Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-82



Empat tahun kemudian.....


Empat tahun telah berlalu, Zia dan Zayn sudah lulus dari kuliahnya mereka juga memberitahukan pada semua temannya dan juga pada publik,jika mereka adalah pemilik perusahaan no. 01 dan 02.Dan kini Zia lebih menyibukkan dirinya dengan perusahaan begitu juga dengan Zayn, mereka juga masih tetap berkutat dengan dunia bawah. Karena masih ada urusan yang masih belum terselesaikan.


Hubungan mereka dengan ayahnya pun kian membaik Zia dan Zayn sudah mengikhlaskan semuanya, Zia sudah mulai berbicara pada ayahnya, Ilham sudah memberikan perusahaan utama pada Hiashi dan di bantu oleh kedua anaknya. Sungguh Hiashi sangat bersyukur karena masih memiliki keluarga yang sangat menyayangi nya, dan dia berjanji tak akan menyia-nyiakan meraka.


Begitu juga dengan teman mereka, Siti sudah menjalin ikatan pernikahan dengan Dika, sedangkan Yumna dengan Mila,meraka sudah menikah beberapa bulan lalu, dan mereka juga sudah menjadi para pewaris dari perusahaan keluarga mereka masing-masing.


Zia kini kembali menjadi gadis yang dingin, semenjak kepergian Varo dan juga kepergian Rayyan yang tanpa kabar, membuat Zia menjadi gadis cantik yang dingin bahkan lebih dingin dari dia yang dulu. Dan empat tahun ini dia mencaritahu siapa pendonor jantungnya, ya Zia sudah tahu jika dia hampir mati akibat tembakan, dan dia juga sudah tahu jika dia harus mendapat donor jantung, dia tahu karena menyuruh Arham untuk menyelidiki semuanya, tanpa sepengetahuan Zayn. Dan dua tahun lalu Arham mendapat informasi semunya kecuali sang pendonor.


"Bagaimana Arham? apa kau sudah dapat informasinya?." tanya Zia tanpa ekspresi.


"Saya sudah mendapatkan nya....Dan pendonor nya..." jawab Arham dengan masih menggantungkan ucapannya.


"Siapa dia..?cepat katakan....!!!." sentak Zia sambil menggebrak meja, sekarang Zia menjadi lebih kejam dari sebelumnya dan dia tak suka hal yang bertele-tele.


"Maaf Queen....baiklah.... pendonornya adalah tuan Alvaro sahabat anda sendiri." ucap Arham sedikit bergetar di kala mengucapkan nama Alvaro.


Zia langsung bangkit dari duduknya dan menatap tajam Arham, seketika membuat Arham takut, tatapan Zia begitu menusuk. Arham hanya bisa pasrah dia hanya menundukkan kepalanya, kini Arham tak berani bercanda seperti dulu, Zia yang sekarang lebih tegas dari yang dulu.


"Jangan membohongiku.... apa kau sudah bosan hidup hah...?!!." bentak Zia dan membuat Arham semakin takut, namun Zia masih belum percaya sepenuhnya.


"Tidak Queen ......itulah kebenarannya saya sudah menyelidiki semuanya dan memang benar itu adalah tuan Alvaro." jelas Arham yang masih menunduk.


"Dan ini semua adalah berkas persetujuan operasi pendonoran jantung milik tuan Alvaro." Arham menyerahkan dokumen persetujuan milik Alvaro, Zia langsung mengambil berkas itu dengan kasar dan segera membuka dan membacanya dengan seksama.


Ternyata yang di katakan Arham adalah kebenaran, berkas itu terjatuh dari tangan Zia. Zia memegangi dada sebelah kiri tak menyangka ternyata dia masih bisa hidup berkat jantung milik Varo, dia telah di bohongi oleh kakak dan juga temannya. Tanpa berbicara lagi pada Arham, Zia beranjak pergi dan masuk kedalam mobilnya, mengendarai dengan kecepatan penuh,dia tak memperdulikan jalanan yang ramai dan juga sumpah serapah dari para pengguna jalan.


Di dalam mobil Zia hanya menatap jalan dengan tatapan kosong, satu tangannya masih memegangi dada sebelah kirinya. Zia tak menyangka jika pendonor jantungnya adalah Varo, dia berkorban dengan nyawanya.


"lo nyiksa gue Varo.... kenapa lo lakukan itu hah?... kenapa?." batin Zia menjerit, kenpa Varo sampai melakukan itu hanya untuk Zia.


Zia sudah sampai di tempat tujuannya, ya makam tempat yang selalu dia kunjungi. Selama empat tahun terakhir dia selalu ke makam sahabatnya. Zia menghampiri makam Varo dan berlutut di pusara Varo, sungguh takdir tega melakukan ini padanya.


"Varo kenapa....? kenapa lo lakukan semua ini? jawab gue sekarang?." jerit Zia sambil memegangi nisan Varo, air matanya sudah tak terbendung, meneteslah air matanya di gundukan tanah sahabatnya.


