
Beberapa jam kemudian pesawat Zia dan Dian sudah mendarat, dia kini sudah berada di negara dimana mereka akan bekerja bersama dalam waktu lama. Brian sudah menghubungi bawahannya untuk menjemput mereka di bandara, dan benar Zia sudah mendapat jemputan.
"Kita langsung ke paviliun untuk menyipkan persiapan besok. " ucap Zia, kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Baik bos." Brian pun hanya menuruti saja.
Sementara Dian dan Arif juga pergi ke tempat mereka, kebetulan Dian memiliki villa di negara ini, jadi dia bisa langsung kesana. Sedangkan Arif akan tinggal bersama dengannya.
Sesampainya di tempat tinggal masing-masing, Dian langsung menyuruh beberapa pelayan rumahnya untuk membereskan barang-barangnya, sementara dia akan melihat beberapa berkas untuk besok. Setelah semuanya selesai dia pun beranjak dan beristirahat sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena perjalanan.
Sementara Zia dan Brian tidak menempati satu rumah, Brian sudah di beri fasilitas berupa apartemen yang tidak jauh dari proyek, jadi dia bisa sambil memantaunya. Zia mengistirahatkan badannya karena besok dan seterusnya dia akan sedikit sibuk, Zia juga ingin sekali cepat menyelesaikan pekerjaannya.
...----------------...
Keesokan harinya Zia serta yang lainnya sudah berada di ruang rapat untuk membicarakan tentang proyek sebelum di bangun.
"Baik hari ini adalah pertama kita bekerja, dan semoga dalam dekat pembangunan mall akan terlaksana dengan baik. " ucap Arif, mereka kini sudah menjadi partner kerja untuk waktu lama.
Sementara Dian diam-diam melirik kilas Zia, namun masih dengan memasang wajahnya datarnya agar Zia tak mencurigainya, Dian tak percaya jika dia bisa bersama Zia dalam waktu lama, dan ini adalah kesempatan Dian untuk bisa mengambil hati Zia.
Rapat pun berakhir dan mereka akan bekerja ke tempat masing-masing, Brian memeriksa semua yang di butuhkan untuk bangunan seperti semen dan perlengkapan material lainnya, sedangkan Arif akan mengawasi para pekerja.
Zia bisa saja menyuruh bawahannya untuk menjadi partner kerja dari Dian, tapi tiba-tiba saja Zia ingin refreshing karena dia sudah lama tak berpergian akhirnya dia memutuskan untuk ikut bersama Brian, hitung-hitung untuk menyegarkan pikiran dan hatinya. Sementara Dian tentunya adalah karena Zia, walau dia malu untuk mengakuinya, tapi memang itu adalah kenyataannya.
"Nona Zia bolehkan kita bicara sebentar?." tanya Dian memastikan jika Zia tak akan menolaknya.
"Tentu saja." Zia pun memperbolehkan Dian untuk bicara.
"Begini... maaf mengganggu waktu anda, tapi ini adalah hal penting, bagimana jika fasilitas mall di sediakan banyak permainan dan juga bioskop, pasti itu akan menarik perhatian para pelanngan." usul Dian karena pembangunan mall nya tak ada wahan permainan anak atau bioskop, karena awalnya hanya mall biasa.
Zia berfikir sejenak untuk memastikan jika usul Dian bagus atau tidak, namun sepertinya apa yang di usulkan Dian bagus, karena jika hanya pusat perbelanjaan akan banyak yang bosan.
"Boleh juga tuan Dian, usul yang bagus kita tinggal menyuruh arsitek menambahkan beberapa tempat untuk wahana permainan anak dan juga tempat bioskop. " Zia pun setuju dengan usulan dari Zia. Ini adalah pertama kalinya mereka berbincang banyak, Dian merasa bahagia Zia mau mendengarkan usulannya.
"Jadi begini calon istriku jika sedang berbicara banyak, aduhh aku tak sabar ingin tahu semuanya tentang dirinya." batin Dian sangat bahagia, dia jadi ingin tahu lebih jauh lagi tentang Zia.
"Tuan..... apa lagi yang akan anda bicarakan?." tanya Zia lagi, karena dia juga akan kembali bekerja.
"Oh sudah nona hanya itu saja, jika nanti saya mendapatkan ide lagi akan saya beritahu." ujar Dian, dia menjadi salah tingkah degan hanya mendapat pertanyaan seperti itu.
