
Zia dan Zayn kembali ke villa untuk menggati pakaian mereka, karena akan ada meeting penting dengan klien mereka yang tak bisa di wakilkan.Mereka pun pulang, setalah sampai di depan gerbang villa terlihatlah jika sudah ada mobil terpakir cantik di pelataran villa mereka.Zia dan Zayn memasuki pelataran villa mereka dan memarkirkannya.
Mereka memasuki villa, ternyata ada seseorang yang sudah menunggu mereka di rumah rakat lebih tepatnya menunggu Zia datang, ya seorang itu adalah Rayyan. Dia memang berjanji akan datang untuk meminta maaf pada Zia, apapun aja Rayyan lakukan demi mendapat maafnya. Rayyan menghampiri mereka.
"Zia.... Zayn kalian dari mana?." tanya Rayyan antusias, sambil melirik pada Zia, namun Zia tak peduli.
"Eh Rayyan lo di sini? sejak kapan?." Zayn bertanya balik.
"Udah lima belas menit yang lalu."jelasnya, dan hanya di tanggapi datar oleh Zia.
"Ya udah lo tunggu di ruang tamu, gue mau ganti baju dulu."
"Oke gue tunggu."Zayn pun pergi ke kamarnya begitu juga dengan Zia yang pergi tanpa menyapa Rayyan. Beberpa menit kemudian Zayn sudah siap dengan setelan jasnya, namun Rayyan tak melihat Zia. Zayn menemui Rayyan di ruang tamu.
"Lo mau kemana udah rapih?." tanya Rayyan.
"Oh gue mau ke kantor, soalnya ada meeting yang gak bisa di wakilkan.Lah lo kesini mau ngapain?."
"Heh lo make nanya lagi... gue kesini ya mau minta maaf lah sama Zia, lo tahu sendiri kan Zia belum maafin gue." kesal Rayyan.
"Iya gue tahu kok... ya udah gue harus segera ke kantor, lo ngobrol santai sama Zia, gue yakin Zia pasti bakal maafin lo. Jangan kalah, nanti Zia nya di ambil orang." ledek Zayn, dan berlari keluar villa agar tak mendapat omelan Rayyan.
"Awas lo ya, dasar temen durjana bukanya kasih semangat malah do'ain Zia sama orang lain." umpat Rayyan berteriak dengan kesal karena Zayn sudah ada di luar villa. Zayn hanya terkekeh mendengar umpatan Rayyan, dia pun meluncurkan mobilnya ke perusahaan.
Setelah kepergian Zayn, Zia pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan sangat anggun, dengan setelan kemeja formalnya, Rayyan yang melihat Zia menjadi terpukau dengan kecantikannya.
"Zi.... gue mau ngomong." ucap Rayyan karena melihat Zia akan keluar dari villa tanpa memperdulikan keberadaannya. Langkah Zia terhenti mendengar ucapan Rayyan.
"Gue sibuk." jawabnya dingin tanpa menoleh. Rayyan pun mendekat dan berdiri di belakang Zia, sungguh Rayyan sangat merindukan Zia, seorang wanita yang sudah mengisi hatinya sejak lama.
"Zi gue mohon sama lo, sebentar aja... " pintanya, kami lagi-lagi Zia tak menghiraukan ucapan Rayyan, dia beranjak melakukan kakinya ke luar villa, namun tangannya sudah terlebih dahulu di cekal oleh Rayyan.
"Lepas... "
"Gak... gua gak akan lepasin sebelum lo mau dengerin, penjelasan gue. " elak Rayyan, membuat Zia sedikit kesal.
"Jelasin apa hah? lepasin tangan gue... " ketusnya.
"Zi... gue akan jelasin semuanya ke lo, alesan kenapa gue pergi tanpa pamit." jelas Rayyan, Zia hanya diam tak menyahuti Rayyan.
"Maafin gue .... udah buat lo kecewa, karena gue menggantungkan perasaan gue ke lo, dan buat lo nunggu gue, tapi itu semua ada alesannya, dan lo tahu kan apa alesannya? ya alesannya karena Varo dulu juga suka sama lo, dan gue gak bisa ungkapin perasaan gue ke lo karena gue juga gak mau jika Varo sakit hati." jelas Rayyan.
"Dan gue juga minta maaf, kalau gue pergi tanpa alesan, itu semua karena permintaan ayah gue yang tak bisa di bantah, dan harus di turuti, dan mau gak mau gue harus lakuin apa yang ayah gue minta..... gue mohon Zi.... lo pasti mengerti kan? tolong Zi beri gue kesempatan untuk buka hati lo lagi buat gue, gue masih cinta sama lo dan gue gak mau kehilangan lo." Rayyan sungguh sangat ingin bisa bersama Zia.
Zia masih tak bergeming, dia masih mencerna ucapan Rayyan, dia memang bisa mengerti apa alasan Rayyan pergi tanpa pamit dan tanpa kabar, namun hatinya masih ragu, ragu akan perasaannya terhadap Rayyan, ragu jika suatu saat Rayyan akan pergi meninggalkan dirinya lagi dan menggantungkan perasaannya, dan Zia ragu jika hubungannya dengan Rayyan tak di tegaskan, karena sebuah keadaan.
