
Flashback On
Selesai Varo menyanyikan lagu semua bertepuk tangan meriah, lagunya sungguh sangat nenyentuh, Varo turun dari panggung dan menghampiri Raina.
"Sungguh indah Varo lagumu." puji Raina mendengar Varo menyanyi membuatnya takjub, karena ini pertama kalinya bagi Raina.
"Terima kasih Rain." singkat Varo.
Malam ini sebenarnya Varo melihat Zia hanya seorang diri tanpa patner karena Rayyan tak hadir di acara promnight dengan alasan yang sama seperti siang tadi, ingin rasanya dia menjadi pasangan Zia namun dia urungkan niatnya. Mereka pun kembali ke tempat duduk, namun sebelum itu Raina melihat wajah Varo yang pucat.
"Ro.... lo gak papa kan? wajah lo kok pucet sih? apa lo sakit?." tanya Raina bertubi-tubi, Varo pun menyadari jika dirinya memang sedang tak enak badan, sejak siang tadi kepalanya pusing namun dia masih bisa menahan sakit di kepalanya.
"Gue gak papa kok Rain." jawabnya, namun tiba-tiba saja darah keluar dari hidungnya, Raina yang melihat itu menjadi panik. Varo memegangi hidungnya yang keluar darah, dia mencoba menghentikan darah yang keluar dengan tisu.
"Ro hidung lo berdarah... apa sebaiknya kita pulang? aku akan mengantarkanmu."tawar Raina, karena sepertinya penyakit Varo kambuh.
"Ya seperti nya gue harus pulang ... maksih udah mau anter gue, maaf selalu merepotkan mu." Varo tak enak hati pada Raina, karena Varo selalu saja meminta bantuan pada gadis itu, yang bahkan baru dia kenal beberpa bulan lalu.
"Ya elahh.... kita kan sekarang udah jadi teman dekat, gue juga gak kerepotan kok, santai aja.. " jelas Raina enteng, dia merasa keberatan dengan menolong Varo malah dia senang bisa berguna bagi orang lain.
Varo hanya tersenyum dia hanya tak menyangka masih ada orang yang baik dan tulus seperti Raina di dunia ini, Varo bersyukur karena mendapat teman sebaik Raina. Tapi dia tak akan bisa bersama Raina dan juga bersama yang lainnya karena penyakitnyalah yang membuat dia tak lama lagi bertahan hidup.
Akhir-akhir ini Varo sering bolak-balik ke rumah sakit karena penyakitnya semakin hari semakin parah bahkan dokter memvonis umurnya tak akan lama, karena tak ada pendonor yang cocok dengan tulang sum-sumnya, jadi Varo hanya bisa pasrah jika umurnya hanya sampai sini, maka Varo akan ikhlas menjalaninya.
"Ya udah ayo." Raina lalu mengantar Varo pulang ke rumahnya, namun di tengah jalan Varo memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri dan sangat menyakitkan.
"Ro lo gak papa kan?." panik Raina melihat keadaan Varo yang memegangi kepalanya sambil meringis menahan sakit, darah di hidungnya pun masih belum berhenti.
"G...gue gak papa Rain." Ucapnya dengan gagap dengan masih memegangi kepada dengan satu tangan dan tangan satunya berusaha agar darah di hidungnya berhenti.
"Lo udah gak baik-baik aja Ro, gue akan antar lo ke rumah sakit sekarang." Raina pun segra melajukan mobilnya dan beralih mengarah pada rumah sakit, Raina tak jadi mengantar Varo kerumahnya, karena keadaan Varo tak memungkinkan.
Varo hanya diam tak menjawab Raina dia sudah tak kuat, sakitnya sudah menjalar ke seluruh tubuhnya, bahkan dia sudah tak sanggup menjawab Raina. Raina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,dia sangat khawatir akan keadaan Varo. Selang beberapa menit sampailah Raina di depan rumah sakit yang biasa di gunakan Varo cek up, dia sudah memiliki dokter kanker yang menangani dirinya. Raina memapah tubuh Varo yang sudah hampir tak sadarkan diri, dia memasuki rumah sakit itu.
"Suster tolong.... tolong teman saya....dia butuh bantuan." teriak Raina kepada petugas rumah sakit.Raina terus berteriak memanggil karena belum ada perawat yang datang. Hingga beberapa saat kemudian perawat datang dengan membawa brankar, lalu menidurkan tubuh Varo yang sudah tak sadarkan diri di atas brankar.
Perawat itu membawa Varo je ruangan ICU, dan menyuruh Raina menunggu di luar karena jika dia masuk akan mengganggu konsentrasi.Raina menunggu di luar ruangan dengan perasaan yang campur aduk, lalu dia menghubungi pihak keluarga Varo agar datang ke rumah sakit karena keadaan Varo tak baik, Raina tak menghubungi teman-teman Varo karena mereka pasti sedang menikmati acara promnight. Setelah menelpon Raina kembali duduk sambil melantunkan doa agar Varo baik-baik saja.
Beberpa menit kemudian daddy dan mommy Varo datang terpongoh-pongoh, dan mendapati Raina di luar ruangan Varo.Perasaan takut menjalar di hati Dita, dia takut kehilangan putra semata wayangnya.
