Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-63



Hari ini cuaca begitu menyejukkan hari dan pikiran, semua bersemangat mencari kebahagiaan mereka masing-masing dengan usaha mereka tanpa mengeluh. Kedua saudara itu berjalan menyusuri keindahan alam yang terbentang luas seakan memberi ruang kebahagiaan bagi mereka, yang hanya menjalani kehidupan pahit di masa lalunya. Ya mereka adalah Brother and Sister, mereka selalu bersama walaupun masalah ada di depan mata mereka.


"udara yang segar menyejukan pikiran, ahhh.... rasanya semua gundah telah hilang." semangat Zayn merasakan udara sejuk pagi hari kebetulan Vila mereka di dekat bukit jadi mereka bisa selalu menikmati keindahan pagi hari dengan udara yang sejuk dan menenangkan.


"Ya kita bisa bernafas dengan bebas setelah perjuangan kita aku bahahia sekarang." Zia juga merasa bebannya sudah hilang dari hati dan pikirannya. Mereka sedang melakukan joging karena sekarang weekend sudah satu minggu mereka sekolah dan menginjakan kaki di kelas dua belas.


"Bagaimana kabar ayah aku sangat rindu padamu ayah maaf karena kami masih belum bisa memaafkan mu,terlebih Zia pasti ini akan berat bagunya." Batin Zayn yang merindu pada ayahnya, bagaimanapin juga Hiashi adalah ayah meraka, namun Zia dan Zayn masih kecewa akan sikap ayahnya yang hanya mementingkan harta dari pada kasih sayang nya terhadap anaknya.


Melihat Zayn melamun membuat Zia bingung, apa yang sedang di pikirkan kakaknya.


"Ekhemmm." dehem Zia membangunkan Zayn dari lamunannya.


"Ngelamunin apa lo? cerita napa kalau ada apa-apa gak usah di sembunyiin."


"gue gak papa gue cuma lagi rindu aja, gimana kalau kita jenguk ayah, semenjak kejadian itu gue pengin banget biarin ayah tinggal di rumah itu." jelas Zayn mengeluarkan isi hatinya dia tak mau hidup dengan dendam terus menerus.


"Oh..... " singkat Zia dan meninggalkan Zayn sendiri, Zia masih sangat sakit hati pada ayahnya karena sedari dulu Hiashi selalu saja mengatainya anak pembawa sial, dan itu masih terngiang di telinganya.


Kepergian Zia, Zayn masih berdiri di situ menatap punggung adik yang sangat dia sayangi.Zia pasti tak akan mudah memaafkan ayahnya.


"ini pasti berat untuknya, tapi gue tak akan menyerah gue akan satuin keluarga gue seperti dulu lagi, gue akan buat Zia menerima ayah dan memaafkan Zia." gumam Zayn bertekad untuk menyatukan keluarganya kembali agar menjadi keluarga yang harmonis.


Zayn pun akhirnya pulang menyusul Zia dia tak mau jika nanti Zia marah padanya, namun di perjalanan pulang ke villa sdi memikirkan surau cara bagaimana bisa menyatukan ayah dan Zia.Zayn besok akan diam-diam menemui ayahnya dia ingin segera menyatukan keluarga kecilnya.


...----------------...


Di tempat lain seseorang tampak sedang melamun pandangannya kosong menatap keluar jendela, dia mengingat masa lalunya betapa menyesalnya dia dulu selalu mengabaikan permata hatinya. Ya dia adalah Hiashi ayah yang dulu sudah menyia-nyiakan putra dan putrinya tanpa sebab yang pasti.


"Maafkan ayah nak, ayah sangat menyesal berikan maaf kalian ayah sangat menyayangi kalian sungguh." sesal nya air matanya mengalir deras di pelupuk matanya dan tak henti di pipinya sungguh penyesalan seorang ayah yang belum mendapatkan maaf dari anak-anaknya.


Hiashi memandang sedih kehidupannya sungguh sangat menyakitkan dikala seorang anak membencinya bahkan lebih sakit di banding dengan ditimpa dadanya dengan batu besar, rasanya akan lebih sesak jika masa lalu menyakiti anaknya dan belum mendapat maaf dari anak yang telah di sakitnya. Sungguh sesal tiada arti karena waktu tak bisa berputar kembali.


"aku akan berusaha mendapat maaf dari kedua anakku, aku yakin mereka masih mau memaafkanku aku yakin itu." Yakin Hiashi pasti dia akan mendapatkan maaf dari kedua anaknya.


Hiashi mendengar ada suara mobil di depan rumahnya dia pun langsung melihat kearah jendela, dan ternyata benar ada mobil sudah terparkir di depan rumahnya.


Tok.... tok... tok...


Suara pintu di ketuk Hiashi segera beranjak sedari lamunannya dan membuka pintu rumahnya betapa terkejutnya ternyata yang datang adalah Ilham ayahnya.


"A... a... ayah... " ucapnya tergagap.


Hiashi membawa nampan berisi teh dan juga cemilan dia menyuguhkan minuman itu untuk Ilham.


