
Seminggu kemudian......
Pagi ini matahari tak tampak, karena langit mendung menutupi sinarnya.Zia bangkit dari tidurnya karena ada yang mengetuk pintu kamarnya, Zia membuka pintu dan melihat ternyata seorang pelayan.
"Ada apa bi.... " tanya Zia dengan masih mengucek matanya.
"Maaf non.... ada tuan Rayyan, dia sudah menunggu nona di bawah." jelasnya.
"Baik katakan saya akan segera turun."pelayan itu pun berlalu dari depan kamar Zia.
Zia buru-buru membersihkan dirinya dan segera bersiap, untuk menemui Rayyan, setengah jam kemudian Zia sudah rapih dengan pakaian kasual nya, Zia menuruni tangga dan matanya menangkap sosok Rayyan yang menunggunya di ruang tamu.
"Rayyan.... maaf membuatmu menunggu." tuturnya dan tersenyum kepada Rayyan.
"Eh...Zi gak kok, yuk kita berangkat." ajak Rayyan, hari ini mereka akan pergi berjalan-jalan untuk menghilangkan kepenatan.
"Yuk...." semangat Zia, mereka pun pergi menggunakan mobil milik Rayyan. Di sepanjang jalan mereka berbicara sambil bercanda. Sampai tak terasa mereka sampai di bioskop rencananya hari ini mereka akan menonton film baru.
"Kamu tunggu sini ok, aku mau beli tiket sama cemilannya." Rayyan pun pergi untuk membeli tiket dan cemilan untuk mereka nonton. Kini Zia dan Rayyan sudah mulai membiasakan memanggil aku dan kamu.
Setelah membeli tiket dan cemilan mereka pun memasuki bioskop yang sudah ramai pengunjung dan banyak pasangan yang juga ingin menonton film romantis, sebenarnya Zia tak terlalu menyukai film romantis, tapi karena Rayyan terus mendesaknya mau tak mau Zia akhirnya menyetujui.Layar besar di bioskop mulai menyala dan memulai filmnya.
Adegan romantis berkali-kali muncul, dan tanpa sengaja Rayyan menggenggam erat tangan Zia, seakan tak mau melepaskannya. Setelah satu jam film pun berakhir, Zia dan Rayyan keluar dari bioskop.
"Sekarang kita kemana lagi?." tanya Rayyan.
"Gimana kalau kita makan, aku sangat lapar. " pinta Zia, Rayyan pun menggandeng tangan Zia dan masuk ke sebuah restoran. Mereka memilih kursi dan duduk bersebrangan.
Rayyan nampak memperhatikan Zia tanpa berkedip, ingin dia menyatakan perasaannya pada Zia, namun dia masih belum menyatakannya.
"Apa aku katakan sekarang? aku tak mau terus menggantungkan perasaanku padanya. Baiklah setelah makan aku akan membawa dia ke suatu tempat dan akan ku katakan semua perasaanku padanya." batin Rayyan tanpa mengalihkan pandangannya pada wanita yang ada di sebrang nya.
"Ekhemm." dehem Zia melihat Rayyan melamun.
"Eehh... maaf Zi.... aku lagi gak fokus."ucapnya sedikit gugup.
"Emang lagi mikirin apa?." tanya Zia menatap Rayyan.
"Gak mikirin apa-apa kok."singkat nya, Zia pun hanya mengangguk.
Mereka memang baru bertemu, karena seminggu ini mereka memiliki kesibukan masing-masing, sehingga mereka jarang bertemu, Zia pun mulai membangun benteng pertahanan setelah tahu jika Rayyan adalah putra dari Raja, anak dari ayah yang telah membunuh kakeknya dengan cara licik, hanya demi menghancurkan bisnis seseorang.
Zia sedikit demi sedikit melangkah mundur dan menghapus nama Rayyan di hatinya, yang kini sudah sangat bertahta di dalamnya, Rayyan pasti akan sangat kecewa padanya karena dia berencana akan menangkap Raka. Arham dan Riska juga masih mencari keberadaan Raka, Putra tak mau mengaku, karena dia adalah orang yang sangat setia pada tuannya, sekarang Riska dan Arham sedang mendiamkan dia, karena luka di sekujur tubuhnya akibat ulah mereka berdua, karena Putra tak mau bicara.Namun mereka tak khawatir karena Arham dan Riska sudah mendapat bukti yang sangat kuat, mereka selama satu minggu mengorek semua kebusukan Raka dan Putra.
Makanan sudah tersaji rapih di atas meja, mereka pun makan sambal sesekali bersenda gurau, ada rasa bersalah di hati Zia, ingin rasanya dia memaafkan segalanya, segala kesalahan ayah Rayyan pada keluarganya, namun itu sulit untuk Zia dan Zayn, karena Dimas dan Fitri adalah kesayangan mereka, Zia dan Zayn bisa saja ikhlas jika itu sebuah kecelakaan, tapi tak bisa di pungkiri jika kenyataannya adalah sebuah kesengajaan, maka akan sangat sulit untuk Zia dan Zayn terima.
"Selesai makan, aku mau mengajak kamu ke suatu tempat."
"Memang kita mau kemana?."
"Sudah ikut saja, aku punya kejutan untuk mu." Zia pun menyetujui ajakan Rayyan, Rayyan meluncurkan mobilnya menuju sebuah taman dengan suasana sepi, tak ada satu orang pun sana.
