
Zia masuk ke ruangannya, dia tak terlambat untuk melakukan rapat dengan perusahaan Adiguna company, dan di wakilkan oleh sekretarisnya.
"Selamat Pagi.... maaf saya terlambat. " ucap Zia dengan dingin dia mendudukan dirinya di kursi kebesaran nya.
"Tak apa presdir kami baru akan mulai." jelas Brian.
"Maaf dimana ceo anda nona?bukannya sekarang adalah pertemuan dengan ceo kalian." tanya Brian karena hari ini adalah khusus pertemuan antara kedua ceo dan tak boleh di wakilkan.
"Anu... maaf, presdir mengalami musibah, beliau baru saja terkena luka tembak saat menuju kemari." jelas Fera, ada perasaan takut saat Zia menataonya dengan tatapan membunuh, bahkan hawa di ruangan itu mendadak dingin.
"Sudah kita mulai saja."Datar Zia, dia tak mau membuang-buang waktu karena masih banyak masalah yang harus dia selesaikan.
"Baik presdir." akhirnya Brian dan juga Nia melanjutkan rapatnya,hingga satu jam selesai sudah rapat mereka dan Zia puas dengan kinerja perusahaan Adiguna company, Zia pun menyetujui kerjasama tersebut.
"Terima kasih atas kerja samanya, presdir.... semoga kerjasama ini berjalan dengan baik." ucap Fera dan menjabat tangan Zia, Zia menerima uluran tangan itu tanpa bicara.
"Sama-sama nona Fera... semoga semuanya berjalan dengan lancar." Ucap Brian dengan tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi."Setelah berjabat tangan Fera pun mengundurkan diri.
"Ya silahkan nona... "Nia pun mengantar keluar.
Kini tinggal Brian dan juga Zia di dalam ruangan itu, karena Zia ingin membicarakan hal penting pada Brian.
"Bagaimana apa kau sudah mengajukan kerja sama dengan perusahaan Alexandra?." tanya Zia, dia memang sengaja ingin bekerja sama dengan perusahaan Alexandra company karena dia curiga, bahwa perusahaan itu yang telah membuat perusahaan nenek dan kakeknya terjatuh.
"Sudah nona.... tapi mereka belum mengadakan pertemuan." jelas Brian.
"Baiklah.... kau handle semua pekerjaan saya... karena ada hal penting yang harus saya lakukan." Zia bangkit dari duduknya dan berlalu pergi tanpa berbicara pada Brian.
"Baik nona.... " jawabnya.
"Kebiasaan sekali dia.... huh untung bos..... " keluhnya dalam hati.
Zia bergegas menuju mobil dan melajukannya menuju markasnya, karena kemarin Arham belum memberitahukan perihal informasi yang sudah Zia tunggu, tak lupa dia menelpon Zayn, yang untung nya sudah menyelesaikan meeting nya. Zayn juga bergegas pergi ke markas menyusul Zia.Zia sudah sampai di depan halaman markasnya, di susul Zayn yang juga sudah memarkirkan mobilnya di depan markasnya.
Mereka memasuki markas dengan sangat anggun dan gagahnya, sudah lama para mafioso tak melihat kakak beradik itu datang bersama, karena yang sering mereka lihat adalah queen mereka,mereka semua menyambut kedatangan king dan queen mereka dengan penuh hormat.
Arham sudah menunggu Zia dan Zayn di ruangan pribadi milik leadernya, Zia dan Zayn memasuki ruangan itu dan mendudukan diri mereka bersebrangan dengan Arham. Zayn masih penasaran sebenarnya apa yang terjadi di markas, karena Zia tak memberitahukan masalahnya.
"Bagaiamana? apa lo udah dapet informasi nya?." tanya Zia to the poin.
"Beres itu mah queen.... informasi nya sudah sangat terbukti, dan saya juga yakin jika memang dia pelaku sebenarnya." jelas Arham dan memberikan berkas informasi yang telah dia dapatkan.
"Heh kalian.... beritahu padaku sebenarnya apa yang terjadi."
"Ohh ternyata king tak mengerti juga? baiklah akan ku beritahu... ini adalah masalah menyangkut kejanggalan meninggalnya nenek dan kakek anda, dan queen menyuruhku menyelidiki semuanya, dan saya sudah mendapatkannya." jelas Arham, Zayn hanya manggut-manggut.
