
Zia masih belum sadarkan diri akibat efek dari obat penenang, Ilham dan Hiashi juga berada di sana, setelah mendengar kehamilan Nancy beberapa waktu lalu namun karena pekerjaan, mereka baru bisa datang.
Mereka sudah menyuruh Zayn dan Nancy pulang karena agar Nancy bisa beristirahat, sedangkan mereka menggantikan untuk menjaga Zia. Ada rasa sedih melihat keadaan putri nya, karena ini adalah pertama kalinya melihat keadaan Zia sampai seburuk ini.
"Dia pasti baik-baik saja, kita do'akan saja agar dia cepat sembuh."ucap Ilham yang tahu perasaan Hiashi.
"Kau benar ayah.... semoga dia bisa melewatinya. " Hiashi percaya bahwa Zia akan hidup seperti biasa.
"Kita harus carikan lelaki yang pantas untuknya, agar ada yang bisa menghiburkan nya dan juga menjaganya, agar hal semacam ini tidak terjadi lagi." saran Ilham untuk mencarikan pasangan untuk cucunya.
"Aku pun memikirkan hal itu, aku juga ingin melihat dia tersenyum bahagia, bersama lelaki yang mencintainya."Dia pun ingin melihat Zia menikah.
Namun obrolan mereka tertentu di kala Zia menggerakan tangannya, dan perlahan membuka mata indahnya dia memegangi kepalanya yang masih berdenyut nyeri.
"Hiashi cepat panggil dokter." titah Ilham, Hiashi pun menekan tombol darurat untuk menghubungi dokter.
"Syukurlah kau sudah sadar nak." senang Hiashi.
"Aku ada di mana? kenapa ada ayah dan kakek?." Zia masih tak bingung, yang dia ingat adalah, dirinya mengamuk dan setelah itu Zia sudah tak ingat apapun.
"Kau ada di rumah sakit, kondisi mu masih lemah, jadi kau harus di rawat sampai pulih." jelas Ilham.
"Kakek dan ayahmu yang menjagamu karena kakakmu harus beristirahat." imbuhnya. Dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Zia.
"Bagaiamana keadaan putri saya dok?." tanya Hiashi.
"Syukurlah kondisi nona Zia sudah membaik, besok nona baru bisa pulang, sekarang lebih baik memulihkan keadaannya di sini agar kami bisa memantaunya." jelas Angga, keadaan Zia sudah pulih hanya tinggal istrahat yang cukup.
"Hebat dia sudah hampir pulih entah apa yang terjadi padanya. Tapi dia masih butuh perawatan yang tepat, karena dia masih bisa kumat sewaktu-waktu." batin Angga tak percaya jika kondisi Zia membaik dalam waktu cepat.
"Baiklah dok terima kasih."
"Iya sama-sama tuan, dan ini vitamin yang harus di minum oleh nona Zia, kalau begitu saya permisi." Angga memberikan vitamin tambahan untuk Zia.
"Oh silahkan." Angga pun keluar ruangan.
"Ayah aku ingin pulang sekarang." punya Zia, dia sudah tak mau berasa di rumah sakit.
"Tapi nak tadi dokter mengatakan jika kau belum boleh pulang."
"Aku mohon ayah, aku ingin pulang sekarang." pintanya nya lagi, namun lebih memaksa.
Ilham dan Hiashi saling pandang bingung harus bagaiman.
"Baik... baik kakek akan bilang pada dokter agar bisa mengizinkanmu pulang."Ilham pun terpaksa menuruti keinginan dari Zia.
Ilham menjelaskan semuanya pada Angga, bahwa Zia sudah tak mau lagi di rawat di rumah sakit, Angga sebenarnya tidak mengizinkan, namun dia takut Zia akan semakin tertekan bila di paksakan, hingga akhirnya dia menyetujuinya.
Zia pun di pulangkan namun dengan syarat harus meminum obat dengan teratur, dan periksakan keadaannya satu minggu sekali, Zia pun setuju dengan syarat tersebut.
