Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-57



*Perusahaan Alfian Comopany


Hiashi sangat marah karena perusahaan Z'A Company dan perusahaan A'M Company menarik saham dan sekarang perusahaannya sedang dalam ambang kehancuran.


"Apa?!!!!..... kenapa bisa perusahaan itu menarik sahamnya kenapa hah.....!!!!." teriak Hiashi dengan marahnya.


"Maaf tuan mereka bilang perusahaan ini banyak melakukan penggelapan uang dan juga banyak karyawan yang diam-diam korupsi, sekretaris perusahaan dan orang kepercayaan mereka yang mengatakannya jadi mereka menarik kembali sahamnya.Dan surat yang tuan tanda tangani untuk persetujuan adalah Dokumen pengambilan saham tanpa izin jadi mereka bisa leluasa menarik saham mereka. "jelas orang kepercayaan Hiashi yaitu Iqbal.


"Sial berani sekali mereka membohongiku, sekarang kita harus mencari siapa yang mau membantu kita untuk menstabilkan perusahaan jika tidak perusahaan ini akan hancur." Hiashi harus segera mencari seseorang yang mau membeli sahamnya agar nantinya perusahaan nya tak bangkrut.


"Tapi tuan semuanya sudah saya lakukan tapi tak ada yang mau membantu, karena mereka takut jika nantinya perusahaan mereka ikut hancur, sepertinya CEO dari kedua perusahaan itu tak akan membiarkan siapapun membantu kita." Jelas Iqbal dia sudah mendatangi semua perusahaan dia kota itu, namun tak membuahkan hasil.


Zia dan Zayn memang tak akan membiarkan ada yang membantu Hiashi dan itu juga berlaku pada Ilham, dan Ilham juga sudah tak mau membantu Hiashi karena dia sangat kecewa atas perlakukan Hiashi di masa lalu yang tak pernah mau peduli pada anak-anak nya.


"Apa?!!!..... dasar bedebah aku tak akan memafkan kedua CEO itu, lalu apakah kau sudah meminta bantuan pada ayahku?."Hiashi berharap jika Ilham akan membantunya.


"Tidak, tuan Ilham tak mau membantu perusahaan ini."


Mendengar hal itu Hiashi semakin marah dan mengusir Iqbal dari ruangannya.


"Pergilah, aku benci semuanya." Titah nya dan Iqbal pun keluar dari ruangan Hiashi karena tak mau jadi korban atas kemarahan Hiashi.


"Hahhhhh....... Sial kalian semua....!!!." Teriak Hiashi dan terdengar oleh para karyawannya, dia mengusap wajahnya kasar. Semua barang yang ada di meja nya berantakan kini Hiashi sangat frustasi, ruangannya sudah sangat hancur, Hiashi benar-benar marah.


Kini perusahaan Hiashi benar-benar hancur dan dia tak tahu harus bagaimana setelah ini, banyak karyawan yang mengundurkan diri, bahkan Iqbal orang kepercayaan nya meninggalkan nya karena dia juga masih ingin mencari kerja agar bisa menghidupi keluarganya, Hiashi tak bisa memberikan pesangon, karena sudah tak memiliki uang.


Hiashi sangatlah hancur perusahaan yang telah ia bangun dulu dengan bantuan Ilham ayahnya kini hancur di depan matanya.


"hancur semuanya hancur.... perusahaan ku sudah hancur.... aku benci kenyataan ini." Kini Hiashi benar-benar sudah tak memiliki apapun kecuali rumah dan mobilnya.


...----------------...


Di sisi lain Zia dan Zayn tertawa penuh kemenangan satu masalah sudah teratasi, dan kini Zia dan Zayn berencana mengambil rumah Hiashi karena rumah itu sudah menjadi atas nama Zayn.


"Akhirnya berhasil, perusahaan ayah hancur, aku sungguh puas, kini kita tinggal mengambil rumahnya karena itu sudah menjadi milikmu kak." Zia sangat bahagia kehancuran orang yang telah menghancurkan impian bundanya kini telah terbalaskan perlahan.


"Benar kini kita akan mengambil rumah itu, kebahagian milik kita yang sudah di renggut orang-orang serakah." Mereka pun kembali tersenyum devil.


"Kita akan pergi sekarang ke rumah Ayah ayo kita bersiap." Zayn sangat bersemangat karena dengan rencana ini mereka akan memudahkan menangkap Tiara dan menghukum atas semua yang mereka lakukan.


Zia dan Zayn segera menuju kediaman Alfian, dan dia juga membawa Firman pengacara keluarga Alfian sebagai saksi, mereka tak lupa menggunakan topengnya dan sekarang mereka akan membuka kebenarannya di depan Hiashi.


...----------------...


Hiashi akhirnya pulang kerena perusahaan nya sudah hancur, dia sudah tak bisa lagi membuat perusahaan itu berdiri, karena tak ada yang mau membantunya. Dia berjalan keluar dari mobil bahkan dia sudah tak sanggup berjalan setelah mendapat kenyataan pahit, dia berjalan seperti sudah tak memiliki arah.


