
"Ayo terus dorong sedikit lagi...... " suara bidan memberikan arahan.
Nancy terus mengejan, dia berusaha mengikuti arahan bidan. Sementara Zayn masih setia menemani persalinan istrinya.
"Ayo sayang pasti kamu bisa..... " Zayn tetap berada di samping Nancy, ini pertama kalinya dia melihat langsung perjuangan seorang wanita yang mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati demi kelahiran sang buah hati.
Semua keluarga sedang menunggu di luar, mereka merapalkan segala doa dan keselamatan untuk Nancy dan juga anaknya. Hingga beberapa saat kemudian, suara bayi menggema di ruang persalinan membuat kelegaan di hati mereka.
"Syukurlah bayinya sudah lahir..... " Ucap Ilham penuh syukur, karena cicitnya telah lahir.
"Selamat untuk cucu pertamamu...... " tambahnya lagi, memberikan selamat pada putranya yang sudah menjadi kakek.
Hiashi memeluk erat sang ayah, ini adalah perasaan bahagia yang tidak bisa di gambarkan dan tidak bisa di jelaskan oleh kata. Semuanya mengucap syukur karena Nancy telah selamat melahirkan anak pertama nya.
Zayn keluar dari ruang persalinan karena bidan masih harus merawat Nancy, wajahnya penuh dengan tangis haru dan kebahagiaan, dia memeluk sang ayah.
"Selamat atas kelahiran anak pertamamu Zayn." Hiashi memeluk sambil mengelus punggung putranya.
"Iya ayah.... anakku seorang putra, dia laki-laki." ucapnya memberitahu jika Nancy melahirkan anak laki-laki yang sehat tanpa kekurangan apapun.
"Syukurlah kalian sekarang sudah memiliki seorang putra." Mereka mengucap syukur atas kehadiran seorang putra baru di kedua keluarga mereka.
Zayn merasakan kebahagiaan menjadi seorang ayah, begitu juga seluruh keluarganya. Sayangnya Nancy adalah anak yatim piatu yang di besarkan oleh keluarga pamannya, meski begitu Nancy tidak kekurangan sama sekali, harta dari kedua orangtua nya sangatlah berlimpah, ditambah sekarang dia sudah menikah dengan laki-laki pujaan hatinya.
Setelah dokter dan para perawat selesai, Nancy di bawa ke ruang inap, sementara bayinya di bawa ke ruang bayi untuk sementara waktu.
"Selamat nak, akhirnya kamu menjadi ibu, semoga kalian bahagia selalu, ayah dan semua keluarga akan selalu mendoakan kalian." Hiashi berharap putra putrinya selalu bahagia, karena dia tahu sejak kecil Zia dan Zayn tidak pernah bahagia, dan itu terjadi semenjak ibu mereka meninggal. Dan yang membuat Hiashi menyesal adalah, dia juga menambah kesedihan pada keduanya.
"Iya ayah..... terima kasih, aku juga bersyukur masih bisa merasakan kehangatan keluarga, semoga hal ini menjadi kebahagiaan ku selamanya." Nancy berharap dia bisa mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang dari keluarga suaminya.
"Kenapa tidak sayang.... kamu sekarang adalah bagian dari keluarga kita." Ilham tahu kesedihan yang menimpa istri cucunya.
"Ya sudah istirahatlah dulu, ayah dan kakekmu akan melihat bayi kalian." Hiashi ingin segera melihat cucu pertamanya, dia sudah tidak sabar.
"Iya ayah..... " jawab keduanya serempak.
"Ya sudah, ayo ayah.... aku ingin segera melihat cucu pertama ku. " girang Hiashi, kelakuannya membuat Ilham geleng-geleng kepala, begitu juga dengan Nancy dan Zayn.
Setelah kepergian keduanya Zayn memeluk erat istrinya, Nancy tersenyum lembut melihat perlakuan Zayn yang membuatnya semakin mencintai nya.
"Terima kasih sayang.... kamu telah memberikan kebahagiaan lagi untuk ku dan juga keluarga ku, aku bahagia bisa terus bersamamu." Zayn sangat bersyukur bisa memiliki pendamping hidup yang selalu membuatnya terasa utuh dan sempurna, dan kini bertambahlah kebahagiaan keluarga nya dengan kehadiran putra mereka.
"Sudahlah sayang..... tidak usah di pikirkan, yang terpenting kita harus selalu bersama sampai ajal yang memisahkan." Nancy akan selalu berada di samping Zayn bagaiamana pun keadaannya. Mereka saling memeluk erat, tak lupa Zayn mengecup kening Nancy, kebahagiaan mereka kini telah lengkap.
"Oh ya.... kamu harus jemput Zia di bandara, kita juga akan mendengar kabar gembira dari mereka, benih-benih cinta sedang melanda mereka." Nancy teringat sekarang adalah jadwal Zia pulang, dia sudah menyelesaikan proyeknya. Mereka juga sudah dengar kedekatan Zia dan Dian, mereka pastikan Zia dan Dian akan berlanjut sampai ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.
