
Setelah pembicaraan kemarin, hari ini mereka sudah berada di proyek. Zia dan Dian sudah bersiap untuk memeriksa dan mengoreksi mall yang akan berdiri beberapa bulan lagi. Di temani Brian dan juga Arif mereka mulai mengelilingi area tersebut.
Mandor dari para pekerja tersebut pun menjelaskan dengan detail dan rinci mengenai bangunan tersebut. Setelah hampir setengah jam, akhirnya selesai Zia dan Dian puas dengan apa yang di jelaskan, dan berharap bisa sesuai dengan perincian dalam pembangunan.
"Bri.... buat laporan tentang kinerja yang baru saja di bicarakan dengan mandor." titah Zia, dia sudah puas dengan apa yang di jelaskan oleh mandor tadi.
"Baik nona kalau begitu saya pamit." Brian pun pamit pergi.
Zia berjalan menuju parkiran, dia sudah membuka semua perlengkapan yang dia pakai untuk melindungi diri ketika di proyek. Namun tanpa di sadarinya, tepat di atas kepala Zia ada besi besar yang akan jatuh, dan ternyata Dian melihat hal tersebut dari kejauhan.
Dian yang melihat jika nyawa Zia dalam bahaya, dia segera berlari meninggalkan Arif menuju tempat Zia berdiri. Dia berlari sekuat tenaga agar bisa cepat sampai di sana.
"Zia awas.....!!. " Teriak Dian dari jarak beberapa meter, Zia menoleh kearah Dian dan sebentar lagi besi besar itu akan mengenai tubuh Zia.
dengan gerakan cepat Dian melompat ke arah Zia, dan berhasil menangkap tubuh Zia lalu mendorongnya menjauh dari area berbahaya tersebut. Mereka terlempar bersama sedikit jauh dari bahaya itu.
Trang......
Suara besi besar yang terjatuh menggema di sekitar bangunan, semua yang mendengar hal tersebut langsung berlari ke sumber suara. Brian yang berada di parkiran pun bisa sampai mendengar, dia pun kembali kesana karna takut atasannya terluka.
Dian memeluk erat tubuh Zia, dia tidak mau jika Zia terluka. Mereka terlempar bersama dengan posisi Dian memeluk Zia, Arif yang melihat hal tersebut segera berlari untuk membantu Dian dan juga Zia. Zia membuka matanya dia merasakan pelukan hangat dan nyaman dari tubuh seseorang, dia melihat wajah Dian yang sangat dekat dengannya, namun anehnya mata Dian terpejam.
"Tuan.... nona..." panggil Arif sambil berlari dengan khawatir karena baru saja mereka berdua selamat dari maut. Zia tersadar dan langsung melepas pelukan Dian lalu duduk untuk melihat keadaan Dian yang masih tergeletak.
Zia meringis karena ada luka di tangannya dan juga kakinya akibat terlempar lumayan keras. Sementara Dian sudah tidak sadarkan diri akibat benturan keras di kepala depannya karena dirinya menjatuhkan tubuhnya lebih dulu agar Zia tidak terluka, sehingga mengakibatkan Dian terbentur.
"Dian.... Dian.... bangun." Zia memangku kepala Dian dan menguncang tubuh Dian yang sudah lemah, darah segar mengalir di pelipis nya membuat Zia khawatir.
Arif segera menghubungi ambulance karena keadaan tuannya mengkhawatirkan. Brian juga sudah berada di lokasi kejadian, dia terkejut melihat keadaan nona nya apalagi Dian yang sudah tergeletak.
Arif dan Brian mendekat untuk membantu keduanya. Namun Zia segara menyuruh keduanya untuk membantu Dian terlebih dahulu.
"Bantu Dian terlebih dahulu.... dia yang lebih membutuhkan bantuan, jangan pikirkan aku." ucapnya dengan khawatir, Zia hanya memikirkan keselamatan Dian karena dia sudah terbiasa dengan luka kecil seperti ini.
"Baik nona.... " ucap mereka serempak Arif dan Brian segera memapah tubuh Dian yang sudah tak sadarkan diri. Tepat pada waktunya ambulance datang, para petugas kesehatan segera membantu Dian dan membaringkan nya di brankar dan segera memasukkannya ke dalam mobil.
Arif menyambar kunci mobil dan langsung mengikuti di belakang ambulance. Sementara Brian kembali untuk membantu Zia dan ikut menyusul ke rumah sakit, karena Zia juga terluka namun tidak seserius Dian.
Mereka telah berada di dalam mobil, Zia tampak begitu khawatir karena baru saja dia di selamatkan oleh Dian, dan yang menyelamatkannya malah terluka parah. Di perjalanan menuju rumah sakit, Zia lebih banyak diam meski sedang di landa kekhawatiran luar biasa.
