
Operasi donor jantung untuk Zia akan di mulai, Varo sudah dibawa ke ruang operasi, dia melihat keadaan Zia dari dekat, karena Zia ada di samping brankar nya.Sungguh hatinya sangat tersiksa melihat Zia dengan wajah pucat nya namun tak menghilangkan ketenangan dalam dirinya, dia seperti sedang berada di dalam sebuah keindahan yang hanya di rasakan oleh Zia.Mata Varo berkaca-kaca, sebentar lagi dia tak akan bisa melihat Zia tersenyum lagi. Sungguh dia ingin tetap hidup agar bisa selalu bersama Zia.
"Zia maafkan sahabatmu ini, aku sudah tak akan bisa melihatmu lagi, janganlah bersedih sahabatku, berbahagialah semoga dengan apa yang ku beri kau bisa hidup bahagia meski bukan dengan diriku. maaf jika selamat ini aku selalu membuatmu menangis, dan ku berharap kau menemukan seseorang yang benar-benar menyayangi da mencintaimu." batin Varo sebelum dokter menyuntikkan bius padanya, dan dia memandang wajah Zia untuk terakhir kalinya, karena dia sudah tak akan bisa sadar lagi.
Hingga kesadaran Varo mulai memudar, dan terpejam lah mata indah itu dan tak akan pernah terbuka lagi untuk melihat kebahagiaan keluarga dan juga para sahabatnya. Semua yang menunggu di luar ruang operasi melantunkan doa agar operasi mereka berjalan lancar, Zayn sungguh berhutang pada Varo dan juga keluarganya yang sudah memberikan izin pada Varo mendonorkan jantungnya untuk adiknya.
Dua jam berlalu, operasi terlah selesai dan juga berjalan lancar,kini Zia sudah di pindahkan ke ruang rawat dengan di temani oleh kakeknya, sedangkan Zayn dan juga Hiashi mengantar kepulangan jenazah Varo kerumah duka, mereka akan mengurus pemakaman Varo.
Sesampainya di rumah duka, jasad Alvaro segera di mandikan dan juga di bersihkan. Dita masih menangis di pelukan Haidar, tak sanggup melihat Varo yang sudah tak bernyawa. Zayn yang melihat kesedihan yang di landa oleh Dita membuat hatinya semakin sakit. Zayn mendekat kearah Dita dan juga Haidar, dia duduk di sebelah Dita.
"Tante...... maafkan Zayn.... karena Zayn tante kehilangan Varo, seharusnya Zayn gak nerima tawaran Varo buat donorin jantungnya, maaf tante..... maaf. " lirih Zayn kepalanya menunduk karena tak kuasa melihat Dita.
Dita melepas pelukannya dan beralih memandang Zayn, dia mengusap air matanya dan menyentuh lembut pundak Zayn. Dita tahu Zayn pasti merasa bersalah, tapi itu semua bukanlah kemauan Zayn yang meminta Varo untuk mendonorkan jantungnya, tapi itu adalah kemauan Varo sendiri.
"Nak.... janganlah merasa bersalah, tante tak apa, kau tahu itu adalah permintaan terakhir Varo, biarlah dia bahagia di sana tanpa rasa sakit, dia ikhlas memberikannya pada Zia." jelas Dita agar Zayn tak menyalahkan dirinya terus.
Zayn hanya terisak mendengar penuturan Dita yang begitu tulus, tak pernah Zayn bertemu keluarga sebaik keluarga Alvaro,Zayn sangat beruntung di pertemukan dengan orang yang sangat mulia hatinya.
"Makasih tante, Zayn sangat berterima kasih.... semoga tante selalu bahagia. Zayn janji akan selalu jaga Nancy dengan baik." Zayn sangat berterima kasih dan dia berjanji akan selalu menjaga Nancy dengan baik. Dita memang sudah tahu hubungan Zayn dan Nancy, dia juga brharap keponakannya bisa hidup bahagia dengan pujaan hatinya.
"Iya sayang, tante mohon jaga dia dengan baik, karena Nancy sudah tak punya orang tua, sekarang tante bisa bernafas lega, karena tante percaya jika Zayn bisa jaga dia." Dita berharap agar Nancy hidup bahagia.
Mereka semua mengantar jenazah Varo ke pembaringan terakhirnya, setelah selesai pemakaman kini makam Varo sudah di penuhi dengan tabur bunga. Semua mendoakan agar Varo bisa bahagia disana, setelah usai mereka semua pulang ke rumah masing-masing, kini tinggalah Raina yang masih berada di pusara Alvaro.
"Berbahagialah sahabatku, kau adalah orang hebat yang pernah kutemui.Semoga kau bahagia disana aku sudah mengikhlaskan dirimu pergi kepangkuan Tuhan." lirihnya Raina sangat bahagia bisa mengenal Varo meski hanya sebentar. Raina pun beranjak pergi dari pemakaman.
*Rumah sakit
Ilham masih menunggu, Zia belum sadar. Terdengarlah suara pintu dibuka ternyata Zayn dan Hiashi sudah kembali dari pemakaman Varo. Mereka berdua mendudukan diri di sofa ruangan Zia. Tangan Zia bergerak perlahan dan matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, Ilham yang melihat itu bahagia, yang di tunggu akhirnya siuman juga.
