
Pagi hari sudah menyingsing menyinari dunia, terlihat pengantin baru masih nyaman dengan tidur mereka, posisi mereka masih saling berpelukan dan seperti enggan untuk melepas pelukan mereka.
Tok..... tok.....tok....
Suara ketukan dari luar kamar mereka membangunkan Nancy, namun ketika dia hendak bangun Zayn menarik kembali tangan Nancy dan membuat dirinya terjatuh di pelukan di dada bidang Zayn.
"Ayolah sayang.... sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu seperti ini." cegah Zayn pada Nancy untuk tak membuka pintu.
"Ini sudah pagi sayang... jangan seperti anak kecil, bukanya kita akan pindah ke rumah baru kita?."Nancy berusaha agar Zayn segara melepas pelukannya.
"Iya kita memang akan pindah.... tapi sebentar lagi ok.... nanti jika aku sudah puas memelukmu aku akan mandi." tawar nya, Nancy hanya bisa mengalah. Namun ketukannya kini telah berubah menjadi gedoran pintu,membuat Zayn berdecih kesal.
Dor..... dor... dor...
"Heh.... kak bangun, kakek dan ayah sudah menunggu... cepat bangunn, bukannya lo akan angkat kaki dari rumah ini." teriak Zia, karena kesal sedari tadi dia susah mengetuk pintu, namun sang empu tak jua membukakan pintunya.
"Lo ganggu aja lintah..... udah sono pergi.... " umpat Zayn dari dalam kamar, namun Zia masih tak menghiraukan ucapan Zayn dan tetap menggedor.
"Sial... sekarang dia sudah berani mengusir ku, awas saja kau adik laknat." Kesalnya.
"Eh sudahlah kau tahu kan sifat Zia, itu kan karena ulahmu lama membukakan pintu, ya sudah bangun mandilah, aku akan membukakan pintu."Nancy bangkit, tapi sebelum bangkit Zayn mencium sekilas bibi Nancy membuatnya tersentak.
"Itu morning kiss sayang... " ucapnya lalu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.Nancy masih mematung dengan kelakuan Zayn, pipinya seketika merona.
Dia pun tersadar dan segera menuju pintu untuk membuka, karena Zia terus saja menggedor.
Ceklek....
"Kakak ipar.... " kagetnya.
"Sebentar Zi, kami sedang bersiap." ucap Nancy sedikit gugup, karena ini kali pertamanya Zia memanggilnya dengan sebutan kakak ipar.
"Ok... kak muka lo merah, lo sakit?." tanya Zia yang melihat wajah Nancy merah merona.
"O... oh gak kok.. mungkin karena suhu kamarnya panas." bohongnya padahal itu akibat kelakuan nakal Zayn.
"Oh ya udah gue duluan... bilang tuh sama si koala yang pemalas jangan kelamaan kasihan kakek sama ayah udah nunggu."
"Iya tenang aja." singkatnya. Zia pun pergi meninggalkan kamar Zayn. Nancy segera menutup pintu,dia malu karena Zia melihat wajahnya merona.
"Aduh malu gue..... " Ucapnya sambil memegangi kedua pipinya dengan tangannya.
Beberapa menit kemudian Zayn dan Nancy sudah selesai dengan kegiatan bersih-bersih nya, mereka turun dan berjalan bergandengan tangan menuju meja makan, di sana semua sudah menunggu keduanya.
"Wah pengantin baru.... romantis banget pagi-pagi udah gandeng tangan aja." goda Ilham membuat Nancy malu.
"Iya dong kek....kan harus romantis. " balasnya dengan senyuman kikuk, karena ini adalah pertama kalinya dia menggandeng Nancy di depan keluarganya.
"Alahh...bucin lo."
"Iri bilang... gak usah di pendem... "
"Cih.... iri sama koala tukang tidur ogah.... " ejeknya.
"Lo..... "
"Eh udah jangan ribut mulu kalian, sekarang sarapan dulu." lerai Ilham, dia jengah melihat kelakuan kedua cucunya yang selalu ribut jika bertemu.