"Ya sudah saya permisi." pamit Zia, Dian hanya mengangguk dan melihat kepergian Zia, hatinya tersenyum puas.
Mereka pun bekerja masing-masing seperti yang sudah di tugaskan, pekerjaan akan di mulai dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore, dan itu sudah peraturannya.
...----------------...
Sementara Zayn sedang menemani istrinya di rumah, karena Nancy selalu ingin dekat dengannya, dia mengidam hanya ingin di dekat Zia dan Zayn, karena Zia tak ada maka Zayn lah yang akan selalu di dekatnya. Dia juga tak mau jika Nancy kelelahan Zayn sangat ekstra menjaga Nancy dan juga calon anak pertama mereka.
"Wah anak ayah pintar gak nyusahin mamah." ucap Zayn sambil mengeluarkan perut Nancy yang sudah sedikit menonjol. Mereka sedang bersantai bersama. Zayn sedang mengajak bicara anak mereka.
Beruntung Nancy tak terlalu banyak mengidam, jadi Zayn tak kerepotan akan hal itu. Nancy hanya meminta Zayn harus selalu ada di dekatnya, Zayn pun tidak keberatan akan hal itu, dia bisa membawa pekerjaan kantornya ke rumah.
"Iya dong kan anak pintarnya mama dan ayah." tambah Nancy, memang kehamilan pertamanya sangat tenang dan tak meminta hal aneh dan merepotkan.
"Oh iya sayang Zia sudah berangkat ke proyek?." tanya Nancy.
"Iya kemarin dia sudah berangkat, mungkin sekarang dia sudah memulai proyeknya." jelas Zayn.
"Ohh semoga saja dia baik-baik saja di sana."
"Iya semoga saja, aku berharap Zia selalu bahagia di sana."
"Iya semoga saja, aku sudah tak sabar melihat dia menikah, pasti dia akan sangat cantik." ucap Nancy yang ingin melihat adik iparnya menikah.
"Benar juga aku juga sudah tak sabar melihat keponakan yang lucu darinya. " Zayn juga sudah tan sabar melihat adiknya menikah dan melahirkan anak-anaknya.
"Apa kamu tidak punya kenalan untuk kamu perkenalkan kepada Zia?." tanya Nancy.
"Emm... jika itu tidak ada, tapi kita lihat saja pasti ada yang sedang mengambil hati Zia, dan aku yakin dia pasti berhasil." ucap Zayn yang tahu jika ada seseorang yang sedang mengejar cinta adiknya.
"Maksudmu ada yang menyukai Zia?." Nancy jadi penasaran.
"Iya dan dia sedang berusaha, kita do'akan saja semoga berhasil." Zayn sangat setuju jika Zia bersama Dian, karena dia adalah lelaki baik ya meski dia berwajah datar.
"Siapa orangnya?."
"Nanti kita akan segera mengetahuinya, karena itu hanya menurut pandanganku."
"Baiklah akan aku tunggu."ucap Nancy yang juga ingin menunggu siapa lelaki yang di maksud Zayn.
"Kapan jadwal pemeriksaan kandungan lagi?." tanya Zayn yang ingin tahu kapan jadwal pemeriksaan calon buah hati mereka.
"Sekitar tiga minggu lagi, masih lama sayang."
Zayn hanya manggut-manggut mengerti, mendingan Nancy semakin hari semakin besar, mereka sudah tak sabar menunggu kelahiran anak pertama mereka.
"Lalu bagaimana dengan Rayyan?." tanya Nancy yang penasaran dengan Rayyan.
"Ohh dia... sekarang sedang sibuk mengelola perusahaan ayahnya, dan sudah bekerjasama dengan perusahaanku dan juga Zia, mereka juga sudah saling memaafkan satu sama lain." jelas Zayn, Zia telah membertahukan jika masalah dengan Rayyan sudah selesai.
"Syukurlah jika mereka sudah saling memaafkan, semoga mereka selalu bahagia walau tak di persatukan."
"Iya semoga saja mereka berteman baik lagi seperti dulu." Keduanya hanya berharap jika Zia dan Rayyan bisa berteman baik meski tak bisa di persatukan dalam ikatan pernikahan, takdir tak ada yang tahu, meski yang tadinya di kira akan bersatu, tetapi sekarang semuanya hanyalah sebatas teman saja tidak lebih.