Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-132



Satu minggu kemudian.....


Dian sudah pulih dan di perbolehkan pulang serta istirahat yang cukup di rumah. Sejak Dian mengetahui jika Zia juga mulai menyukainya, Zia tidak pernah datang untuk menjenguknya ke rumah sakit, hal itu membuat dia merindukan pengisi ruang hatinya.


Arif mengantarkan Dian ke kamarnya untuk beristirahat. Dian sangat ingin bertemu dengan Zia, karena sudah seminggu Zia tidak menghubunginya, dan itu membuat dia menjadi khawatir. Ingin rasanya Dian segera bertemu dengannya, hatinya sudah sangat merindu.


"Kamu kemana Zia...? aku menunggumu, tapi kenapa kamu seperti menghindari ku." gumamnya sambil menatap keluar jendela, Dian selalu memikirkan Zia sejak sebelum dia keluar dari rumah sakit.


...----------------...


Sementara Zia masih belum mau manemui Dian, dia masih malu dengan ucapannya waktu itu. Tapi dia juga merindukan Dian, ingin sekali dia melihat keadaannya, tapi sayangnya hari ini Zia tidak bisa pergi karena hari ini Zayn akan menjemput Nancy, ya sudah dua minggu berlalu, yang berarti Zayn akan datang ke paviliun milik adiknya.


"Zi.... kenapa melamun terus? sejak seminggu lalu kamu seperti itu." tanya Nancy karena sejak seminggu Zia terus melamun, bahkan pekerjaan proyek di gantikan oleh Brian.


Zia tersadar, memang betul seminggu ini dia mengurung diri di paviliun, dan hanya mengerjakan pekerjaan di rumah.


"Aku tidak apa-apa.... " singkatnya.


"Benarkah?.... tapi kamu terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.... " Nancy masih belum puas mendengar jawaban singkat Zia.


"Ah... tidak adaa.... sungguh aku tidak berbohong." Zia masih saja mengelak, padahal Zia masih belum bercerita pada Nancy kalau dia memiliki perasaan pada Dian.


"Cerita saja aku pasti akan mendengarkan, apa karena Dian?." pertanyaan telak Nancy membuat Zia gugup.


"Kenapa Dian?..... aku tidak ada masalah dengannya." Zia masih saja berbohong, sudah pasti perasaannya sekarang sedang campur aduk memikirkan Dian.


"Kamu tidak perlu berbohong padaku Zi.... matamu yang mengatakan hal itu, dan lagi kamu tidak pernah menjenguk Dian di rumah sakit... sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua?." Nancy terus mendesak Zia, karena dia tahu jika Zia sedang berbohong.


Zia tidak menjawab, dia bingung mau mengatakan apa kepada Nancy, Zia masih belum bisa menceritakan apa yang dia rasakan saat ini, meski itu kepada Nancy. Tapi jika tidak menjawab Nancy akan terus memaksanya berbicara, apalagi nanti jika Zayn datang.


"Huft...... baiklah, kamu memang tidak berubah meski sudah di nikahi kakakku, kamu sama seperti dulu Nancy." Kini Zia berbicara dengan Nancy sebagai teman.


"Baik aku akan cerita, tapi bukan sebagai kakak iparku, melainkan sahabatku." Nancy tersenyum senang, dia pun mendekat ke samping Zia.


"Tidak masalah.... aku akan mendengarkan mu sebagai seorang sahabat juga." Mereka merindukan kebersamaan saat dulu masih sekolah, namun karena waktu terus berputar maka semua sudah berubah, mereka sudah menyibukkan diri dengan keluarga mereka masing-masing.


Zia pun menceritakan segalanya dengan sedikit malu-malu, sementara Nancy tidak henti-hentinya tersenyum mendengar ocehan Zia. Tanpa di sangka ternyata Zia mulai membuka hatinya untuk Dian, dan itu membuat Nancy bahagia.


"Wah.... ternyata ada yang lagi jatuh cinta.... aku senang sekarang sahabatku sudah tidak bersedih lagi, semoga dia adalah jodoh yang tepat untukmu.... " Nancy tidak mau melihat Zia bersedih lagi, dia sangat berharap jika Dian adalah jodoh yang di takdirkan oleh Tuhan untuk Zia.


"Aku juga berharap begitu..... tapi apakah aku masih pantas menjadi bagian dari hidupnya? sementara aku dulu begitu tidak peduli dengan perasaannya?." Zia merasa tidak pantas untuk bisa menjadi pendamping lelaki sempurna seperti Dian, dulu dia sama sekali tidak merespon apapun yang di lakukan Dian, apalagi pada saat makan bersama, Zia mengatakan hal yang sangat menyakiti Dian.


Yang sempat menggoyahkan keyakinan hatinya terhadap dirinya, dengan mengatakan tidak boleh memeiliki perasaan lebih terhadapnya, tapi tetap saja Dian tidak mundur, dia tetap berusaha mengambil hati Zia, hingga akhirnya Dian berhasil meski dengan cara perlahan, Zia mulai memiliki perasaan terhadap Dian.


"Dia sudah berusaha ingin mendapatkanmu sejak awal..... yang berarti kamu yang telah di pilih olehnya, dan hanya kamu yang pantas menjadi pendampingnya."


