
Setelah Zia dan Zayn sesuai mengurus masalah Raina, mereka pun kembali ke rumah masing-masing, Raina sementara waktu akan di tahan sampai sidang berlangsung, karena polisi juga akan menangani masalah tersebut.
"Hah akhirnya masalah selesai.... sayang aku Meri merindukanmu." Zayn bernafas lega, akhirnya semua masalah sudah teratasi, dan kini dia akan lebih fokus pada Nancy dan juga calon anak pertama mereka.
"Terima kasih Kak udah bantu." Zayn tersenyum melihat Zia sudah bersikap dewasa.
"Iya.... tak menyangka kita susah dewasa, kakak hanya bisa menjagamu dari kejauhan sekarang, kini kakak tak bisa selalu ada di samping mu."
"Ah... kak sekarang yang lebih penting adalah kebahagiaan mu bersama dengan keluargamu, yang terpenting kau tak melupakan kau dan juga yang lain." Zayn menjadi terharu dengan yang di ucapkan Zia dan langsung memeluk Zia erat, rasanya waktu berputar sangat cepat.
"Idih calon daddy sekarang jadi baperan." goda Zia sontak membuat Zayn melepas pelukannya dan memasang wajah cemberut nya.
"Rese amat sih... kan lagi terharu tahu." Zayn merajuk sedang terharu malah di godain.
Zia terkekeh sudah lama mereka tak bercanda bersama, tapi Zia bahagia melihat jika kakaknya menjadi lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
"Iya gak usah ngambek jelek tahu." Zia menertawakan Zayn yang bersikap seperti anak kecil.
"Isssh... kau ini....." desis Zayn semakin jengkel, namun Zia malah tertawa terbahak-bahak. Zayn bahagia melihat Zia tertawa lepas sudah lama Zayn tak melihat kebahagian dia wajah cantik Zia.
"Iya iya aku akan berhenti menggoda kakak tampan ku." Zia berhenti tertawa karena perutnya sakit akibat tertawa.
"Kak gimana kabar kakak ipar?." tanya Zia, karena beberapa hari ini dia belum bertemu karena sakit.
"Dia sehat..... kau tahu dia ngidam ingin terus di dekatmu." Zayn pun bercerita jika Nancy ngidam ingin dekat dengan Zia.
"Benarkah?...Wah sepertinya aku punya fans baru dari ponakan sendiri." ucapnya bangga keponakannya sudah sangat mengidolakannya.
"Iya..... mainlah ke rumah, kakakmu pasti senang kau datang dan jangan lupa bawa masakan yang kau masak sendiri, pasti kakakmu sangat menyukainya."
"Beres lah itu mah nanti aku bawain banyak buat dia." ucap Zia santai.
Tak terasa kini sudah sampai di villa Zayn pun langsung pamit pulang pada adiknya karena Zayn khawatir dengan istrinya. Zia menyuruh pada penjaga untuk memasukkan mobilnya ke garasi. Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, keadaan villa sudah sepi hanya saja Zia melihat ayah dan kakeknya masih di ruang keluarga.
"Kakek... ayah.... " panggil Zia dan melangkah menuju ruang keluarga.
"Zia.... baru pulang? sebenarnya darimana cucuku ini?." Ilham masih penasaran sebenarnya ada urusan penting apa sehingga Zia meminta berhenti di tengah perjalanan pulang.
Zia hanya menyengir kuda, dia sudah duduk di samping Hiashi. Dia sebenarnya tak enak hati meminta kakeknya untuk menurunkannya, tapi itu adalah urusan mendadak.
"Maaf kek.... tadi ada masalah di markas jadi Zia harus menanganinya. " ucapnya, namun Ilham masih menatapnya penuh selidik, mambuat Zia sulit menelan salivanya.
"Apa hanya itu?." tanyanya karena belum puas dengan penjelasan Zia. Zia hanya bernafas berat, dan akhirnya dia mengalah dan menjelaskan semuanya pada ayah dan kakeknya.
Ilham dan Hiashi tersenyum mendengar semua penjelasan Zia, mereka tak menyangka jika Zia sudah beranjak dewasa, sudah waktunya untuk mencarikan pasangan agar Zia tak selalu sendiri dan tanpa ada yang menjaga. Mereka tahu jika Zia bukanlah wanita lemah, tapi mereka tak mau Zia selalu menyendiri dan ingin ada sosok laki-laki yang mendampinginya.