Mereka pun sarapan bersama tanpa suara, dan setelah selesai sarapan Zayn dan Nancy bersiap-siap untuk kepindahan mereka ke rumah baru mereka. Jarak rumah baru dari villa Zia dan Zayn tidak terlalu jauh hanya lima belas menit untuk sampai di sana. Kini mereka berada di dalam mobil Ilham dan Hiashi satu mobil karena setelah mengantar Zayn mereka juga akan kembali ke rumah. Sedangakan Zia menggunakan mobil sendiri.
Lima belas menit berlalu, sampailah mereka di tempat tujuan, yaitu rumah baru Zayn dan Nancy, rumah yang megah telah berdiri dengan halaman yang cukup luas dengan taman yang indah di dekorasi oleh Ilham sendiri sebagai arsitektur, rumahnya tampak bernuansa klasik namun terkesan sangat elegan.
"Kek ini indah sekali." takjub Zayn memandangi berapa indahnya hadiah yang kakeknya berikan untuk keluarga kecilnya.
"Tentu karena aku sangat menyayangi kalian, semoga di rumah ini selalu ada kedamaian dan keharmonisan rumah tangga kalian." harap Ilham.
"Oh ya ampunn rumah ini bak istana, apakah aku bermimpi? bahkan rumah ini sangatlah mewah dua kali lipat di bandingkan milik keluarga ku." batin Nancy memandang keindahan dan kemewahan rumah barunya.
Zia hanya memandang biasa rumah baru sang kakak, tak ada komplain keluar dari mulutnya, karena Zia juga ikut membantu memperindah rumah ini, dia yang memilihkan semua parabot dan hiasan rumah. Setelah selesai mengelilingi rumah, mereka pun berkumpul di ruang keluarga.
"Sekarang kalian berdua akan tinggal di sini.... dan membangun rumah tangga kalian." Ilham mulai membuka pembicaraan.
"Iya Zayn... dan ayah harap kau akan selalu menjaga menantu ayah dengan baik, tolong jangan sakiti dia, biar ayah saja yang pernah menyakiti wanita, tapi kau jangan nak." ucapnya penuh harap, agar Zayn tak melakukan kesalahan yang sama sepertinya.
"Aku berjanji ayah, aku akan menjaganya dengan baik, dan tak akan menyakitinya." tegasnya.
"Baiklah ayah dan kakek akan pulang hari ini, jadi ayah tak akan ikut Zia untuk kembali ke villa."tuturnya, karena masih banyak pekerjaan di perusahaannya, kini perusahaan Alfian sudah membaik, Zia dan Zayn membantu banyak agar perusahaan Alfian tak jatuh ke tangan orang lain.
"Iya, dan masalah rumah kau tak perlu khawatir, kakek sudah siapkan Art, supir, tukang kebun dan yang lainnya, mereka akan di sini membersihkan rumah kalian dan juga untuk menemani kalian agar rumah ini tak terlihat sepi." jelas Ilham.
Nancy dan Zayn manggut-manggut mengerti, Zia hanya memperhatikan pembicaraan mereka, mendengar semua wantian Ilham pada Zayn, dia bahagia melihat keluarga nya sudah menjadi keluarga yang hangat dan harmonis. Tanpa terasa dia menitikkan air mata, namun buru-buru dia usap agar tak di lihat oleh yang lain.
"Iya kak lo jangan pernah sakiti Nancy, kalau kau berani menyakitinya maka gue akan bunuh lo."ucap Zia dengan nada mengancam. Dia tak mau jika Nancy sahabatnya di sakiti, sudah cukup dia saja yang pernah berbuat kesalahan.Kesalahan karena pernah mengabaikan Varo yang benar-benar mencintainya.
"Heh Queen gak usah ngancem lo.... tanpa lo suruh gue akan jaga bidadariku jadi lo gak perlu khawatir tentang itu."
"Eleh bidadari, gue tuhh cuma mau sahabat gue bahagia, udah cukup gue yang nyakitin seseorang, tapi lo jangan."
"Iya.... iya... gue jamin bidadariku selalu aman, bahagia dan selalu tersenyum." ucapnya dan mampu membuat Nancy melayang.