Mereka kembali ke villa dan untuk sementara waktu Hiashi dan Ilham akan menetap di sana, karena memang mereka berniat untuk berlibur di sana dlam waktu dua bulan.
"Istirahat lah kakek dan ayahmu akan menetap di sini untuk dua bulan kurang lebihnya." Ilham pun memberitahukan pada Zia. Kini Ilham sedang berada di kamar Zia.
"Benarkah? aku senang kek sudah lama kita tak berkumpul bersama." Zia senang ada yang akan menemaninya, semenjak Zayn menikah Zia selalu kesepian.
"Apa kau senang kakek berada di sini hemm?." tanya Ilham yang melihat wajah bahagia Zia.
"Tentu kek, karena aku di sini sendiri hanya ada pelayan dan penjaga dan itu membuatku bosan, apalagi kak Zayn sekarang sudah memiliki keluarga." keluhnya pada Ilham.
"Oh ternyata cucuku kesepian rupanya."
"Dulu kakek juga pernah mengalami hal serupa seperti mu, kau tahu semua kesepian itu hilang ketika kita menemukan seseorang yang benar-benar mau hidup bersama kita." Ilham membuka kenangan lama bersama istrinya.
"Lalu siapa seseorang itu?." Zia bertanya dengan menatap lekat sang kakek.
Ilham tersenyum menatap langit-langit kamar cucunya. Dia teringat wajah cantik istrinya membuat dia rindu akan kenangan bersamanya.
"Dia adalah nenekmu, dia adalah wanita yang sangat aku cintai, dia sangat pemberani sepertimu baik dan sangat menyayangi keluarganya, terlebih pada kakekmu ini." Zia tersenyum selama ini dia hanya melihat nenek dari ibu dan dia belum melihat wajah nenek dari ayahnya.
"Beruntung sekali kakek mendapat wanita seperti itu, aku kado penasaran dengan wajahnya."
"Kau ingin melihatnya? baiklah besok setelah kakek dan ayahmu menghabiskan liburan di sini, kakek akan mengajakmu ke suatu tempat." ajak Ilham dia mempunyai tempat khusus yang dia buat untuk mengenang mediang istrinya.
"Memangnya kakek mau mengajakku kemana?." tanya Zia penasaran.
"Sudahlah.... kau akan tahu nanti, sekarang istirahat lah keadaanmu belum pulih, setelah kau pulih total kakek akan mengajakmu jalan-jalan, kita akan keliling kota besar ini, bagaimana?."
"Ok baik aku setuju, sudah lama aku tak berjalan-jalan bersama kakek, kita akan menghabiskan waktu bersama." Zia pun senang sudah lama dia tak pergi berkeliling kota, apalagi bersama keluarga.
"Ya sudah kakek mau ke kamar, kau tidurlah setelah meminum obat, selamat malam." Ilham mengusap lembut pucuk kepala Zia dan beranjak pergi.
Zia pun meminum obatnya karena dia tak mau jika harus di rawat di rumah sakit, setelah meminum obat Zia berbaring di ranjang menatap ke atas, memikirkan kejadian kemarin yang masih terikat dalam otaknya. Sekali lagi dia tambakan percaya pada Rayyan kini dia akan menatap hidupnya tanpa melibatkan Rayyan di hatinya, dia akan membuang jauh-jauh harapan hidup bersamanya mengubur cintanya dengan dalam.
"Akan aku lupakan.... hatiku akan aku kosongkan dan namanya akan aku kubur dalam-dalam, aku tak akan kembali padanya bagaimana pun caranya, meski jika dia sudah meminta maaf lagi padaku, di saat itulah aku dan dia hanya akan berhubungan sebatas teman tidak lebih. Dan itu lebih baik bagiku." gumamnya Zia bertekad akan melupakan Rayyan dalam hati dan pikirannya, sudah cukup dia menggoreskan luka untuk yang kedua kalinya, dan kini dia akan benar-benar bersikap layaknya teman bukan seseorang yang mencintainya.