
Keesokan harinya.....
Zia sudah rapih dengan pakaian formalnya, sementara Nancy sedang berada di meja makan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Zia menuju ke meja makan di susul dengan Zayn, mereka sarapan bersama.
"Oh ya kak aku ada meeting pagi, jadi jalannya nanti sehabis meeting ok." Izin Zia, sebenarnya dia bisa saja cuti karena dia ingin menemani kakaknya, tapi ini adalah meeting yang tidak bisa di tinggal atau di gantikan.
"Iya tidak apa Zi.... selesaikan dulu pekerjaan pentingmu." Nancy tidak keberatan toh meeting itu tidak membutuhkan waktu lama.
"Makasih kakak cantikku... " puji Zia dengan penuh kegirangan.
"Lalu kak Zayn akan berangkat kapan?." tanya Zia karena hari ini juga Zayn berangkat ke luar kota.
"Kakak akan berangkat nanti setelah kamu selesai meeting, karena kakak tidak bisa meninggalkan kakakmu sendiri."
"Widih yang sayang sama istri, so sweet banget... " ledek Zia, dia juga senang karena rumah tangga kakaknya baik-baik saja.
"Iya dong... makanya cepet nikah biar di sayang." Zayn tak kalah meledek. Nancy hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik kakak di depannya.
"Ih ngeselin banget..... dasar bengek, rese..... nanti juga pasti nikah kok." kesal Zia sambil merengut.
"Idih putri marah.... nanti jelek lo gak ada yang mau." Zayn semakin gemas dengan raut wajah Zia.
"Awas aja dasar bawel.... " Zia pun bangkit dari duduknya dengan masih dalam kode kesal, dan beranjak pergi tanpa pamit.
"Udah sayang.... kasihan Zia jangan kamu ledek terus."
"Habisnya dia lucu banget, udah lama gak liat dia kesel biasanya kan pasang wajahnya datar mulu. " Zayn senang bisa melihat wajah menggemaskan adiknya yang sekian lama terkubur sangat dalam.
"Iya kamu benar sayang.... aku berharap dia segera bertemu dengan jodohnya. " Zayn dan Nancy pun melanjutkan sarapan.
...----------------...
Sementara Zia masih kesal dengan ledekan dari kakaknya. Wajahnya masih degan raut wajah tidak bersahabat.
"Dasar kakak bengek..... awas aja aku bales dia." umpat nya, hingga dia sampai di parkiran mobil.
Seperti biasa kini dia sudah memasang wajah dingin dan datarnya, dan melupakan kekesalannya pada sang kakak, dan akan fokus bekerja seperti biasa.
Zia masuk ke dalam ruangan nya, beberapa menit Brian datang membawa berkas meeting pagi ini. Mereka berangkat menuju tempat meeting yang dilakukan di sebuah cafe dekat dengan kantor utama. Dua jam berlalu mereka sudah menyelesaikan meeting, yang berisi penyelesaian pembangunan yang akan berlangsung sekitar beberapa bulan ke depan, dan juga untuk mengembangkan sistem keamanan dan juga kelayakan untuk bangunan tersebut.
"Bri.... aku akan pulang sekarang, tolong urus berkas nya dan jika sudah selesai antarkan ke paviliun." titahnya dan di angguki Brian.
Zia menuju parkiran, tapi tanpa di sengaja bertemu dengan Dian. Dian menatap Zia tanpa berkedip, Zia yang tahu jika Dian sedang memperhatikan nya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Heh.... ngeliat apa sih sampe gak kedip?." Zia menepuk pundak Dian, membuatnya tersadar.
"Eehh... itu bukan apa-apa." jawabnya gelagapan, tak di sangka dia ketahuan.
"Ya udah aku duluan." pamit Zia, membuat Dian tidak bisa tinggal diam, ini adalah kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan pujaannya.
"Zia.... " panggil Dian membuat Zia menoleh.
"Ada apa? aku sedang terburu-buru jadi cepat jika ada yang ingin kamu katakan." ucap Zia karena Zayn akan berangkat ke luar kota sebentar lagi.
"Di paviliun ada kakakku dan juga kakak iparku, memangnya kamu mau apa?."Dian memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan Zia.
"Begini ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kakakmu sebelum dia pergi ke luar kota." jawabnya, sebenarnya dia tahu jika Zayn ada di paviliun Zia, dia juga sudah mengirim pesan untuk bertemu Zayn sebelum dia pergi.
