Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-141



Semenjak lamaran, Zia dan Dian semakin dekat, rasa cinta dan sayang Dian semakin besar. Zia juga sama sedikit demi sedikit cinta itu mulai tumbuh, dia mulai tahu sifat dan karakter Dian, begitu juga dengan Zia.


Hari demi hari mereka jalani dengan bahagia, sambil mempersiapkan segala hal, karena hari pernikahan sudah semakin dekat, Dian sudah mengatur semuanya, dari mulai tempat dekorasi dan lain sebagainya. Sementara Zia sedang mendesain gaun nikahnya dan juga milik Dian, dia dibantu oleh Raina sebagai desainer.


Zia meminta warna putih untuk gaun pernikahannya, karena Zia ingin pernikahannya penuh dengan kesucian dan keberkahan, dia ingin pernikahan ini langgeng dan harmonis sampai ajal yang memisahkan mereka.


Dia juga meminta Raina membiarkan gaun tersebut dengan desain yang diinginkan Zia, dia ingin menggambarkan hal unik dalam gaunnya, dengan campuran silver untuk tambahan pada gaun. Zia mendesain dengan gambar yang sangat indah, dan bahkan belum pernah ada yang memakai desain tersebut, karena Zia ingin gaunnya berbeda dari pengantin perempuan lainnya.


Desain unik yang membuat siapa saja terpana, Zia menggambar sebuah motif bunga gardenia di gaunnya, dia meminta Raina untuk membuat motif bunga pilihannya ini, bunga gardenia adalah bunga berwarna putih dengan memiliki aroma yang menyegarkan, Zia pernah menanamnya di villa, dan artinya sangat mendalam Zia sangat menyukai bunga tersebut.


Arti dari bunga gardenia adalah cinta tulus yang tidak pernah padam, Zia akhirnya menyadari jika Dian sangat tulus padanya, bahkan mau berusaha mengambil hatinya, dan Zia juga akan memberikan ketulusan cintanya kepada Dian.


"Zi lihat indah sekali." puji Raina ketika melihat gaun yang di desain Zia sangat indah. Motif bunga gardenia berwarna putih, Raina menambahkan benang silver di motif tersebut agar terlihat hidup, tak lupa dengan bahan yang premium dan kualitas terbaik, begitu juga dengan benang yang dia pakai. Zia memilih model dengan konsep kebaya, jadi ada unsur tradisional berpadu dengan modern, karena dia menyukai keduanya.


"Benar Rain indah aku sangat menyukainya, aku tidak sabar semua motif bunga gardenia ini selesai, begitu juga dengan gaunnya." Zia sudah tidak sabar melihat gaun hasil desainannya selesai.


"Sebentar lagi ini akan beres Zi.... pasti semua akan terkesima dengan gaun indah ini." Raina juga senang melihat desain gaun milik Zia yang indah.


Zia tersenyum manis, sudah lama Raina tidak melihat senyum manis tersebut, dan pada hari ini akhirnya Zia bisa tersenyum kembali. Hubungan bersama Rayyan memang tidak membuat bahagia Zia, tapi Raina berharap Dian bisa membuat sahabat nya ini selalu bahagia, meski memiliki masa lalu kelam.


"Rain... aku harus pergi sekarang, masih ada yang harus aku urus, nanti jika sudah beres kabari aku ok." Zia juga masih harus menyiapkan hal lain, meski sudah di bantu oleh bawahannya, tapi dia juga harus memantau dengan teliti.


"Beres, ya sudah selesaikan dulu pekerjaan mu, nanti aku kabari lagi."


"Ok aku pergi dulu." Zia pun beranjak dari butik menuju tempat pembuatan souvenir dan juga undangan, karena Zia tidak mau ada yang salah dalam hal ini, semua harus diatur sebaik mungkin.


Zia sudah menyiapkan undangan untuk kerabat dan orang penting, begitu juga dengan para sahabatnya, dia juga bantu mengurus undangan milik Dian, karena Dian sedang sibuk mengurus perusahaan. Tapi Dian juga sudah membantu menyiapkan dekorasi dan pengeluaran biaya semua yang di butuhkan, sedangkan masalah undangan dan souvenir dia meminta untuk Zia yang mengatur, karena agar lebih tertata dan teratur.


