Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-143



Acara sudah selesai terlaksana, para tamu juga sudah berpulang, semua berjalan dengan lancar tanpa ada kendala. Banyak yang memberikan ucapan selamat, mereka senang akhirnya Zia dan Dian sudah sah menjadi suami istri.


Seluruh keluarga dan sahabat Zia juga sudah berpulang, karena besok masih ada acara yang lain lagi. Zia dan Dian kembali ke villa. Sementara Raina ikut pergi bersama Zayn dengan alasan tidak mau mengganggu pengantin baru, jadi dia memutuskan untuk menginap di kediaman Zayn dan Nancy.


Dian menggendong tubuh sintal Zia dan membawanya ke kamar, malam ini akan menjadi malam panjang keduanya, Zia terlihat gugup, karena ini baru pertama kali akan melakukan hubungan badan dengan suaminya. Mereka memasuki kamar dengan lampu redup yang membuat suasana indah, Dian membaringkan tubuh Zia di ranjang.


Dian membuka jas dan kemejanya, meletakkannya di atas sofa lalu Dian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum memulai pertempuran pertanya dengan sang istri, Zia akhirnya bangkit dari tidurnya, dia membuka gaunnya dan juga membersihkan make-up terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian...


Dian sudah selesai membersihkan diri, dia keluar dengan masih melilit di pinggang dengan tubuh polosnya, Zia tidak sengaja melihat tubuh indah suaminya, Dian mendekati Zia yang sudah selesai membersihkan makeup nya, dan juga sudah mengganti gaunnya dengan baju kimono mandi.


"Sayang nanti saja ya mandi nya, aku sudah tidak sabar." bisik Dian tepat di telinga Zia, membuat bulu kuduk nya merinding, Dian pasti meminta hak nyaa.


"Anu.... sebentar s-sayang aku mau ke kamar mandi dulu, sudah tidak bisa di tahan." ucap Zia tergagap, sedari tadi memang dia menahan kebelet.


"Baiklah.... jangan terlalu lama sayang, Ohh ya jangan lupa kenakan baju yang waktu itu aku beritahu padamu."Zia berhenti seketika, karena pada waktu itu Dian memberitahukan pakaian yang amat transparan dan seksi, yang biasa di sebut dengan baju dinas.


"Ohh... i-iya sayang, nanti aku akan pakai itu." Zia sudah tidak bisa mengelak lagi, apalagi untuk masalah jatah. Zia memasuki kamar mandi, detak jantungnya tak karuan, membuat dia mengeluarkan keringat dingin, Zia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya.


"Huft tenang Zi... tenang, kamu harus tenang..... " Zia menghela nafas panjang, dia harus lebih tenang agar semua berjalan baik. Zia membersihkan diri nya, karena malam ini akan menjadi malam spesial baginya dan juga suaminya, jadi dia juga harus wangi dan cantik.


Setelah selesai, Zia keluar dari kamar mandi, dia sudah mengenakan pakaian indahnya, terlihat sangat pas di tubuhnya. Zia masih malu-malu mengenakan pakaian transparan itu, meskipun itu warna kesukaan nya yaitu hitam, tapi tetap saja dia baru pertama mengenakan nya.


"Kamu cantik sekali sayang..... " puji Dian membuat wajah Zia seketika memerah, Dian berjalan menuju Zia, dia meraih tangan sang istri dan menuntun nya menuju ranjang.


Zia sangat gugup, dia tidak tahu langkah selanjutnya apa yang akan Dian lakukan padanya, tapi Zia akan melayani suaminya, bagaimanapun juga itu adalah kewajiban nya. Zia naik ke atas ranjang dengan jantung yang berdetak tak karuan, sungguh hal ini begitu menguras tenaga.


Dian masih menggunakan handuk nya, dan kini dia berdiri membuka lilitan handuk tersebut tepat di hadapan Zia. Zia terkejut melihat tubuh polos Dian tanpa sehelai benang pun, dan matanya terfokus pada milik Dian yang sudah terbangun dengan lantangnya. Dian ikut menaiki ranjang, membuat Zia bertambah gugup.


Dian semakin mendekatkan tubuhnya yang tanpa busana itu, dia tahu jika Zia gugup, Dian akan bermain dengan halus, agar membuat Zia juga nyaman dan tidak tegang. Dengan perlahan Dian membaringkan tubuh Zia yang masih terbuat indah baju transparan nya, Zia masih saja gugup dengan apa yang di lakukan Dian.


"Tidak apa sayang.... aku akan lakukan dengan sangat hati-hati, kamu tidak usah takut sayang." ucap Dian di kala tahu jika Zia masih gugup.