"Kenapa lo donorkan jantung lo buat gue hah....??." Zia terus bertanya berharap Varo menjawabnya, namun semua itu tak akan bisa terjadi.


"Gue gak butuh jantung lo Ro...Gue cuma pengin lo balik." Zia memukuli dadanya, berharap bisa mengembalikan pada pemiliknya. Hingga awan mendung sudah memenuhi langit pertanda hujan akan turun. Dan benar saja dalam hitungan detik rintik hujan membasahi tanah, tubuh Zia pun ikut terguyur hujan deras. Ternyata ada pasang mata yang memperhatikan nya dari jauh, dia juga memandang sendu Zia.


Zia masih saja berada di pusara Varo dan tak beranjak dari sana meski hujan sudah membasahi segalanya. Bahkan cuaca seperti mewakili hatinya yang sedang bersedih, meskipun Zia air matanya sudah bercampur dengan air hujan, begitu juga dengan hatinya yang sudah menangis tersedu-sedu. Merasa sudah puas meluapkan semuanya Zia pun berdiri dan meninggalkan pemakaman, namun dia merasakan pusing menimpa kepalanya ditambah jantungnya yang berdetak cepat, membuat tubuhnya lemas. Zia sempoyongan berjalan menuju mobilnya.


"Rayyan..... " lirih Zia, hingga akhirnya matanya tertutup dan Zia sudah tak sadarkan diri.


Ya lelaki yang menolongnya adalah Rayyan, lelaki yang pernah di cintainya,namun tiba-tiba saja Rayyan menghilang tanpa kabar, dan membuat dia kecewa terhadapnya.Tapi kini di hati Zia terkikis sudah cintanya kepada Rayyan, entah apa yang membuat cintanya perlahan memudar, Zia masih belum tahu penyebabnya.


Dengan cepat Rayyan menggendong tubuh Zia dan membawanya ke dalam mobil,Dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang karena sedang hujan deras, Rayyan membawanya ke rumah sakit karena melihat keadaan Zia yang berwajah pucat.


"Zi.... bertahanlah aku akan mengantar mu ke rumah sakit." ucapnya melihat keadaan Zia yang lemah dari spion.


"Melihatmu seperti ini membuatku sakit Zi.... bagaimana kabarmu empat tahun ini? aku sungguh merindukanmu Zia. Maaf jika aku pergi tanpa kabar. " sesal Rayyan, dia pergi tanpa pamit pada Zia dan teman yang lainnya dan bahkan dia tak memberi kabar. Dia merasa bersalah pada Zia apalagi setelah melihat keadaan Zia yang sekarang.


Setelah beberapa menit sampailah Rayyan di rumah sakit, dan langsung membawa Zia ke dalam di bantu oleh para perawat. Rayyan pun menghubungi Zayn agar datang ke ruang sakit, Rayyan memang sudah bertemu dengan Zayn dan juga teman yang lainnya, Zayn sudah bercerita semuanya tentang keajadian empat tahun lalu saat dirinya tak ada di sana. Rayyan juga sudah meminta maaf pada mereka semua dan menjelaskan kepergian nya yang tanpa pamit dan tanpa kabar.


Setelah kedatangan Zayn dan Nancy, Rayyan pun pamit pulang karena dia ingin membuat kejutan untuk wanita yang dia cintai.


"Kenapa lo malah pergi Yan?." tanya Zayn yang melihat jika Rayyan akan beranjak pergi.


"Iya... Zia pasti seneng lo udah balik." tambah Nancy.


"Gue belum siap ketemu dia, tapi gue janji akan datang buat dia, lo gak usah khawatir Zayn, gua sangat mencintai dia." jelas Rayyan, dia juga masih sangat mencintai Zia, namun keadaan yang membuatnya pergi sementara.


"Gue percaya sama lo Yan.... semoga lo bisa jaga adek gue, dia sudah banyak menderita, apalagi setelah kepergian Varo. Gue harap lo bisa bahagiain Zia." jelas Zayn, karena dia tak mau melihat Zia menderita.


"Tanpa lo suruh... gue akan selalu bahagian Zia kok."Yakin Rayyan, dia akan berusaha membahagiakan Zia.


"Dan ini ada titipan surat dari Varo buat lo." Zayn memberikan amplop itu kepada Rayyan. Zayn masih menyimpannya karena dia yakin jika Rayyan pasti kembali.


"Dari Varo?." tanya Rayyan sembari menerima amplop itu.


"Iya lo bacanya kalau udah sampe rumah, ingat lo harus baca." ucap Zayn karena dia masih belum yakin jika Rayyan akan membaca surat dari rivalnya.


"Gue pasti bacalah bawel banget sih lo." kesal Rayyan.


"Ya udah gue cabut, gue titip Zia ok, nanti kalau ada kabar hubungin gue."


"Iya udah sono." usir Zayn. Rayyan pun pergi dari rumah sakit. Rayyan sangat bahagia ternyata Zia masih setia menunggunya.


"Gue janji Zi.... lo akan menjadi wanita yang paling gue cintai sehidup semati." batin Rayyan dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.