Sampailah Zia dan Brian di rumah sakit, mereka berdua segera menuju ruang UGD. Arif sudah berada di depan ruang UGD sambil berbolak balik. Karena melihat Zia, Arif segera mendekat untuk memastikan keadaan Zia, karena Zia juga terluka.
"Nona anda baik-baik saja kan?." tanya Arif, dan hanya di angguki oleh Zia.
"Lebih baik obati dulu luka anda nona, jika ada perkembangan tentang tuan Dian saya akan segera memberitahu anda." ujar Arif lagi, karena tangan Zia lecet, dia juga tahu jika nona muda tersebut khawatir pada tuan mudanya.
Zia memasuki ruang perawatan bersama dengan Brian. Dia tahu jika Zia pasti tidak akan berbicara pada siapapun saat ini, jadi Brian yang akan berbicara pada dokter yang nantinya akan merawat luka Zia. Dokter serta suster merawat Zia yang belum mau mengeluarkan suaranya, jadi mau tidak mau Brian yang menjelaskan semuanya pada dokter.
"Luka nya tidak parah, saya sudah berikan obat anti biotik agar tidak infeksi." jelas dokter tersebut, karena hanya lecet dan memar jadi tidak ada yang serius.
"Baik dok.... terima kasih, apa boleh pasien di bawa pulang untuk bisa beristirahat di rumah?." tanya Brian, karena Zia pasti tidak akan mau di rawat di rumah sakit.
"Oh boleh, pasien boleh istirahat di rumah, tapi perban harus rutin di ganti dan jangan lupa minum obatnya." tambah dokter lagi, karena tidak ada luka serius jadi Zia boleh di bawa pulang.
"Syukurlah kalau begitu, sekali lagi terima kasih. Kalau begitu saya pamit." Setelah berbicara dengan dokter, Brian menuju ruangan Zia di rawat.
"Nona anda boleh beristirahat di rumah." ucap Brian dengan sedikit ragu.
Bukannya menjawab Zia malah menatap tajam Brian, membuat Brian begidik ngeri dan langsung menundukkan kepalanya.
"Pulanglah duluan, aku akan menunggu di sini sampai ada pemberitahuan Dian." jawabnya dingin. Brian yang dalam situasi tersebut hanya bisa mengangguk.
"B-baik nona kalau itu yang anda inginkan, saya akan melihat keadaan di sana." ucapnya gugup.
"Satu lagi... gantikan aku dalam meeting-meeting penting jangan sampai ada kesalahan dalam pekerjaan apa kamu mengerti!?." Ucapnya lagi, karena dalam masa pembangunan banyak sekali perkerjaan penting yang tidak bisa di tinggalkan.
"Baik nona... saya akan kerjakan dengan sebaik mungkin, kalau begitu saya pamit. " Brian pun berlalu untuk memastikan keadaan Dian.
Brian pergi ke ruang UGD, Arif masih saja menunggu di depan ruangannya, yang berarti belum ada pemberitahuan tentang Dian. Brian berjalan menuju Arif.
"Bagaimana? apa tuan Dian baik-baik saja?." tanya Brian langsung.
"Belum ada pemberitahuan dokter yang menangninya. Lalu bagaiman dengan nona Zia?."tanya Arif.
"Nona baik-baik saja, lukanya tidak parah."
"Syukurlah kalau begitu."
"Aku akan kembali kesana, jika ada kabar tentang tuan Dian kabari aku."
"Baik....akan aku kabari." Brian pun berlalu, dan langsung memberitahukan pada Zia, setelahnya dia langsung pergi ke proyek, karena banyak sekali pekerjaan.
Setelah Brian pergi, Zia masih terdiam sambil memikirkan keadaan Dian, dia takut akan terjadi hal buruk padanya. Apalagi Dian telah menyelamatkan nya, entah kenapa dia sangat takut jika Dian pergi seperti Alvaro dulu, Zia merasakan jika dia tidak mau kehilangan dirinya.
"Ada apa dengan perasaan ini?.... kenapa aku merasakan kekhawatiran yang sangat berlebih padanya, aku merasa tidak mau kehilangan dia... ada apa? kenapa jadi seperti ini?." batinnya tidak bisa tenang dengan berbagai pertanyaan yang sekarang ia rasakan.
Zia terus berbicara dalam hati, hingga dia pergi untuk memastikan sendiri keadaan Dian, karena perasaan ini semakin di obrak-abrik seperti angin ****** beliung yang menghancurkan semua yang di laluinya. Zia hanya belum sadar akan perasaannya terhadap Dian, namun semakin lama, perasaannya menjadi lebih besar dan kuat.