Dia masuk ke dalam rumah dan di dapatinya Tiara yang baru pulang dari shopping nya. Hiashi semakin kesal Tiara selalu saja menghamburkan uang untuk kepentingan pribadinya. Hiashi mendekat pada Tiara dengan amarah yang sudah di ubun-ubunnya. Tiara melihat Hiashi sudah pulang dari kantor pun sedikit heran karena hari masih siang.


"Ayah kau sudah pulang?." tanyanya dengan masih memegang barang-barang yang baru saja ia beli.


"Iya kenapa kau selalu berfoya-foya hah, kenapa ku tak bisa irit Mah..."sentaknya dan membuat Tiara juga ikut naik pitam.


"Apa maksud ayah, aku adalah istrimu jadi aku bebas bisa menggunakan uangmu untuk apa." Tiara ikut membentak dan membuat Hiashi semakin muak.


"Sekarang aku sudah bangkrut apa kau mengerti hah!!!!.... dan seharusnya kau bisa mengerti keadaan ini." karena sudah sangat muak akhirnya Hiashi berbicara semuanya.


"Apa kau bangkrut?!!!!.... bagaimana bisa, kau sangatlah bodoh Hiashi." Bentuknya dan suaranya semakin meninggi dan berdiri dari duduknya


Plakkkk....


satu tamparan mendarat di pipi Tiara karena Hiashi sudah tak tahan Tiara mengatasinya bodoh.


"Kau mengatai aku bodoh, dasar wanita ular.Dulu Rahil tak pernah melawan ku dan sekarang kau berani." Hiashi semakin naik darah, dulu Rahil tak pernah melawan dan membentak nya.


"Oh.... jadi kau membedakan aku dengan istrimu itu, dia juga sama bodohnya denganmu." Kini Tiara mulai mengejek Rahil. Dan Hiashi sedikit tak terima, karena bagaimanapun Rahil sangat dia cintai.


"Tapi itu kenyataannya dia bahkan tak pernah meminta uang padaku.Namun karena anak itu dia mati." Hiashi mulai mengingat masa lalu bersama Rahil.


"jangan pernah bandingkan aku dengan dia." kesal Tiara karena Hiashi mulai membandingkannya dengan Rahil.


"Tapi memang aku sudah sangat muak dengan mu sekarang juga kemasi barangmu dan pergi dari sini dan jangan lupa bawa putrimu." usir Hiashi karena sudah tak tahan hidup dengan wanita yang suka menghambur kan uang.


"Hahaha.... aku tak salah dengar Hiashi, harusnya kau yang pergi dari sini karena ini sudah menjadi milikku, aku sudah mengatasnamakan rumah ini dengan namaku, jadi kau tak bisa mengusir ku." Ejek Tiara dan membongkar semua kejahatannya sendiri.


"brengsek kau Tiara .... mengapa kau tega melakukan ini hahh.... " umpatnya.


"Itu mudah bagiku... haha.... kau memang bodoh, sejak awal aku memang hanya cinta pada hartamu Hiashi." Ucapnya dengan senyuman liciknya.


Rasyid sudah mengawasi nya dari kejauhan dengan beberapa mafiosonya mereka kesana untuk menangkap Tiara tapi mereka menunggu kedatangan Zia dan Zayn.


"pertunjukkan bagus mereka memang sama-sama bodoh, aku yakin jika King dan Queen mendengar wanita ular itu menghina nyonya Rahil, wanita itu sudah tak akan bisa bernafas dengan tenang." batin Rasyid yang melihat pertengkaran Hiashi dan Tiara.


"Kau dasar wanita ular...... " Haishi semakin marah dan mendorong namun Tiara berhasil menghindar.


"heh... jangan pernah menyentuh ku sekarang kau harus angkat kaki dari sini Hiashi." Tiara memandang rendah Hiashi.


"Mana buktinya jika rumah ini sudah menjadi milikmu." Hiashi masih tak percaya.


Lalu Tiara pergi mengambil sertifikat itu dan memberikannya pada Hiashi, Hiashi membaca dengan teliti, Namun belum selesai Hiashi membaca sertifikat itu dia mendengar suata tepukan tangan.


Prok.... prokk.... prokkk....


"Wah..... wah....sepertinya kami datang tepat waktu." Zia dan Zayn bertepuk tangan melihat keributan di rumah Hiashi.


Tiara dan Haishi menoleh ke arah suara itu dan mereka sama sekali tak mengenal mereka namun yang membuat heran Firman ada di sana.


"Siapa kalian? dan Firman kenapa kau bersama mereka?." tanya Hiashi.


"Oh ayah tak mengenali putra putrinya rupanya sangat miris sekali." Zia sudah tak tahan lagi, Hiashi memang tak pernah berubah.


Tiara hanya diam,dia juga masih sama bingungnya, kenapa tiba-tiba ada orang asing datang ke rumah.


"sebenarnya siapa kalian? jawab aku?." Hiashi semakin kesal karena Zia dan Zayn masih belum membuka topengnya.


