Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-42



Beberapa hari kemudian setelah Dimas menyuruh mata matanya untuk mencari keberadaan Zia dan Zayn, namun belum ada kabar tentang keberadaan cucunya itu, Dimas terus berusaha, karena dia sangat menyayangi Zia dan Zayn dan akan melakukan apapun demi mereka berdua.


"Pah bagaimana, apakah sudah ada kabar tentang keberadaan Zia dn Zayn?." tanya Fitri karena sudah beberapa hari ini belum ada kabar mengenai cucunya.


"Belum Mah,Papah masih berusaha, Mamah tenang aja Papah pasti temukan mereka.Mamah sabar ya." ucapanya Dinas akan berusaha demi cucunya.


"Iya Pah, Mamah percaya kok, Mamah yakin Zia dan Zayn tak apa apa di luar sana." Ucap Fitri yakin kalau Zia dan Zayn baik baik saja.


"Papah juga percaya, mereka adalah anak anak yang hebat,jadi kita do'akan saja agar mereka tidak mendapat bahaya." ucap Dimas, karena Zia dan Zayn adalah anak anak yang kuat.


Fitri mengangguk mengerti, Fitri dan Dimas berharap kalau cucunya di luar sana selalu di beri keselamatan.


*di kediaman Hiashi.


Di sana tampak dia orang sedang berbincang ya siapa lagi jika bukan Tiara dan Fika, mereka sedang merencanakan pengambilan harta Hiashi, pertama yang ingin Tiara ambil adalah rumah milik Hiashi.


"Mamah akan merencanakan pengambilan harta, kita mulai dari mengambil rumah ini, kita akan cari sertifikat rumah ini, lalu Mamah akan mengatasnamakan rumah ini dengan nama Mamah." ucap Tiara pada Fika dengan rencana jahatnya.


"Itu ide bagus Mah, sebentar lagi kita akan menguasai rumah ini.Mamah memang yang terbaik. " ucap Fika dengan bangga karena Tiara memiliki rencana yang sangat bagus.


"Ya sudah ayo kita segera cari sebelum Ayah pulang." ajak Tiara untuk mencari sertifikat rumah sekarang.


"Iya ayo mah, aku sudah tak sabar." ucap Fika semangat.


Mereka pun bergegas ke ruang kerja Hiashi, karena Hiashi tak ada di rumah dia sedang berada di kantor. Namun tanpa mereka sadari ada orang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan ya siapa lagi jika bukan mata mata Zia dan Zayn, ternyata sebelum itu mata mata Zia dan Zayn yang bernama Rasyid dan yang lainnya sudah memasang kamera berukuran kecil dan sudah di taruh di tempat yang aman agar tak di ketahui oleh siapapun. Rasyid memasang di semua ruangan yang ada di rumah Hiashi, kecuali kamar mandi.


Kamera itu terhubung di ponsel Rasyid. Jadi Rasyid bisa memantau apa saja yang di lakukan keluarga Hiashi.


"Dasar wanita ular, kalian hanya menginginkan harta orang lain, tanpa mau bersusah payah, dasar tak tau malu." Batin Rasyid menatap jijik Tiara dan Fika karena terlalu terobsesi dengan harta orang.


Sesampainya Tiara dan Fika di ruang kerja Hiashi, mereka langsung mencari sertifikat rumah Hiashi mereka mencarinya di semua tempat di ruangan itu. Dan setelah beberapa saat mencari akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Dapat, ini sertifikatnya." ucap Tiara senang sambil mengeluarkan sertifikat itu dari laci.


"Mamah sudah mendapatkannya, cepat ayo kita keluar."teriak Tiara pada Fika.


Mereka pun keluar dari ruang kerja Hiashi, karena sudah mendapatkan yang mereka inginkan.


"Akhirnya kita sudah mendapatkan sertifikat ini, aku sangat senang Mah." ucap Fika dengan bangganya, padahal nyatanya mereka hanya merampas milik orang lain.


