Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-81



Zia berjongkok di dekat makam Varo dengan mata berkaca-kaca, sungguh Zia ingin sekali berada di samping Varo, namun semuanya sudah tak bisa dilakukannya.Zia berusaha menyembunyikan kesedihannya, belum lagi Rayyan yang tak ada kabar, ya semenjak pengumuman kelulusan sekolah Rayyan sudah tak ada kabar,dia pergi entah kemana.


"Varo.... ini gue.... maaf gue baru dateng... sahabat lo ini memang kagak ada akhlaq, maafin gue karena gue selalu buat lo sakit hati, semoga lo di sana bahagia, yang di aman lo gak bisa dapetin kebahagiaan di dunia." ucap Zia sambil mengusap nisan Varo.


Raina dan Zayn hanya memandang sendu Zia, mereka juga tak tega melihat Zia dan Varo menjauh sebelum Varo tiada, seharusnya Raina tak mengikuti rencana Varo, dia yang paling bersalah diantara semua mereka semua.Raina pun mendekat dan ikut berjongkok di samping Zia sambil memegangi pundaknya.


"Ro gue udah ikhlas lo pergi, gue ucapin terima kasih banyak sama lo, atas semua yang lo beri, bahkan cinta sekalipun, meski gue gak bisa terima cinta lo. Gue akan selalu sayang sama lo, selamat jalan sahabatku..... "tambahnya lagi.


Zia bangkit dan berdiri begitu juga Raina, Zia meletakan buket bunga di pusara Alvaro, dan menaburkan air di atas gundukan tanah Varo. Setelah selesai mereka pun kembali ke rumah sakit karena Zia masih belum di perbolehkan pulang.Raina juga sudah meminta izin untuk pulang, kini tinggallah mereka berdua di ruangan Zia, hanya ada keheningan karena mereka memilih terdiam.


Satu minggu kemudian......


Satu minggu keadaan Zia sudah mulai membaik dan pulih, dia pun sudah di izinkan pulang oleh dokter. Mereka baru saja sampai di villa mereka.


"Akhirnya gue pulang juga.... bosen banget hidup di rumah sakit."ucap Zia yang senang karena sudah kembali ke rumahnya.


"Hemmm pasti lo kangen rumah... sepi ni villa gak ada lo."jelas Zayn karena semenjak Zia di rawat rumah sangatlah sepi.


Mereka memasuki villa megah, Zayn mengantarkan Zia sampai kamarnya sambil membawa pakaian Zia di tas, serah itu Zayn pun pergi ke kamarnya. Zia menghempaskan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Dia menatap langit-langit kamarnya, namun tiba-tiba dia teringat akan amplop yang Zayn beri di rumah sakit tempo lalu. Zia segera membuka tasnya mencari amplop. Beberpa saat akhirnya dia menemukannya. Amplop berwarna biru dengan bertuliskan namanya dan nama pemberinya.


Zia perlahan membuka amplop itu, hingga terlihatlah surat di dalamnya. Zia mengambil surat itu dan mulai membuka lipatan rapih suratnya. Dan terlihatlah tulisan rapih yang sangat Zia kenali, deretan tulisan yang sangat dia rindukan.


๐ŸŒบ๐ŸŒบUntuk sahabatku Nida Ziana Alfian๐ŸŒบ๐ŸŒบ


๐Ÿ’๐Ÿ’Hai..... sahabatku semoga kau sudah sembuh dan sehat seperti semula..... maafkan sahabatku ini yang tak bisa menemanimu. Jika kau sudah membaca suratku ini pastinya aku sudah tak ada di sampingmu. Kehidupanku sudah berakhir sampai episode ini, roda kehidupanku sudah berhenti berputar, maaf jika aku selalu mengecewakanmu sungguh aku hanya ingin kau bahagia dan tak bersedih, ikhlaskanlah aku pergi ke syurga, dengan senyuman indahmu, dengan ke lapangan dadamu, kau wanita kuat pasti kau bisa Zia.... tetaplah bahagia meski sahabatmu ini tak bisa menemanimu sampai kita sama-sama dewasa, tapi aku di sini aka selalu memperhatikanmu. Jalanilah kehidupan dengan bahagia Zi tanpa menoleh kebelakang, aku akan tetap mencintaimu seperti Qais mencintai Laila sampai akhir hayatnya, cintaku ikhlas tak pernah ku lepas hingga ajal menjemput ku....dan ku kubur cinta ini bersama dengan jasadku.Semoga kita di pertemukan kembali di syurga..... terima kasih Zia untuk hatimu yang selalu menyayangiku dan untuk izinmu yang memperbolehkan aku menyimpan namamu di hatiku.... maaf jika selalu mengecewakan.๐Ÿ’๐Ÿ’


