
Rayyan memandang tajam Zia kilat kemarahan terpancar jelas di matanya.Zia hanya diam memandang dengan tatapan yang tak kalah tajam namun terlihat lebih tenang. Zayn hanya memandang sendu keduanya, ada rasa ngilu di kala Rayyan menatap Zia seperti sangat membencinya.
"Rayyan jangan salah paham, lo salah bukan Zia.... " belum selesai Zayn menjelaskan Rayyan sudah lebih dulu menyergahnya.
"Diem lo....!!...ini adalah urusan gue sama gadis munafik ini." ucapnya dingin. Zia hanya memandang kecewa Rayyan.
"T... tuan... " cegah Putra dengan terbata karena menahan sakit.
"Lo juga diem....!!. " tegasnya.
Susana berubah tegang dan mencekam, kedua tatapan dingin Rayyan dan Zia seperti telah mendinginkan ruangan itu, mereka diem membisu tak ada yang berani membuka suara. Rayyan telah sampai telat di depan Zia.
"Kenapa kau lakukan itu Zia?! kenapa hah?!. " bentak Rayyan membuat Zia tersenyum miring seakan mengejek Rayyan.
"Ayah gue lagi coba jelasin, kenapa lo gak kasih waktu...?!. " Zia tak mengerti jalan pikir Rayyan, matanya seakan buta serta pendengarannya tuli bahkan dia tak bisa melihat dan mendengar jika orang lain dari arah luarlah yang menembak mati Raka.
Zia tak menanggapi ucapan Rayyan yang tak berbobot, Zia hanya memainkan jarinya dan menatap santai Rayyan, seakan tak terjadi apapun.
"Gue gak butuh tatapan lo, yang gue butuh adalah penjelasan."
"Oh... butuh penjelasan rupanya, baik ingat ini di otakmu Rayyan bahwa apa yang kau lihat adalah kebenarannya, aku yang bunuh dia tanpa mendengar penjelasannya, karena dia telalu lama bicara." ucapnya dengan sinis.
Rahang Rayyan mengeras, kini dia sudah sangat marah mendengar apa yang di tuturkan Zia, tak ada pembelaan yang di lakukan Zia karena pasti hanya akan sia-sia, Rayyan tak akan mendengar apapun.
"Sebenarnya apa mau lo hah?!." bentaknya, namun Zia hanya menanggapinya santai tanpa ada ketegangan melanda dirinya.
"Pake nanya lo, kenapa gak tanya sendiri sama ayah lo yang brengsek." Rayyan semakin geram mendengar ayahnya di sebut brengsek.
Plakkk.....
Suara tamparan menggema di ruangan itu, membuat Zayn membelalakan matanya, itu baru pertama kalinya setalah ayahnya dulu menampar Zia, bahkan Zayn pun tak pernah sekalipun berbuat kasar pada Zia, dan Rayyan dengan entengnya mengangkat tangan pada Zia. Tamparan Rayyan berhasil membuat Zia memalingkan wajahnya hingga darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Hemmm." Zia tersenyum sinis dan memandang remeh Rayyan.
"Gak lagi?!.. udah tampar lagi aja belum puas gue." tantang Zia dengan wajah tenangnya.
Zayn yang tak mau melihat Rayyan melukai adiknya lagi, dia pun mendekat ke arah Zia, namun dengan cepat Zia mencegah dengan memberi isyarat, Zayn yang melihat isyarat dari Zia akhirnya mengalah dan mengikuti apa yang di titahkan adiknya. Arham mengepalkan tangannya dia tak terima Zia di perlakukan kasar apalagi Rayyan tak tahu apapun.
"Brengsek lo Rayyan..... gue gak bakal maafin lo." batinnya memandang penuh kebencian pada Rayyan.
"Pembunuh.... kau memang manusia biadab.... sungguh wanita seperti mu memang harus mendapat sedikit pelajaran, bahkan kau lebih rendah dari pada sampah dan ****** di luaran sana." umpatnya dengan sangat jelas di telinga Zia.
Zia yang sudah malas dan lelah meladeni Rayyan hanya menanggapi dengan cuek dan tak peduli, dia beranjak meninggalkan ruangan sandra, membuat semua yang di sana melongo, di saat situasi tegang begini hanya Zia lah yang bersikap tenang seakan tak terjadi apapun. Belum Zia sampai di ambang pintu, tangannya sudah di cekal oleh Rayyan dengan kasar.
"Apa lo tuli hah?! gue lagi ngomong sama lo." kesal Rayyan karena ucapannya tak di idahkan Zia, bahkan dengan berani Zia melangkah keluar sebelum semuanya usai. Zia menepis tangan Rayyan dengan keras, seakan tangannya sudah tak sudi di sentuh oleh Rayyan
"Apa lo gak punya cermin untuk berkaca?... heh padahal dirinya sendirilah yang tuli dan bahkan di tambah penglihatannya yang sudah rabun. " ucapnya tanpa menoleh dengan nada mengejek, namun terkesan sangat datar.
"Arham.... Riska.... lo berdua urus mereka gue udah males ngurusin yang sia-sia, dan buat Putra serahin ke pihak berwajib, kasih semua buktinya ke polisi." Zia pun berlalu meninggalkan Zayn dan yang lainnya, sedangkan Rayyan masih terpaku dengan ucapan Zia.
Zayn menghembuskan nafasnya kasar, dia pun membantu mengurus jasad Raka, walau bagaimanapun juga dia adalah ayah dari sahabatnya. Tak ada yang bicara setelah kejadian itu, mereka memilih diam dan akan membahasnya setelah semuanya beres.
