
PART : ONE NIGHT STAND
Shin Ah Reum mematut dirinya berkali-kali di depan kaca. Pandangannya terlihat ragu-ragu. Kemarin dia mendapat undangan pesta ulang tahun teman sekelasnya kuliah. Pesta itu diadakan di club malam, Ah Reum ragu karena dia tidak pernah datang ke club malam selama dua puluh tahun hidupnya.
“Kak apa aku ga usa pergi aja?” Ucap Ah Reum menoleh kepada kakak perempuannya, Shin Ah Jung. Kakaknya inilah yang membantu Ah Reum merias diri.
“Pergilah.. buat ini sebagai pelajaran hidupmu.. ingat jangan dekati alkohol. Cukup ucapkan selamat ulang tahun pada temanmu itu terus langsung pulang.. ok?” Jelas Ah Jung pada adiknya. Shin Ah Jung sebenarnya juga ragu mengijinkan adiknya ke club malam, tapi ini adalah kesempatan untuk adiknya dalam proses dewasa. Sebentar lagi adiknya akan lulus kuliah, Ah Jung ingin agar adiknya punya pengalaman sebanyak mungkin sebelum masuk dunia kerja yang sesungguhnya.
“Ok.. aku berangkat dulu ya kak...” Ah Reum pamit kepada kakaknya. “Aku akan segera pulang.. tunggu aku ya kak..” Lanjutnya.
“Liberty Club..” Gumam Ah Reum mengingat nama tempat yang akan di datangi.
-----
Sesampainya di tempat itu Shin Ah Reum menciut. Hingar bingar suara, lampu yang menyilaukan hingga orang mabuk disana-sani, membuat nyalinya mengecil seketika. Beberapa menit yang lalu dia antusias untuk ke tempat pesta, setelah kakinya menginjak lantai Liberty Club, antusias itu langsung menguap.
“Hai sayang.. apakah kamu temannya Ahn Ki?” Tiba-tiba seorang laki-laki merangkul pundak Ah Reum.
Terkejut karena disentuh oleh orang yang tidak dia kenal, tubuh Ah Reum mengkerut melepaskan diri.
“Iya.. saya kesini menghadiri pesta temanku.. dimana Ahn Ki?” Tanya Ah Reum.
Ahn Ki adalah teman akrab Shin Ah Reum di kelas, Ah Reum biasa memanggilnya Kiya. Di Korea menambahkan a, i, atau ya di nama panggilan itu artinya sapaan akrab atau tanda sayang.
“Ayo bersenang-senang sayang.. Ahn Ki sudah menerima uang bayaran untuk dirimu.. aku akan memberikan tip yang banyak jika performamu bagus..” Racau lelaki yang setengah mabuk itu. Ah Reum bisa mencium bau alkohol dari mulut pria tersebut. “Kamu sama persis dengan foto yang Ahn Ki kirimkan..” Lanjutnya.
“Apa maksud anda Tuan?” Tanya Ah Reum. Telinganya tidak salah dengar kan? Uang bayaran? Uang apa maksudnya?
“Aku sudah membelimu untuk malam ini.. jadi sudah seharusnya kamu melayani aku..” Suara pria itu meninggi. Tangannya meraih tangan Ah Reum kemudian menyeretnya ke belakang panggung. Disanalah letak dari ruangan VIP ataupun VVIP dan Private Room Service.
“Lepaskan aku..” Dengan sekuat tenaga Ah Reum melepaskan tangannya kemudian mendorong pria itu hingga tersungkur.
Shin Ah Reum mencoba mencari jalan keluar dari lorong yang berisi deretan pintu seperti sebuah kamar. Air matanya mengalir tak tertahankan, dia begitu takut. Ahn Ki keterlaluan karena telah menjebaknya, bukankah mereka teman selama ini. Dengan langkah yang gontai karena Ah Reum menggunakan high hell dia berlari ke sembarang arah, namun naas. Didepan Ah Reum saat ini ada tiga orang pria yang sepertinya tengah mabuk. Celakanya, Ah Reum ternyata berlari ke arah toilet pria. Mendapat tatapan mata tiga orang pria tersebut, tubuh Ah Reum bergetar hebat, pasalnya tatapan itu seperti singa yang melihat mangsa empuk.
“Hai nona anda sendirian?” Salah satu dari tiga pria itu buka suara.
Ah Reum perlahan mundur, matanya menyapu keadaan sekitar. Tidak ada yang dia kenal. Hampir saja dia putus asa untuk meminta bantuan, tiba-tiba matanya menangkap sesosok pria dengan pakaian yang rapi berjalan sempoyongan kearahnya, sepertinya pria itu sedikit mabuk. Dari wajah dan penampilan priaitu Ah Reum membuat kesimpulan jika pria itu bukan orang jahat atau mesum.
“Tuan.. Tuan dari mana saja.. saya menunggu Tuan sejak tadi..” Ah Reum berlari memapah pria yang dia lihat tadi. Tidak ada pilihan lain, Ah Reum harus menyelamatkan hidupnya, dia tidak ingin mati konyol di dalam club menjijikkan ini.
“Ayo saya antar keruangan anda Tuan..” Ucap Ah Reum mempererat tangannya di tangan pria itu.