"Zayn..... Zia sadar cepat panggil akan dokter." ucap Ilham, Zayn segera membanggakan dokter, Hiashi berdiri di samping Ilham merka melihat Zia sudah siuman.
"K... kakek..." panggil Zia lemah.
"Iya... kakek di sini, sebentar dokter akan datang." jelas Ilham.
"A.. aapa yang terjadi denganku?." tanya Zia, dia merasakan kepalanya sangat sakit.
"Kau hanya terluka nak... kau tak apa. " ucap Hiashi. Tak lama dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Zia.
"Bagaimana keadaannya dok?." tanya Ilham.
"Syukurlah sekarang nona Zia sudah stabil hanya saja pasien harus beristirahat dengan cukup sampai puluh, baru nanti pasien di perbolehkan pulang." jelas dokter.
"Terima kasih dok." singkat Hiashi dan Ilham.
"Sama-sama tuan, tuan Zayn saya ingin bicara sesuatu pada anda, karena ada hal penting yang harus saya katakan, mari ikut saya keruangan saya. " Lisa ingin berbicara penting tentang Zia, jadi Lisa mengajak Zayn keruangannya.
"Maaf mengganggumu tuan?."ucap Lisa.
"Oh ayolah dokter..... jangan panggil aku dengan sebutan tuan.... apakah aku setua itu?." kesal Zayn, Lisa selalu saja memanggil dengan panggilan tuan.
"Ini adalah rumah sakit, jadi kita harus bersikap formal, jadi kau tak keberatan kan?." jelas Lisa yang tak mau kalah.
"Baiklah-baiklah..... ada apa dokter ingin berbicara dengan saya?." tanya Zayn untuk mengalihkan pembicaraan.Lisa hanya terkekeh melihat kekesalan Zayn.
"Baik ...Saya harus mengucapkan ini kepada Anda, jika keadaan nona Zia masih sangat rentan, apalagi pasien baru saja operasi jantung, dan itu masih sangatlah lemah untuknya, oleh karena itu saya mohon untuk pasien agar tak kelelahan ataupun mendapat berita mengejutkan, karena itu bisa membahayakan pasien." jelas Lisa panjang lebar, jantung Zia memang masih sangat lemah, jadi Lisa berharap agar pihak keluarga Zia bisa menjaganya dengan baik.
Zayn hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Lisa, ini pasti akan terjadi pada Zia pasca operasi, apalgi ini berhubungan dengan jantung.
"Lalu apa lagi dokter, apakah Zia bisa pulih seperti semula?." Tanya Zayn apakah Zia akan kembali normal setelah operasi jantungnya.
"Bisa tuan.... pasien bisa pulih asalkan seperti yang tadi saya ucapkan jangan sampai pasien kelelahan ataupun mendapat berita mengejutkan. Jadi apakah ada pertanyaan lagi?."
"Oh tidak dokter saya mengerti, dan nanti saya akan beritahukan kepada keluarga yang lain.Kalau begitu terima kasih dokter, saya pamit."
"Iya sama-sama tuan Zayn." Zayn pun beranjak dari duduknya dan berlalu pergi dari ruangan Lisa.
Zayn kembali keruangan rawat Zia, dan ternyata teman-temannya sudah ada disana menjenguk Zia, begitu juga Raina, dia ingin menjelaskan kesalahpahaman nya kepada Zia.
"Aduh sahabat gue udah baikan,gimana sekarang? apa yang lo rasain?." tanya Mila bertubi-tubi ingin tahu keadaan Zia.
"Heh Mil santai tanyanya, pelan-pelan aja." kesal Dika.
"Biar aja kan gue pengin tahu keadaan sahabat gue, kenapa lo yang repot?." Mila pun tak mau kalah. Melihat situasi Yumna segera melerai, apalagi ini di ruang rawat pasien pasti akan sangat mengganggu ketenangan. Zia hanya terkekeh memilah kelakuan kedua sahabat nya yang tak pernah akur.
"Iya.... Dika udah lah kenapa sih kalian ribut mulu?." Situ pun ikut melerai Dika dan Mila.
Zayn pun mendekat untuk menemui Nancy, tapi sayangnya sang pujaan hatinya tak ada. Yumna yang melihat Zayn gelisah karena Nancy tak datang, dia pun menepuk pundak Zayn.
"Heh bro.... lo nyari Nancy? lo tenaga aja dia lagi sibuk hari ini paling besok dia bisa kesini." bisik Yumna.
"Iya gue tahu." singkat Zayn, rasanya dia jadi malas berbicara.
"Lah udah napa gak usah cemberut gitu, lo gak seneng Zia usah sembuh sekarang?."
"Ya seneng lahh, siapa sih kakak yang gak seneng adeknya sembuh."
"Ya udah sekarang lo gak usah sedih, Nancy akan datang kok besok." hibur Yumna.
Mereka berbincang kecil mengingat kejadian promnight yang hancur akibat ulah seseorang, Zayn juga memberitahu jika dalang di balik penyerangan saat promnight adalah Rara teman Fika yang dulu pernah sekolah bereng mereka. Zayn menceritakan semuanya hingga tak terasa waktu sudah menjelang malam, semua teman Zia dan Zayn pun pulang, dan kini tinggallah Zia, Zayn dan juga Raina, dia ingin berbicara dengan Zia pribadi ya meski di situ ada Zayn, tapi itu tak masalah bagi Raina.