Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-124



Semenjak makan malam bersama mereka kini lebih suka diam, bahkan saat rapat pun sama. Belum ada perkembangan di rencana Dian, dia masih saja memikirkan apa yang Zia katakan.


Sudah sebulan berlalu tapi tak ada perubahan Dian masih saja belum bertindak, padahal hatinya ingin sekali berdekatan dan akrab dengan Zia, namun dia selalu teringat ucapan Zia, bahkan dia sulit tidur dan tidak fokus bekerja. Sementara pembangunan mall sudah berjalan lancar, bahkan Zia benar-benar membangun sesuai dengan yang di sarankan Dian.


"Tuan ini dokumen yang harus anda tanda tangani." ucap Arif dan memberikan dokumen untuk di tandatangani oleh Dian.


"Tuan... " panggil nya sekali lagi karena Dian malah melamun.


"Eh... maaf aku tidak fokus." Dian tersadar dari lamunannya.


"Tuan jangan seperti ini.... jika anda terus seperti ini maka pekerjaan kita di sini akan semakin lama, jadi tolong fokuslah." Ini sudah kesekian kalinya Dian seperti ini, jika ini terus berlanjut maka pekerjaan di sini akan semakin lama.


"Baiklah maaf aku tak akan mengulanginya lagi." Dian juga tak tahu semenjak Zia mengatakan hal itu dia menajdi takut untuk menyentuh hati Zia.


"Bolehkah aku memberi anda saran tuan?." tanya Arif, jika tuannya masih ingin mendapat cinta Zia maka dia harus berjuang bukan malah terus terpuruk hanya karena ucapan.


"Hmmmm." dehemnya, Dian sepertinya memang butuh saran.


"Baik maaf jika saya lancang, karena telah berani memberi nasihat, tapi ini demi kebaikan anda." Arif menarik nafas panjang.


"Begini tuan akhir-akhir ini saya melihat anda selalu seperti ini bahkan ini sudah satu bulan lamanya, saya hanya ingin mengatakan bahwa jika anda masih ingin menjadi pasangan dari nona Zia maka tuan harus berjuang sekuat tenaga..... "


"Ini bukan tuan Dian yang saya kenal, tuan Dian yang selalu bekerja keras, tuan Dian yang pantang menyerah.... tapi terpuruk bukanlah sifat anda, memang perkataan nona Zia membuat anda terus berfikir tanpa mau bertindak tapi itu bukan jalan terbaik, nona Zia mengatakan hal itu karena masa lalunya yang selalu menyakitinya, dan dia hanya tak mau terluka lagi untuk kesekian kalinya." Dian mendengarkan dengan seksama dia mencerna semua yang di katakan Arif padanya.


"Dan satu hal lagi tuan.... nona Zia hanya perlu pembuktian bukan hanya ucapan semata karena dia terluka dengan hal yang sama yaitu pengkhianatan cinta yang di lakukan Rayyan sebanyak dua kali, padahal nona Zia sudah memberinya kesempatan kedua. Jadi tetap berjuanglah tuan jangan seperti ini... yakin bahwa anda bisa mendapatkan dia dan juga hatinya." Arif kali ini akan ikut membantu tuannya mendapatkan cintanya.


"Dapatkan lah hatinya di sini sebelum pekerjaan kita selesai, saya yakin nona Zia akan luluh, aku akan membantu anda tuan mendekatkan anda dengan nya."


Dian tak menjawab dia tahu semua saran Arif memang benar, buktikan dengan tindakan jangan hanya dengan ucapan, karena wanita lebih menyukai lelaki yang banyak bertindak dari pada berbicara tapi tak di buktikan.


"Baiklah terima kasih sarannya aku akan membuktikannya dengan tindakan mulai sekarang dan akan aku buktikan." Dian pun bangkit dari duduknya dan pergi, akan ada rencana baru yang harus dia buat. Arif senang Dian telah kembali seperti biasanya, dia juga akan membantu Dian secara suka rela.


...----------------...


Zia sedang sibuk meneliti berbagai macam berkas dan dokumen pembangunan mall, mungkin sekitar satu atau dua tahun proyek akan terselesaikan dan fasilitas akan terjamin semuanya, karena mall tersebut lumayan besar dan nm banyak tempat hiburan jadi bisa memakan waktu lama.