"Iya sayang setelah ini kita akan pergi menemui pengacara Ayah, untuk mengatasnamakan rumah ini menjadi nama Mamah, jadi rumah ini akan menjadi milik kita." ucapan Tiara dengan bangga karena sudah hampir menjadi pemilik rumah Hiashi.


"Aku setuju Mah, Ayah tak akan tahu kalau sertifikat nya sudah ada di tangan kita."


"Mah apa nantinya Ayah tak akan tahu, kalau Mamah yang membunuh ibunya Ayah?." tanya Fika, karena sudah beberapa tahun ini Hiashi tak pernah mencari tahu kejadian yang sebenarnya.


"Mamah yakin Ayah pasti tak akan mengetahuinya, dia itu terlalu mudah di bodohi, jadi kau tak perlu khawatir."ucap Tiara dengan sombongnya.


" Benar juga, Ayah memang bodoh, dia tak tahu jika semua ini adalah rencana kita."ucap Fika sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Ya sudah ayo kita harus segera ke pengacara untuk mengubah semua ini." ajak Tiara untuk segera pergi menemui pengacara.


"Iya Mah aku siap siap dulu."


"Ya udah cepet Mama tunggu di mobil ya."


Fika bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan bersiap siap. Tiara dan Fika pun berangkat untuk menemui pengacara, untuk mengurus perubahan kepemilikan rumah milik Hiashi.


Setelah Tiara dan Fika pergi, Rasyid bergegas mengambil kamera itu untuk memberikannya pada Zia dan Zayn, dan akan di jadikan barang bukti agara nantinya Ilham dan Hiashi percaya bahwa Zia bukanlah pembunuh. Setelah mengambil kamera itu Rasyid segera pergi ke rumah Zia dan Zayn. Namun sebelum itu dia menyalinnya di flashdisk.


...----------------...


Sesampainya di tempat pengacara Tiara dan Fika langsung mencari pengacara Hiashi. Akhirnya mereka bertemu dengan pengacara dan di izinkan masuk dan di persilahkan duduk, beberapa saat pengacara itu datang dia bernama Firmansyah.


"Oh nyonya Alfian, ada apa yang membuat anda datang kemari?."Tanya Firman karena Tiara memang tak pernah kesana jika bukan ada hal yang penting.


"Tapi nyonya apakah anda sudah mendapat perintah dari tuan Hiashi?." Tanya Firman karena Hiashi pasti tak akan memberikan sertifikat ke sembarang orang.


"Sudah, Suamiku sudah memerintah kan saya untuk merubah nama kepemilikan rumah menjadi milik saya.Karena suami saya sudah memberikan rumah itu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami." dusta Tiara karena agar Firman percaya kalau Hiashi memang telah memberikan rumahnya pada Tiara.


"Baiklah, saya akan merubah sesuai perintahmu, saya akan memberikan sertifikat ini seminggu lagi pada anda." ucap Firman tanpa ada rasa curiga pada Tiara.


"Ok, saya tunggu seminggu lagi saya akan datang kesini untuk mengambil sertifikat ini, kalau begitu saya pergi dulu." ucapnya berpamitan pada Firman.


"Baik nyonya,mari saya antar sampai depan." ucap Firman dan mengantar kepulangan Tiara dan Fika hingga ke depan pintu.


Setelah kepergian Tiara dan Fika, Firman segera mengerjakan apa yang di perintah oleh Tiara.


...----------------...


Sesampainya di rumah Zia dan Zayn, Rasyid di persilahkan masuk, dia sudah di tunggu oleh Zia dan Zayn di ruang rahasia yang ada di rumah Zia dan Zayn.


"Mana hasil videonya?." ucap Zayn tanpa basa basi.


"Sabar King, saya baru saja datang, ini hasil videonya, saya sudah menyalinnya flashdisk semua bukti ada di sini jadi kau tak perlu khawatir." jelas Rasyid dan memberikan flashdisk pada Zayn.


