Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-74



Zayn masih setia menunggu Nancy untuk menanyakan sebenarnya ada apa? yang membuat kekasihnya itu menangis. Setelah puas menagis Nancy melepas pelukan Zayn, dia mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya dan menatap Zayn.


"Apa yang membuatmu menagis hemm?." tanya Zayn setalah melihat Nancy terasa lebih baik setelah menagis, semua temannya pun melihat kearah Nancy dan Zayn mereka juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Nancy pun memberitahukan kepada Zayn dan semua temannya jika keadaan Varo kritis dan sekarang sedang ada di rumah sakit ini, tadi mommy Varo menelponnya agar Nancy segera menemui mereka di rumah sakit. Semua yang mendengar keadaan Varo kritis terkejut karena kan mereka melihat tadi Varo masih bernyanyi di acara promnight, pantas saja pada saat tadi ada penyerangan mendadak mereka tak melihat Varo dan Raina, ternyata Varo ada di rumah sakit di antar Raina.


"Zayn gue harus kesana sekarabg, tadi tante gue bilang gue harus kesana untuk lihat keadaan Varo." jelas Nancy di ingin sekali melihat keadaan Varo.


"Ya sudah lo pergi aja, tapi gue gak bisa ikut karena harus menunggu Zia." Zayn tak bisa meninggalkan Zia karena dia takut terjadi sesuatu padanya.


"Baiklah tak apa, nanti gue akan kembali ke sini setelah melihat keadaan Varo. "


"Kami juga ingin lihat keadaan Varo, kan deket juga." Yumna juga ingin melihat keadaan temannya itu.


"Baiklah.... jika kalian ingin melihat keadaan Varo, pergilah aku akan menunggu di sini." Zayn sebenarnya ingin juga melihat keadaan Varo,tapi sekarang adiknya lebih penting, nanti Zayn bisa bertanya pada temannya yang akan melihat keadaan Varo.


"Ok Zayn, nanti jika ada kabar tentang Zia lo hubungin kami aja, lagipula ruangan Varo tak jauh dari sini." ucap Mila dia juga hanya akan melihat Varo sebentar.


"Iya... ya sudah sana, nanti beri tahu padaku keadaannya."Ucap Zayn.


Mila mengacungkan jempolnya tanda mengerti, mereka semua pun pergi ke ruang rawat Varo kecuali Zayn, jarak ruangan Varo tidak terlalu jauh dari ruangan Zia ditangani, untung saja tidak berbeda rumah sakit jadi mereka tak usah harus menggunakan kendaraan.Sungguh semuanya adalah kebetulan,memang dunia ini terlalu sempit, bahkan Tuhan sudah merencanakan jika Zia dan Varo di tangani di rumah sakit yang sama mungkin tanpa di sadari meraka akan terjadi sebuah kenangan menyakitkan antara Zia dan Varo.


Sesampainya disana Nancy bertanya pada dokter yang menangani Varo, Varo sudah di pindahkan di ruang rawat karena kondisinya sudah stabil,meski seperti itu Varo tetap tak akan bisa di selamatkan karena kankernya sudah stadium akhir. Jika saja ada pendonor yang cocok maka Varo bisa saja selamat, namun dokter sudah mencari namun tak ada yang cocok sekalipun begitu juga pihak keluarganya.


"Tante....." panggil Nancy dia berhambur memeluk Dita yang sedang duduk di kursi dekat dengan brankar Varo.


"Kau sudah datang sayang." ucapnya lalu membalas pelukan keponakannya.


Teman-teman Varo pun di persilahkan masuk oleh Haidar, karena dia tahu pasti mereka juga ingin melihat keadaan Varo, Nancy melepaskan pelukannya dan mendekat ke dekat Varo yang sedang terbaring lemah.Nancy terisak melihat keadaan Varo.


"Bagaimana keadaan Varo tante?apa dia akan baik-baik saja?." tanya Nancy dia sungguh tak kuasa melihat keadaan sepupu juga sahabatnya terbaring lemah dengan peralatan medis yang menempel di bebrapa bagian tubuhnya.


Dita pun mengatakan keadaan Varo pada Nancy dan juga kepada semua teman Varo yang datang untuk melihat keadaannya. Mereka semua tak kuasa menahan air mata semuanya menangis mendengar penuturan Dita, jika Varo tidak bisa bertahan.


"Tante harus kuat.... aku yakin Varo akan sembuh." Nancy mencoba menguatkan Dita.


"Iya tante kami akan mendoakan semoga Varo baik-baik saja." tambah Siti dan Mila, mereka akan mendoakan kesembuhan Varo.


...----------------...


Sementara di ruangan Zia, Zayn masih setia menunggu kabar dari dokter yang sedang berusaha menolong Zia, Zayn selalu melantunkan doa agar Zia tak apa-apa, dia sudah menghubungi ayah dan juga kakeknya untuk datang ke rumah sakit. Tak menunggu lama Ilham dan juga Hiashi sudah datang dengan raut wajahnya yang khawatir.


"Nak.... " panggil Ilham pada Zayn, Zayn yang mendengar suara yang tak asing baginya pun menoleh, dan ternyata yang memanggil adalah Ilham kakeknya.


