
Arif memberi informasi penting kepada Dian, bahwa pelakunya sudah di tangkap oleh Zayn dan Rayuan dan kini pelaku pembunuhan Raka sudah berada di markas mafia Zia dan Zayn.
"Bagaimana?." tanya Dian tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop nya.
"Pelaku pembunuh sudah di tangkap oleh tuan Zayn, jadi saya tak bisa ikut campur tuan. " jelasnya karena Arif sudah melihat jika pelkuanya sudah tertangkap.
"Baiklah jika itu sudah di urus oleh Zayn, maka aku tinggal mengurus Rayyan yang telah menyakiti Zia."
"Di mana Zia sekarang? apa keadaan dia sudah membaik?. " tanya Dian, karena beberapa hari ini pekerjaan nya sangatlah menumpuk, jadi dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Anda tak perlu khawatir, keadaan nona Zia berangsur membaik, dokter Angga mengatakan penyembuhan nona Zia sangat cepat." Arif menjelaskan panjang lebar, sampai dia bertanya langsung kepada Angga tentang keadaan Zia.
"Syukurlah, lalu siapa yang menjaganya?. " Dian sedang tidak bisa mengawasi Zia, oleh karenanya dia menyuruh Arif untuk mengirimkan mata-mata untuk Zia.
"Ada tuan Ilham, kakek nona Zia dan juga ayahnya mereka sedang berada di sini untuk beberapa bulan ke depan, sampai nona Zia pulih."
"Baiklah kalau begitu, tetap awasi dia dari jauh."
"Baik tuan kalau begitu saya permisi." pamitnya dan di angguki Dian.
...----------------...
Ilham mengajak Zia sesuai yang di katakan dia kemarin, dia mengajaknya ke sebuah paviliun keluarga Alfian yang Zia dan Zayn tak ketahui, namun Ilham hanya mengajak Zia karena Zayn harus terus berada di sisi Nancy, sedangakan Hiashi ada rapat penting jadi mereka hanya berangkat berdua.
Senang rasanya bisa pergi bersama kakeknya, karena sudah lama Zia tak pergi bersama keluarganya, karena kesibukannya di kantor, jangankan bersama keluarga bersama teman pun Zia tak pernah pergi. Zia belum bertemu lagi dengan sahabat lamanya.
"Apa paviliun itu sangat indah kek?. " tanya Zia yang tak sabar ingin melihat paviliun milik keluarga besarnya.
"Kamu pasti menyukainya sayang." jawabnya dengan masih fokus menyetir.
Mereka mengobrol sambil sesekali tertawa bersama, Ilham bahagia melihat Zia sudah sehat, dan berharap Zia akan baik-baik saja serta berharap akan ada laki-laki yang mencintainya dengan tulus dan tak akan membuat cucu kesayangannya bersedih.
Sampailah mereka di pelataran luas paviliun, paviliun itu di kelilingi oleh taman yang tertata sangat indah dan banyak di hiasi oleh bungan sedap malam, tidak hanya bungan itu banyak bunga lain yang bertebaran indah di setiap sudut taman. Seperti bungan mawar dengan berbagai warna, anggrek dan banyak pohon akasia tumbuh di sana, bunga berwarna-warni menghiasi taman hijau tersebut.
"Wah indah sekali paviliun nya, lihatlah pemandangan taman yang sangat menyegarkan mata, dan udara segar yang alami." takjub Zia melihat betapa banyak bunga yang sudah tertanam rapih dengan berbagai warna, dan itu sangat memanjakan matanya.
"Ini adalah paviliun kesukaan nenekmu, dia selalu datang kesini dan merawat bunga yang ada di taman, nenekmu sangat pintar dalam merawat tanaman." jelas Ilham mengingat kenangan indah bersama istrinya.
"Ayo masuk, kamu pasti akan menyukai paviliun ini." Ajaknya, mereka memasuki paviliun bernuansa klasik, namun berpadu dengan modern membuat bangunan tersebut terlihat elegan dengan perpaduan warna silver dan emas.
Zia memandang takjub bangunan tersebut, dia baru pertama kali melihat bangunan dengan arsitektur yang tak bisa di jelaskan secara rinci.
"Paviliun ini di bangun dengan arsitektur langka yang jarang di miliki oleh bangunan pada umumnya, karena kakek membangun khusus untuk keluarga besar Alfian. Zia manggut-manggut mengerti dengan ucapan kakeknya.