"Ada apa ayah? apa yang membawamu ke sini?." tanya Hiashi karena Ilham jarang sekali menemuinya.


"Kau harus tahu ini semua, yang membunuh Mira ibumu adalah Tiara istri kedua mu, kita telah salah paham pada Zia aku ingin kita bisa berkumpul seperti dulu, namun Zia maupun Zayn sulit untuk memaafkan kita." Ilham ingin sekali keluarga mereka kembali utuh dengan kehangatan dan kasih sayang.


"Apa! jadi kita telah terpedaya olehnya, ayah aku sungguh menyesal atas perbuatan ku pada mereka berdua." Hatinya semakin sakit kala mengetahui kalau Tiara lah pembunuh Ibunya, namun dengan mudahnya Hiashi juga Ilham percaya kalau itu adalah perbuatan Zia,Zia hanya berniat membantu neneknya yang akan di celakai oleh Tiara.


"Kita harus berusaha mendapat maaf dari mereka berdua, aku yakin mereka akan memaafkan kita, dan keluarga kita akan kembali seperti semula."


"Kau benar ayah kita harus berusaha mengambil hati mereka dan memperbaiki semuanya."


Ilham dan Hiashi akan terus berusaha meminta maaf sampai Zia dan Zayn memberi maaf, walaupun harus bertekuk lutut di hadapan mereka, mereka tak peduli yang terpenting bisa mendapat maaf yang tulus dari Zia dan Zayn bagaimana pun juga mereka masih darah daging Hiashi. Dan Hiashi akan selalu menyayangi Zia dan Zayn dan tak akan mengulangi kesalahan nya.


...----------------...


Zia masih marah karena kakaknya ingin ayahnya tinggal di rumahnya seperti semula, sungguh egois memang tapi Zia ingin agar ayahnya sadar akan perbuatannya dan tak akan mengulangi hal yang sama.Hati Zia masih sakit apalagi pada saat Hiashi menuduh membunuh Neneknya dan dengan tega mengusirnya tanpa memikirkan perasaannya.


Tok... tok... tok....


"Zi.... kakak mohon maaf, bukan maksud kakak seperti itu, kita harus bisa belajar memaafkan ayah,meski itu sulit gue yakin lo bisa bagaimana pun juga dia ayah kita, gue yakin ayah sudah menyesali perbuatannya." bujuk Zia agar bisa memaafkan ayahnya.


"Kita tak boleh terlalu lama menyimpan dendam karena jika dendam masih dalam hati kita maka akan sulit kita melapangkan hati kita untuk memaafkan.Sudah cukup kita memabalas semua perlakukan mereka, gue yakin bunda juga senang tapi dia juga akan sedih jika kita tak memberi ruang maaf pada ayah."Zayn terus saja membujuk Zia dari balik pintu semoga dengan begini hati Zia akan meluluh dan mau memaafkan kesalahan ayah dan juga orang yang sudah menyakiti mereka.


Pintu pun perlahan terbuka Zia sudah ada di ambang pintu air matanya sudah membasahi pipinya Zia menangis mendengar ucapan kakaknya Zia juga tak mau berada dalam suatu dendam apalagi dendam itu untuk ayahnya sendiri. Zia akan mencoba memaafkan kesalahan ayahnya dan akan memperbaiki hubungan nya dengan keluarga nya karena keluarga adalah suatu yang berharga.


Zia memeluk Zayn erat dia menangis di pelukan Zayn karena sudah tak tahan lagi, dia juga ingin keluar dari semua ini, namun Zia masih sulit untuk bisa melapangkan hatinya. Zia menangis sesegukan hatinya terasa melega saat menumpahkan air matanya sesaknya seakan menghilang.


Serasa cukup menangis nya Zia melepas pelukan pada kakaknya, Zayn memandangi Zia dan mengusap lembut sisa air maya Zia di pipinya.


"Sudah jangan menangis,lo harus bisa melupakan semua masa lalu karena dengan kita selalu mengingat masa lalu maka dendam tak akan hilang dari hati." ucapnya lembut Zayn sangat menyayangi Zia dia tak mau Zia terus menerus hidup dalam dendam.


Zia hanya mengangguk mengerti dia sudah lelah menjawab karena sehabis menangis, dilihatnya Zayn begitu sayang padanya.


"Akan aku coba membuka pintu maaf untuk ayah." Batin Zia berusaha untuk bisa memaafkan dan melupakan masa lalu yang pilu.


"Ya sudah besok kita temui ayah, dan kita akan ajak ayah tinggal di rumahnya yang sudah kita ambil.Sekarang tersenyumlah."


Zia pun mencoba tersenyum dan mengangguk pertanda dia menyetujui ajakan kakaknya menemui Hiashi ayahnya. Besok mereka akan bertemu dan melupakan segala masa lalu yang menyakitkan dan mengulang semaunya dari awal menjadi keluarga yang bahagia dan penuh dengan kehangatan serta cinta kasih.