Dian dan Zia memilih souvenir yang indah untuk para tamu undangan, mereka juga memiliki barang yang kualitasnya terbaik. Zia sudah sampai di tempat pembuatan undangan, dia di sambut dengan baik, Zia memilih undangan berwarna silver berpadu dengan warna merah dan juga sedikit motif semanggi berdaun empat yang di beri warna gold, agar kehidupan mereka selalu di penuhi dengan keberuntungan yang baik.


Zia senang dengan undangan miliknya, begitu anggun dan memukau, dan sebentar lagi undangan tersebut akan selesai mungkin sekitar tiga sampai empat hari lagi.


"Akhirnya hampir beres, kini aku bisa tenang." Zia bernafas lega, dia tinggal menunggu undangannya di antarkan ke kediamannya. Zia beranjak pergi karena semuanya sudah dia periksa dengan benar dan teliti. Karena semuanya sudah hampir beres Zia memutuskan pulang karena dia juga sudah lelah.


Zia memarkirkan mobilnya, dia juga sudah lelah seharian mengurus persiapan pernikahan yang akan berlangsung sebentar lagi. Zia memasuki villa dan belum menyadari adanya Dian, dia berjalan santai melewati ruang tamu, yang ternyata Dian menunggu di ruang tersebut.


"Zi.... " panggil Dian dengan suara lembutnya, membuat Zia langsung menoleh seketika. Dia terkejut melihat calon suaminya yang sudah berada di villanya.


"Sayang...... "reflek Zia, dia berlari menuju Dian, dia sangat merindukan calonnya itu, sudah satu minggu mereka belum bertemu. Zia langsung memeluk tubuh kokoh Dian, dia merindukan semua yang ada pada Dian, Zia memeluk erat, dia tak ingin untuk melepasnya.


"Aku rindu sayang, sangat rindu." bisik Zia, di pelukan Dian. Dian mengusap lembut kepala Zia, dan tersenyum manis dia tahu hal ini akan terjadi.


"Iya sayang apalagi aku, aku lebih merindukan mu." Ucap Dian, mereka sama-sama memendam kerinduan. Zia melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan Dian, dia tersenyum melihat seseorang yang dia rindu.


"Kenapa kamu ada disini? bukanya kantor sedang sibuk?." tanya Zia.


"Sudah hampir beres, sebentar lagi akan kembali normal." Zia mengangguk mengerti.


"Syukurlah kalau memang akan kembali normal, karena beberapa hari ini sangat sibuk." akhirnya kesibukan calon suaminya hampir selesai, dan kembali seperti biasa.


"Iya makanya aku langsung kemari, karena ingin sekali bertemu denganmu, kita akan habiskan waktu bersama sebelum pernikahan tiba." Dian ingin sebelum menikah, dia ingin bersama dengan Zia, apalagi mereka belum mengambil foto prewedding, rencananya mereka akan melakukannya pekan ini. Di tambah jika seminggu sudah mendekati hari pernikahan mereka di larang bertemu dulu, dan itu yang membuat keduanya berat.


"Iya sayang aku pun sama seperti itu." Zia juga berfikir hal yang sama.


"Aku ingin makan masakanmu sayang." tiba-tiba saja Zia ingin memakan masakan Dian, sudah lama juga Zia tidak menyantap makanan yang di buat langsung oleh Dian.


"Wah ada yang sedang kelaparan ni... ok ayo kita kedapur, aku akan masakan makanan spesial untuk calon istri ku." ucap Dian dengan manisnya, membuat Zia meleleh, di tambah dengan sentuhan jari di hidungnya.


Dian mengajak Zia ke dapur, dia akan memasakkan makanan spesial untuk calon istri nya. Zia sangat menyukai olahan seafood, jadi Dian membuat udang saus tiram dengan campuran brokoli, dan tak lupa olahan keringnya tempura dengan saus keju.


Sementara Zia menyiapkan minuman kesukaan dia dan juga Dian, dia membuat minuman dingin karena hari sedang panas. Zia membuat smoothie alpukat dengan susu, ini adalah salah satu minuman kesukaan Zia, sementara untuk Dian, dia membuat teh tarik dengan sedikit es karena Dian tidak terlalu menyukai dingin.


Mereka menghabiskan waktu bersama, karena beberapa hari kedepan mereka akan di sibukkan dengan persiapan pernikahan, yang akan di gelar dengan penuh kebahagiaan, mereka ingin acara pernikahan mereka menjadi yang terindah dalam hidup mereka, setelah sekian lama kebahagiaan itu hilang.