"Zayn aku akan selalu bersamamu, berjalan bersamamu dan berjuang denganmu dalam suka maupun duka... semoga kau tak meninggalkan aku dan tetap setia berada di sampingku." batinnya sungguh berjalan dan berjuang bersama Zayn adalah harapannya.
"Kakak ipar jika dia menyakitimu katakanlah padaku.... dan jika kau bosan kau bisa mengajakku pergi berjalan-jalan, tak usah sungkan melakukan itu bersamaku."antuasias Zia.
"Iya Zi.... nanti jika aku bosan aku akan pergi ke rumahmu dan berjalan-jalan bersamamu. Terima kasih atas semua kebaikan yang telah kalian berikan padaku aku sangat bahagia memiliki keluarga seperti kalian." Nancy mengatakan sambil menitikkan air mata, karena sejak kecil dia selalu sendiri tanpa orang tua, dia selalu tinggal dengan orang tua Alvaro, namun dia juga tak kekurangan kasih sayang mereka.
Melihat Nancy menangis, Zayn menggenggam erat tangan Nancy berusaha menguatkan, Zayn tahu apa yang di rasakan Nancy. Zia juga menjadi terharu begitu juga Ilham dan Hiashi.
"Nak.... janganlah menangis kini kami semua adalah keluargamu, dan janganlah kau anggap kalau ini adalah bantuan karena ini semua adalah milikmu, dan yang memberikannya adalah keluargamu sekarang." tutur Ilham tak tega melihat Nancy bersedih.
"Iya menantuku..... kau adalah keluarga kami sekarang, jadi jangan sungkan untuk meminta apapun pada kami, dan kami akan senang hati memberikan apa yang kau minta." tambah Hiashi.
"Iya kakak ipar, sekarang kau bukan hanya sahabatku tapi kau juga adalah keluargaku, jadi jangan bersedih lagi oke." Zia juga ikut menghibur agar Nancy tak bersedih lagi.
"Iya sayang.... sekarang kau adalah bagian dari keluarga kami, jadi jangan merasa bahwa kau adalah orang lain."
"Iya.... " ucapnya dan tersenyum tulus pada keluarga barunya, Zayn mengusap air mata Nancy lembut, mereka tersenyum bahagia semoga ikatan ini akan selalu terjaga.
"Ya sudah kakek dan ayah akan pulang." pamit Ilham dan juga Hiashi.
"Jaga diri kalian baik-baik, jika ada sesuatu hubungi kami."
Mereka pun mengantar kepergian Ilham dan Hiashi di depan pintu rumah, semua menyalami keduanya.
"Hati-hati di jalan ayah, kakek... " Ilham dan Hiashi pun pergi keluar halaman rumah Zayn dan melambaikan tangan, serasa sudah hilang dari pandangan Zia pun meminta izin pulang.
"Kak gue juga pamit, masih banyak urusan, selamat bersenang-senang pengantin baru, cepet buat ponakan yang lucu-lucu gue tunggu kabar baiknya... " goda Zia membuat Nancy malu begitu juga Zayn.
"Iya.... udah sono balik lo jangan ganggu pengantin baru." usir Zayn.
"Heh siapa juga yang mau ganggu, gue juga mau balik, buat apa tinggal bareng sama orang bucin..... nanti gue bisa stress. Udah ah gue balik ya, bye kakak ipar." Zia pun beranjak pergi masuk ke mobil.
"Iya hati-hati di jalan." mereka pun melihat kepergian Zia hingga mobil Zia hilang dari pandangan.
"Oke ayo kita bersenang-senang, aku akan minta jatah malam ini, jadi kau harus mempersiapkan diri sayang." bisiknya membuat Nancy begidik ngeri.
"I... iya sayang ya udah yok masuk." ajak Nancy menutupi kegugupan nya.
Zayn merangkul pundak Nancy dan masuk ke dalam rumah untuk menghabiskan waktu bersama, kini hari-hari mereka akan selalu bersama dan akan terus bersama hingga menutup mata.