"Pantas saja terlihat asing di mata ku, bahkan sama lo sejauh ini aku baru menemukan paviliun seindah ini." puji nya dengan masih meneliti setiap sudut paviliun tersebut.
Ilham hanya tersenyum dengan rekasi Zia yang sangat senang melihat paviliun keluarga besar mereka. Mereka memasuki ruangan keluarga dan banyak sekali foto keluarga yang di ambil, membuat Zia tak bisa berkata apapun.
"Ini adalah ruang keluarga, disini kami selalu berkumpul bersama berbagi kebahagiaan. " Ilham menyentuh bingkai foto yang terdapat wajah cantik istrinya.
Zia juga melihat foto keluarganya, dia melihat foto ayah dan bundanya bersama dengan Zayn, dia belum ada di situ, karena Zia belum di lahirkan dia melihat foto bundanya yang sedang hamil besar, yang dia yakini bahwa dirinya masih di dalam kandungan.
"Itu waktu bundamu hamil lima bulan kamu, dia sangat bahagia hamil anak ke dua, Rahil juga berharap dia akan melahirkan seorang putri yang cantik." jelas Ilham, dia mengingat jelas menantu kesayangannya yang sangat mendambakan seorang putri cantik.
Zia terharu dengan penjelasan sang kakek, dia bahkan tak tahu jika bundanya sangat mendambakan nya. Zia mengusap foto itu dengan mata berkaca-kaca, sungguh dia merindukan bundanya sedari bayi dia tak pernah bertemu dengannya. Ilham mengelus punggung Zia lembut, dia tahu apa yang di rasakan cucunya.
"Dia pasti bangga kepadamu nak... bundamu pasti selalu mengawasimu, kamu adalah putri kebanggan nya." ucapnya membuat Zia tak kuasa menahan air matanya. Menetes sudah air matanya membasahi pipinya, Zia langsung memeluk Ilham erat seakan memberitahukan jika dia merindukan sosok bundanya.
"Menangislah jika itu di perlukan, maafkan kakek yang tak bisa menjaga bundamu, maafkan kakek juga pernah menyakiti perasaanmu dulu." Ilham membalas pelukan Zia, hatinya sakit mengingat pernah menyakiti perasaan kedua cucunya.
Tangis Zia semakin menjadi dia tergugu dalam tangisnya, dia ingin sekali meluapkan tangisnya, dia butuh sandaran untuk bisa mengungkapkan betapa rindunya dia dengan sosok ibu, tapi Zia berusaha untuk kuat, meski hatinya bergejolak ingin menjerit sekeras-kerasnya.
Tanpa terasa Ilham ikut menitikkan air matanya, dia tak sanggup mendengar tangan Zia yang pilu, membuat hatinya ikut bergetar. Betapa hancur hati seorang anak jika dia belum pernah melihat dan merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu. Dan itu yang di rasakan Zia saat ini, kerinduan yang amat besar yang tak pernah dia ungkapkan dan selalu dia sembunyikan, itu semua dia lakukan agar Zayn dan yang lainnya tidak mengkhawatirkan nya.
Setelah lega menangis dalam pelukan kakeknya, Zia melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. Zia tersenyum kepada Ilham seakan baru bertemu dengan yang dia rindukan.
"Terima kasih kek.... berkatmu kenangan indah ini tidak hilang, aku juga akan ikut merawat semua yang ada di paviliun ini, karena ini adalah kenangan yang sangat berarti." ucapnya Zia juga akan menjaga paviliun milik keluarga besarnya dengan sepenuh hatinya.
Ilham bahagia mendengar penuturan Zia, dia menjadi tidak khawatir kenangan indah keluarganya akan hilang, karena cucunya akan menjaganya dengan baik. Dia pernah berfikir jika paviliun ini tak akan ada yang mengurus, namun semuanya sirna setelah Zia mengatakan semua itu, hatinya merasa lega.
"Terima kasih mau merawat paviliun ini dengan baik, kakek merasa lega mendengarnya." Zia tersenyum tulus dia juga merasa bahagia bisa merawat paviliun kebanggaan keluarga besarnya.
Mereka berdua berkeliling melihat semua keindahan paviliun, Zia tak hentinya memuji keindahan bangunan itu, mereka sesekali berbicara tentang kenangan masa lalu, dan kenangan menyakitkan yang di alami Zia dan Zayn. Begitu juga Ilham yang menceritakan masa lalu mereka.