"Jika masalah pengabaian itu tidaklah penting, apalagi Dian memaklumi nya. Nyatanya dia tidak pergi ketika kamu acuh pada dia... benarkan?." jelasnya, Nancy yakin jika Dian memang serius menjadikan Zia sebagai pasangannya, terlebih Dian tetap tidak pergi meski Zia tidak meresponnya, malah Dian tetap berusaha.


"Aku sungguh jahat.... aku mengabaikan dia, padahal dia yang selalu ada, maafkan aku Dian... maafkan aku..... "Batinnya menangis karena menyesal, dan baru menyadarinya sekarang, tapi ini masih belum terlambat, Zia harus segera bertemu Dian.


"Hapus air matamu... dan temuilah dia, dia pasti menunggumu datang, sekarang kamu harus membuka hati untuknya." Nancy memberi semangat agar Zia mau menerima Dian dengan ketulusan juga.


Zia mengusap air matanya, yang di katakan Nancy benar dia harus segera bertemu dan menyatakan perasaannya, karena pada saat di rumah sakit adalah ketidaksengajaan, Zia tidak tahu jika Dian sudah sadar, tapi kini Zia akan mengatakannya langsung di depan Dian, bahwa dia benar-benar menyukai Dian.


"Aku akan pergi sekarang..... do'akan aku kak." dengan semangat Zia berlari dan menyambar kunci mobil.


"Gambatte... kamu pasti bisa." teriak Nancy memberi dukungan.


Zia melajukan mobilnya menuju villa, dia tahu jika Dian sudah di perbolehkan pulang, dia tahu karena menyuruh Brian untuk tetap memberitahu perkembangan Dian di rumah sakit, dan ini adalah jadwal kepulangannya. Jantungnya memompa dengan kuat di dalam dadanya, dia merasakan debaran dahsyat karena dia akan bertemu dengan yang di rindunya.


Ya selama satu minggu ini Zia merasakan kerinduan yang sangat amat kepada Dian, dia ingin sekali menjenguknya, tapi dia belum siap bertemu dengan Dian, apalagi setelah Dian mendengar apa yang Zia katakan.


Beberapa menit kemudian Zia sudah sampai dia Villa besar milik Dian, dia memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil. Zia berusaha mengendalikan detak jantung nya, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya. Kini dia berdiri di depan pintu villa milik Dian. Dari kejauhan Arif melihat ada Zia, dia merasa heran, tidak biasanya Zia akan langsung datang ke villa atasannya.


Arif pun kesana untuk memastikan kedatangan Zia. Dia sedikit takut karena aura dingin Zia membuat bulu kuduk merinding, apalagi dia tidak bertemu dengannya selama satu minggu.


"Selamat siang nona.... ada yang bisa saya bantu?. " Zia menoleh ke sumber suara.


"Selamat siang.... maaf aku kesini mencari Dian, aku ingin melihat keadaannya." jawabnya langsung, membuat Arif heran, karena selama di rumah sakit Zia sama sekali tidak datang, hanya Brian saja yang rutin menjenguk atasannya.


"Silahkan masuk nona." Arif mempersilahkan Zia masuk, dan mengantarkannya ke kamar Dian. Zia lupa tidak membawa apapun, dia merutuki kebodohannya. Mereka sudah sampai di depan kamar Dian, Arif mengetuk pintu kamar dan memberitahukan kepadanya.


Tok..... tok..... tok...


"Tuan ada yang ingin bertemu denganmu." ucapnya.


"Tunggulah sebentar. " sautnya dari dalam kamar, membuat Zia semakin merindukan Dian. Rasa rindu ini lebih besar daripada saat bersama dengan Rayyan.


"Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi." Arif pamit meninggalkan Zia, karena Arif yakin ada hal penting yang akan Zia sampaikan.


"Nona tunggulah disini... sebentar lagi tuan akan keluar, saya masih banyak pekerjaan jadi saya pamit." Mau tidak mau Zia harus menuruti perkataan Arif dan menunggu di depan kamar Dian.


Setelah kepergiaan Arif, Zia menjadi gugup, tangannya berkeringat dingin. Pintu kamar Dian perlahan membuka, yang artinya Dian akan keluar, lagi-lagi jantung nya berdegup tak terkendali, namun Zia berusaha tenang.


Tampaklah Dian di ambang pintu, yang jaraknya tidak jauh dari Zia. Dian mematung ketika melihat Zia ada di hadapannya, Zia melihat dengan jelas wajahnya tampan Dian, meski sedikit pucat. Zia senang karena sekarang dia sudah melihat Dian, dan keadaannya juga sudah pulih.


"Dian.... " belum Zia selesai berbicara, Dian langsung menangkap tubuh Zia, dan membawanya ke dalam ke pelukkan nya. Zia terlonjak kaget mendapat perlakuan Dian yang segera tiba-tiba memeluknya.


"Aku sangat merindukanmu.... kemana saja kamu Zi....??." Dian semakin mengertkan pelukkan nya, Zia bisa merasakan hembusan nafas Dian yang mengenai kapala bagian atasnya, dia juga mendengar detak jantung Dian dengan sangat jelas.


Zia merasakan nyaman di dekapan Dian, rasanya hangat dan seakan semua beban nya hilang.