๐ŸŒบ๐ŸŒบDari sahabatmu yang kau sayangi ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Sungguh cintamu suci Varo.... aku begitu bodoh sampai membuat cintamu bertepuk sebelah tangan, maaf karena aku tak bisa membalas cintamu..... hingga kau rela membawa cintamu itu sampai mati... sungguh aku sangat bodohh.... aku sangat menyesal Varo... tolong kembalilah padaku Varo... hiks..... hiks.... hiks.... "lirih Zia, hatinya bagai tersayat-sayat pedang, Zia menyesal telah membuat sahabatnya tersiksa dengan perasaannya.


" Aaaaaaaa........ Varo... "teriak Zia.


Tangis Zia pecah,dia memegangi dadanya yang terasa sangat sesak,kehilangan sahabat sama saja kehilangan separuh hidupnya,Zayn yang mendengar teriakan Zia langsung berlari ke kamar Zia untuk memastikan keadaannya. Sesampainya di kamar Zia, Zayn terkejut dengan keadaan Zia yang sedang menagis sambil memegangi dadanya dan terduduk lemah di dekat ranjangnya.


"Zia..... "panggil Zayn, dia berlari kearah Zia, Zayn melihat surat tergeletak disamping Zia.


"Ada apa adik.... ? Zi tenang Zi..... lo gak boleh kayak gini."ucap Zayn menenangkan Zia karena Zia tidak boleh tertekan atau stress, itu bisa mempengaruhi jantungnya. Zayn menggoncang tubuh Zia agar Zia sadar dan tenang.


"Kak..... kenapa semua terjadi padaku? hiks.... hiks.... hiks.." tangis Zia terus menjadi.


"Sakit kak... sakit.... dia pergi membawa cintanya kak... aku adalah gadis bodoh kak.... " rutuk Zia pada dirinya sendiri. Zayn yang tak sanggup melihat Zia langsung memeluk erat Zia.


"Zi... lo harus tenang ini bukan salah lo,lo harus ikhlasin Varo pergi, dia pergi dengan damai, dia membawa cintanya. Kau harus kuat demi sahabatmu, dia sangat menyayangi dan mencintaimu kau harus bangkit, dia pasti bakalan sedih liat lo begini, lo udah janji sama Varo kan." ucap Zayn, dia terus memberi semangt pada Zia.


Zayn menangkup pipi Zia dengan kedua tangannya agar Zia sadar dan berhenti dari tangisnya.


"Zi... lo pasti bisa, janganlah lo siksa diri loseperti ini, Varo pasti akan sedih liat lo kaya gini, demi sahabat lo, lo harus bisa." Zayn mengusap air mata Zia, Zia hanya menatap kosong kearah Zayn. Zia sudah tak sanggup bicara lagi.


"Sekarang lo istirahat,oke... kakak akan selalu ada buat lo Zi.... teman-teman juga Zi mereka pasti akan selalu ada buat lo, lo jangan nyerah gitu aja, gue percaya lo bisa. " Zayn membantu Zia berdiri dan menuntunnya ke tempat tidur.


"Nanti sore teman-teman akan datang liat keadaan lo, nanti gue akan bangunin lo kalau mereka udah dateng." Zayn menyelimuti Zia yang sudah berbaring di ranjang, Zia tak mengeluarkan kata sedikitpun, dia hanya diam membisu. Zayn pun meninggalkan kamar Zia, agar Zia bisa istirahat dengan tenang.


Sore harinya, senja sudah berkumpul di ufuk barat dengan warna jingga yang menghiasi kepergian matahari yang akan tenggelam. Teman-teman Zia dan Zayn pun datang mereka sudah berada di kamar Zia. Mereka sangat senang melihat Zia sudah sehat kembali, mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan candaan dan gurauan, dan itu membuat Zia sedikit terhibur, sejenak melupakan kesedihannya.