Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-145



Ternyata benar kata Angga Zia sedang hamil, dan umur kandungannya baru satu minggu, Dian sangat bahagia akhirnya mereka akan segera memiliki momongan.


"Ternyata Angga benar.... aku senang sekali sayang..... " Dian bernafas lega, ucapan Angga memang benar, mulai saat ini hingga Zia melahirkan, Dian akan terus memperhatikan segalanya tentang kesehatan Zia.


"Kita akan beri tahu pada semua keluarga."


"Iya sayang... "


Dian semakin protektif terhadap Zia, karena dia tahu Zia wanita yang tidak bisa diam, apalagi dalam hal bekerja, dan mengetahui jika Zia sekarang sudah berbadan dua, maka semua pekerjaan akan di tangani oleh nya, sekarang dia akan memegang kendali perusahaan, dia tidak mau istrinya kelelahan.


"Berarti aku tidak boleh pengurus perusahaan?." tanya Zia pada suaminya.


"Tidak boleh sayang... biarkan aku saja sekarang yang mengurus perusahaan, dan kamu fokus saja pada calon buah hati kita." ucapnya sambil memegang perut Zia yang masih rata.


"Baiklah...... aku akan menurut padamu sayang.... " Zia hanya pasrah dengan apa yang di katakan suaminya, tapi memang dia sudah berencana seperti itu, mungkin sekarang dia akan beralih menjadi ibu rumah tangga, mengurus suami, anak dan juga mengurus semua kebutuhan.


Beberapa saat kemudian....


Hiashi dan Ilham datang ke mansion Dian, disusul Zayn dan Nancy, mereka telah datang dengan wajah bahagia mereka, Zia senang akhirnya keluarganya kembali menjadi harmonis, ingin rasanya kebahagiaan ini terus ada. Para pelayan sudah menyiapkan berbagai hidangan untuk keluarga besar Zia dan untuk acara doa bersama karena Zia sedang mengandung anak pertama.


Tak lupa karena akan mengadakan doa bersama, dia mengundang para sahabat nya. Mereka datang dengan membawa bingkisan untuk Zia, padahal baru saja dua minggu dia mendapat hadiah pernikahan dari mereka.


"Ini Zi..... semoga sehat hingga melahirkan... " ucap Mila dengan membawa kado yang tidak terlalu besar.


"Aunty Zia celamat ya...." ucap Nabila putri Mila yang sudah genap dua tahun itu, sambil mengecup pipi Zia.


"Iya manisnya aunty..... " Zia gemas melihat putri sahabat nya yang sudah tumbuh dengan manisnya.


Lalu datang Siti membawa bingkisan lumayan besar bersama putranya yang tampan bernama Adrish, dia juga sudah genap dua tahun. Namun Adrish lebih pendiam dan tidak banyak berceloteh.


"Selamat Zi.... semoga lancar sampai lahiran."


"Iya bawel.... Aku pasti akan jaga kok."Zia jadi teringat waktu sekolah, Siti yang banyak bicara dan selalu mengomel.


Semua orang berbahagia dengan kehamilan anak pertama Zia. Ilham dan Hiashi juga, acaranya akan di adakan malam ini, jadi Zia dan Dian sudah menyiapkan semuanya.


"Untungnya sudah ketahuan di minggu awal, dulu aku delapan minggu baru ketahuan Zi.... " ungkap Mila karena dulu sewaktu dia hamil anak pertama, dia baru mengetahuinya pada saat sudah berumur delapan minggu.


"Benarkah Mil....?. " tanya Zia.


"Iya benar, tapi itu wajar karena tergantung gejala awal." jelas Siti, karena gejala juga bisa mempengaruhi hal tersebut.


"Oh jadi begituu.... " Zia baru tahu hal itu.


Mereka berbincang-bincang seputar kehamilan, karena Zia bisa sekalian belajar hal yang belum dia ketahui, karena menjadi ibu pertama kali pasti akan canggung rasanya. Tapi dia akan berusaha sebisa mungkin menjadi ibu yang baik untuk anak-anak nya.


Hingga tak terasa hari menjelang sore, semuanya sedang bersiap untuk acara yang sebentar lagi di laksanakan, semua berkumpul di ruang tengah. Mereka sudah bersiap disana, tinggal menunggu Zia dan Dian turun.


"Akhirnya yang di tunggu datang juga." ucap Zayn.


Zia tersenyum manis, Zayn bahagia melihat senyum Zia yang kini selalu menghiasi wajah cantiknya. Zia jalan beriringan dengan Dian, mereka menghampiri semuanya ke ruang tengah. Yang akan memimpin doa adalah Hiashi, dia bahagia melihat senyum putri yang pernah dia sakitu dulu.


Hiashi membuka acara nya, susana menjadi hening ketika Hiashi akan memulai doanya. Hiashi berdoa dengan khusu' untuk keselamatan Zia dan calon cucunya hingga melahirkan, semuanya mengaminkannya, Zia juga berdoa salah hati agar semuanya lancar, begitu juga dengan Dian.


Akhirnya acara telah selesai terlaksana, Zia dan Dian mengantar kepulangan sahabat dan keluarga nya, para pelayan segera membereskan semuanya. Karena kelelahan Zia sudah tidur nyenyak tanpa menggantu pakaian, Dian gemas melihat istrinya yang terpejam, karena kasihan melihat Zia akhirnya Dian lah yang mengganti pakaian Zia, tak lupa mengelap kaki istrinya dengan air bersih, dan memakaikan lotion seperti biasanya Zia pakai.


Dian juga sudah lelah, setelah selesai mengganti pakaian sang istri, dia juga mengganti bajunya, dan berbaring di samping Zia, tak lupa ciuman selamat tidur di bagian wajah cantik Zia.


"Selamat malam sayang.... tetaplah tersenyum, hingga kamu lupa masa lalu sedihmu." Dian mematikan lampu kamarnya dan terlelap memeluk erat tubuh Zia.