"Heh udah kita urus pemakaman ayah lo, gue bantu biar Riska sama Arham yang ngurus Putra." Akhirnya Rayyan pun mengikuti ucapan Zayn. Rayyan mengangkat jasad ayahnya ke dalam mobil sedangkan Zayn yang menyetir.
Di dalam mobil hanya ada keheningan, Rayyan memandang dengan tatapan kosong ke arah luar jendela, memutar kembali ucapan Zia yang terngiang di telinganya baru saja mereka berbaikan tapi hari ini Rayyan menghancurkan ikatan mereka, akibat dari kemarahannya yang tak terkontrol membuatnya tak bisa menahan dirinya.
Setelah sampai di kediaman keluarga Alexandra Rayyan dan Zayn, memanggil para pemuka agama untuk mengurus jenazah Raka. Mereka pun datang setelah lima belas menit di hubungi, mereka mempersiapkan semuanya dari mulai tempat pamandian hingga liang lahat yang akan di gunakan untuk peristirahatan terakhir Raka, Rayyan juga menghubungi seluruh keluarganya yang bisa hadir untuk berbela sungkawa.
Dua jam berlalu mereka semua telah selesai mengurus jenazah Raka dan kini mereka akan mengantarnya ke pemakaman untuk di kebumikan, hati Rayyan hancur melihat kenyataan ini, orang yang dia sayangi telah tiada untuk selamanya dan sekarang dia harus menjadi mandiri tanpa kedua orang tua.
Zayn masih setia menemani Rayyan, dia tahu persis perasaan Rayyan, hingga mereka semua selesai mengkebumikan Raka, mereka semua beranjak dari pemakaman menyisakan dua insan yang masih belum meninggalkan pemakaman itu. Rayyan berjongkok di sisi gundukan tanah sambil mengusap nisan yang bertuliskan nama ayahnya.
"Ayah maafkanlah putramu ini, yang tak bisa menjagamu, semoga Tuhan mengampuni segala kesalahan yang ayah perbuat, dan semoga ayah bahagia di alam sana, aku akan selalu mendoakanmu." lirihnya air matanya kini sudah luruh pertahanannya sudah tak bisa di pertahankan, Zayn mengusap pundak Rayyan, memberinya semangat agar Rayyan tak putus asa menjalankan kehidupan ini.
Zayn ikut berjongkok di sebelah Rayyan,dan menaburkan bunga di gundukan yang masih baru.
"Tuan Raka maafkanlah kesalahan ku jika sebelum kau meninggal aku berbuat kasar kepadamu, tapi itu ku lakukan agar kau mau jujur mengatakan segalanya, dan juga aku mewakili Zia meminta maaf, dia tidak membunuhmu aku dan yang lainnya adalah saksi atas kejadian itu dan akan aku cari siapa pembunuh mu, tapi jika putramu.... " melirik kilas Rayyan dan menghembuskan nafas panjang sebelum dia melanjutkan pembicaraan nya.
"Tapi jika Rayyan selalu mengira bahwa Zia pelakunya maka aku tidak akan membiarkan itu, karena faktanya bukan Zia pelakunya." terang Zayn dia pun bangkit dari jongkok nya dan beranjak pergi, namun sebelum dia pergi, dia mengatakan sesuatu pada Rayyan.
"Ikhlaskan dia pergi, jangan bersedih aku yakin akan ada hikmah di dalam kejadian ini, aku pamit." tanpa menunggu jawaban Rayyan, Zayn pergi meninggalkan Rayyan yang masih di landa dilema karena ucapan Zayn.
"Apa yang dikatakan Zayn apakah semua itu adalah kebenaran? apakah aku salah paham pada Zia? kenapa semuanya jadi seperti ini?. "
"Aaaaakh.... " teriak Rayyan, dia menjambak rambutnya, kemarahannya membuat dia kehilangan orang yang dia cintai sekali lagi.Baru saja dia berbaikan kini malah dia yang membuat situasi kembali merenggang.
"Zia..... Zi.... maafkan aku.... maafkan aku... " lirihnya suaranya seperti tertahan dan sulit sekali untuk Rayyan mengatakannya. Lidahnya terasa kelu saat dia mengingat sikap kasarnya pada Zia, dia sungguh menyesal. Rayyan kembali menagis dia atas gundukan makan Raka, dia menangis sejadi-jadinya, Rayyan yakin pasti dia akan sulit mendapatkan maaf dari Zia lagi, apalagi sikap Zia pada saat Rayyan kasar terhadapnya dia begitu santai dan tenang meski Rayyan membentak nya, Zia hanya membalas dengan tatapan kekecewaan.
Zia sudah sangat kecewa pada Rayyan sehingga dia malas meladeni nya, bahkan ucapan Rayyan sangat menyakiti hatinya karena Rayyan mengatainya lebih rendah dari sampah dan ******, memang status Zia adalah seorang wanita pembunuh,tapi julukan itu sudah menghilang setelah empat tahun lamanya, Zia sudah tak membunuh lagi kemarin dia hanya ingin membuktikan dengan kejujuran Raka dan setelah beres dia akan menyerahkannya pada polisi.
Dan dia juga berencana untuk melepaskan diri dari belenggu dunia hitam, dan keluar dari sana selamanya agar dia bisa menjadi wanita pada umumnya, menjadi wanita yang tak memegang pistol dan tak berurusan dengan yang namanya pemenuhan dan pertumpahan darah.