Matanya dan mata indah pria itu beradu. Ah Reum bisa melihat Alis pria itu terangkat sebelah. Dia sangat tahu situasi mereka saat ini, pria ini bingung dengan perlakuannya. “Tolong aku, aku diganggu orang-orang disana..” Bisik Ah Reum mendekat di telinga. “Aku akan sangat berterima kasih jika anda mau membantu saya Tuan..” Lanjutnya.
“Aku tidak mengenalmu..” Pria itu akhirnya buka suara. Ah Reum sudah menduga jika pria itu akan berkata begitu.
“Hoek hoek hoek...” Ah Reum terkesiap melihat pria yang dia papah itu muntah. Cairan kuning tumbah di lantai. Ah Reum sedikit khawatir, bagaimanapun dia yang menahan tangan pria itu. Mungkin saja pria tersebut bermaksud ke kamar mandi karena ingin muntah, namun karena Ah Reum pria itu malah muntah di sini.
“Tuan anda baik-baik saja?” Tanya Ah Reum memastikan keadaan pria itu baik-baik saja. “Pelayan.. pelayan.. hei kamu iya.. bantu kami..” Pekik Ah Reum pada seorang pelayan pria yang sedang lewat didepannya.
-----
Private Room Service
Brukkk
Shin Ah Reum menyandar tubuh pria itu di sofa ruangan yang dia pesan. Dia tidak tahu tempat apa ini, di minta tolong untuk dibukakan satu ruangan untuk mereka. Ruangan yang diberikan oleh pelayan tadi adalah Private Room Service, Ah Reum tak tahu apa fungsi ruangan itu.
Ah Reum segera berlari ke kamar mandi mengambil handuk kemudian membasahinya dengan sedikit air. Setelah itu dia kembali kepada pria yang tengah teler di kursi.
“Hai apa kamu baik-baik saja..” Ucap Ah Reum menyeka bibir pria itu yang kotor karena muntahan. Tangannya membuka beberapa kacing kemeja yang di gunakan pria itu. Maksud dari Ah Reum agar pernafasan pria itu lancar, biasanya orang yang habis muntah butuh ruang yang longgar. Mata Ah Reum menatap takjub pada dada bidang yang dimiliki pria itu, dada yang atletis dan kekar serta lebar. Baru pertama kali ini Ah Reum melihat tubuh bagian dalam seoarang pria. Pipinya sontak bersemu merah dan pipinya panas. Entah rasa apa ini.
Kang Ryu merasa jika ada sesuatu yang menyentuh bibirnya, kemudian dia juga merasa ada yang sedang berusaha menyentuh dadanya. Ryu sekuat tenaga berusaha mengembalikan kesadarannya setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya. Matanya membuka perlahan. Tatapannya terarah kepada gadis didepannya yang sedang membuka kancing bajunya.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” Ucap Ryu lirih.
“Astaga..” Ah Reum terkesiap karena ucapan Ryu. “Maaf.. anda tadi muntah, saya hanya ingin membantu..” Jelas Ah Reum.
“Kamu mau menggodaku ya?” Ryu menangkap tangan Ah Reum yang berhenti di dadanya. “Kenapa hanya beberapa kancing yang kamu buka?” Tanya Ryu memperhatikan gadis itu.
“Kamu tadi sudah membantuku.. jadi aku ingin membalasnya..” Jawab Ah Reum terbata. Tangannya di genggam erat oleh pria yang menolongnya tadi.
Ryu sekarang ingat. Gadis itu adalah orang yang menarik tangannya tiba-tiba kemudian memohon untuk diselamatkan, akibat dia muntah akhirnya mereka berdua berakhir di ruangan bejat ini. Ryu tahu jika ini adalah ruangan yang biasa digunakan pria hidung belang untuk menuntaskan aksinya setelah mabuk-mabukan dengan wanita yang mereka sewa. Apakah gadis ini juga wanita bayaran? Tapi kenapa dia meminta tolong untuk diselamatkan? Apakah wanita ini tahu jika dia adalah CEO Kangin Grup, makanya dia membuat sandiwara untuk menarik perhatian Ryu? Banyak pertanyaan berkecamuk di kepala sexy Kang Ryu.
“Ok jika itu permainanmu, aku akan mengikutimu wanita cantik..” Ucap Ryu lirih seraya mengelus lembut pipi Ah Reum.
Ah Reum terkesiap mendapat perlakuan Ryu.
“Ahhh!!” Ah Reum berteriak kaget karena tubuhnya terangkat. Tangan pria itu menarik tubuhnya kemudian membopongnya ke arah kasur diujung ruangan. “Lepaskan aku.. apa yang akan kau lakukan..” Ah Reum mecoba berontak namun gagal. Ryu yang menerima pemberontakan Ah Reum semakin mengeratkan pelukannya.
“Mari kita lakukan apa yang kamu inginkan sayang.. aku juga selalu penasaran dengan hal seperti ini...”
Entah setan dari mana yang merasuki Kang Ryu. Tubuhnya seperti terbakar melihat wajah gadis di depannya. Pertahanannya runtuh menyaksikan kecantikan dan kemolekan gadis yang memohon padanya untuk diselamatkan itu. Alkohol seutuhnya mengendalikan tubuh dan pikirannya.
*****