Zia berfikir sejenak mungkin urusan bisnis kakaknya dan Dian, pikirnya hingga tanpa berfikir Zia pun mengizinkannya.
"Ok... tapi bawa mobil sendiri." ucap Zia dan berlalu masuk ke dalam mobil. Dian dengan semangat ikut memasuki mobil mereka bergerak bersama.
Sesampainya dia paviliun Zia, mereka masuk ke dalam bersama, Dian berjalan di samping Zia. Nancy senang melihat mereka berdua berjalan beriringan seakan menunjukkan keserasian, meski keduanya memasang wajah datar.
"Lihat mereka sangat serasi." bisik Nancy di telinga Zayn.
"Iyaa... sudah nanti mereka lihat." bisik Zayn, jika dilihat mereka memang pasangan yang sangat cocok.
"Selamat datang tuan Dian." sapa Zayn sopan, mereka adalah rekan bisnis jadi sudah sangat akrab.
"Oh iya tuan Zayn." ucapnya ramah sambil menjabat tangan Zayn. Dia mempersilahkan Dian untuk duduk, sementara Zia pergi ke kamarnya. Nancy menyuruh pelayan untuk menghidangkan jamuan.
Zayn berbincang dengan Dian, karena merasa bosan akhirnya Nancy pamit ke Zia, satu jam lagi Zayn akan berangkat. Dian ingin membicarakan hal penting mengenai keseriusannya kepada Zia karena pada saat itu Zayn memberitahu jika ingin mendekati Zia jangan sampai menyakitinya.
Dian tahu Zia sulit sekali di bujuk jadi dia akan perlahan mengambil hati Zia, sembari menunggu Zia sembuh dari luka hatinya.
"Kita bicara biasa saja, tidak usah formal bagaiamana?." Dian membuka pembicaraan.
"Baik, aku setuju."
"Aku akan membicarakan nya denganmu, ya meski seharusnya ada adikmu di sini, tapi kamu tahu sendiri bagaiamana situasinya."
"Iya aku tahu.... sekarang Zia sedang sedikit sulit membuka hati untuk orang baru, aku akan percaya jika kamu benar-benar ingin membahagiakan adikku, tapi janganlah kamu menyakitinya, karena dia sudah berulang kali mengalami hal yang serupa." Zayn tidak mau jika Dian menyakiti adik tercintanya.
"Aku akan pegang janji itu, dengan ini aku telah mendapat izin untuk bisa mengambil hatinya, aku sungguh-sungguh dalam tindakan ku kali ini." Dian sudah membulatkan tekadnya untuk bisa mendekati Zia dan mencintai nya dengan tulus. Dia sudah mendapat kepercayaan dari kakaknya kini tinggal bagaiamana caranya agar Zia bisa percaya dengannya.
"Jika itu sudah menjadi tekadmu, maka aku akan berusaha mempercayai mu, semoga saja kamu adalah laki-laki yang tepat untuk adikku." harapan Zayn hanya satu melihat Zia mendapat kebahagiaan hakiki. Setelah selesai pembicaraan Dian berpamitan, dia tahu jika Zia tidak akan turun untuk mengantar kepergiannya.
Zayn sudah bersiap akan berangkat Nancy dan Zia mengantar lelaki tampan itu sampai ke depan pintu, Zayn mengecup kening istrinya dan tak lupa mengelus perut buncit Nancy.
"Jaga diri dan juga calon anak kita, aku akan segera kembali." ucap Zayn.
"Kamu juga sayang.... jangan terlalu lama di sana nanti aku rindu." manja Nancy membuat Zia memutar bola matanya malas.
"Eh si putri diem aja... gak mau ucapin salam perpisahan ni.... " Ucap Zayn yang melihat wajah malas Zia.
"Udah gak usah banyak omong kak.... hati-hati dijalan, sana berangkat tenang aja kak Nancy bakal aman sama aku." tuturnya dengan ketus mengusir sang kakak.
"Iya... iya putri galak amat sama kakak sendiri, jangan jutek nanti gak laku." ledek Zayn, sambil tertawa meremehkan.
"Berisik.... udah sana pergi." usir Zia galak membuat Zayn tak bisa menahan tawa. Zayn pun pergi dari pelataran paviliun, setelah mobil suami tercintanya tidak terlihat mereka pun masuk.
"Kak jadi pergi gak nih...?. " tanya Zia.
"Jadi dong kita siap-siap dulu ok." Nancy senang karena bisa berjalan-jalan bersama Zia, karena sudah lama mereka tidak keluar bersama.