Rayyan tahu jika Zia masih ragu untuk menerima Rayyan lagi, tapi Rayyan sangat berharap jika Zia mau memberinya kesempatan. Kesempatan untuk mengisi hatinya lagi, kesempatan untuk bisa bersama dengannya, dan kesempatan untuk membuat Zia bahagia. Zia segera menepis tangan Rayyan dan berlalu pergi tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Rayyan hanya menatap nanar kepergian Zia, sungguh hatinya sakit melihat orang yang di cintai sangat membencinya.
"Zia tolong beri gue kesempatan.... gue janji akan buat lo bahagia dan tak akan membiarkan lo bersedih. gue yakin lo akan nerima gue, dan gue akan terus berusaha buat dapetin hati lo lagi Zi...." batin Rayyan, dia akan terus berusaha mendapatkan hati Zia lagi.
Rayyan pun pergi dari villa Zia, dia akan mencobanya lagi besok, dan berharap Zia mau memaafkan dirinya. Di dalam mobil Zia hanya namun memikirkan perkataan Rayyan, sebenarnya dia tak tega melihat Rayyan terus memohon padanya, namun perasaannya sudah terlalu sakit, di saat dia membutuhkan Rayyan pergi entah kemana, hingga sampai bertahun-tahun. Membuat hatinya ragu untuk menerimanya kembali.
"Oh... astaga kenapa bisa gue sampai ke tempat ini."kaget Zia karena dia berada di tempat yang jauh dari keramaian.
Dor......
Suara senjata api terlepas dari sarangnya, Zia sedikit terkejut mendengar ada seorang yang sedang bermain senjata, Zia pun turun dari mobil mencaritahu sumber suara pistol itu, Zia mulai berjalan perlahan tanpa suara, karena dia yakin jika suara itu tak jauh dari tempatnya.Zia mengendap di balik pohon, dan sesuai dugaannya jika memang sedang terjadi pertarungan. Zia melihat dari balik pohon, ada seorang pria yang sedang melawan sekitar sepuluh orang preman, dan lelaki itu tampak kesulitan karena kakinya yang terkena luka tembak.
Zia melihat darah mengalir dari kakinya, dia pun tak tak suka jika melihat orang yang sudah lemah di tindas, Zia segera bertindak untuk membantu lelaki itu, tampak dengan jelas jika lelaki itu menahan sakit di kakinya. Zia pun sudah tak bisa menahan dirinya.
"Hey..... berhenti..!!."teriak Zia lantang dan keluar dari balik pohon yang tak jauh dari tempat mereka bertarung, Zia berjalan ke arah mereka. Lelaki itu pun menoleh karena mendengar suara teriakan.
"Heh siapa kau berani mengganggu kesenangan kami?."Zia tak menanggapi pertanyaan preman itu dan berjalan dengan santai.
"N.... nona pergilah, mereka bukan lawan anda." ucap pria itu dengan terbata, karena dia sedang menahan sakit.
"Lo istirahat aja gue yang akan urus mereka, udah lama gue gak main." Zia mengepalkan tangannya dan bersiap menghajar mereka.
"Wah besar juga nyali tuh cewek, udah ngalah aja pasti lo gak akan bisa menang lawan kita." ucap salah satunya dengan nada mengejek.
"Udah mending main sama kita aja neng." sahut mereka dengan diiringi tawa. Tanpa bicara Zia menendang salah satu dari mereka dan tepat mengenai miliknya.
"Auuuu.... cewek sialan..!!." peliknya, Zia hanya tersenyum iblis. Mereka pun menyerang Zia dengan membabi buta, namun Zia dengan sigap melawan mereka tanpa tersentuh sedikitpun, membuat mereka kewalahan.
Bughhh......
Srakkk....
Krakkk.....
Bugh....
Bugh......
Suara baku hantam terjadi sangat epic antara Zia dan para preman, Zia sangat lihai mengendalikan tangan dan kakinya dan selalu tepat sasaran pada lawannya. Sampai mereka sudah tak sanggup melawan Zia lagi, mereka sudah terkapar dengan babak belur di wajah mereka.
"Ampun nona.... ampuni kami.... kami menyerah. " keluh salah satu dari mereka yang tak mau mendapat pukulan lagi dari Zia.
"Mana gaya sombong kalian tadi hah...?! Ayo gue belum puas." ucap Zia degan seringai nya.
"Jika gue liat kalian membuat onar, gue gak akan segan-segan potong tubuh kalian dan akan gue berikan untuk makan singa gue."
"Jangan pernah macam-macam lagi lo tahu siapa gue.... gue Queen mafia Pair Dragon Blood.... ingat itu di otak kalian." bisiknya di telinga ketua preman, membuat mereka begidik ngeri mengatahui jika Zia adalah queen mafia.
"Sekarang enyahlah dari hadapanku....!!." bentak Zia, mereka pun berlari pergi, karena tak mau berurusan dengan Zia lagi.
Laki-laki itu memandang kagum pada Zia, dia tak mengalihkan pandangannya saat Zia melawan semua preman itu, sungguh lelaki itu takjub akan kemampuan beka diri Zia.
"Wanita yang menarik.... " batinnya mentap Zia yang sedang merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan.