
Zia masih sibuk dengan pekerjaannya, semenjak kejadian itu Zia semakin over pendiam, bahkan hanya bicara seperlunya saja, hanya deheman terkadang anggukan kepala membuat para karyawannya bingung dengan tingkah atasannya.
"Aduh bu bos kenapa lagi.... sekarang dinginnya makin kebangetan."
"Iya mungkin ada masalah yang buat moodnya menjadi buruk." keluh para karyawan yang tak mau melihat Zia menjadi dingin kembali.
"Awas tuh orang yang buat bos jadi pendiam, kalau ketemu udah gue penyet..... " kesal mereka padahal baru beberapa minggu ini Zia ramah kembali, tapi sekarang dia berada dalam mode heningnya.
Sore hari Zia sudah selesai mengerjakan semua pekerjaannya tanpa di handle siapaun, bahkan Bryan hanya mendesah berat mendapati perubahan sikap Zia yang lebih over pendiamnya.
"Huh... nasib punya bos makin lama makin pendiem aja... ok gue kuat ngadepinnya." decih Bryan kesal, tak dapat di pungkiri jika sedang bersama pada klien atau investor Bryan yang harus menjelaskan panjang lebar, karena Zia hanya diam dan sedikit bicara.
"Gue balik." singkat Zia dan bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangannya, wajahnya tetap cantik meski tak di hiasi lengkungan di bibirnya.
Zia berjalan keluar perusahaan, susana hatinya masih tak menentu, tanpa dia sadari ada pasang mata yang memperhatikannya dia mengukir senyum indah di wajahnya, melihat pujaan hatinya, namun senyumnya pudar di kala melihat sirat kekecewaan dan kemarahan di wajahnya membuat hatinya teriris ribuan belati yang rasanya sangat sakit.
"Aku akan mengembalikan senyummu itu, aku tak akan pernah membiarkan senyumanmu pudar, dan akan ku hilangkan kekecewaan serta aka ku redam kemarahanmu, itu adalah janjiku padamu." tekadnya untuk membuat Zia menjadi wanita yang paling bahagia.
Zia berniat membeli sesuatu di mini market sebrang jalan, jadi dia tak langsung menuju parkiran. Zia melangkah menyebrangi jalan, namun pikirannya kosong, hingga tanpa sadar ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya, Dian yang melihat jika Zia dalam bahaya dia segera turun dari mobilnya, dia tau jika Zia melamun jadi dia tak berniat menghindar.
"Oh ****... Zia.... " umpat nya dan berlari dengan cepat ke arah Zia dan menarik keras tangan Zia, hingga mereka berdua terjatuh di pinggir jalan dengan posisi Dian berada di atas Zia.
deg deg deg...
Jantung Dian berdesir hebat di kala wajahnya sangat dekat dengan wajah Zia, mata mereka bertemu dan saling mengunci, karena Zia merasakan sakit dia pun langsung memalingkan wajahnya.
"Awww.... " ringis Zia, ternyata kakinya terluka akibat tarikan keras Dian, dan kakinya terkena batu lancip.
Dian yang melihat wajah Zia seperti menahan sakit, dia pun segara bangkit dari atas tubuh Zia, saat bangun Dian matanya menangkap noda merah di kaki Zia.
"Maaf... tadi kau hampir tertabrak mobil, untung saja aku tak terlambat." ucap Dian dan membersihkan pakaiannya yang kotor terkena debu. Dia membantu Zia berdiri.
"Kakimu terluka, akan ku antar ke rumah sakit." Dian tak bisa melihat jika Zia kesakitan, apalagi luka nya cukup dalam.
"Tak usah aku bisa pergi sendiri." tolaknya datar, namun terlihat menahan rasa sakit.
"Jika tidak segera di bawa ke dokter bisa infeksi nona." Dian tetap mendesak, dia tak tahan melihat Zia terluka sampai berdarah.
Karena desakkan Dian akhirnya Zia luluh, apalagi sudah hampir petang di tambah luka nya sangat menyakiti nya hingga dia sulit berjalan. Dian memapah Zia sampai di mobilnya, Zia di antar menggunakan mobil Dian.
Di dalam mobil Zia menghubungi seseorang untuk membawa mobilnya ke villa, setelah selesai berbincang mereka hanya diam tak ada obrolan, Zia hanya memandang kosong ke luar mobil dari balik jendela. Sesekali Dian melirik ke arah Zia, tiba-tiba saja jantung mau memompa sangat keras, setiap kali Dian melihat wajah Zia dari jarak dekat maka dia akan merasakan getaran cinta di dalam hatinya.