"Nona.... ini berkas yang harus anda tanda tangani." Brian memberikan berkas yang membutuhkan tanda tangan Zia.


"Taruh saja di situ... nanti akan aku tanda tangani." ucap Zia yang mesin fokus pada dokumen nya. Brian pun menaruh di sana dan beranjak pergi, karena masih banyak pekerjaan.


"Huft... beres oh ya ampunn..... sudah hampir malam aku harus segera pulang." tutur Zia sambil melihat jam yang bertengger di pergelangan tangannya. Zia pun membereskan semuanya dan memasukkan laptopnya ke dalam tas.


Karena terburu-buru Zia tak fokus saat berjalan menuju lift, hingga dia tak sengaja menabrak seseorang dan membuat dia hampir terjatuh, namun dengan sigap lengan kokoh milik seseorang menangkapnya dengan sempurna.


Brukkk.....


"Aduh.... " keluhnya, Zia memejamkan matanya ketika dia tahu akan terjatuh.


"Hati-hati nona.... " suara yang familiar di telinga Zia, dengan perlahan Zia membuka matanya, dan betapa terkejutnya dia karena tubuhnya sedang berada di lengan kokoh milik Dian.


Mata mereka bertemu dan saling memandang satu sama lain, meneliti wajah mereka lewat pandangan mata yang terkunci. Mata indah Zia membuat Dian terpaku warna mata yng sangat dia rindukan dan wajah yang selalu ada dalam pikirannya, dan kini dia ada di dalam jangkauan yang sangat dekat dengan wajahnya.


"Mata dan wajahmu yang membuat aku selalu ingin memandangimu Zia..... kumohon jadilah milikku akan aku hapus semua luka dan noda yang ada di hatimu." batin Dian yang tidak mengalihkan pandangannya dari wajah cantik dan natural miki Zia.


"Apa ini..... kenapa ada getaran berbeda dan aku merasakan hal anehh..... perasaan yang sama saat bersama Rayyan, namun ini lebih kuat.... " Zia merasakan jantungnya berdetak cepat sama seperti saat bersama Rayyan, tapi ini lebih kuat dan lebih terasa.


Zia tersadar jika posisi mereka sangatlah dekat, Dian pun sama mereka sama-sama sadar dan segera menjauhkan tubuh mereka. Tiba-tiba saja suasana menjadi gugup, Zia merapihkan pakaiannya ya bgs sdikit berantakan.


"Maafkan saya nona.... saya tidak sengaja." ucap Dian meminta maaf, hatinya merasakan gugup yang luar biasa.


"Oh tidak aku yang tidak berhati-hati saat berjalan, jadi anda tak usah meminta maaf." Zia merasakan tak enak karena dia yang bersalah berjalan terlalu tergesa-gesa sehingga menjadi tidak fokus.


"Baiklah..... aku tak apa." Dian pun menyudahinya.


"Iya....aku juga tidak apa." Mereka bedua berada dalam mode canggung. Zia memalingkan wajahnya kearah sedangkan Dian hanya menunduk.


"Oh anu.... " ucap mereka bersamaan, membuat mereka semakin gugup


"Oh anda dulu tuan.... " Zia menyuruh Dian berbicara dahulu.


"Tidak anda wanita, sebaiknya anda berbicara dahulu." Dian mengalah dan menyuruh Zia lebih dulu. Zia pun akhirnya berbicara dahulu.


"Emmm, tak ada yang penting tuan Dian... saya hanya ingin permisi." ucap Zia karena memang tak ada hal penting, dia hanya pamit permisi padanya.


"Oh baiklah... silahkan saya juga akan pergi." Dian pun mempersilahkan Zia pergi duluan, karena dia tahu Zia masih menghindarinya. Selepas kepergian Zia, Dian berbunga-bunga tak menyangka kejadian seperti itu akan terjadi, yang tadinya wajahnya lesu, seketika hilang berkat adegan tersebut.


"Kau selalu membuatku tergila-gila Zia, sampai kapan kau akan menutup hatimu untukku? bukanlah hatimu Zi.... meski hanya setelah saja, sehingga aku mampu menembus hatimu dan menyemayamkan namaku di sana." Dian ta akan mundur, perkataan Arif telah menyadarkannya.