
Setelah mendengar semua informasi yang Zayn beri, Zia pun berjalan gontai keluar perusahaan kakaknya, tak di sangka kini musuh nya adalah ayah dari orang yang dia cintai. Pilihannya kini sangat sulit dia putuskan, haruskah dia yang menghukum pembunuh kakek, neneknya atau dia berikan kepada pihak berwajib untuk mengurusnya. Itulah yang kini tengah ia pikirkan.
Zia melajukan mobilnya, kini tujuannya adalah menenangkan diri, seperti biasa dia pergi ke pemakaman Alvaro, Zia sudah terbiasa kesana jika masalalah sulit untuk di hadapi. Sesampainya di sana Zia memarkirkan mobilnya, dan turun dari mobil tak lupa dengan membawa bunga yang baru saja dia beli.
Namun matanya menangkap sosok perempuan yang sedang berjongkok di pinggir malam Varo, dia sedang menangis, karena penasaran Zia pun mendekat ke arah wanita itu. Langkahnya terhenti di kala wanita itu berdiri dari jongkoknya, dia berbalik badan dan langsung berhadapan dengan Zia. Wanita itu terlonjak kaget dan memegangi dadanya.
"Oh ya ampun Zia.... kau membuatku terkejut." ucapnya dengan wajah yang masih terkejut.
"Maaf... maafin gue Rain ku kira lo siapa." maafnya karena telah membuat Raina terkejut, ya wanita itu adalah Raina.
"Lo sering kesini? dan gimana kabar lo? ." tanya Zia, karena sejak Varo tak ada, Raina pun pergi tanpa kabar.
"Aku baru kesini, dan kabarku ok. Kalau kamu gimana Zi?."
"Gue juga baik-baik aja." Zia berjalan dan berjongkok di samping pemakaman Varo dan meletakkan buket bunga di dekat nisannya. Zia merapalkan doa untuk sahabat yang sangat dia sayangi. Selesai berdoa Zia bangkit, dan ternyata Raina masih ada di belakangnya.
"Kita ngobrol sebentar ya, aku lagi kangen sama temen lama." Zia pun mengiyakan ajakan Raina, mereka duduk di kursi di dekat pemakaman tersebut.
"Zi.... gue seneng ketemu lo di sini." Raina membuka pembicaraan.
"Iya gue juga, itu udah lama banget empat tahun berlalu, lo sekarang kerja di mana?." tanyanya.
"Aku memiliki usaha butik, dan aku sudah meraup bonus sangat banyak dari hasil kerja kerasku." jelasnya.
"Wah hebat lo.... kapan-kapan gue pesen baju di sana buat acara penting." puji Zia, dia pun berinisiatif untuk memesan pakaian di butik Raina jika ada acara penting.
"Iya aku tunggu, dateng aja kalau ada waktu Zi.... gue seneng temen ku bisa dateng melihat butikku." senang Raina.
"Baiklah, tapi jika ada waktu, nanti gue akan main ke butik lo."Mereka pun mengobrol bersama hingga tak sadar hari sudah sore.
"Rain udah sore nih, gue balik dulu ya." ucap Zia yang menyadari jika hari sudah menjelang sore.
"Ok aku juga mau balik nihh.... semoga bisa ketemu lagi." harap Raina, Zia hanya mengangguk dan berlalu pergi kembali ke mobil.Mereka pun menyudahi pertemuannya,Zia melajukan mobilnya dan meninggalkan pemakanan, Raina pun ikut menyusul pulang.
Sesampainya di rumah Zia bergegas ke kamarnya dan segera membersihkan badannya, di kamar mandi Zia berendam di bathup menghilangkan kepenatan dalam pikirannya. Namun karena terlalu kelelahan akhirnya Zia terlelap, beberapa menit kemudian Zia tiba-tiba terbangun mendengar suara dering ponselnya.
Kringgg..... kring.... kring....
"Oh ya ampun... aku ketiduran.. "
Zia pun bangkit dari bathup dan beralih ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya, dan memakai handuk kimononya Zia keluar kamar mandi dan mengambil ponselnya ternyata yang menelponnya adalah Arham, sesaat kemudian Arham menelponnya lagi, Zia buru-buru mengangkatnya.
"Halo queen.... dia tak mau bicara." ucapnya dari sebrang telepon.
"Baik queen.... terima kasih atas pengertian anda."Arham sangat berterima kasih dia pun sudah sangat lelah terlebih dari lagi hingga malam dia dan Riska belum mengistirahatkan tubuhnya.
"Tapi ingat... tetap ketat akan penjagaan jangan sampai dia melarikan diri." titahnya dan langsung mematikan sambungannya sepihak, membuat Arham mengumpat.
"Huhh.... dasar queen selalu saja bersikap seperti itu." kesalnya. Arham dan Riska pun pergi dari ruangan tersebut, namun sebelum keluar Arham membius Putra untuk sementara, dan dengan keadaannya yang sudah lemah membuatnya sulit untuk melarikan diri.