"Oh ya ampun.... jantungku berdetak hebat, apa karena aku benar-benar mencintai nya? dia adalah gadis pertama yang mampu membuat ku seperti ini, membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama." Dian mengalihkan pandangannya dan menetralkan detak jantung nya agar tak terdengar oleh Zia, dia akan sangat malu jika Zia sampai mendengar.
Mereka telah sampai di rumah sakit milik sahabat Dian, ya rumah sakit milik Angga dokter yang pernah membantu Dian saat dia terkena luka tembak. Dian meminta bantuan perawat untuk membawakan kursi roda karena Zia sulit berjalan.
Perawat mendorong kursi roda menuju IGD untuk mengobati luka kaki Zia, Dian setia menemani Zia karena tak mau hal buruk terjadi padanya Zia sudah dibaringkan di brankar, sambil menunggu sang dokter datang perawat membersihkan darah di kaki Zia.
"Apa yang terjadi Dian?." tanya Angga agar tahu apa yang di alami oleh nya dan juga Zia.
"Dia hampir tertabrak, tapi untunglah aku tak terlambat menyelamatkan nya, dan kaki nya terkena batu karena aku terlalu menariknya keras." jelas Dian. Zia hanya diam tak ikut menyahut.
"Oh baiklah, aku akan menanganinya dulu, kau harus tunggu di luar." ujarnya dan menyuruh Dian menunggu di luar.
"Baiklah... " pasrah nya, padahal ingin sekali selalu di samping Zia. Dia pun berlalu keluar ruangan.
Angga dengan di bantu perawat mulai melakukan tindakan pada luka Zia yang cukup dalam, Zia masih tak membuka suara dia masih dalam mode diamnya. Bahkan tak meringis seperti tak terjadi apapun.embuat Angga terheran, apa yang di ucapkan Dian benar adanya Zia sangat dingin melebihi dari sahabatnya.
"Alhamdulillah... selesai juga, anda berbaring dulu nona aku akan bicara pada Dian sebentar, Sus tolong temani nona Zia." Angga pun meninggalkan ruangan dan keluar untuk berbicara pada Dian.
"Gimana Ngga? apa udah beres?." tanya Dian langsung.
"Udah beres, tapi ikut aku ke ruangan sebentar ada yang perlu aku omongin." terangnya, mereka pun menuju ruangan Angga.
Mereka pun duduk wajah Angga tandak serius, membuat Dian bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah terjadi.
"Serius banget wajahmu, sebenarnya ada apa?."
"Zia gak papa kan?." tanya Dian khawatir.
"Zia baik-baik aja, nggak nyangka aja raut wajahnya dingin banget, lebih dari kamu." ujar Angga.
"Oh cuma mau bilang itu, kirain apa."
"Ada yang lebih penting dari itu, aku kasihan sama Zia, dia seperti nya sering melamun beberapa hari ini kayaknya dia lagi sakit hati atau apalah wajahnya seperti memendam kekecewaan besar." jelas Angga, dia melihat raut wajah Zia yang sedang menahan kekecewaan dan dia sedang membutuhkan sandaran untuk dia mengeluarkan semua keluhannya.
"Iya kalau itu memang yang lagi aku pikirin, terus harus gimana?." tanya Dian, dia sungguh tak sanggup melihat keadaan Zia yang tak tersenyum sedikitpun.
"Dian kau harus mau jadi teman dekatnya, hiburlah dia buat dia tersenyum kembali, agar dia kembali hidup lagi, terlihat jika gairah hidupnya sedikit memudar." Angga pun tak tega dengan keadaan Zia sekarang.
"Itu memang yang mau ku lakukan padanya, aku akan berusaha untuk mendekatinya dan akan terus membahagiakan nya." Dian memang berencana untuk membuat Zia tak bersedih lagi.
"Apa dia wanita yang pernah menolongmu?." tanya dia memastikan jika itu benar.
"Iya dia adalah wanita yang menolongku."
"Apa kau mencintainya? sejak kapan?." kini Angga menjadi sangat kepo, karena ini pertama kalinya Dian menolong wanita, yang Angga tahu Dian tidak akan pernah peduli dengan wanita.
"Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintainya, tapi yang pasti sejak pertama melihat dia aku langsung jatuh hati padanya,aku ingin menepis nya tapi tak bisa.Dia adalah cinta pertamaku." ucapnya dengan jantung yang berdegup kencang secara mendadak.
Angga tersenyum melihat jika sahabatnya mulai bisa membuka hatinya, karena dari dulu hingga sekarang Dian tak pernah tertarik pada wanita, dan ini adalah sebuah keajaiban seorang Dian bisa mencintai seseorang.
Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang perawat datang dengan tergesa-gesa ke ruangan Angga, membuat Angga dan Dian bergegas menuju IGD dimana Zia masih di sana.