Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-115



Raina masih saja diam meski air matanya sudah di usap oleh Zia, namun lagi dan lagi air matanya menetes, Zia mengangkat kepala Raina yang menunduk ini memang sulit bagi Raina tapi Zia tak ingin melihat Raina berada di jalan yang penuh dengan kebencian dan dendam.


"Rain...... aku mohon kembalilah menjadi dirimu yang dulu, yang penyayang dan ceria, aku suka kamu yang dulu." ujarnya sambil menyentuh kedua pundak Raina, berharap Raina bisa berubah menjadi seperti dulu yang hidup tanpa kebencian di hatinya.


"Hiks.... hiks.... hiks.... aku.. aku... " ucapnya dengan menangis tergugu, dia tak sanggup mengucapkan kata, Zia selalu baik padanya meski awalnya ada penilaian salah dari Zia terhadap Raina.


"Bicaralah Rain.... keluarkan semua yang mengganjal dalam hatimu, aku siap menjadi pendengar." Zia tak tega melihat tangisan Raina yang terdengar pilu dan menyayat hati orang yang mendengar nya.


"Aku akan selalu ada untukmu, aku tak marah jika kamu iri atau kamu benci padaku, aku sungguh menyayangi mu Rain... " Ucapnya Zia yang mengeluarkan air mata lagi. Raina kembali menunduk dan tangisnya pecah semakin menggema di ruangan tersebut. Zayn dan Rayyan hanya memperhatikan keduanya dalam diam tanpa bicara.


"Zi..... maafkan a-aku.... " gumamnya terbata namun terdengar jelas oleh telinga Zia, Zia mengukir lengkungan tipis di bibirnya. Dia mengusap air matanya mendengar permintaan maaf Raina.


"Aku memaafkan mu Rain, tapi berjanjilah padaku kamu akan berubah, dan jangan pernah ulangi kesalahan yang sama lagi." Zia tak mau ada dendam dan kebencian lagi di antara pertemanan mereka, Zia juga tak mau lagi rantai dendam selalu menghantuinya sudah cukup di masa lalu saja Zia melakukan semuanya.


"A-aku akan mengusahakannya, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan lagi, aku akan kembali menjadi diriku yang hidup tanpe dendam." tekad Raina, namun apakah Rayyan mau memaafkannya atas yang di lakukan Raina pada ayahnya. Itu pasti berat bagi Rayyan untuk memaafkan orang yang membunuh ayahnya.


Rayyan memandang penuh kebencian kepada Raina, dia masih belum menerima atas meninggalnya sang ayah.


"Aku tak akan memaafkannya." sarkas Rayyan membuat Zia berganti mode datar. Zia menoleh ke arah Rayyan yang sedang berjalan menunju tempat Raina dan Zia berada. Zayn juga ikut berjalan di belakang Rayyan.


Zia memandang datar lelaki yang pernah dia cintai, namun semua itu hilang bersamaan dengan perkataannya yang menyakitkan. Rayyan tak berani menunjukkan wajahnya di hadapan Zia, dia masih tak enak hati dengan apa yang pernah dia lontarkan dengan hinaan kepada Zia wanita yang masih berada di dalam hatinya.


Rayyan hanya menatap tajam Raina terlihat jelas kemarahan di matanya, namun Raina hanya memandang kilas dan membuang muka kearah lain.


"Aku tak terima dengan kematian ayahku, dia adalah pelakunya." tegas Rayyan, Zia terkekeh mendengar ucapan Rayyan.


"Heh..... itu adalah balasan setimpal karena masa lalu yang dia buat sendiri, itu adalah karma yang adil untuknya." ucapan Zia penuh penekanan, membuat Rayyan semakin emosi.


"Ingatlah walaupun tak ada orang suruhan dari Raina, aku pun pasti akan membunuhnya dengan sadis melebihi apa yang di lakukan Raina." tambahnya lagi, Zia sengaja membuat Rayyan terbakar api kemarahan.


"Dia sudah membunuh nenek dan kakekku dengan cara yang menjijikan dan sengaja membuat berita bohong kepada media masa." Zayn hanya mendengarkan tanpa mau menyela ucapan adiknya, karena bagaiamana pun dia juga masih sakit hati dengan apa yang di lakukan oleh Raka kepada keluarganya.


Rayyan sudah tak bisa menahan amarahnya, kini kemarahannya sudah di ubun-ubun, Rayyan melayangkan tinjunya dan....


Brakkkkk.....


Pukulannya mengenai meja sampai hancur lebur, perkataan Zia sungguh membuatnya tak bisa mengendalikan emosinya. Lagi-lagi Zia terkekeh melihat kelakuan Rayyan yang sangat kekanak-kanakan.


