
Tibalah saatnya untuk berangkat ke proyek pembangunan, Brian sudah menyiapkan semuanya. Untungnya Zia sudah membeli paviliun di sana jadi dia tak akan menyewa hotel atau villa untuk dia tinggal.
"Rain gue berangkat, di rumah hati-hati ok."pamit Zia, jadwal penerbangan nya tiga puluh menit lagi, dan Brian juga sudah menjemputnya.
"Lo jangan lama-lama di sana, gue pasti kangen banget..... ya udah hati-hati di jalan, awas nanti kepincut sama patner lo, dia ganteng, tajir lagi." ucapnya, Rain sudah melihat patner kerja Zia, yang tampan lebih tampan dari Rayyan dan yang pasti lebih kaya.
"Berisik lo.... gak bakal kepincut gue.... buat lo aja."kesal Zia, karena Raina berani berkata seperti itu.
"Eh.... makasih gue gak minat sama orang datar kaya dia... ogah." tolak Raina, karena dia tak sudi dengan pria datar seperti Dian.
"Lah bodo amat.....gue berangkat." selanya dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban Raina. Raina pun berlari untuk melihat kepergian Zia dari depan villa.
"Bye.... semoga cepet kelar kerjanya, biar bisa pulang awal." teriak Raina, melihat kepergian mobil milik sahabatnya yang kini sudah dia anggap sebagai saudaranya.
Setelah kepergian Zia, Raina pun akan bersiap untuk melanjutkan kegiatannya hari ini, masih banyak yang harus dia kerjakan. Sekolah desainer nya akan selesai beberapa bulan lagi, dan Raina sudah bisa membangun butiknya sendiri dan juga merancang desain bajunya. Mungkin akan selesai setelah Zia pulang dari proyeknya.
"Aku harus segera menyelesaikan sekolah desainer, aku sudah tak sabar ingin membuka butik ku sendiri." gumamnya bermonolog pada diri sendiri karena ingin segera membuka usaha sendiri.
Raina berangkat menuju sekolah desainer yang jaraknya lumayan jauh dari villa. Dia menggunakan mobil sendiri menuju kesana, mobil pemberian orang tuanya. Zia juga memberi satu mobil mewah untuk Raina, tapi Raina jarang memakainya karena menurutnya itu terlalu mewah dan mencolok, jadi Raina membawa mobilnya kemari.
Sesampainya di sana Raina sedikit terburu-buru sehingga tidak fokus dengan jalan, di tangannya juga membawa beberapa buku Raina mempercepat jalannya karena dia lupa jika pagi ini ada kelas penting.
"Aduhh telat aku..... kenapa sampai lupa." gerutunya.
Bruk.....
Tak sengaja dia menabrak seseorang karena tidak fokus pada jalan, buku yang ada di tangan Raina terjatuh semua. Ternyata yang ditabrak nya adalah seorang lelaki, Raina segera memunguti bukunya dibantu oleh lelaki tersebut.
"Anu maafkan saya tuan.... saya tidak fokus pada jalan....." ucapnya meminta maaf, karena tidak berhati-hati saat berjalan.
Raina juga melihat wajah asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya, kulit putih mata coklat tua dan tubuh yang tinggi, serta badan yang berisi, tak lupa dia tampan dan sungguh mempesona.
"Tak apa aku juga tak melihat jalan dengan benar." ucapnya sambil tersenyum membuat Raina salah tingkah. Tanpa sengaja mata mereka bertemu dan saling mengunci. Detak jantung keduanya berdegup kencang tanpa mereka sadari.
"Oh ya ampunn..... perasaan apa ini? kenapa rasanya aku baru merasakan sensasi ini." batin lelaki itu yang masih menatap irish mata Raina, pandangannya semakin dalam dan mencari sesuatu dalam mata Raina.
"Tampan sekali dia.... aku berharap bisa di pertemukan kembali." Ucapnya dalam hati, dengan masih meneliti ketampanan wajah lelaki itu tanpa berkedip.
Lelaki itu menemukan kesedihan mendalam dimata Raina, hatinya tergetar saat melihat kesedihan yang terpendam, hingga Raina sadar dengan apa yang di lakukannya.
"Anu... maaf saya harus pergi.... sekali lagi mohon maaf.... " ucapnya, tanpa menunggu dia berbicara Raina segera pergi, wajahnya sudah bersemu merah, entah apa yang terjadi tapi dia merasakan rasa yang aneh.
"Aduh kenapa aku terpesona akan ketampanannya?.... huh sadar Rain.... sadar." rutuknya, sambil menepuk-nepuk pipinya supaya sadar.
