Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-76



*Di rumah sakit


Varo sudah sadar dan keadaannya sudah membaik, dia belum mengetahui jika Zia di rawat di rumah sakit. Kini Nancy yang menemaninya karena Dita dan Haidar pulang jadi di ngantukan oleh Nancy sedangkan Raina di juga sudah pulang karena semalaman dia yang menjaga Varo.


Nancy sedang mengupas apel untuk Varo, karena dia ingin sekali makan apel. Namun nampak sekali jika Varo sedang bersedih,terlihat dari gurat wajahnya.


"Kenapa lo?wajah kok jelek amat.... pagi itu harusnya semangat, lah ini kaya udah ilah gairah hidupnya." ledek Nancy dan berhasil membuat sepupu tampannya itu kesal, dan membuatnya semakin menggemaskan. Memang benar jika terlahir sudah tampan mau bagaimana pun raut wajahnya akan tetap tampan.


Nancy terkekeh melihat wajah tampan Varo yang di tekuk,membuatnya ingin menarik bibirnya itu.


"Enak aja lo, jelek-jelek begini juga banyak yang demen, emangnya lo cantik tapi gak laku." Varo balik meledek Nancy, namun yang di ledek tak merasa tergoda, dan lagi-lagi membuat Varo semakin kesal.


"Memang benar apa yang di katakan Shikamaru, jika wanita itu memang merepotkan dan sangat menyebalkan." batin Varo yang tak mengerti jalan pikir wanita yang kadang berubah-ubah.


"Kenapa Zia tak menjenguku?apa kau tak memberitahukan padanya?." tanya Varo tiba-tiba karena sekarang yang dia ingin adalah di jenguk Zia, namun semua itu hanyalah mimpi.


"Ooh kau ingin di jenguk olehnya, tapi kan kau yang melarang kami untuk memberitahukan padanya tentang sakit yang kau derita, benarkan?." pertanyaan telak Nancy mampu membuat Varo tak berkutik.


"Iya tapi aku ingin sekali dia berada di sini, tentunya dengan alasan jika aku masuk rumah sakit karena alergi." Varo menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Sudahlah tak usah menipunya terus, kau tahu semenjak kau menjauhi Zia,dia menjadi berubah dingin, di tambah lagi Rayyan jarang sekali masuk sekolah dengan alasan mengurus perusahaan ayahnya, tapi menurutku itu bukanlah alasan yang masuk akal."Nancy masih tak percaya jika Rayyan seperti itu, pasti masih ada alasan lain.


"Benarkah?aku sungguh menyesal menjauhinya, lalu sekarang bagaimana keadaannya, semenjak aku menjauhinya aku belum dengar kabarnya." Varo benar-benar melupakan keadaan Zia akibat dari rencana konyolnya.


"Bagaimana kau akan mendengar kabarnya? kau sendiri juga sangat sibuk dengan Raina. Sungguh sahabat yang jahat kau Varo." Raina berpura-pura memasang wajah sedihnya, agar Varo berhenti menyakiti perasaan Zia.


"Iya aku tahu..... tapi sungguh Nancy aku ingin dia menjengukku, pasti setelah dia menjengukku aku akak langsung pulih." Kali ini benar-benar Varo ingin sekali Zia menjenguknya.


"Bagaimana dia mau menjengukmu? sedangkan dia sendiri sedang diambang kematian, berjuang antara hidup dan mati." tanpa sadar Nancy mengatakan itu,membuat Varo mengernyitkan dahinya. Apa Nancy berkata benar itulah yang sekarang ada di pikirannya.


"Sebenarnya ada apa dengan Zia...? katakan padaku Nan,kau bilang dia sedang di ambang kematian? apa maksudnya." Nancy tersadar akan ucapannya.


"Aduhh bodoh... bodohhh.... akhh... apa yang harus aku katakan padanya." batinya merutuki kebodohannya, dia keceplosan mengatakan itu tanpa sadar.


Melihat Nancy tak menjawab pertanyaan nya, membuat Varo marah dan menatapnya tajam. Varo ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Cepat katakan Nancy..... sebenarnya apa yang telah terjadi?." tekannya membuat Nancy tak ada pilihan lain.


Dengan berat hati dan terpaksa akhirnya Nancy menceritakan semuanya pada Varo, dia mendengar dengan sangat serius, sampai tak ada yang terlewatkan. Dan pada saat Nancy mengatakan keadaan Zia, Varo bernafas dengan berat karena keadaan Zia yang memprihatinkan.


"Aku ingin melihat keadaaa Zia." satu kata yang keluar dari bibir Varo.


"Tak bisa Varo, tak ada yang boleh masuk keruangan nya karena Zia belum di pindahkan ke ruang rawa." jelas Nancy.


"Aku akan melihatnya dari luar ruangannya pasti itu tidak akan di larang , aku hanya ingin melihat keadaan nya."pinta nya lagi dia sangat ingin melihat sahabatnya.


"Oh ayolah Nancy.... hanya sebentar saja." desak Varo membuat Nancy tak bisa mengelak lagi.


