Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bab-97



Kring...... kring.... kring....


Suara dering ponsel Zia membangunkan tidur dan mimpi indahnya, membuatnya mengabaikan panggilan masuk, namun bukannya berhenti ponselnya terus saja berdering seakan enggan berhenti.


"Aduhh.... ganggu saja...." gerutunya kesal, dengan masih mengumpulkan kesadarannyMau tak Zia mengangkat telepon dengan mata yang masih terpejam.


"......."


"Kerja bagus.... baiklah aku akan segera kesana."


"......."


"Ok.... bekerjalah kembali." Zia menutup telepon dan bergegas ke kamar mandi, sungguh dia tak sabar ingin memberi pelajaran mereka yang sudah berani mengusik ketenangan keluarganya.


"Yosh.....kita akan bermain... aku tak akan melepaskan mu."


Zia sudah selesai bersiap mengenakan pakaian seperti biasa, memakai pakaian mafianya lengkap dengan topengnya.Zia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat para pengguna jalan banyak yang menyumpah serapahinya. Namun tanpa Zia sadari ada mobil lain yang mengikutinya. Dan sampailah kini Zia di markas besar miliknya dan juga milik sang kakak.


"Selamat pagi queen.... " sapa mereka dan membungkukkan badannya. Zia hanya mengangguk tanpa menjawab mereka.


Arham dan Riska sudah menunggunya di tempat interogasi, dengan lelaki yang sudah diikat di kursi dan matanya yang masih ditutupi kain hitam serta keadaannya masih belum sadarkan diri. Mereka sedang menunggu kedatangan Zia dan Zayn. Derap langkah kaki terdengar sangat jelas menandakan bahwa yang di tunggu telah datang. Pintu mulai terbuka dan berdirilah sosok Zia dengan seringai iblis di bibirnya. Membuat Arham dan Riska begidik ngeri.


"Huh ya ampun seram sekali seringai nya.... membuat aku serasa di hadapkan dengan banyak makhluk astral." batin Arham melihat begitu seramnya Zia saat menyeringai.


"Oh ya ampun Queen.... kau tetap cantik meski dengan seringai iblis mu, membuatku iri saja dengan kecantikanmu." batin Riska menatap takjub Zia karena kecantikan wajahnya meski dengan senyum seramnya.


"Selamat datang queen." sapa mereka berdua bersamaan.


"Kerja bagus kalian berdua, nanti akan ku berikan bonus untuk kalian." Zia mendekat ke orang yang terikat di kursi.


"Apakah kalian yakin dia orang kepercayaan nya?." tanya Zia memastikan.


"Benar Queen kami sudah menyelidikinya dengan sangat sekasama, bahkan kami hampir gagal, karena dia sangat hebat dalam berbagai hal." jelas Riska,namun mereka tak tahu jika Raka memiliki seorang putra.Zia hanya manggut-manggut.


"Dan nona....tuannya tak mengetahui jika kita telah menangkapnya, jadi itu akan memudahkan kita memancing dia untuk datang."


"Benar...oke sekarang waktunya untuk membuat dia membuka suara... dan pastikan dia mengatakan kebenarannya, jika dia menolak maka lakukan dengan cara keras agar dia mau bicara, aku akan pergi keluar sebentar, karena ada keperluan mendadak."


"Baik queen..... semua akan kami lakukan sesuai dengan yang anda katakan." Zia pun pergi meninggalkan ruang interogasi dan pergi menuju mobilnya. Tanpa sepengetahuan mereka ternyata ada yang mendengar semua pembicaraan mereka.


"Sebenarnya ada kejahatan apa lagi, yang membuat Zia dan Zayn turun tangan di markas?."batinnya bertanya-tanya.


Ya lelaki itu adalah Rayyan, dia mendengar segalanya tapi karena mereka tak menyebutkan nama membuat Rayyan bingung, dia memang mengikuti Zia, karena pagi tadi dia berencana untuk mengajak Zia berjalan-jalan di hari weekend, namun karena melihat Zia menyetir dengan sangat ugal-ugalan membuat Rayyan penasaran, hingga dia memutuskan untuk mengikutinya.


Zia pergi dari markas karena ada hak penting yang mau dia tanyakan langsung pada Zayn mengenai siapa sebenarnya Raka Alexandra, karena dia masih curiga kenapa nama belakangnya sangatlah sama dengan Rayyan.Rayyan yang melihat Zia pergi keluar markas, dia pun segera pergi karena takut ada yang mencurigainya.


Arham dan Riska melakukan tugasnya di markas, untuk mendapatkan bukti bahwa dalangnya adalah Raka, dengan begitu maka akan mudah bagi mereka untuk membuat Raka tak bisa berkutik.


Byurrr.......


Riska mengguyurkan air dengan kasar tepat di wajah lelaki tersebut, membuatnya terlonjak kaget.


"Ada di mana aku?kenapa mataku di tutup dan tubuhku terikat."ucapnya dengan terheran.


"Lihatlah betapa menyedihkan nya dia." ejek Arham.


Riska mendekat ke arah lelaki itu dan membuka penutup mata dengan menariknya keras, membuat sang empu sedikit meringis. Setelah matanya terbuka dia melihat orang yang tak dia kenal, tapi kenapa mereka menangkapnya, itulah yang kini di pikirkannya.


"S..... siapa kalian?." ucapnya terbata.


"Aku tak pernah punya urusan dengan kalian."


"Leader? apa maksud kalian hah?! aku tak pernah mengusik siapapun apalagi dengan komplotan mafia, sebenarnya apa mau kalian?." kini suaranya semakin meninggi tak terima dengan ucapan Riska, yang dia tahu dia tak pernah berurusan dengan siapapun.