"Nak apa yang terjadi pada Varo?." tanya Dita yang ingin tahu apa yang terjadi pada Varo. Raina pun menceritakan semuanya pada mommy Varo, terlihat gurat sedih di wajahnya.
Dita terduduk lemas,dia ta sanggup jika harus kehilangan Varo putra kesayangannya,ayah Varo pun ikut duduk di dekat Dita lalu memeluk Dita untuk memberinya kekuatan Haidar tahu jika istrinya rapuh, mengingat bahwa Dita sangat menyanyangi Varo putranya.
"Aku tahu kau kuat..... percayalah tidak akan terjadi apapun pada putra kita."Haidar mencoba menenangkan Dita.
"Tapi aku tak sanggup..... "Dita tak meneruskan ucapannya air matanya luruh tak terbendung di pipinya. Raina yang melihat kesedihan di hati merka ikut terbawa suasana bagaimanapin juga Varo adalah teman dekatnya, dia pun tak akan rela jika harus kehilangan Varo.
"Sudahlah berhentilah menagis Dita, kita do'akan saja semoga Varo tak apa-apa."ucapnya, Dita hanya mengangguk dia pun melepas pelukan suaminya dan mengusap air matanya, Dita yakin jika Varo akan baik baik saja, dia pun berdoa dalam hati agar Varo di beri kekuatan untuk bisa melewati semua ini.
Satu jam kemudian, sang dokter keluar dari ruangan ICU, meliat dokter keluar Dita dan yang lainnya segara menghampiri dokter untuk mengetahui keadaan Varo.Ada ketegangan meliputi hati mereka.
"Dok..... bagaikan keadaan putra Kami?." tanya Haidar pada dokter. Dokter yang bernama Lisa yang menangani Varo selama ini tampak bernafas dengan berat, karena keadaan Varo sudah tak memungkinkan akan selamat, di wajahnya nampak dengan jelas gurat kesedihan.
"Mari ikut keruangan saya, ada yang ingin saya katakan kepada kalian." jawabnya, Lisa pun mengajak orang tua pasien ke ruangannya.
Mereka mengikuti Lisa ke ruangannya kecuali Raina, dia tak ikut karena yang berhak tahu adalah orang tuanya terlebih dahulu jadi Raina lebih memilih menunggu di sana.Sesampainya di ruangannya Lisa mereka duduk di kursi yang berhadapan dengan Lisa sang dokter putranya.
"Maaf tuan dan nyonya sepertinya sudah tak ada harapan bagi Alvaro, penyakitnya sudah semakin mengganas jadi saya harap tuan dan nyonya bisa tabah." jelas Lisa dengan berat, dia juga tak sanggup melihat kenyataan ini, pasiennya sudah tak akan bisa bertahan lagi.
Air mata Dita sudah tak terbendung, menetes deras di pipinya setelah mendengar penuturan Lisa, Haidar pun sama namun dia masih bisa menyembunyikan tangisnya.
"Apa dok? yang berarti putra saya tak akan selamat?." tanya Haidar.
"Benar tuan dan keadaannya sekarang sedang kritis,saya memohon maaf pada anda karena tak bisa berbuat apapun, kami sudah melakukan semaksimal mungkin tapi Tuhan berkata lain." tambahnya lagi Lisa sudah berusaha agar Varo bisa sembuh dari penyakit mematikan itu, namun Tuhan berkata lain, umur Varo sudah tak akan lama.
Dita menangis sesegukan, dia tak bicara apapun sudah jelas di depan matanya jika putranya sudah tak bisa selamat.Haidar mencoba mendengarkan Dita.
"Anda tak perlu meminta maaf dok, saya sangat berterimakasih karena anda mau menjadi dokter bagi Varo, dan anda juga sudah berusaha semampunya ini bukanlah salah anda,tapi sudah menajdi harus takdirnya." jelas Haidar dia sangat berterima kasih karena Lisa sudah bersedia dan berusaha untuk menyelamatkan dan juga menyembusudah Varo ini bukanlah kesalahannya karena takdir Tuhanlah semuanya terjadi.
Dita berhenti dari tangisnya dan menatap sang dokter, Lisa yang di tatap Dita ta mengerti apa yang wanita satu anak itu inginkan.
"Dok saya ingin melihat anak saya palah di izinkan?." tanya Dita sekarang yang dia ingin adalah melihat putranya.
"Baiklah nyonya anda boleh bertemu dengannya, tapi anda harus mengganti pakaian terlebih dahulu." jelas Lisa.
Dita sudah mengganti pakaiannya dan memasuki ruangan Varo, dia melihat Varo yang terbaring lemah di atas brankar dengan alat medis yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya.Dita kembali menangis melihat keadaan putranya itu, tak di sangka jika waktunya sudah tak lama lagi, pagi tadi dia masih melihat Varo tersenyum, namun sekarang dia terbaring lemah.
Setelah puas melihat keadaan Varo, dia pun keluar ruangan karena Dita tak boleh terlalu lama berada di ruang ICU,Lisa mengatakan jika kondisinya sudah membaik Varo akan di pindahkan ke ruang rawat. Dita yang tak melihat Nancy segera memberitahukan keadaan Varo kepada keponakannya. Dita pun menghubungi Nancy untuk segera datang ke rumah sakit dan melihat keadaan sepupunya.
Flashback Off