"Apa yang terjadi pada Zia?." tanya Hiashi ingin mengetahui keadaan putrinya.


Zayn pun menceritakan dari awal hingga Zia yang terkena tembakan akibat menolongnya, Hiashi dan Ilham yang mendengar penuturan Zayn menjadi sedih, mereka juga tak mau kehilangan Zia. Hiashi pun memeluk Zayn untuk menguatkannya dia tahu jika Zayn sangatlah menyayangi Zia, Zayn pasti sangat rapuh hatinya.


"Bersabarlah..... ayah yakin Zia akan baik-baik saja, dia gas6 yang kuat dan tangguh, kita do'akan saja Zia akan selamat dari maut."Hiashi mengusap rambut Zayn lembut, Zayn menangis di pelukan Hiashi tanpa mengeluarkan suara, hanya terdengar isakan pilu, dan membuat Hiashi tersiksa karena dulu dia pernah tak peduli pada Zia dan Zayn bahkan dengan tega mengusir mereka Hiashi merasa semakin bersalah, jika mengingat masa lalunya Hiashi sangatlah menyesal telah melakukan hal keji itu pada kedua anaknya.


"Benar apa kata ayahmu, kita do'akan saja, kakek yakin dia akan baik-baik saja Zia gadis hebat di keluarga kita." tambah Ilham agar Zayn tak bersedih.


Zayn pun melepas pelukan ayahnya dan mengusao air matanya.Di rumah sakit ini menjadi saksi perjuangan Zia dan Varo dimana keduanya harus berjuang antara hidup dan mati, semoga saja kebahagiaan menjadi kabar baikbdi antar perjuangan mereka berdua.


Pintu ruangan UGD terbuka dan keluarlah dokter yang menangani Zia, dia adalah dokter bedah terbaik di rumah sakit itu, dia bernama Sayyid. Melihat sang dokter keluar Zayn beserta keluarganya menghampiri dokter Sayyid.


"Dok.... bagaikan keadaan adik saya?." tanya Zayn langsung dia berharap tak terjadi hal buruk padanya.


"Tenang tuan, nona Zia membutuhkan donor jantung, akibat tembakan di dada sebelah kirinya nona Zia mengalami gagal jantung, dan harus segera mendapat donor jika tidak nona Zia tak akan bisa di selamatkan." Jelas Sayyid.


Jleeebb.......


Bagai ditikam ribuan panah,dunia Zayn seakan runtuh seketika,Zayn tak terima dengan ucapan Sayyid dengan tiba-tiba Zayn mencengkram kerah baju Sayyid dan membuat Sayyid terkejut begitu juga Ilham dan Hiashi tak menyangka Zayn akan melakukan hal itu pada Sayyid.


"Apa maksudmu hah....?! kenapa kau mengatakan Zia akan mati? apa kau sudah bosan hidup?!...... " teriak Zayn dengan mencengkram baju Sayyid keras.


Ilham dan Hiashi mencoba menenangkan Zayn, tapi seperti nya Zayn tak mau mendengar, emosinya sudah memuncak.


"Zayn tenanglah nak.... ini rumah sakit....kau akan mengganggu ketenangan pasien lain, kita bicarakan baik-baik saja." Ilham mencoba melerai Zayn agar melepas cengkraman nya di baju Sayyid.


Mendengar perkataan Ilham Zayn pun melepaskan cengkramannya,lalu di meminta maaf pada Sayyid dia hanya terbawa emosi.


"Maafkan aku.... aku hanya emosi,dia begitu berarti bagiku, maaf." lirih Zayn, dia berusaha meredam emosinya.


Sayyid membetulkan pakaiannya yang berantakan akibat ulah Zayn, dia menatap tak suka pada Zayn Sayyid bisa saja membalas perlakukan Zayn namun Sayyid urungkan bagaimanapun juga jika dia posisi Zayn pasti dia kan melakukan hal yang sama.


"Iya tak apa, dia akan baik-baik saja jika tuan bisa mendapatkan donor jantung, sejauh ini nona Zia masi bertahan karena dia adalah wonder woman, jadi kau tak perlu khawatir."jelasnya lagi.


"Terima kasih dok... maafkan Zayn dia hanya terbawa emosi." Ilham pun meminta maaf sekali lagi kepada Sayyid atas perlakuan Zayn.


"Sama-sama tuan, itu memang sudah biasa, saya pun akan melakukan hal yang sama jika ada di posisinya.Tapi untuk sementara waktu tak boleh ada yang menemuinya, kalian hanya boleh melihat dari luar ruangan.Kalau begitu saya permisi." Sayyid pun pergi meninggalkan keluarga dari pasiennya itu.


"Tenangkan dirimu Zayn, kau sudah dengar apa yang di katakan nya kan, jadi kau tak usah risau." Hiashi menenangkan Zayn agar tak terbawa emosi.


Zayn hanya mengangguk, dia pun pergi untuk melihat keadaan Zia dari luar ruangan,dia melihat melalui kaca dan terlihatlah Zia terbaring lemah di brankar dengan perlatan medis yang menopang nya agar tetap bertahan sampai mendapat donor jantung.