"Gadis yang menarik..... aku akan mengorek tentang dirimu." batinnya yang melihat kepergian Raina yang berjalan tergesa-gesa, dan tersenyum tipis. Sementara Raina masih saja menepuk-nepuk pipinya, hingga tepukan tangan di pundaknya membuat dia terlonjak kaget.
"Hey Rain... " ucapnya dan menepuk pundak Rain.
"Hehehe.... maaf abisnya kamu aneh, nepuk-nepuk pipi kenapa sih?." tanya teman dekat Raina yang bernama Zifa.
Raina gelagapan mendapat pertanyaan temannya, namun dia berusaha bersikap biasa saja.
"Anu.. gak papa kok, aku cuma pengin aja, soalnya aku merasa sedikit dingin aja." dustanya, dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Zifa.
"Oh kirain kenapa, ya udah yuk ke kelas sebentar lagi akan di mulai." mereka pun memasuki kelas karena sebentar lagi akan di mulai.
Raina sudah lama berteman dengan Zifa, dia adalah teman pertama Raina di sekolah desainer, karena di sini sangatlah sulit mendapatkan teman kerena kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan atas. Tapi Zifa tidak seperti itu, dia selalu menemani Raina, sehingga dia tak kesepian. Zifa juga pernah di ajak oleh Raina ke villa dan memperkenalkannya pada Zia.
Namanya adalah Zifa Azkadina, dia berasal dari keluarga terpandang, tapi yang di sukai Raina adalah sifatnya yang tidak pernah membeda-bedakan stastus orang lain. Dia juga sangat baik dan pengertian, banyak lelaki yang mendekatinya tapi dia selalu menolaknya lembut agar tidak membuat mereka tersinggung. Tidak hanya baik dia juga cantik, oleh karenanya banyak yang mengaguminya termasuk Raina.
Mereka memasuki ruangan kelas, dan benar sepuluh menit kemudian kelas benar-benar di mulai, Raina dan Zifa bernafas lega setidaknya mereka tidak telat, karena pasti akan di hukum apalagi yang mengajar adalah sang killer desainer.
"Kita main yuk mumpung pulang awal." ajak Zifa karena kelas hari ini tidaklah padat.
"Yuk sudah lama nggak main, kita jalan ke mall aja gimana."saran Raina, dan di angguki oleh Zifa.
"Oh ya aku numpang mobil kamu... soalnya tadi aku di antar sama kakakku." ucap Zifa sambil tersenyum.
"Iya tenang aja. " Raina juga tahu jika Zifa punya kakak, tapi Raina belum pernah melihatnya.
Mereka pun berangkat menggunakan mobil bersama, di mobil keduanya berbicara dengan sambil bercanda, mereka memang selalu bersama.
"Oh ya gimana kabar Zia?." tanya Zifa, dia juga sudah sedikit tahu tentang dengan Zia, karena Raina selalu bercerita tentang Zia.
"Oh dia baik. " singkatnya.
"Apa dia ada di villa, aku sudah lama tak bertemu dengan nya, jadi aku ingin mampir kesana."
"Untuk saat ini kamu gak bisa ketemu Zia, dia lagi ada proyek di luar kota." jelas Raina.
"Yah.... gak bisa padahal aku kangen banget sama dia ya walaupun dia itu datar dan dingin."
"Iya memang tapi dia sangat baik dan perhatian."
"Iya makanya aku pengin ketemu dia." ucapnya Zifa sudah lama tak berkunjung ke villa.
"Besok jika sudah pulang aku akan memberitahukannya." Raina tahu perasaan Zifa yang sangat ingin bertemu dengan Zia.
"Ya sudah.... " Mereka mengobrol sampai tak terasa sudah berada di depan mall. Mereka menghabiskan waktunya di mall, berbelanja dan melakukan banyak hal, dan terakhir sebelum pulang mereka makan bersama di restoran seafood, agar nanti sesampainya di rumah mereka tinggal beristirahat.
Raina mengantarkan pulang Zifa, karena jika menunggu jemputan akan lama menunggunya, jadi Raina berinisiatif mengantarkan Zifa pulang. Hatinya merasa bahagia bisa pergi dengan teman, karena Zia sering sibuk dan jarang berpergian, paling jika weekend tapi Raina tetap senang jika menghabiskan waktu bersama Zia, meski hanya pada saat weekend saja. Raina pun langsung pulang setelah mengantarkan Zifa, karena dia juga sudah lelah.