"Kerja bagus, aku suka cara kerjamu yang cepat, kau akan mendapat bonus dariku." ucap Zayn senang karena Rasyid bekerja dengan baik, dan memberikan bonus karena menyukai cara kerja Rasyid.


"Terima kasih king saya akan terima pemberianmu." ucap Rasyid senang karena mendapat bonus dari atasannya.


"Iya dan ini bonusnya." ucap Zayn dan memberikan amplop berisi uang dan langit di terima oleh Rasyid.


"saya Terima uangnya, terima kasih banyak King,ya sudah kalau begitu saya permisi." ucap Rasyid setelah menerima uangnya.


"dasar giliran di kasih uang langsung di terima." batin Zia kesal dengan Rasyid karena setelah di beri uang dan langsung menerima nya.


"Baiklah silahkan, tapi ingat kau masih harus mengawasi mereka jangan sampai lengah." ucap Zayn agar Rasyid tak lengah saat mengawasi keluarga Hiashi.


"Tenang saja King saya akan terus mengawasi mereka." ucap Rasyid dan langsung keluar dari ruangan itu dengan hati bahagia karena baru mendapat bonus.


Setelah kepergian Rasyid, Zayn mengambil laptop dan memasang flashdisk nya untuk melihat videonya. Zia dan Zayn melihat video itu.


"Sialan!!!!!....wanita ular itu telah berhasil mengambil sertifikat nya kita harus melakukan sesuatu." ucap Zayn setelah melihat video


itu.


"Kau tenang saja kak gue punya rencana untuk wanita ular itu dan anaknya."


"apa rencananya?."tanya Zayn karena ingin tahu rencana apa yang kn di lakukan Zia.


" Biarkan mereka mengambil hak kepemilikan rumah, jika sudah waktunya kita akan mengambil rumah itu, rumah itu adalah rumah kenangan bagi bunda gue gak mau kalau rumah itu jatuh ke wanita ular. Kita akan mengambil sertifikat rumah itu ke tempat pengacara,dan kita beritahu video ini sebagai bukti pasti Firman akan percaya, dan kita akan mengubah sertifikat itu atas nama kita, kita punya waktu satu minggu jadi kita akan bereskan semua ini."zia menjelaskan rencananya.


"Gue setuju, kapan kita akan ke tempat pengacara itu?." tanya Zayn lagi karena sudah tak sabar menjalankan rencananya.


"Dua hari lagi, kita harus beritahukan bukti ini pada kakek besok agar nantinya dia tak salah paham pada gue kak, gue udah muak karena ada mafioso kakek yang mengawasi kita." ucap Zia karena sudah mengetahui kalau Ilham memata matainya dan juga kakaknya.


"apa?!! mafioso kakek mematai kita." teriaknya karena baru mengetahui kalau dia dan juga adiknya ada yang mengawasi.


"aduh gak usah teriak napa, gue tuh udah tahu sejak kita datang ke kota ini." jelas Zia karena dia sudah mengetahuinya sejak lama.


"Iya maaf kan gue kaget.Kenapa lo gak kasih tahu gue Zi, kalau mafioso kakek mengawasi kita?." tanya Zayn karena Zia tak menberitahu nya kalau kak keknya mengawasi mereka.


"Gue gak mau kalau kita semua tahu kalau kakek mengawasi kita nanti mereka curiga kalau kita sudah mengetahui rencana mereka." jelas Zia karena tak mau rencananya di ketahui oleh kakeknya.


"oh jadi begitu." Zayn hanya ber "oh" ria setelah mendengar penjelasan Zia.


"Iya dan kita akan tetap seperti ini pura-pura tak tahu kalau mereka mengawasi kita" ucap Zia dan diangguki oleh Zayn tanda mengerti.


Setelah selesai merencanakan semuanya Zia dan Zayn pergi untuk persiapan besok menemui kakeknya dan memberitahukan kebenarannya agar kakeknya tak salah sangka pada Zia dan Zayn.