"Iya sayang, aku tidak apa-apa. " ucap Zia, meskipun dengan wajah yang penuh keringat dingin.


Dian mulai melakukan aksinya, dia ingin memberikan keindahan di malam ini, sungguh hal yang sudah dia tunggu berhari-hari, Zia masih malu-malu krena ini adalah pertama kalinya dia akan melakukan nya.


"Aku akan memulai sayang." bisiknya tepat di telinga Zia, membuat tubuhnya meremang. Akhirnya dengan cepat Dian melakukan kegiatan panasnya bersama istrinya.


Dian tumbang di atas tubuh Zia dengan keringat yang sudah membajiri tubuh mereka, nafas mereka pun masih terus berirama di malam panas itu, seakan mereka baru saja lari marathon. Dian dan Zia sama-sama mengatur nafas mereka.


"Apakah masih sakit sayang?." tanya Dian, karena melihat Zia masih terkadang meringis.


"Sudah tidak terlalu sayang, hanya nyeri biasa." Dian memeluk tubuh Zia, rasanya setelah melakukan pergulatan panas dia sangat mengantuk, hingga akhirnya dia memeluk erat tubuh Zia.


"Aku sangat mencintaimu sayang... terima kasih. "ucapnya sambil perlahan matanya tertutup tak bisa menahan kantuk.


"Aku juga sayang.... semoga semua bisa berjalan indah hingga akhir."


Zia mengecup pipi Dian yang sudah tertidur, rasanya dia tidak percaya akan menikah dengan lelaki yang belum lama dia kenal. Terkadang takdir tidak bisa di prediksi, kita sudah berencana tapi takdir terkadang memiliki rencana lain yang lebih indah. Bahkan semua itu adalah skenario terbaik yang sudah di atur meski awalnya menyakitkan.


"Terima kasih atas semua takdir yang telah hadir di kehidupan, banyak pelajaran yang dapat ku ambil dari semua yang terjadi." gumamnya dengan tersenyum penuh arti banyak yang ingin dia lakukan sekarang bersama dengan suaminya, dan membangun keluarga yang membahagiakan.


Malam semakin larut, Zia juga sudah tidak bisa menahan kantuk nya, Zia memeluk erat suaminya yang sudah pergi ke alam mimpi nya. Zia berharap akan terus ada kebahagiaan dalam kehidupannya dan juga kehidupan orang yang dia sayangi. Dan berharap lembaran baru ini berlanjut dengan baik.


Pagi harinya....


Zia sudah terbangun lebih awal, dia membersihkan diri sebelum suaminya bangun. Masih terasa rasa nyeri di bagian intinya tapi tidak terlalu sakit. Zia sudah bersiap dengan pakaian biasanya, dia mau melaksanakan tugas pertamanya sebagai istri, dia akan membuatkan sarapan untuk Dian dan persiapan untuk pergi menghabiskan waktu bersama.


"Sayang... bangun ini sudah pagi, aku akan siapkan sarapan dulu, bajunya sudah aku siapkan di ranjang sebelah kanan." Zia pun berlalu pergi untuk menyiapkan sarapan.


Rumahnya sudah bersih dan sarapan juga sudah siap di meja makan, Zia pun sudah tidak bisa melakukan hal apapun, tapi ada sarapan paling di sukai Dian belum di buat, di meja hanya ada roti tawardan selai, begitu juga dengan susu nya.


"Nona sudah bangun? kai sudah siapkan sarapan nya."


"Aku mau buat sarapan kesukaan Dian, jadi biar aku yang memasak sendiri bi." Zia sangat bersemangat sekali.


"Baiklah nona, saya akan bantu menyiapkan bahan yang di butuhkan." Pelayan itu membantu Zia menyiapkan bahannya.


"Dian sangat menyukai waffle susu yang di campur dengan matcha, dan di oles dengan madu." Zia menyiapkan adonan dan cetakan waffle nya. Dia mencampurkan susu bubuk dan matcha bubuk untuk rasanya, dan selesai susah Zia membuat adonannya, kini tinggal dia mencetaknya. Harum susu dan matcha yang bercampur sempurna membuat siapa saja ingin segera mencoba makanannya.


"Tada..... fiuhh akhirnya selesai juga." Zia menyajikan nya di meja makan, dia juga mengoleskan madu di atas waffle nya.


Dian yang mencium aroma makanan kesukaan nya, dia langsung terbangun, Dian melihat pakaiannya sudah di siapkan rapih di atas ranjang sebelahnya. Dia pun bergegas membersihkan diri, karena dia tahu Zia yang membuatkan sarapan pagi ini.


Maaf jika baru up, semoga terhibur.... jika ada kesalahan dalam hal menulis langkah, mohon maaf kakak.... β˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™