
Raina masih memperhatikan Angga secara diam-diam, dan berharap Angga menyadari nya. Karena sudah selesai membicarakan semuanya, Angga dan Dian pamit pulang, namun hati Dian tidak ingin pergi, karena masih ingin bersama dengan Zia. Tanpa di sadari Raina, Angga juga menatap Raina dengan seksama. Mereka berdua tidak saling menyadari akan hal itu.
"Aku masih ingin di sini Ngga, lihatlah tadi Zia sangat mempesona, aku tidak bisa memalingkan penglihatan ku." keluh Dian, dia masih betah menatap calon istri nya.
"Begitupun aku Di..... " Gumam Angga dengan sangat pelan, membuat Dian tidak jelas mendengar nya.
"Apa? kamu mengatakan apa tadi?." tanya Dian. Namun Angga hanya menggeleng, Dian pun tidak mau bertanya apapun lagi.
"Kamu tidak boleh tetap disini, masih banyak yang harus kamu kerjakan, apalagi dua minggu lagi kamu dan Zia lamaran, masih banyak pekerjaan, jadi jangan bersantai." omel Angga, keluhan Dian membuat dia kesal, pasalnya mereka harus mempersiapkan semuanya selama dua minggu, dan semua harus di atur sesempurna mungkin.
"Huft.... baiklah baiklah cerewet banget sihh kaya emak-emak." kesal Dian. Mereka pun meninggalkan pelataran villa Zia.
Zia hanya tersenyum melihat kelakuan Dian yang seperti anak kecil, sementara Raina masih tidak bisa memalingkan wajahnya dari Angga, Zia menyadari hal tersebut, dia tahu mereka saling pandang dalam diam, apalagi Angga sangat pandai menyembunyikan nya.
"Cie.... kamu mengenal dia?." tanya Zia menggoda, membuat Raina gelagapan.
"Eh... anu... tidak Zia... aku hanya pernah bertemu dengannya." jelas Raina gugup, dia tidak tahu jika pertemuan yang hanya sekilas, bisa membuatnya jatuh hati.
"Jika kamu jatuh hati padanya, aku akan membantumu." bisik Zia membuat Raina berisik ngeri, seakan Zia sedang menawarkan hal yang menakutkan, ratu mafia memang beda auranya.
"Sudah Zi..... aku hanya pernah bertemu dengannya sekali di sekolah desainer, dan tidak sengaja menabrak tubuhnya." Jelas Raina yang tidak mau jika Zia menginterogasi nya terlalu dalam lagi, dia hanya ingin menyimpan perasaannya diam-diam.
"Tapi kamu terpikat kan? kamu tahu Angga adalah seorang dokter terkenal di daerah sini, kamu tahu pesona nya tidak di ragukan oleh kamu hawa, kamu tadi lihat kan berapa dia tak kalah tampan dari Dian ku?." Zia terus memojokkan Raina agar mau mengakui kalau dia menyukai Angga.
Angga memang memiliki pesona dan daya pikat yang tidak di ragukan oleh kaum wanita, di tambah parasnya yang tampan, dan juga dengan statusnya sebagai dokter, pasti sudah banyak yang mengincarnya untuk di jadikan suami.
"Kamu ngomong apa sih Zi....? aku gak terpikat sama dia." elak Raina, yang sebenarnya dia sudah jatuh hati pada saat itu. Namun dia tidak mau mengungkapkan perasannya, karena dia masih ingin meyakinkan hatinya bahwa Angga juga menyukainya, meski sekarang dia tidak tahu siapa wanita yang akan di jadikan pendamping olehnya.
"Benarkah....? tapi wajahmu sudah mengisyaratkan nya, jangan kira aku tidak memperhatikan kalian berdua, yang saling memandang dalam diam." Zia tidak percaya, karena sedari tadi Zia memperhatikan kedua insan yang saling menatap dalam diam.
"Ih sudahlah Zi..... itu tidak penting, ayo kita masuk." Raina mengalihkan pembicaraan nya, agar Zia tidak terus memojokkan dirinya. Sebenarnya Raina sangat gugup ketika Zia terus bertanya hal itu.
"Baiklah ayo kita masuk." Raina bernafas lega, karena Zia akhirnya berhenti menanyakan hal itu.
Setelah acara pertemuan tadi, sebentar lagi tinggal menyiapkan acara lamaran dan juga pernikahan, mungkin akan di lakukan dalam waktu cepat, karena lebih cepat akan lebih baik. Zia dan Dian juga ingin mempercepat hubungan mereka.
Zia masuk ke dalam kamarnya, dia sudah tidak sabar dengan acara lamaran dan pernikahan, sudah lama dia mendambakan hal ini, hal yang selalu dia impikan sebagai pengantin.
...----------------...
Sesuai janji yang telah di tetapkan, Dian sudah mempersiapkan semuanya untuk acara lamaran, semua sudah di dekorasi dengan sangat cantik, temanya adalah berwarna biru muda soft dengan campuran putih yang menyatu sempurna.
Lamaran diadakan di sebuah gedung hotel mikiknya, sudah lama dia memikirkan jika acara lamaran akan di lakukan disana. Semua sudah siap dengan penaaltaan yang rapih dan megah.
