangatku, jika dia pergi maka aku tak bisa bertahan."
"Jadi Varo memutuskan akan mendonorkan jantung Varo untuk nya." yakin Varo, dia sudah memutuskan untuk mendonorkan jantungnya untuk Zia.
Semua yang mendengar membulatkan mata nya tak percaya, apakah Varo bercanda, itulah yang mereka pikirkan.
"Apa... maksud mu Varo?." tanya Nancy langsung.
"Iya gue akan berikan jantung gue buat Zia." Varo menatap Nancy dengan penuh keyakinan.
"Tapi itu tak mungkin Varo, kau bisa mati nak, mommy gak akan izinin kamu, mommy gak mau kamu pergi sayang." Dita menangis setelah mendengar Varo berkata seperti itu. Duta memeluk tubuh Haidar dan menangis di pelukannya.
"Varo daddy juga tak setuju, pasti akan ada pendonor buta Zia, tapi itu bukan kamu." elak Haidar.
"Tapi dad.. mom tak ada pilihan lain, inilah jalan yang Varo ambil, dan pendonor jantung itu sangat sulit untuk di cari, Varo tak bisa melihat Zia terluka, itu sangat menyiksa Varo dad.... Varo mohon setujuilah keputusan yang Varo ambil."
"Varo juga tak akan hidup lama di dunia dad.... mom Varo mohon itu yang bisa Varo lakukan... izinkanlah putramu ini mom ini adalah permintaan terakhir ku... tolong kabulkanlah mom, dad.. " Varo terus memohon agar bisa menolong Zia, walaupun dia tahu jika Dita dan Haidar pasti akan mengelaknya.
Tangis Dita semakin kerassi pelukan Haidar, semua yang ada di sana pun ikut terbawa suasana. Mereka tak menyangka jika Varo akan berkorban sangat besar demi orang yang dia sayangi dan dia cintai, sungguh pengorbanan yang tak terhingga.
"Varo kau sangat hebat gue bangga sama lo... lo adalah yang terbaik Varo." batin Nancy bangga dengan Varo yang mau berkorban besar demi sahabat dan cintanya.
Dita melepas pelukan Haidar dan menatap Varo dengan tatapan sendunya, dia pun memeluk Varo erat, sungguh ibu mana yang akan sanggup kehilangan anaknya, kehilangan anak sama dengan kehilangan segalanya itulah yang kini Dita rasakan.
"Mommy Varo tahu mommy tak akan memberikan izin itu, tapi mom Varo sangat menyayangi Zia lebih dari hidup Varo sendiri, setidaknya jika Varo tak bisa mengisi hatinya, Varo bisa membuat Zia hidup dan berbahagia hanya dengan jantung pemberianku." jelas Varo, dia sangat bahagia meski nantinya bukan dia yang akan menemani Zia,tapi setidaknya ada sesuatu yang akan membuat Zia tetap hidup dan berbahagia.
Dita melepas pelukannya dan menatap Varo lembut, walau Dita menolak pasti Varo aja selalu memaksa untuk menyelamatkan Zia, Dita pun mencoba untuk bisa ikhlas dan melepas Varo putra kesayangannya. Dita mengusap air matanya.
"Baik nak mommy akan izinkan kamu menolong Zia, mommy menghargai keputusan yang kau buat, mommy akan ikhlas jika kau pergi." ucap Dita lembut lalu mengecup kening Varo.Haidar hanya mengangguk menatap Varo memberi isyarat bahwa dia juga setuju akan keputusan Varo, begitu juga dengan teman-temannya.
"Makasih mom... dad... Varo menyayangi kalian semua makasih udah izinin Varo......" suaranya melemah.
"Nancy tolong panggilin Zayn, gue.... mau ngomong sama dia, gue mohon waktunya udah gak banyak Nan." pinta Varo. Nancy pun keluar ruangan untuk segera menghubungi Zayn.
Sedang Varo mengatakan pada semuanya untuk tak memberitahukan Zia jika nantinya Zia berhasil di selamatkan, Varo tak mau jika nantinya Zia mengetahui bahwa yang ada di dalam tubuhnya adalah jantungnya, dia takut jika nanti Zia menyalahkan dirinya. Varo hanya ingin Zia tahu jika Varo meninggal karena penyakit yang di deritanya. Mereka semuanya menyetujui semua keputusan Varo, meski nantinya lambat laun Zia akan mengetahui semuanya, dia pasti akan mencaritahu sendiri, jika ada kejanggalan atas meninggalnya Varo, karena Zia bukan orang yang mudah percaya begitu saja.
Flashback Off