"Aku juga berharap begitu, semoga memang Dian jodoh Zia, kita doakan saja semoga mereka benar-benar berjodoh." Harapan mereka pun sama, apalagi Zayn, dia ingin adiknya bahagia dan semoga Dian lah orangnya.
Nancy hanya manggut-manggut mengerti, dia juga sudah tahu jika para sahabat mereka akan datang. Zayn mengambil mobil dan berlaju menuju bandara.
...----------------...
Sementara Zia dan Dian mempersiapkan diri untuk pendaratan pesawat di bandara. Pesawat mereka mendarat dini hari sekitar pukul 00.30, tiga puluh menit setelah Nancy melahirkan. Zia sudah menghubungi Raina untuk menjemput nya, Zia tidak di beri kabar kalau Nancy sudah melahirkan.
Setelah pesawat mendarat Zia dan Dian menunggu jemputan, bersama dengan itu Brian dan Arif membawa barang bawaan milik keduanya lebih dulu, jadi mereka pergi dari bandara lebih awal.
"Arif jemput aku besok siang saja, aku ingin pergi membicarakan hal penting. " ucap Dian dengan memberi isyarat, sebenarnya dia akan membicarakan perihal lamarannya kepada keluarga Alfian, untuk meminta izin pada Hiashi bahwa dia mau meminang Zia sebagai calonnya.
"Baik tuan.....kalau begitu saya permisi. " ucapnya, Arif tahu isyarat yang di berikan tuannya. Brian juga sama meminta izin pulang pada Zia.
Tepat setelah kepergian mereka berdua, mobil jemputan Zia sudah datang, Raina turun dari mobil dan menemui mereka berdua, wajahnya menahan tawa, karena tidak di sangka keduanya sudah menjalin cinta dan semakin dekat.
Raina ingin mengejek Zia yang mengatakan jika dia tidak akan jatuh hati pada lelaki mana pun, tapi nyatanya dia termakan omongannya sendiri.
"Ekhem...... Selamat datang kembali Zi aku sangat merindukan mu, syukur lah kamu kembali dengan selamat, dan seperti nya akan ada kabar gembira lagi." celoteh Raina dengan semangat, membuat pasangan di depannya menggelengkan kepala.
Zia segera memeluk Raina dengan lembut, dia begitu merindukan sahabat nya, bahkan sekarang mereka sudah lebih dari sekedar sahabat.
"Iya Rain aku juga rinduu...... " Zia juga sangat merindukan sahabat yang kini sudah dia anggap sebagai saudara.
"Wah seperti nya.... ada benih-benih cinta baru di tabur ni..... aku senang akhirnya kamu mau membuak hati Zi..... aku doakan semoga kalian selalu bahagia dan selalu bersama." Raina bersyukur melihat Zia mau membuka hatinya kembali, dan berharap keduanya memang jodoh.
Zia hanya tersenyum lembut, dia tidak menyangka hal ini bisa terjadi, namun apapun itu kita harus bisa belajar melupakan masa lalu dan menjalani masa kini dengan ikhlas dan ridho.
Bersamaan dengan itu Zayn sudah tiba disana dan langsung menuju tempat penjemputan, ternyata di sana Raina sedang berbincang, Dian yang melihat kedatangan Zayn, dia memiliki ide untuk membicarakan perihal lamaran yang akan dia lakukan kepada Zia.
"Selamat datang Dian.... kamu sudah kembali. " ucap Zayn sambil berjabat tangan, dan kini mereka sudah bersikap layaknya teman.
"Iya aku kembali Zayn, aku ingin berbicara penting denganmu, biarkan Zia pulang bersama Rain, karena ini sangatlah penting." bisik Dian dengan berpura-pura face to face agar Rain atau Zia tidak curiga.
"Adik aku akan berbicara hal penting mengenai program baru bersama Dian, jadi kakak tidak bisa mengantarkan mu." jelas Zayn mencari alasan.
"Apakah tidak bisa besok saja? aku ingin segera bertemu kak Nancy dan keponakanku yang baru lahir..... kenapa tidak memberitahu kan aku?." kesal Zia karena tidak di beri tahu kelahiran anak kakaknya, dan Rain baru saja memberitahunya tadi sebelum Zayn tiba.
"Ini mendadak Zia.... pergilah bersama Rain ke rumah sakit jika kamu ingin melihat keponakan mu." Zayn tetap bersikeras.
"Huft..... baiklah ayo Rain kita langsung kerumah sakit." tanpa menjawab kakaknya Zia pergi begitu saja.
"Dasar adik laknat...... " kesal Zayn karena di abaikan Zia.
"Sudah Zayn ayo kita bicarakan ini di cafe yang dulu pernah kita bertemu." Mereka pun pergi dan menuju cafe untuk membicarakan perihal lamaran Dian dan Zia. Zayn senang jika pada akhirnya Zia mau menerima Dian, semua keluarga pasti akan sangat setuju.