Dian sudah siap dengan setelan jas berwarna senada dengan wajah tampannya, dia juga sudah menyiapkan sepasang cincin permata yang akan menjadi saksi ikatan mereka menuju jenjang labih serius. Dia membetulkan dasinya, Angga juga sudah berada di sana dengan setelan tampannya, dia akan menjadi wakil orang tua Dian.
Cincin couple indah dengan permata kecil yang Dina pesan kepada desain terkenal, dia ingin memberikan yang terbaik kepada Zia calon istrinya. Semua tamu sudah berkumpul disana termasuk sahabat-sahabat Zia, mereka semua sudah menantikan sahabat mereka menikah, karena tinggal Zia, Raina dan Rayyan lah yang belum menikah.
"Aduh gue gak sabar liat Zia nikah. "ucap Siti yang tidak sabar melihat Zia menikah, begitu juga sahabat yang lain. Mereka sudah memiliki anak, dan hari ini Zia akan melangkah ke jenjang lebih serius.
Acara pun di mulai, mc membuka acara lamaran Zia dan Dian. Semua mata menatap sang wanita dengan gaun berwarna biru muda dengan rambut yang di sanggul lengkap dengan aksesorisnya, dia berjalan dengan di tuntun oleh Raina di samping kanannya. Dian sudah menunggu dengan menatap Zia tanpa berkedip, pujaan hatinya kini terlihat sangat anggun dan menawan, semua terlihat takjub melihat penampilan Zia yang tidak biasa.
"Zi cantik sekali, apalagi nanti jika mengenakan gaun pengantin, dia akan terlihat seperti bidadari."puji Mila dengan takjub nya, sudah lama dia tidak melihat sahabatnya berdandan mengenakan gaun dan aksesoris, karena mereka tahu jika Zia sangat enggan menggunakan hal tersebut.
Dian menjadi gugup melihat Zia yang amat cantik, dia semakin mencintai calon istrinya itu, ingin rasanya dia menikahi langsung Zia, tapi dia harus lebih bersabar lagi, karena semua butuh proses. Dian menarik nafas dalam untuk menetralisir rasa gugupnya.
"Huft tenanglah...." batun Dian agar tetap tenang. Zia berjalan mendekat ke arah Dian, mereka sama-sama gugup, jantung mereka saling bersautan bergema di dada mereka.
Semua mata tertuju pada dua insan yang akan menyematkan cincin tanda ikatan mereka. Sungguh hari yang mendebarkan, melihat keduanya akan menjadi sepasang kekasih.
"Zi.... hari ini aku ingin menyampaikan apa yang ada dalam hati sebelum cincin ini bersemat di jari indahmu." ungkap Dian dengan senyuman manisnya, membuat semua tamu terpesona. Kini Dian berdiri tepat di hadapan Zia dan jaraknya sangat dekat. Dian memegang kedua tangan Zia dan mentapanya dengan penuh rasa cinta.
"Iya aku siap mendengarkan mu." jawab Zia sedikit malu-malu.
"Aku sungguh menginginkan hidup bersama mu, hidup menjadi keluarga yang harmonis dengan penuh kehangatan. Walau ku tahu cinta kita masih belum bisa sepenuhnya, tapi aku berjanji akan membuat cinta itu semakin besar, aku akan selalu menjaga dan selalu ada untukmu, karena kamu lah cinta yang selama ini aku damba, dan di hari ini aku akan menjadi bagian dari hidupmu, meski belum sepenuhnya, dan pada hari ini juga aku meminang mu sebagai istri." Dian menyampaikan apa yang selama ini ingin dia sampaikan, dan akhirnya hari ini bisa tersampaikan.
Zia tersenyum bahagia air matanya tak sengaja menetea di pipinya, ini adalah air mata kebahagiaan, dia mengangguk dengan menatap Dian penuh kasih sayang.
"Iya aku menerimamu sebagai calon suamiku." jawab Zia yang tatapannya tidak berpaling dari calon suaminya.
Semua tamu bernafas lega, akhirnya dia insan itu telah terikat, Dian memasangkan cincin indah itu di jari manis Zia, begitu juga dengan Dian. Seluruh tamu bertepuk tangan dengan meriah, akhirnya acara ini berjalan lancar, Zayn menangis haru, kini adik kesayangannya akan menjadi milik orang lain, dia hanya berharap Zia selalu berbahagia bersama dengan Dian.
"Zi semoga kamu selalu bahagia, jangan bersedih lagi hapus semua masa lalu mu dan sekarang saatnya kamu membuka lembaran baru... selamat ya atas lamaran kalian semoga secepatnya menikah." Ucap Raina yang ikut bahagia, doa nya akan selalu menyertai Zia dan Dian.
Semua tamu memberikan doa dan selamat kepada Zia dan Dian, begitu juga dengan keluarga dan sahabat adalah nya, mereka bahagia sekali melihat Zia bisa tersenyum kembali, sudah cukup dia merasakan kesedihan karena kehilangan, dan pada hari ini semua akan terganti.