Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-136



Beberapa bulan kemudian.......


Hari demi hari telah berlalu berganti dengan bulan, proyek Zia dan Dian kini sudah berdiri kokoh dengan keamanan yang tidak dapat di jebol begitu saja. Mall yang mewah dengan berbagai fasilitas lengkap yang memadai, mall ini di beri nama D'Z super mall yang di ambil dari nama Zia dan Dian.


Hubungan mereka semakin dekat, apalagi setelah proyek selesai, Zia sudah sepenuhnya menerima Dian dengan sepenuh hatinya, Zayn dan Nancy sangat bahagia melihat hubungan keduanya semakin dekat. Sementara sahabat-sahabat Zia sudah memiliki momongan, tinggal menunggu giliran Nancy.


"Akhirnya proyek ini sudah usai..... sekarang tinggal mengadakan acara pembukaan. Arif persiapkan semuanya untuk pembukaan mall baru ini." titah Dian pada asistennya, dia ingin semua ini segera selesai.


Arif mengangguk dan segera melaksanakan titah tuannya. Arif dan juga Brian juga senang bisa melihat kedua nya bersama, mungkin sebentar lagi Zia dan Dian menikah. Karena kedekatan mereka sudah tidak di ragukan lagi, apalagi pembangunannya sudah selesai.


Arif dan Brian menyiapkan semuanya dengan cepat. Sementara Dian bersiap untuk menjemput Zia, pembukaan mall diadakan dengan sederhana, bukan karena kekurangan biaya, tapi untuk mempersingkat waktu.


Dalam waktu beberapa jam, Arif dan Brian akhirnya telah menyelesaikan pekerjaan nya. Begitu juga dengan Dian dan Zia yang sudah tiba di sana. Seluruh pekerja dan karyawan sudah berkumpul di depan mall, acara pemotongan pita akan segera di laksanakan.


Salah satu karyawan wanita membawa nampan dan gunting. Dian dan Zia berjalan ke depan tepat berada di depan pita, Dian mengambil gunting dan dengan bersamaan mereka berdua menggunting pita tersebut.


"Dengan ini acara pembukaan berjalan lancar, dan D'Z super mall sudah resmi di buka. "ucap Dian dengan tersenyum ceria, semua orang bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada atasan mereka.


Setelah acara selesai Zia dan Dian pergi bersama, karena besok mereka akan bersiap untuk kembali ke kota asal, jadi sebelum itu mereka akan berkeliling sekali lagi di kota ini.


"Aku bahagia karena setelah ini aku akan datang melamarmu dan akan segera menikahinya." ungkap Dian, kedekatan yang sudah terjalin selama beberapa bulan, membuat Dian ingin segera melamar dan secepatnya menikahi Zia.


"Apa kamu akan datang setelah kita kembali dari sini?." tanya Zia, apakah setelah kembali, mereka akan membicarakan perihal lamaran dan pernikahan.


"Iya lebih cepat lebih baik." keseriusan Dian sudah tidak bisa Zia ragukan lagi. Zia tersenyum bahagia, impiannya sebentar lagi terwujud, menjadi seorang istri dan memiliki keluarga.


Mereka pun menghabiskan waktu bersama di kota itu, tak lupa Zia membelikan oleh-oleh untuk keluarga nya, apalagi Nancy sebentar lagi melahirkan. Zia sudah tidak sabar untuk melihat calon keponakan nya, Zia juga sudah mempersiapkan hadiah besar untuk calon keponakan nya.


Tidak lupa dia juga akan menemui para sahabatnya yang sudah memiliki anak, Zia tidak sempat kesana karena sedang mempercepat proyek pembangunan. Zia dan Dian sudah kembali dari menghabiskan waktu bersama.


"Akhirnya besok kita akan kembali ke rumah, aku sudah rindu dengan keluarga ku." Zia begitu senang, karena sudah beberapa bulan dia tidak bertemu dengan keluarganya.


"Iya.... dan bersiaplah aku akan datang melamarmu." Bisik Dian tepat di telinga Zia, membuat Zia merinding.


"Sudahlah Dian....aku akan membereskan barang, kamu pulanglah." usir Zia, dia sudah salah tingkah dengan semua ucapan Dian.


"Bidadari ku marah.... tambah cantik kalau marah, sini aku ingin menciummu." Zia menggeleng dan langsung pergi meninggalkan Dian yang sangat senang menggodanya di saat dia marah.


Dian menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Zia, akhirnya dia pun menunggu Zia di ruang tamu. Setelah Zia selesai membantu bibi mengemas barangnya, dia turun ke lantai bawah untuk melihat apakan masih ada Dian atau tidak.