"Kau ingin tahu siapa kami." Lalu Zia dan Zayn membuka topengnya. Betapa terkejutnya Hiashi karena sudah lama mereka menghilang, Tiara juga sama terkejutnya


"K.. k.. kalian..... " Hiashi tak bisa berkata apa-apaan lagi seakan-akan lidahnya sangat kelu.


"Kenapa tuan Hiashi, kau terkejut, ini kami yang tak pernah kau anggap.Dan dengan mudahnya kau menuduh Zia membunuh nenek sendiri di umur Zia yang masih belia, apa kau tak pernah berfikir anak kecil bisa membunuh seorang yang sangat mereka sayangi?!..."Zayn menatap benci Hiashi begitu juga Zia.Mereka menatap tajam Hiashi.


Hiashi ingin sekali memeluk Zia dan Zayn dia sangat menyesal karena telah menelantarkan mereka dan menyakiti hati Rahil, dan yang lebih parahnya lagi dia menuduh Zia membunuh Mira ibunya. Namun Zia menghentikannya.


"Berhenti di situ tak usah mendekat, aku muak denganmu." cegah Zia karena dia masih belum bisa memaafkan ayahnya.


Hiashi langsung terdiam setelah Zia mengeluarkan kata kata itu, sungguh sangat menyakitkan rasanya.Anaknya sudah sangat membencinya.


Tiara ingin kabur karena pasti Zia dan Zayn akan menangkapnya dan tak akan memaafkan nya karena telah menghancurkan keluarga nya. Namun Zia menyadari itu dia langsung memberi kode pada Rasyid. Dan benar saja Tiara memang akan melarikan diri, namun Rasyid segera menangkap nya, Tiara sudah berada di tangan Rasyid.


"Lepaskan aku.... lapaskan." Teriak Tiara karena Rasyid sudah berhasil menangkapnya.


"Cihhh.... kau tak akan bisa kabur dari ku jalang, bawa dia ke markas, aku akan selesaikan semuanya yang ada disini." titah Zia dan Rasyid pun membawa Tiara ke markas mafia nya.


"Nak ayah minta maaf pada kalian dan juga bunda kalain ayah sungguh menyesal." Ucap Haishi dengan suara lemah dan dengan sangat menyesal.


"Maafmu sudah tak berlaku ayah, jika saja yang kau sakiti hanya kita, itu akan mudah kita maafkan, tapi ini berbeda karena kau telah menyakiti bunda kami." Zia sudah tak bisa memaafkan Hiashi karena perlakuannya pada Rahil bundanya.


"Iya aku juga sangat malu memiliki ayah yang tega menyakiti perasaan bunda kami, kami sungguh kecewa padamu, kekecewaan ini karena kau sudah membuat hati bunda terluka.Dan kau juga membuat Zia si tuduh membunuh nenek."Zayn memandang tak suka pada ayahnya.Di hatinya sudah sangat kecewa.


"Ayah tahu nak ayah sangat menyesal.... tolong maafkan ayah kumohon." pintanya dengan seribu sesal di hatinya. Kami Zia dan Zayn tak peduli.


"Rumah ini sudah menjadi milik kak Zayn jadi aku harap kau akan angkat kaki dari sini ayah,sertifikat yang kau baca tadi adalah palsu dan yang asli ada pada kami, kami tak mau jika rumah ini jatuh pada wanita ular itu." jelas Zia yang tak mau berlama lama mendengar ocehan ayahnya.


Lalu Firman menjelaskannya secara detail tentang perubahan atas nama rumah itu.


"Jadi kalian yang melakukan semua ini lalu ayah akan tinggal di mana." Haishi bingung dia akan tinggal dimana jika dia harus terusir dari rumahnya.


"kami sudah membelikan rumah kecil untuk ayah, kau bisa tinggal di sana." Zayn masih sangat sayang pada Hiashi dia sangat tak tega jika ayahnya akan tinggal di jalanan.


"Terima kasih, dan aku akan berusaha meminta maaf pada kalian sampai kalian benar-benar memafkan ayah, mungkin ini adalah karma untuk ayah karena tega membuat kalian dan bunda kalian tersiksa, ayah sungguh minta maaf." Haishi masih bersyukur karena anaknya masih peduli meski dia hanya diberi rumah kecil, dan Hiashi akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari kedua anaknya itu.


Zia dan Zayn hanya diam tak memperdulikan omongan Hiashi.Hiashi segera negemasi barangnya dan beranjak pergi, namun sebelum pergi Zia dan Zayn memberikan uang dan Hiashi menerimanya. Haishi akhirnya meninggalkan rumah itu. Zia dan Zayn hanya memandang sendu kepergiaan ayahnya. Sebenarnya di hati mereka masih sangat menyayangi Hiashi namun karena Hiashi dulu sangat meyakiti perasaan Rahil dan itu membuat Zia dan Zayn sangat sulit memaafkan Hiashi.


Hiashi pergi dengan membawa kesedihan dan penyesalan yang mendalam, namun semuanya sudah tak dapat kembali kini dia hidup dalam sebuah penyesalan yang sangat mendalam di hatinya.