Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-146



Dian merawat Zia dengan baik, dan sangat menjaga Zia, dari mulai makanan hingga suplemen kesehatan ibu hamil, Dian sangat protektif, karena ini adalah buah hati pertama mereka. Selama hamil Zia memang tidak terlalu banyak mengidam, hanya sesekali dia meminta, mungkin memang bawaannya seperti itu, dan itu membuat Dian bersyukur.


Bulan demi bulan terlewati oleh pasangan suami istri, menunggu kelahiran buah hati, hingga tak terasa sudah kandungan Zia sudah menginjak sembilan bulan. Zia semakin berhati-hati, karena bidan mengatakan jika bayinya kembar, jadi dia sangat menjaganya.


"Aw.... " rintih Zia.


"Ada apa sayang? ada yang sakit?." tanya Dian khawatir, karena berhubung kandungan istrinya menginjank sembilan bulan, jadi Dian bersiaga di mansion, masalah perusahaan dia titipkan pada asisten pribadi nya, dan dia akan pergi jika memang urusannya sangat penting.


"Aku sedikit merasakan mulas, apa akan lahir sekarang?." baru saja bertanya, tiba-tiba saja ada cairan yang mengalir di kakinya.


"Sayang ketuban nya pecah.... " Zia terkejut.


"Hah benarkah?..... ayo kita ke rumah sakit sekarang sayang." Dian bergegas, tak lupa menyuruh pelayan untuk menghubungi keluarga yang lain, dan tidak lupa menyiapkan keperluan persalinan.


"Aku akan berangkat duluan ke rumah sakit, jangan lupa dengan apa yang aku katakan tadi." dengan sigap Dian langsung membawa Zia ke mobil. Zia sesekali meringis menahan sakit, tapi Zia tetap menahan dan bersabar, karena bagaimanapun juga seorang ibu harus kuat.


"Sabar lah sayang..... kamu pasti kuat." Dian terus menyemangati istrinya, dia tidak tega melihat kondisi istrinya, Zia hanya mengangguk, dia pasti bisa melewati ini.


Beberapa menit kemudian.....


Sampailah Dian dan Zia di rumah sakit, segera Dian langsung menggendong istrinya, dan meminta bantuan pada perawat. Perawat membawakan brankar dan segera membawa Zia ke ruang persalinan. Sementara Dian mengisi surat administrasi untuk semua biaya persalinan Zia.


Setelah selesai Dian segera menemui Zia, dua akan berda di samping istrinya, dan memberikan suport agar Zia bisa melewati semua ini.


"Bagaimana dok, apa sekarang istri saya akan melahirkan?." tanya Dian penasaran.


"Iya, tapi ini baru saja pembukaan tiga, masih harus menunggu sampai pembukaan sepuluh." jelas sang dokter, semua butuh proses, jadi Zia harus lebih bersabar lagi.


"Tapi tadi air ketuban nya mengalir di kakinya, bukankah harus cepat penanganan nya?." tanya Dian, karena tadi dia juga melihat ada cairan yang mengalir.


"Itu bukan air ketuban, itu hanya cairan sesaat sebelum pembukaan."


"Huft syukurlahh.... " Dian bernafas lega, karena itu bukanlah hal serius.


"Iya, saya akan memeriksa tekanan darahnya, apakah istri anda bisa melahirkan normal atau sesar, jadi mohon tunggu dulu sebentar." Dokter tersebut memeriksa tekanan darah Zia, apakah di perbolehkan untuk melahirkan normal atau sesar.


Setelah selesai memeriksa Zia, dan ternyata tekanan darahnya normal, jadi Zia akan melahirkan normal. Waktu demi waktu terlewati, dan tibalah Zia pembukaan sepuluh, bidan segera menyiapkan untuk persalinan, suster membantu menyiapkan semua. Dian di perbolehkan menemani Zia dengan syarat jangan panik, dan harus tetap tenang, dan harus mengikuti arahan dari bidan.


Zia di pindahkan ke ranjang untuk bersalin, Zia berusaha kuat menahan rasa sakit melahirkan, tapi demi bua hati nya dia akan berjuang. Zia sudah mengganti pakaian nya. Bidan memberikan intruksi agar Zia bisa melahirkan dengan nyaman.


Bidan memberikan intruksi Zia mengikutinya dengan baik, Zia mulai mengejan, rasa sakit yang luar biasa, tapi Zia tidak akan menyerah demi kedua anak kembar nya. Teriakan dan suara seru nafas Zia bergema hebat di ruang bersalin, Dian masih setia menemani dan menyemangati istrinya.