"Kita dimana Rayyan?." tanya Zia karena dia baru pertama kali melihat taman itu, meski sepi tapi pemandangannya sangatlah menyejukkan mata.
"Zi..... " panggil Rayyan, dia menggenggam erat kedua tangan Zia. Zia menjadi bingung, namun perasaan buruk tiba-tiba menjalar di hatinya.
"Apa ini..... Rayyan menyatakan cinta nya padaku...bagaimana aku menjawab nya.... aku sedang ingin menjauh darinya, tapi kenapa malah jadi seperti ini? oh Tuhan bantu aku..... " batinnya Zia tak tahu akan menjawab apa.
"Rayyan..... aku.... " ucapnya ragu, membuat Rayyan menjadi tak karuan.
Belum Rayyan menjawab ponsel Zia berdering tertanda panggilan masuk, Zia segera melepas tangan Rayyan yang menggenggam tangannya.
"Maaf Rayyan, ada yang menelpon ku, sebentar." Zia pergi untuk mengangkat teleponnya.Rayyan sedikit kecewa, padahal sebentar lagi dia akan bersama dengan Zia, tapi telepon itu mengganggu rencananya.
"Semoga Zia mau menerimaku, tapi ada yang aneh pada dirinya, seminggu ini seakan dia selalu menghindari aku?sebenarnya apa yang terjadi padanya?." Gumamnya, belakangan ini Zia bersikap aneh, seakan membangun benteng untuk menjauhinya, namun Rayyan selalu berfikir positif.
Namun Zia semakin lama semakin menjauhinya secara terang-terangan, terbukti setiap kali Rayyan mengajaknya pergi, pasti Zia selalu menolak dengan berbagai alasan, dan hanya hari ini Rayyan bisa mengajak Zia keluar, walaupun tadinya Zia sempat menolak, namun karena Rayyan memaksa akhirnya Zia pun mau ikut dengannya.
Meski Zia bersikap biasa saja, tapi tetap saja Rayyan dapat melihat bahwa Zia benar menjauhinya.
"Iya katakan." ucapnya to the poin.
"Nona segara datanglah ke markas, kami sudah menangkap tuan Raka, dan sekarang dia sudah ada di markas." jelas Arham.
"Ok jangan kau apa-apakan dia, aku akan segara kesana." Zia langsung menurun sambungan telepon seperti biasanya.
Zia menemui Rayyan dengan sangat tergesa-gesa, berharap Rayyan tak curiga, Zia tersenyum ke arah Rayyan, Rayyan pun membalas senyuman Zia.
"Yan.... maaf ya...aku ada perlu, akan ada meeting penting yang tak bisa aku wakilkan." bohongnya.
"Ah baiklah Zi.... nanti kita ngobrol lagi." ucapnya dengan nada kecewanya.
"Ya sudah aku pergi ya... bye Rayyan...." Zia melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Rayyan dengan beribu pertanyaan.
"Aku harus ikutin dia.... aku harus tahu apa yang di lakukannya belakangan ini." Rayyan pun memutuskan untuk mengikuti Zia.
Ternyata ada yang mengawasi keduanya, tangannya menggenggam menahan amarah, matanya sudah menyiratkan kemarahan.
"Kau tak akan ku biarkan mendapatkan Zia.... dia hanya akan menjadi milikku." tekadnya untuk tak membiarkan Zia jatuh ke tangan pria lain.
Zia bergegas menuju villa untuk mengganti pakaian dan juga mengambil mobilnya, setelah selesai bersiap Zia pun meluncur menuju markasnya, Rayyan masih mengikuti Zia, tanpa Zia sadari karena Zia sedang tergesa-gesa.Rayyan menyadari jika ini bukanlah jalan menuju perusahaan melainkan jalan menuju markas Zia.
"Bukankah ini adalah jalan menuju markas? kenapa dia membohongiku? sebenarnya ada apa Zia?." Pikirannya bertanya-tanya.
Sesampainya di markas, Zia segera turun dan berlari ke dalam, sedangkan Rayyan memarkirkan mobilnya jauh dari markas, karena Rayyan tahu jika keamanan markas Zia dan Zayn sangatlah ketat. Rayyan berjalan mengendap lewat samping kanan markas, agar tak di ketahui oleh siapapun.
Zia masuk keruangan sandra,Zayn pun sudah berada di sana, dengan Arham dan juga Riska. Raka dan Putra sudah diikat bersebelahan namun masih belum sadarkan diri. Rayyan masih mencari cara agar bisa melihat keadaan di dalam markas, karena dia sangat penasaran.
Byuuurrrr.......
Arham menyiramkan air tepat di wajah Raka dan Putra, sehingga mereka berdua terbangun. Ada ketakutan di wajah Raka, namun tidak dengan Putra, karena dia sudah biasa berhadapan dengan para mafia. Zia dan Zayn masih menggunakan topengnya.
"Selamat datang tuan Raka.... " ucap Zayn dingin.
"Siapa kalian?.... mau apa kalian...? " ucapanya dengan bibir gemetar.Raka tak mengenali mereka karena mereka menggunakan topeng seperti biasa.
Rayyan yang sudah mendapatkan celah untuk mengintip, dan ternyata jendela tempat dia mengintip berpapasan dengan ruangan sandra, sehingga Rayyan dapat melihat jelas apa yang sedang mereka lakukan. Dan betapa terkejutnya ketika di dapatinya adalah ayah dan juga orang kepercayaan ayahanya yang sedang di sandra oleh Zia dan Zayn.
"Ayah...... "