Akhirnya Nancy mengantar Varo untuk melihat keadaan Zia, Nancy mendorong kursi roda dan turun menggunakan lift rumah sakit, karena ruangan Zia ada dilantai dia, sedangkan ruangan Varo berada di lantai tiga. Sesampainya di lantai dua Nancy mendorong kursi roda Varo menuju ruangan Zia. Beberapa menit kemudian sampaikan mereka di ruanagn di mana Zia di rawat, di sana hanya ada Zayn dan tak ada ayah ataupun kakek Zia.


"Zayn." panggil Nancy pada kekasihnya itu, dia pun mendekat kesana bersama dengan Varo tentunya. Zayn yang di panggil namanya menoleh ke sumber suara, dan ternyata yang memanggilnya adalah Nancy, matanya tertuju pada Varo yang sedang bersama kekasihnya itu. Semenjak Zia sakit dan Nancy yang mengurus sepupunya mereka belum bertemu dan baru ini mereka bertemu.


"Ehh Varo.... lo udah sehat? maaf gue belum bisa jenguk lo, karena gue harus nunggu Zia di sini." jelas Zayn yang tak enak karena belum menjenguk Varo.


"Gue udah baik-baik aja... gak papa Zayn gue ngerti kok."


"Syukur kalau lo udah sehat." Zayn senang karena keadaan Varo yang sudah membaik.


"Gue mau lihat keadaan Zia dari luar ruangan bolehkan Yn?." tanya Varo.


"Oh boleh ayo gue antar." Zayn pun mengantar Varo untuk melihat keadaan Zia, dia pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Zia.


Sekarang mereka sedang berdiri di jendela di mana mereka langsung melihat Zia yang sedang berbaring lemah dengan alat medis yang terpasang di tubuhnya. Varo tak kuasa melihat keadaan sahabat kesayangannya itu, ingin sekali Varo memeluk tubuh yang beberapa bulan ini dia jauhi secara terang-terangan karena rencananya.


"Lalu bagaimana? apakah donor jantungnya sudah di temukan?." tanya Varo dengan tak mengalihkan pandangannya dari Zia.


"Gue masih cari, tapi kata dokter waktunya tak boleh terlalu lama karena Zia harus segera mendapatkan donor." jelas Zayn, dia masih belum bisa menemukan donor jantung untuk Zia.


Varo mengangguk mengerti, dia kembali fokus pada Zia sungguh ingin sekali dia yang memeberikan jantungnya pada Zia, pasti itu bisa menebus kesalahannya kepada Zia yang menjauhinya tanpa alasan yang pasti, Varo tahu Zia sangat kecewa padanya, dan Varo ingin sekali menebus kesalahannya.Namun tiba-tiba saja Varo merasakan sakit di kepalanya, membuatnya memegangi kepalanya yang terasa sangat berat, lalu tak berapa lama darah keluar dari lubang hidungnya.


"Ro hidung lo keluar darah." Panik Nancy, membuat Zayn yang di sebelah Nancy mendekati Varo.


"Kita bawa dia ke ruang rawatnya ayo." ajaknya pada Nancy, karena keadaan Varo sepertinya tidak baik. Mereka segera membawa Varo ke ruangan di mana dia di rawat. Varo terus mengusap hidungnya yang terus mengeluarkan darah, namun sesaat kemudian Varo sudah tak sadarkan diri di kursi rodanya.


"Ro bertahan..... lo pasti kuat." Nancy bertambah panik dikala Varo sudah kehilangn kesadarannya. Zayn memandang Nancy sekilas dengan terus mendorong kursi roda milik Varo.


Selang beberapa menit sampailah mereka di ruangan Varo, Zayn membaringkan tubuh lemah Varo ke atas brankar,dan Nancy memanggil dokter karena sangat khawatir akan keadaan Varo yang tiba-tiba drop. Dokter pun datang Nancy di perintah menunggu di luar karena dokter akan memeriksa keadaan Varo. Nancy menjadi gusar dia tak tahu apa yang akan terjadi, lalu Nancy segera menghubungi Dita dan Haidar. Zayn yang melihat kekasihnya yang sangat takut akan keadaan Varo mencoba menenangkan, Zayn berdiri dan mendekat kearah Nancy, raut wajahnya sangat khawatir.


"Nan..... duduklah dulu, aku yakin Varo tak apa. " ucap Zayn dengan lembut.


"Aku..... tak sanggup Zayn." bisiknya lemah, air matanya sudah tak terbendung di menundukkan kepalanya.


Zayn memegang lengan Nancy lalu memegang dagunya, mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain.


"Lihat aku Nan..... kau harus yakin jika Varo akan selamat,kau percaya padaku kan?." ucap Zayn meyakinkan, dia tak sanggup melihat keadaan Nancy saat ini. Nancy pun menganggukkan kepalanya dia yakin jika sepupunya akan baik-baik saja.


"Good girl.... sekarang kau duduk dulu, tenangkan dirimu." Lalu Zayn menarik Nancy untuk duduk dan memberikannya minum, untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Kini dia sudah merasa lebih dan itu mengutamakan Zayn tenang.


Mereka menunggu di luar ruangan dengan berharap akan ada keajaiban untuk Varo, mereka terus berdoa agar semuanya baik-baik saja, orang tua Varo juga sudah sampai, begitu juga dengan Raina dan yang lainnya, Nancy ingin menghubungi mereka, tapi sebelum dia melakukannya teman-temannya sudah sayang bersamaan dengan Dita dan Haidar.