Ternyata Dian masih menunggunya di sana, Zia hanya menggelengkan kepalanya karena kelakuan Dian. Dian menoleh karena mendengar langkah kaki menuju ke arahnya.


"Kenapa tidak kembali? bukannya malam ini kita akan berangkat? dan kamu harus bersiap." Oceh Zia, karena kesal masih melihat Dian berada di paviliun nya.


"Iya bawel.... aku akan kembali setelah memastikan calon istriku sudah selesai berkemas." ucap Dian enteng.


"Ok aku akan kembali.... aku akan menjemputmu malam ini. " ucap Dian sambil mengusap kepala Zia, lalu pergi begitu saja.


"Ihh.... dasar tuan muda rese.... udah sana pergi... " teriak Zia kesal dengan apa yang di lakukan Dian.


Dian hanya tertawa mengejek membuat Zia semakin kesal. Baru kali ini setelah sekian lama Zia bisa kembali ceria lagi, Dian sudah merubah Zia dari waktu ke waktu. Semua keluarga dan sahabat nya pasti akan sangat senang melihat perubahan Zia.


...----------------...


Hari menjelang malam Zia sudah bersiap untuk berangkat menuju bandara, begitu juga dengan Dian. Dian sebenarnya sudah menawarkan kepada Zia untuk naik pesawat pribadi miliknya, tapi Zia menolak, karena dia ingin menikmati kepulangannya bersama banyak orang. Akhirnya Dian menuruti kemauan Zia, dan dia ikut bersama Zia.


Perkataan Dian siang tadi benar, sudah ada mobil mewah milik Dian menunggu di depan paviliun nya. Dian turun dari mobil untuk menjemput pujaan hatinya.


"Dian.... "


"Sudah siap....ayo kita berangkat." ucap Dian seraya menggandeng tangan Zia.


Dian membukakan pintu mobil dan mempersalahkan Zia masuk. Dengan senang hati Zia masuk ke dalam mobil, bahagia rasanya di perlakukan romantis oleh orang yang kita cinta.


Tentang ucapan itu adalah kebenaran, kamu akan di perlakukan layaknya ratu jika di sandingkan dengan orang yang tepat. Definisi ini adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat di ubah.


Sesampainya di bandara, Dian menyuruh Arif untuk membawa mobilnya kembali ke paviliun. Zia dan Dian memasuki bandara bersama. Setelah selesai pemeriksaan disana mereka berdua menuju pesawat, karena penerbangan akan segera terlaksana.


Zia dan Dian duduk bersama, hati yang dulu tertutup kini akhirnya sudah terbuka kembali, karena pemilik kunci telah datang dan mengisi ruang hatinya. Mulai saat ini Zia akan memaafkan semua yang menyakitinya dan hidup dengan penuh kedamaian dalam hati.


Dian menggenggam erat tangan Zia seakan tidak mau kehilangan. Zia juga ikut membalas genggaman tangan kekar Dian. Mereka menikmati perjalanan pulang seperti pasangan pada umumnya, karena kebahagiaan juga bisa tercipta dari sebuah kesederhanaan tidak harus mewah.


"Terima kasih Tuhan..... semua luka ku telah terganti pada hari ini..... semoga hingga seterusnya akan tetap seperti ini." batin Zia mengucap syukur, karena tuhan masih memberikan kebahagiaan di atas lukanya.


Karena kebahagiaan akan datang di waktu yang tepat dan tidak akan salah tempat, maka jika kamu terluka bersabarlah, karena tuhan sedang mempersiapkan kebahagiaan yang lebih indah dari yang pernah engkau harapkan sebelumnya.


"Aku senang kamu masih mau membuka hati untukku.... aku harap kamu mau menerima ku bukan hanya sebagai kekasih semata, melainkan menjadi pendamping dalam kehidupan mu dan juga menjadi alasan mu untuk terus bahagia." ucap Dian dengan serius, genggaman tangannya terasa mengencang, dan Zia merasakan hal itu.


Zia menatap mata indah Dian. Tidak ada kegugupan yang melandanya, hanya ada tekanan untuk mengatakan ' ya Dian aku menerimamu sebagai pendamping ku' itulah yang kini ada di hati dan pikirannya.


"Dian....." Zia sudah tidak bisa menahannya lagi, perasaan yang bergejolak ini sudah mengobrak abrik hatinya.


Dian menatap Zia dengan penuh keseriusan dan juga penuh harap.


Zia mengeratkan genggaman nya, dia menatap langsung mata Dian sehingga mata mereka saling menatap dan mengunci satu sama lain, seakan tidak boleh ada yang mengalihkan pandangannya.


"Aku.... mau menerima mu sebagai suamiku... dan aku siap menikah denganmu dan menjadi istrimu selamanya........ "