"Ternyata cucuku sudah dewasa.... kapan kamu akan menikah sayang?." tanya Ilham mereka tak sabar menantikan Zia menikah.
"Ishhhh kakek... ayah sudahlah nanti juga akan ada waktunya, sudah Zia ke kamar dulu ngantuk." Zia bergegas ke kamar dia tak mau meneruskan pembicaraan yang mengganggu telinganya, Zia mencebikan bibirnya kesal.
"Apa-apaan mereka? menginginkan aku menikah? hahh.... bikin kesel aja, udah lagi gak kepikiran kesitu aku." gerutunya dengan kesal, Zia sedang tak ingin membicarakan tentang pernikahan, karena hatinya masih sakit untuk menyimpan cinta lagi.
Sementara Ilham dan Hiashi hanya terkekeh melihat kelakuan lucu Zia, mereka tahu pasti Zia kesal akan permintaan mereka, tapi semua itu demi kebaikan Zia, karena keluarganya jauh darinya, bahkan Zayn sekarang harus ekstra dalam menjaga Nancy yang sedang hamil.
...----------------...
Zayn sudah sama lu di rumahnya, dia memasuki rumahnya dengan perlahan dan menuju kamarnya, di bukalah pintu kamar dan terlihat jelas lampu yang masih menyala, namun penghuninya sudah berada di alam mimpi.
Dia mendekat dan mencium kening Nancy lembut, kini kebahagiaan telah hinggap di hatinya, bagaikan taman bunga yang sedang bermekaran dan menyebarkan harum semerbak.
"Kamu cantik sekali sayang, ingin rasanya aku memakan mu sekarang juga." Zayn ta bisa mengontrol gairahnya jika sedang bersama sang istri, namun dia harus menahannya sampai tiga bulan karena kandungan Nancy masih belia, agar tak membahayakan janinnya.
Setelah berbicara Zayn pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Nancy tersenyum mendengar ucapan Zayn, ternyata dia belum tidur karena sulit jika Zayn tak berada di samping nya oleh karena nya dia hanya berpura-pura tidur di kala mendengar mobil Zayn.
"Aku juga ingin Zayn..... tapi kita harus menahannya sampai dia kuat."gumamnya dengan mengelus perutnya yang rata. Hingga Zayn selesai Nancy berpura-pura mengerjai dan terbangun dari tidurnya.
"Sayang kenapa bangun?." tanya Zayn pada saat melihat Nancy terduduk di ranjang.
"Kamu ini terlambat pulang... apa kau sudah tak cinta aku?." rajuk Nancy, sambil bersidekap dada.
Zayn tersenyum melihat tingkah menggemaskan Nancy, Zayn pun mendekat dan megecup kilas bibir Nancy yang sedang cemberut, membuatnya semakin kesal namun hatinya berbunga-bunga.
"Isshhhh kamu ini...... "
"Tak apa sayang... apa kamu ingin lebih hmmm?." Zayn menggoda Nancy yang kini sudah duduk di sebelah istrinya.
"Gak.... udah sana tidur." tolak nya, tapi hatinya menjerit ingin lebih, dia mendorong dada Zayn membuatnya terbaring di ranjang.
"Maafkan aku sayang..... tapi besok kamu akan puas denganku karena semua masalah sudah selesai." Zayn duduk dan meminta maaf dengan tulus.
"Iya aku maafkan, tapi ada syaratnya.... bawa aku kepada Zia besok dan izinkan aku menginap di villa bersama dengannya."
"Baiklah syarat aku turuti, kamu boleh menginap di sana bersama Zia, tapi aku akan ikut disana, aku tak mau kamu kenapa-napa." Zayn pun mengizinkan Nancy menginap sudah lama mereka tak menginap di sana.
"Ya sudah sekarang tidur ini sudah malam."
"Nanti dulu aku mau makan coklat sekarang." punya Nancy sekarang dia ingin sekali v makan coklat.
"Baiklah sayang, mau coklat apa?." tanya Zayn yang tahu jika Nancy mengidam.
"Emmm..... aku mau coklat Dairy Milk." Nancy sekarang menginginkan coklat bungkus ungu, dan ternyata dia belum membelinya.
"Iya ok, tapi aku akan membelinya keluar, aku lupa tak mampir ke supermarket tadi." Nancy pun mengizinkan Zayn untuk kkuar membeli coklat, Nancy menunggunya di rumah keluarga sambil menonton tv.