"Itulah yang membuatku tak ingin kembali lagi padamu mulai saat ini, karena sikapmu itu Rayyan." Jantung Rayyan berdetak dengan keras di saat Zia mengatakan hal yang menyakitkan.


"Aku akan membawa dia ke pihak berwajib, dan akan ku lakukan apapun agar dia tak bisa keluar dari penjara. " ucap Rayyan yang sengaja mengalihkan pembicaraan, hatinya sudah sakit.


"Heh aku tak akan membiarkan itu terjadi, karena aku yang akan membebaskan dia dengan caraku sendiri." tegas Zia yang tak akan membiarkan Raina tersiksa lagi. Zayn juga sependapat dengan Zia, Raina terharu dengan apa yang akan di lakukan Zia terhadapnya, padahal dia sudah melakukan kesalahan yang amat besar.


"Zia kamu tak usah melakukan hal itu, aku akan bertanggung jawab atas yang pernah ku lakukan." Tolak Raina dengan sopan, dia tak mau Zia terlibat dengan masalahnya.


"Kau memang pantas membusuk di penjara, jadi aku ingin kau berada di sana." Rayyan tetap kekeh dengan keinginannya meski Zia sudah menjelaskan tentang kejahatan Raka.


"Tapi Rayyan apa yang di katakan Zia benar, tak sepenuhnya itu kesalahan Raina, tapi ayahmu juga seharusnya mendekam di penjara." Zayn ikut berbicara.


"Jadi tolong kita bicarakan baik-baik agar tak ada korban lagi." Pinta Zayn kepada Rayyan supaya dia mengerti.


"Kenapa kau malah membela penjahat Zayn? bukannya kau juga ingin menghabisinya?." Rayyan masih tak bergeming dengan keinginannya.


"Iya memang aku ingin membalas apa yang pernah dia lakukan Yan.... tapi setelah mendengar penjelasan Zia aku sadar, lebih baik kita akhiri ini dengan cara yang baik dan memutus rantai dendam dan kebencian." Zayn menjelaskan pendapatnya tentang apa yang di ucapkan Zia.


Rayyan tak menjawab, dia masih mencerna perkataan Zayn, kini suasana tiba-tiba mendadak hening, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Baik kita bawa Raina ke kantor polisi untuk di adili, aku yang akan mengurus semuanya. " Zia akhirnya memutuskan akan membawa Raina ke kantor polisi.


Rayyan dan Zayn begitu juga dengan Raina tak percaya dengan apa yang di katakan Zia.


"Aku setuju dengan hal itu." Rayyan juga senang mendengarnya.


"Zi.... kenapa kamu malah... " Zayn tak habis pikir Zia melakukan hal itu.


"Ini adalah cara terbaik kak, aku akan mengurus semuanya." Raina menjadi sedih mendengar keputusan Zia, dia kira Zia akan benar-benar menolongnya tapi kenyataan malah sebaliknya.


Rayyan tersenyum bahagia, akhirnya dendamnya bisa terobati, dia susah berhasil membuat pembunuh ayahnya tak bisa kemanapun.


"Tapi aku akan membebaskan nya setelah satu hari dia di tahan, aku akan menebus berappun uangnya aku akan membayarnya, asalkan Raina bisa terbebas." tambahnya membuat senyuman Rayyan memudar seketika. Raina berbinar rasa senang menyelimuti hatinya. Zayn hanya melukis senyum tipis, kini Zia bisa bersikap dewasa dan bijak dalam menyelesaikan masalah .


Rayyan pun berfikir sejenak dia juga tak mau hidup dalam dendam dan kebencian yang hanya akan membawa menuju kegelapan, Rayyan pun mengalah karena berdebat tak akan menyelesaikan masalah, akhirnya Rayyan pun luluh dia sudah tak mau lagi memiliki dendam atau apapun itu.


"Baiklah aku serahkan dia padamu, aku sudah tak mau berurusan dengannya." ucapnya dengan menghela nafas panjang.


Zia dan Zayn tersenyum bersamaan begitu juga dengan Raina, dia bisa terbebas karena kebaikan dari teman-temannya.


"Terima kasih Rayyan, maafkanlah aku dengan segala kesalahan yang ku perbuat." Raina meminta maaf karena kesalahn yang pernah dia lakukan.


"Hemmmm, aku sudah memaafkanmu, tapi jika kau mengulangi nya lagi jangan berharap kau akan selamat. Jika kau mau membawanya ke kantor polisi katakan saja itu hanya kecelakaan." Rayyan pun berlalu pergi dari markas Zia dan Zayn, urusannya sudah selesai kini hatinya merasa lega.


Sementara Zia dan Zayn membawa Raina ke kantor polisi untuk di interogasi, namun Zia akan tetap membebaskannya karena Rayyan sudah sepenuhnya memberikan keringanan kepada Raina.