...----------------...
Sementara di rumah Zayn dan Nancy mereka akan melakukan ritual malam pengantin mereka, ya meski bukan tepat di malam pengantin, tapi yang pasti malam ini Zayn dan Nancy akan melakukan kewajiban mereka sebagai sepasang suami dan istri, dan menghabiskan malam panjang di atas ranjang.
Nancy sudah menunggu Zayn di atas ranjang, dan nampak lah Zayn dengan balutan handuknya keluar dari kamar mandi, menampakkan tubuh indahnya yang membuat Nancy tak berkedip melihat begitu indahnya ciptaan Tuhan yang sungguh membuat gairahnya menggebu.
"Apakah aku sangat mempesona sayang? Sehingga kau tak berkedip memperhatikan tubuh indahku."goda Zayn membuat lamunan Nancy buyar seketika.
"Oh.... t... tentu saja honey, tubuhmu sangat mempesona, siapapun yang melihatnya pasti akan langsung tergoda."Suaranya sedikit terbata namun terkesan manja di telinga Zayn membuatnya ingin segera melakukannya.
Zayn mendekat ke arah Nancy dan langsung membuka balutan handuknya, sehingga terlihatlah milik Zayn yang sudah menegang dan sangatlah jelas di mata Nancy, Nancy langsung menundukkan kepalanya karena malu, kini wajahnya sudah memerah. Zayn terkekeh melihat Nancy yang malu-malu padanya.
"Sayang.... "panggilnya, Nancy pun menoleh jantungnya berdegup dua kali lebih cepat membuatnya menjadi super gugup. Zayn sudah duduk di sampinganya dan tanpa aba-aba dia mencium bibir Nancy lembut, karena ini pertama kalinya bagi Nancy melakukan hal tersebut bersama Zayn, karena pada saat berpacaran Zayn tak akan menodainya sebelum halal, itulah prinsipnya.
Desahan indah Nancy mengisi keheningan malam, membuat gairah' Zayn semakin menggebu, dia membaringkan tubuh Nancy dengan masih mencium bibir Nancy tanpa mau melepasnya, namun karena kehabisan nafas, Nancy mendorong tubuh Zayn. Nafas mereka tersengal seperti sehabis lari ber kilometer jaraknya.
"Kau sangat sexy sayang.... aku menyukaimu seperti ini." Ucap Zayn dengan nafas yang masih memburu, Nancy hanya diam tak menjawab, sungguh dia menikmati ciuman Zayn yang sangat memabukkan.
Mereka pun meneruskan kegiatan mereka, Zayn melepas semua pakaian Nancy dan melemparnya asal, mereka pun sekarang polos tanpa busana, Zayn mulai menyusuri setiap inci tubuh istrinya, dan Nancy tak henti-hentinya mendesah sambil sesekali menyebut nama suaminya, membuat Zayn semakin bersemangat.
"Apa kau siap sayang...? tanyanya dengan suara berat menahan gairahnya yang sudah di ubun-ubun. Nancy nampak ragu, karena ini adalah pertama kali untuknya. Melihat keraguan di mata Nancy, Zayn pun mencoba menyakinkan nya.
"Aku akan hati-hati sayang.... memang akan sedikit sakit tapi itu hanya sebentar." Zayn mencoba menyakinkan, dan akhirnya Nancy pun mengangguk menyetujui.
Dengan perlahan Zayn menerobos, milik istrinya dengan perlahan tapi pasti, Nancy mengerang kesakitan di saat milik Zayn sudah setengah memasuki milik Nancy, karena milik Zayn yang besar dan panjang membuatnya sedikit kesulitan memasuki Nancy yang masih sempit. Dan sekali hentakan akhirnya Zayn berhasil sepenuhnya berada di dalam milik Nancy, dia mendiamkan sebentar miliknya sebelum bekerja, merilekskan agar Nancy tak terlalu tegang.
Mereka pun menghabiskan waktu di ranjang dengan penuh cinta, beberapa kali Zayn memuntahkan cairan kenikmatannya di rahim Nancy, hingga dia ambruk di atas tubuh Nancy, lalu dicium lah kening Nancy.
"Terima kasih sayang... aku sangat mencintaimu." ucapnya dan menjatuhkan dirinya di samping Nancy.
"Aku juga mencintamu.... honey." ucapnya, Zayn meletakkan tangannya di atas perut rata Nancy berharap akan segera ada kehidupan di dalam sana.
"Semoga kau cepat hadir baby." Zayn sudah tak sabar ingin segera memiliki junior. Nancy hanya tersenyum melihat betapa Zayn sangat mencintai nya, dia sangat bahagia. Mereka pun tidur di dalam satu selimut dan saling memeluk satu sama lain, dan memberikan kenyamanan,karana rasa lelah dan kantuk membuat mereka langsung menyelami mimpi indah mereka.