Hingga suara tangis bayi saling bersautan, kedua bayi itu perempuan hanya beda beberapa detik saja, bayi kembar perempuan yang sehat dan kondisi yang lengkap. Zia langsung tak sadarkan diri karena sudah kelelahan, sementara Dian bersujud syukur akhirnya kedua bayi kembarnya telah lahir dengan selamat.


Perawat memandikan kedua bayi kembar itu, sementara bidan merawat Zia, sebelum di pindahkan ke ruang rawat, Zia masih belum sadarka diri, mungkin juga karena efek obat yang di berikan bidan tadi. Para keluarga mengucap puji syukur kepada Zia, karena dia bisa kuat melewati nya.


Beberapa saat kemudian....


Zia mulai siuman, dia melihat ke berbagai arah, dan melihat semua keluarga nya sudah berada di sana, dan terlihatlah Hiashi dan Ilham menggendong bayi.


"Lihatlah sayang.... bayimu kembar, mereka sangat menggemaskan.... " ucap Hiashi menunjukkan nya pada Zia, begitu juga dengan Ilham. Semua tersenyum bahagia.


"Dian selamat, akhirnya kalian sudah menjadi orang tua, rawatlah mereka dengan baik. " tambah Ilham dan memberikan bayi tersebut pada Dian.


"Tentu saja kek... kami akan merawat dan membesarkan keduanya dengan penuh kasih sayang."Dian menatap penuh kasih sayang pada putri kecilnya. Meski ini pertama kali bagianya, tapi dia sudah mempersiapkan diri untuk bisa setidaknya menggendong bayi kecil.


Hiashi juga memberikan yang satunya pada Zia, dia mengecup pipi mungil bayinya. Zayn sangat bahagia melihat keduanya sudah menjadi orang tua.


"Sudah sekarang beri tahu kami siapa nama kedua keponakanku... " ucap Zayn tidak sabar dengan nama mereka, pasti sangat imut.


"Kami sudah siapkan nama kemar untuk kedua putri kembar kami yang cantik. Kakaknya kami beri nama Razqya Zara Adiguna, dan untuk adiknya Wafa Zea Adiguna." ucap Dian dengan senyuman manisnya, mereka semua menyambut hangat kedatangan keluarga baru mereka.


"Wah nama yang sangat cantik, semoga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan juga menjadi kebanggaan keluarga besar kita semua. " Senang Nancy akhirnya bertambah juga keluarga Alfian, dan itu menjadi kebanggaan bagi mereka.


Setelah berbincang ria, mereka akhirnya pamit untuk pulang, sementara Zia masih harus di rawat selama beberapa hari lagi, karena masih dalam pemulihan. Perawat mengambil Razqya dan Wafa untuk di bawa ke ruangan bayi.


Dian mendekati Zia dan duduk di kursi samping brankar Zia, dia menggenggam erat tangan Zia, dan mengecup nya lembut.


"Terima kasih sayang.... sekarang keluarga kita telah lengkap, kita akan selalu bersama, membesarkan anak-anak kita, dan membangun rumah tangga yang aman, harmonis dan juga terjaga, semoga kedepannya kita bisa lebih baik lagi menjalani hubungan ini." Dian bahagia bisa di pertemukan dengan wanita yang dia cintai, dan juga mencintai nya.


"Seharusnya aku yang berterima kasih, karena mu sayang aku bisa menjadi seorang yang bisa membuka hatinya, aku bahagia di pertemukan denganmu, semoga sampai akhir kita selalu bersama." mereka sama-sama bahagia, Dian memeluk erat tubuh Zia, seakan tidak akan pernah dia lepas, apalagi dia sia-siakan, dia akan hidup bersama sampai ajal yang memisahkan.


"Banyak yang telah ku lalui bersama dengan kakak... kehidupan ini mengajarkan bahwa semua akan indah pada waktunya, biarkan luka yang menguatkan, dan biarkan kepahitan hidup menjadi pelajaran untuk membina kehidupan yang lebih baik, tak apa sesekali merasakan sakit, karena suatu saat semua rasa sakit akan terbayarkan, semua yang di usahakan tidak akan mengkhianati hasil, maka jangan pernah menyerah, karena apapun itu pasti akan ada jalan keluarnya, dan jangan pernah mengambil jalan pintas ketika masalah tak kunjung selesai, tapi tetaplah bertahan karena semua akan indah di waktu yang tepat."


# By Zia..... 💖💕


The end......