"Heh..... turunkan nada bicaramu, aku tak menyuruhmu meninggikan suaramu, dasar tak tahu malu." geram Arham, dia pun mendekat dan mencekal lehernya.


Namun lelaki itu terus memberontak, minta di lepaskan, Arham tak menggubris hal itu, dia malah semakin mengencangkan cengkraman nya di leher milik lelaki tersebut.


"Heh lo lepasin dia.... kita itu suruh buat dia ngomong bukan nyiksa, nanti kalau dia gak mau baru kita siksa, bego banget sih lo." decihnya kesal, Riska sudah pusing memikirkan teman begonya itu.


"Dasar cewe resek..... gue tuh cuma mau gertak aja." Arham tak kalah kesalnya.


"Gini-gini juga gue gak manja, mending jadi cewek resek daripada cewek alay banyak gaya." bangganya menurutnya menjadi cewek resek lebih baik dari pada cewek manja dan banyak maunya. Gak papa resek yang penting gak banyak tingkah.


"Udah serah lo aja."Arham pun hanya mengalah daripada memperpanjang masalah.


"Heh lo gue mau tanya sama lo.....siapa saja yang terlibat pembunuhan nyonya Fitri dan tuan Dimas? cepat katakan jika kau tak mengatakannya maka kami tak akan segan menggunakan kekerasan." Kini Arham dan Riska menatap dengan tatapan elang kepada pria itu yang tak lain adalah tangan kanan Raka, ya dia adalah Putra. Arham dan Riska berhasil menangkapnya meski mereka berdua kewalahan karena Putra bukanlah pria lemah, dan bahkan bela dirinya tak di ragukan lagi.


"Aku tak mengerti apa yang kalian ucapkan, siapa Fitri dan Dimas itu, aku sama sekali tak pernah mengusiknya." Putra berpura-pura tak tahu.


"Oh jadi mereka adalah dari pihak keluarga tuan Dimas dan nyonya Fitri, bahaya....berarti mereka sudah tahu aku tangan kanan tuan Raka, ini tak bisa di biarkan tuan Raka dan juga tuan muda sedang dalam bahaya."batin Putra, dia terkejut ternyata mereka semua sudah mengetahui kebenarannya.


"Apa kau lupa, atau hanya berpura-pura hah?!." kini Arham mulai meninggikan suaranya.


"Aku memang tak tahu apapun." elaknya lagi, membuat Riska muak.


Riska membanting kursi di samping Putra sampai hancur, membuat Arham menelan ludahnya kasar. Dia menatap Riska dengan tatapan tak percaya, karena biasanya Riska hanya menginterogasi dan jika pelaku tak mau mengaku maka Arham lah yang menggantikannya, tapi kini yang dia lihat seperti Riska yang berbeda.


"Gue muak sama orang gak guna, ngerti gak hah...!! Gue tuh udah pusing lihat muka pura-pura bego lo tahu gak, udah tinggal jawab gak usah basa-basi." tegas Riska dingin dengan menatap tajam Putra, dan seketika membuatnya bungkam, begitu juga dengan Arham.


"Aku tak akan mengatakan apapun,meski kalian memaksaku." jawabnya.


"Baiklah jika itu yang lo minta, gue gak bakal pake cara halus, karena sepertinya lo gak bakal buka mulut jadi lebih baik gue pake cara kekerasan." Seringai iblis terlukis di wajah cantik Riska.


Sementara Zia sudah sampai di rumah kakanya Zayn, Zia memikirkan mobilnya asal di halaman rumah kakaknya. Dengan tergesa-gesa Zia memasuki rumah Zayn, karena hari masih sekitar pukul sepuluh pagi, jadi para pelayan masih sibuk dengan kegiatan mereka.


Kebetulan Nancy sedang berada di dapur, dan Zia melihatnya dia pun menghampiri sahabat dan sekaligus kakak ipar nya.


"Ekheeemm." dehem Zia, sontak membuat Nancy terkejut.


"Oh ya ampun Zi.... bikin kaget aja.... " Ucapnya sembari mengangkat dadanya akibat ulah Zia. Zia hanya nyetir kuda tanpa dosa.


"Maaf kakak ipar cantik.... oh ya kak lagi ngapain di dapur?." tanya Zia karena di jam segini Nancy masih bermain di dapur.


"Oh ini biasa lagi buat pancake, karena Zayn meminta di buatkan." jelas Nancy, ya kini Nancy memang sedang membuat pancake di dapur, karena, Zayn ingin memakan makanan buatannya.


"Oohhh..... dasar kakak... lalu sekarang dia ada di mana?." tanya Zia yang memang belum melihatnya.


"Ya seperti biasa....di kantor Zi, memangnya ada apa?." tanya Nancy.


"Gak ada apa-apa sih....Ya ampun gue lupa, kirain sekarang weekend jadi gue dateng ke rumah." Zia memukul kepalanya sendiri akibat kelupaan.


"Ya udah ya kak.... gue ke kantor kakak dulu, bye.... "


"Eh.... eh... udah mau pergi aja, sebentar lagi juga kakakmu pulang jadi tunggu aja di sini."


"Aduhh kak gue lagi buru-buru banget jadi gue harus cepet ketemu kakak, nanti sore gue bakal kesini kok main, kalau gitu gue pergi ya." Zia pun berlari keluar dari rumah Zayn dan segera memarkirkan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.


"Ya hati-hati di jalan... jangan kebut-kebut... " teriak Nancy karena mobil Zia sudah melaju.


"Dasar adik ipar laknat, pamit kagak ada sopan-sopannya." Nancy menggeleng melihat kelakuan Zia, padahal itu sudah biasa bagi Nancy, tapi baru kali ini dia berbicara sebagai kakaknya bukan sahabatnya.