Zia membuka berkas itu dan membacanya dengan teliti, dan pelakunya adalah rekan bisnis kakeknya, dan terakhir sebelum kecelakaan Dimas sedang bersama rekannya itu membicarakan tentang bisnis mereka. Hingga kejadian tak menyangka akhirnya terjadi, dimana Dimas di sekap dan di jadikan sandra.
"Jadi orang ini pelakunya.... " Zayn yang melihat nama pelukan kejahatan itu, merasa tak asing dengan nama penjahatnya.
"Apa lo kenal kak?." tanya Zia yang melihat reaksi Zayn setelah melihat nama pelakunya.
"Iya... gue sangat mengenalnya, dia juga salah satu rekan bisnis gue. Tapi apa lo yakin dengan semua ini Hmm?." tanya Zayn karena setahu dia, rekan bisnis yang ini di kenal dengan kebaikan nya.
"Saya yakin king.... karena saya sudah memeriksanya dengan sedetail mungkin." yakin Arham.
"Baik... kita tak boleh gegabah... dan sementara ini kita awasi saja gerak-geriknya.... semua tugas gue kasih ke lo dan Riska, jangan sampai terlewat sedikit pun tentang hal ini." jelas Zia.
"Dan satu lagi tetap cari bukti kuat lainnya, agar dia cepat mengakuinya." titahnya lagi, sungguh Zia tak akan melepaskan pelakunya pembunuhan nenek dan kakeknya.
"Sepertinya gue juga akan ikut, karena ini menyangkut kematian kakek dan nenek, gue akan pantau dan mencari informasi lebih lewat perusahaan karena pasti gue akan menemukannya." Zayn pun ikut membantu, karena perusahaan Zia belum bekerja sama dengan perusahaan pelakunya pembunuhan.
"Ya itu juga rencana yang tak terlalu buruk, gue percayakan semuanya sama lo berdua, dan dalam seminggu kita akan terus pantau, dan jika sudah jelas, lo langsung tangkap dan bawa dia kesini."
"Siap queen..... semua akan terlaksana sesuai dengan rencana."
"Kita sudahi perbincangan ini..... gue mau balik. " tutup Zia mereka pun menyudahi perbincangan itu.
"Baik queen... " hormat Arham dan meninggalkan ruangan leadernya, dan akan mendiskusikan nya dengan Riska.
Kini tinggallah Zia dan Zayn di ruangan itu, Zia masih terasa canggung jika sedang berdua dengan kakaknya, karena masih mengingat kejadian beberapa tahun lalu, di mana dia yang mengabaikan kakak dan juga semua temannya, dan Zia masih merasa tak enak hati.
"Kita balik, gue mau ngomong sama lo kak... dan gue minta lo hubungin semua teman kita." ucapnya dingin dengan berusaha tenang untuk menutupi kecanggungannya, Zia pun beranjak pergi meninggalkan Zayn, tanpa mendengar jawaban kakaknya itu.
Zayn hanya terkekeh, melihat jika Zia sudah kembali seperti dulu lagi, namun masih sedikit kaku karena mungkin dia sedang berusaha merubah sikap dinginnya yang sudah tertanam keras di hatinya beberapa tahun lalu. Meski kenyataan nya Zia memanglah gadis dingin. Zayn pun ikut menyusul Zia dan tak lupa dia menghubungi semua temannya sesuai keinginan Zia.
Sesampainya di villa Zia memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, Zia masih memikirkan ucapan Rayyan yang sangat menyesali perbuatannya dan yang sudah menjelaskan segala alasannya.Setelah lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya Zia memutuskan akan mencoba memaafkan Rayyan, dan menerima nya kembali.
"Baik gue akan coba maafin lo,gue akan ngerti semua alesan yang lo jelasin kemarin... dan gue akan lihat pembuktian ucapan lo waktu itu... gue akan nerima lo lagi." Zia bermonolog pada dirinya sendiri,dia sudah memutuskan untuk memaafkan Rayyan dan mencoba menerima nya kembali.
Zia pun turun ke bawah untuk menyiapkan masakan dan hidangan,karena malam ini akan ada pertemuan dengan temannya. Zia akan meminta maaf pada mereka semua,atas perlakuannya selama ini, dia sungguh merasa bersalah telah menjadikan temannya sebagai orang asing. Dan dia akan mencoba menjadi Zia yang seperti dulu lagi, meski ada sedikit perubahan dalam dirinya nanti.